Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Fakta Baru


__ADS_3

Keesokan harinya, Tasya kembali tak masuk kuliah. Karena Daffa menginginkannya untuk beristirahat terlebih dahulu di rumah. Mereka hanya keluar penthouse sekali saja untuk mengecek kandungan Tasya ke rumah sakit.


Keduanya berbinar-binar kala melihat penampakan dede janin, sebutan Tasya untuk calon anak mereka.


Sepanjang pulang, keduanya berdebat tentang jenis kelamin calon anak mereka kelak.


"Feeling ku bilang ini anak cewe, Daff! Percaya deh!" Ucap Tasya dengan cukup yakin.


"No, Dear. Saya yakin anak pertama pastilah seorang jagoan seperti Papa nya!" Sergah Daffa dengan nada tak kalah yakin.


"Papa? Mm.. terus aku dipanggil Mama gitu? Jangan deh.. Ayah Bunda aja gimana? Kayaknya adem banget kalau dipanggil Bunda sama anak kita nanti.." Tasya menghayal jauh.


"Ayah?" Daffa mengernyitkan kening nya. Pertanda tak suka dengan panggilan itu.


"Rasa-rasanya itu terdengar lemah buat saya, Dear.. Papa Mama aja ya, Sayang.." bujuk Daffa.


"Enggak! Pokoknya aku mau panggilan Ayah Bunda aja!" Tasya bersikukuh.


"Jangan gitu dong, Sayang. Kamu harus fair (adil) dong.."


"Fair gimana sih maksud kamu? Justru seharusnya biar fair itu ya aku dong yang nentuin panggilan buat anak kita nanti. Karena aku yang ngandung dan susah payah ngerawatnya kan selama delapan bulan ke depan!" Tasya mulai emosi.


Daffa menganga bingung kala menatap Tasya yang gempita oleh emosi tak jelas.


'Apa ini yang dinamakan sebagai efek perubahan hormon di kala hamil ya? Tapi kok Tasya jadi gampang marah-marah gini sih..' batin Daffa bergejolak dalam diam.


"Iya. Iya. Kamu memang nanti yang paling capek merawat anak kita ya, Sayang. Tapu.." Daffa melirik takut ke arah Tasya. Merasa sedikit ragu untuk melanjutkan kalimatnya atau tidak.


"Tapi apa?" Tanya Tasya tak sabar.


"Itu.. kan adanya dede janin juga kan hasil semburan dari junior ku. Jadi.." ucap Daffa dengan suara pelan.


Daffa menelan ludah dan tak jadi melanjutkan kalimatnya, kala ia melihat wajah sang istri yang sudah bertekuk-tekuk macam kaset kusut.


"Iya. Iya. Ayah Bunda aja deh. Ayah Bunda!" Sergah Daffa terburu-buru.


Dan seketika itu pula, bagai matahari terbit di wajahnya, ekspresi Tasya pun langsung cerah seketika.


"Nah! Gitu dong! Itu namanya suami pengertian.. suami sayang istri!" Tutur Tasya memuji.

__ADS_1


Meski begitu, Daffa merasa tak seperti sedang dipuji. Ia justru merasa akan menjalani masa-masa kehamilan Tasya kelak dengan pengalaman yang kemungkinan akan menguras emosi.


'Sabar, Daff.. bagaimana pun juga Tasya sedang hamil anakmu.. jadi kamu harus lebih sabar dalam menghadapi sikap-sikap labil nya nanti!' tegur Daffa pada dirinya sendiri.


Keesokan harinya Tasya kembali tak masuk kuliah. Kali ini alasannya adalah untuk menjenguk adiknya Tedy yang semalam tadi menjalani operasi pencangkokan jantung.


Sebenarnya Tasya ingin ikut menunggu saat Tedy di ruang operasi, namun Daffa tak mengijinkannya. Mengingat kandungan yang harus ia jaga di tri semester awal kehamilan ini.


Akhirnya, Tasya baru menjenguk Tedy keesokan hari usai dioperasi. Dan syukurlah, operasi nya pun berjalan lancar.


Ada kejadian menarik saat Tasya dan Daffa hendak pulang. Sebelum berpisah, Mama Ira bersimpuh di kaki Tasya dan meminta maaf kepadanya.


Mama Ira nampaknya sudah mengetahui nasib yang dialami oleh kakak (Jenderal Sihombing) dan juga keponakannya, Frans. Mama Ira mengakui segala kesalahan yang telah diperbuatnya terhadap Tasya.


Mama Ira mengatakan kalau ide awal untuk menyamarkan identitas Tasya menjadi Anna sesungguhnya berasal dari Frans.


Meski begitu tetap saja, Tasya merasa sulit untuk mempercayai alasan yang dikemukakan oleh Mama Ira itu. Ia hanya meminta satu hal pada Mama Ira.


"Liontin yang Mama kenakan saat ini, bisakah itu dikembalikan kepadaku? Bagaimana pun juga itu adalah pemberian dari Mama Kandung ku," ucap Tasya dengan nada datar.


Mama Ira mulanya terlihat keberatan dengan permintaan Tasya yang satu itu. Namun kala dilihatnya ekspresi Daffa di samping sang istri yang cukup mengintimidasi, akhirnya Mama Ira pun mengembalikan kalung milik Tasya itu.


Liontin yang telah menyebabkan Frans bisa melacak keberadaan Tasya ke mana pun ia pergi, sekaligus juga merekam semua aktivitas Tasya selama ini.


Seketika itu pula Mama Ira menerima kalung liontin itu dengan tangan bergetar. Entah apa yang ada di pikiran Mama Ira. Yang jelas Tasya tak ingin lagi memusingkan wanita paruh baya itu.


