Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Clash (Perselisihan)


__ADS_3

Selesai makan, Anna shalat zuhur ke mushola di lantai satu. Barulah setelahnya ia naik ke lantai tiga, menuju ruang kuliahnya berada.


Begitu masuk ke dalam kelas, netra Anna langsung melayang mencari sosok Karina. Begitu menemukan sosoknya yang duduk paling depan, Anna kembali tertegun.


Biasanya jika salah satu dari mereka tiba lebih dulu, maka yang lainnya akan menyisihkan bangku kosong untuk yang lain. Tapi saat Anna melihat posisi duduk Karina saat ini, Anna tak melihat bangku kosong di samping Karina.


Karina pun tampak serius membaca sebuah buku tanpa terusik dengan kebisingan kawan-kawan sekelas mereka yang lain.


Anna memberanikan diri untuk mendekati Karina. Hatinya benar-benar penasaran dengan apa yang menyebabkan sahabatnya itu jadi marah kepadanya.


Begitu berada dalam jarak sentuh dengan Karina, Anna pun menyapa sahabatnya itu.


"Assalamu--"


Tiba-tiba saja Karina bangun dari duduknya. Dan, tanpa memandang pada Anna walau sedetik pun, ia pergi berlalu keluar kelas. Meninggalkan Anna yang terpaku sambil menyelesaikan ucapan salamnya. "--'alaikum..."


Anna terhenyak. Seketika itu juga netra nya mengekori langkah Karina hingga sosoknya menghilang keluar kelas. Tiba-tiba saja rasa nyeri seperti ditusuk jarum menyerang ulu hatinya.


Anna tak menyukai sikap Karina padanya. Tapi Anna langsung introspeksi diri. Mengingat-ingat kembali jika ada sikap atau kata-katanya yang menyakiti hati Karina.


'Aku gak tahu apa yang membuat Karina marah. Sepertinya kemarin pagi kami masih baik-baik saja. Dia baru marah padaku sekitar sore, sepulang dari perkuliahan terakhir kami. Tapi, seingatku tak ada sesuatu yang terjadi saat itu. Lalu, kenapa?' batin Anna menyulam tanya.


Anna lalu mengambil tempat duduk yang masih kosong di bagian belakang ruangan. Jauh dari tempat duduk Karina. Ia tak terbiasa dengan posisi duduk ini. Karena biasanya, selagi menunggu kedatangan dosen, Anna selalu berbincang dengan Karina terlebih dulu.


Entah membahas apa. Sekedar menceritakan hal yang tak bermakna pun rasanya menjadi memori yang menyenangkan bagi Anna.


Karina kembali masuk ke dalam kelas, tepat sebelum dosen tiba. Sehingga Anna yang mulanya hendak menyapa sahabatnya itu lagi pun, akhirnya harus mengurungkan niatnya.


Dalam hati nya, Anna melirihkan tanya. 'Kamu kenapa, Rin..?' lirih batin Anna.


***


"Rin! Karina! Tunggu sebentar!" Anna memanggil Karina yang bergegas keluar kelas usai perkuliahan berakhir.


Masih ada satu perkuliahan lagi, sepuluh menit kemudian, di ruangan yang lain. Sekarang Anna dan semua teman sekelasnya beranjak bangun untuk pindah ke ruangan perkuliahan berikutnya.


Panggilan Anna tak dihiraukan Karina. Sahabatnya itu seolah tak mendengar panggilan Anna. Ini cukup menyita perhatian teman kelasnya yang lain. Bahkan ketua kelasnya, Denis pun memberikan komentar.


"Karina kenapa? Kalian lagi marahan ya?" Tebak Denis dengan tepat.


Anna tak menjawab apapun. Ia hanya menunjukkan senyuman lemah pada ketua kelasnya itu.


Begitu masuk ke ruangan berikutnya, Anna langsung duduk di bangku kosong yang terletak di samping kanan Karina. Tapi begitu Anna duduk di bangku nya, Karina langsung bangun berdiri. Dan, tanpa aba-aba atau tegur sapa, Karina pindah duduk ke bangku kosong kain yang letaknya berjauhan dari posisinya semula.


Kembali, nyeri itu menyiksa batin Anna. Rasanya ia ingin ikutan marah juga pada Karina. Karena Karina tega memperlakukannya seolah ia tiada.


Anna mengepalkan genggaman tangannya ke tali ransel yang baru ia letakkan di atas pangkuannya. Anna berusaha untuk tetap menyabarkan diri. Bagaimana pun juga, ada sesuatu yang salah dalam hubungannya dengan Karina.


'Apa mungkin aku harus memberinya waktu?' Anna membatin.

__ADS_1


Anna menghela napas. Ia merasa pikirannya sudah letih dengan semua kejadian yang dialaminya hari ini. Padahal ia baru melalui satu mata kuliah saja.


"Hhh.." desah Anna.


"Psst.. psst.. Anna!" Sebuah suara dari samping kiri, terdengar memanggil Anna.


Anna langsung menoleh dan mendapati Sekar, teman kelasnya yang lain tengah menatap ke arahnya.


"Hmm? Ya, Sekar?" Sahut Anna dengan tak bersemangat.


"Kamu sama Karina lagi berantem?" Tanya Sekar penasaran.


Anna tersenyum satir. "Kelihatan banget ya, Kar?" Tanya Anna pasrah.


Sekar mengangguk pelan. Sebelum akhirnya kembali berkata. "Hm..mm.. Kalian kan biasanya kayak gini nih!" Seru Sekar seraya menunjukan dua jari yang menempel (jari telunjuk dan jari tengah).


Anna kembali tersenyum letih. "Gitu ya?"


"Iya. Tapi kayaknya hari ini Karina marah banget sama kamu. Mau cerita?" Tawar Sekar dengan ramah.


Anna kembali menghela napas. Lalu memberikan Sekar, tatapan sarat rasa terima kasih. "Makasih ya, Sekar. Aku juga gak tahu masalahnya ada di mana. Soalnya Karina tahu-tahu marah aja sama aku," ucap Anna menerangkan.


"Oo.. dia punya masalah keluarga kali.."terka Sekar kembali.


Anna menggeleng pelan. "Gak tahu juga deh," sahut Anna dengan nada tak yakin.


"Jelas enggak! Aku kan udah nikah. Sementara Karina juga punya gebetannya sendiri," tutur Anna menjelaskan.


"Biasanya satu-satunya hal yang bisa bikin persahabatan retak tuh ya masalah cowok atau cewek yang disukai tuh sama. Tapi kalian bukan berantem karena itu ya? Hmm..,"


Anna ikut memikirkan kembali penyebab Karina jadi bisa marah kepadanya. Tapi tak lama, karena sekitar lima menit kemudian, dosen mereka tiba dan masuk ke ruangan.


"Good evening, every body! (Selamat sore semuanya!)" Sapa Pak Khair, dosen Manajemen Pendidikan Anna.


***


Selesai perkuliahan terakhir, Anna bergegas memasukkan buku catatan ke dalam tas ransel nya. Saat ia menoleh ke tempat bangku Karina tadi duduk, nyatanya Karina telah lebih dulu beranjak pergi dan kini sudah keluar melewati pintu masuk kelas.


Anna pun bergegas mengejar Karina.


"Rin! Karina! wait me up! (Tolong tunggu aku!)" Seru Anna sambil setengah berlari.


Karina yang juga bersama beberapa kawan kelas Anna lainnya, terlihat sedang menunggu lift yang akan mengantarkan mereka turun ke lantai bawah. Ia tetap tak menghiraukan panggilan Anna padanya.


Merasa mulai kesal dan sakit hati dengan perlakuan sahabatnya itu, Anna pun langsung menarik pergelangan tangan Karina untuk mengikutinya ke tempat lain yang lebih sepi.


"We have to talk, Rin! (Kita harus bicara, Rin!)" Tegas Anna sambil agak menarik paksa Karina untuk mengikutinya.


"Lepas! Lepasin gak?!" Titah Karina yang kesulitan mengimbangi langkah Anna yang begitu kuat menarik lengannya.

__ADS_1


"Enggak! Aku gak bakal lepasin kamu, sebelum kita ngobrol!" Anna kembali menegaskan diri.


"I have nothing to say to you! (Aku gak punya sesuatu untuk dibicarakan denganmu!)" Teriak Karina.