Sebelum pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Tedi, Daffa sudah menawarkan untuk menyeret Mama Ira juga ke dalam penjara atas semua perbuatan jahatnya menutupi identitas Tasya. Namun Tasya menolak gagasan itu.


Tasya memutuskan untuk memaafkan Mama Ira. Dan itu adalah hadiah terakhirnya untuk seorang wanita yang masih memiliki status ibu bagi dua putranya yang masih perlu ia jaga. Tedi dan Dodi.


Apalagi Tasya teringat dengan interaksi antara adiknya Zizi dan juga Dodi. Jelas sekali di antara keduanya ada ketertarikan yang sifatnya mutualis. Bahwasanya mereka saling menyukai satu sama lain.


Entah itu hanya perasaan suka sekilas saja. Atau benar perasaan cinta yang telah mendarah daging, Tasya memutuskan untuk menilainya terlebih dahulu.


Sepulang dari rumah sakit, Daffa langsung mengajak Tasya untuk pergi ke kantor catatan sipil untuk mengganti kartu identitas, KK, serta nama Tasya yang tertera di buku nikah mereka.


Bagaimana pun juga mereka harus bergegas memperbaiki identitas Tasya sesegera mungkin. Khawatir jika sewaktu-waktu saudarinya, Anna yang asli, muncul kembali di kehidupan mereka. Jadi mereka tak akan kebingungan lagi.


Setelah itu, mereka juga merevisi identitas Tasya di kampus nya. Walaupun prosedur yang harus mereka lalui jauh lebih rumit dibanding mengganti nama di KTP nya. Tapi dengan kekuatan uang dan kekuasaan milik Daffa, segalanya bisa diselesaikan dengan tuntas.

__ADS_1


Satu minggu kemudian...


Ayah Zion tersadar dari kondisi koma untuk pertama kali nya. Di awal kesadarannya, Ayah Zion langsung bisa menjelaskan siapa pelaku utama yang telah menyerangnya di malam ulang tahun nya itu.


Ya. Sudah jelas itu adalah Frans.


Semakin berat lah dakwaan hukum yang menjerat Frans. Meski hingga saat ini statusnya dikatakan masih hilang dan masuk dalam DPO (Daftar Pencarian Orang) oleh seluruh jajaran polisi Indonesia.


Jendral Sihombing sendiri sudah menetap di sel jeruji besi sedari beberapa hari yang lalu. Dan dikatakan bahwa ia mengalami stroke, sehingga harus dilarikan ke rumah sakit polisi. Sebuah drama terakhir dari sang jendral, menurut Daffa seperti itu.


Sella, Mama dan Papa kandungnya (yang juga adalah Paman dan Bibi Daffa), ternyata adalah dalang di balik rentetan peristiwa berbahaya yang menyerang keluarga inti ayah Zion selama ini.


Dalam kesaksiannya mereka mengakui kalau mereka marah pada Ayah Zion yang tak berlaku adil dalam membagi aset kekayaan keluarga Zion. Ayah Zion mereka anggap terlalu timpang sebelah terhadap anak-anak angkat nya yaitu Daffa dan Yuna. Serta juga kepada Marine, yang masih tak jelas benar adalah putri kandung nya atau tidak.


Menjawab tuduhan dari keluarga pengkhianat itu, ayah Zion melakukan konferensi pers sekitar dua minggu setelah ia sadar dari koma nya.


Dalam konferensi pers itu tersibak lah fakta mencengangkan bahwasanya, benar, Daffa memang adalah putra angkat nya. Namun Marine dan Yuna sesungguhnya adalah dua putri kandung nya dengan almarhum istri nya.


Terkait Marine, semua bisa langsung mempercayai ucapan ayah Zion usai ia menunjukkan hasil tes DNA mereka.


Namun, terkait Yuna, semua reporter dan pihak yang hadir di balairung utama perusahan Zion Tech kompak menunjukkan ekspresi tak percaya atas ucapan ayah Zion itu.


'Bagaimana bisa Yuna adalah anak Ayah dengan istrinya yang sudah meninggal sepuluh tahun lalu.. sementara usia Yuna saat ini baru menginjak sembilan tahun?!' begitu kiranya yang ada di benak semua orang.


Dan Ayah pun menjelaskan. Bahwasanya Yuna adalah anak dirinya dengan almarhum sang istri melalui bantuan seorang ibu pengganti. Teknologi yang mereka gunakan adalah pembuahan in vitro atau kerap dikenal sebagai bayi tabung.


Tepat sebelum Miriam, sang istri jatuh sakit, keduanya telah menyimpan sel telur dan sel ****** masing-masing untuk proses bayi tabung yang akan mereka lakukan. Sel telur dan sel ****** itu lalu mereka bekukan ketika Miriam jatuh sakit.


Sayangnya Miriam kemudian wafat. Dan baru setahun kemudian lah Zion tergerak untuk melanjutkan rencana mereka perihal bayi tabung itu. Dan, akhirnya, setahun kemudian lahirlah Yuna.


Meski begitu, Ayah Zion merasa akan lebih aman jika identitas asli putrinya, Yuna tersembunyi untuk sementara waktu. Dan baru sekarang saja lah Ayah Zion berani mengungkapkan fakta mencengangkan ini.


Di belakang balairung, Marine menangis dalam diam. Dan ia langsung memeluk adik kandung satu-satunya yang berada di samping nya.


Dengan tersedu-sedu, Marine memohon maaf pada adiknya itu atas rasa cemburu yang sempat membakar hatinya selama ini. Sehingga membuat Marine tak memberikan perhatian layaknya seorang kakak terhadap adiknya.


"Maafkan Kakak, Yuna.. maafkan, Kakak!!" Ucap Marine dengan suara terbata-bata.


***

__ADS_1


__ADS_2