Hampir semua teman Anna dan mahasiswa yang mereka lewati, melihat kehebohan yang diciptakan oleh duo sahabat itu. Meski Anna sebenarnya merasa malu, tapi karena ia ingin segera menuntaskan masalahnya dengan Karina, maka ia pun berusaha untuk menanggung rasa malunya itu.


"Oke. Sekarang kita ngobrol di sini," ucap Anna kemudian saat keduanya sudah berada di ruangan terujung di sayap kiri gedung yang sepi orang. Mungkin banyak dari mahasiswanya yang telah pulang.


"Lepasin! Aku gak mau ngomong apapun ke kamu!" Teriak Karina dengan nada penuh amarah.


"Tapi aku mau ngomong sama kamu! So please, hear me out! (Tolong dengarkan saya!)"


"Lepasin dulu tanganku! Kamu bisa kena pasal pemaksaan dan penculikan kalau bersikap begini!" Karina memberikan ancaman.


Anna langsung menghempas lengan Karina dengan agak kasar. Ia lalu menumpahkan uneg unegnya pada sahabatnya itu


"Ya! Ya! Ya! I know your Dad is a lawyer (aku tahu ayah mu adalah seorang pengacara). A famous lawyer indeed! (Pengacara yang terkenal, memang!)" Anna menyindir.


Karina mengusap pergelangan tangan kanannya yang terasa agak nyeri karena ditarik paksa oleh Anna tadi. Namun saat mendengar kalimat Anna barusan, ia merasa Anna menyindirnya.


Karina memicingkan kedua matanya pada 'mantan' temannya itu.


"Apa maksud ucapan mu barusan? Jangan bawa-bawa soal Daddy dalam pembicaraan kita!" Kecam Karina dengan emosi.


"Kamu yang gak bisa aku ngerti! Apa sebenarnya masalahmu, Rin? Aku gak tahu penyebab kamu tiba-tiba diam dan marah sama aku. Memangnya salahku apa?!" Amuk Anna tak kalah sengit.


Karina menghindari pandangan mata Anna. Ia memutuskan untuk melihat hilir mudik orang-orang yang ada di jalanan bawah sana. Ia bahkan bisa melihat ramainya mahasiswa yang hendak beranjak pulang, melalui pemandangan dari lantai tiga ini.


"Apa salahku, Rin? Kalau aku bikin salah kata ataupun salah sikap ke kamu, fine! Aku minta maaf! Tapi tolong jelasin dulu ke aku baik-baik.. pelan-pelan.. Biar aku tahu.. buat aku jadi paham apa yang bikin kamu marah. Jangan malah diam gak jelas kayak gini! It's hurt, you know! (Rasanya sakit, tahu!)" Ucap Anna dengan isakan yang tak bisa ditahannya lagi.


Karina masih memalingkan pandangannya ke arah lain. Batinnya juga merasa sakit kini. Tanpa melihat Anna yang menangis pun, Karina sudah merasa sesak sangat.


'You stole my love, Anna! (Kamu mencuri cintaku, Anna!) You stole Daffa from me! (Kamu mencuri Daffa dariku!) Walau kamu gak tahu kalau Daffa adalah lelaki yang kucintai, tapi tetap saja. Kamu sudah mengambilnya dariku!' batin Karina menjerit dalam diam.


Anna memandang Karina yang masih juga terdiam, tak membalas pertanyaannya.


"Tolong bilang ke aku, Rin.. apa salahku? Kita udah temenan hampir dua tahun lamanya. Aku udah anggap kamu kayak saudari ku sendiri. So please.. (tolong..) tell me what's wrong with me (tolong bilang ke aku, apa salahku)?.." tanya Anna kembali, dengan suara yang lebih pelan.


Selama beberapa detik berikutnya, keheningan yang menyesakkan mengisi udara di antara kedua wanita itu.


Ada sesak yang menyiksa. Ada kata-kata yang sulit tuk diucap. Ada cinta yang tercabut secara paksa. Juga ada rahasia yang membentangkan jarak pemisah di antara Karina dan Anna.


Sampai kemudian, Karina akhirnya berkata.


"Just forget about us, Anna (lupakan saja tentang kita, Anna). Leave me alone (tinggalkan aku sendiri).. please.." lirih Karina sebelum akhirnya berlalu pergi.


Karina meninggalkan Anna, yang masih tepekur diam. Memikirkan jawaban bagi sumber kegelisahan di benak dan pikirannya saat ini..


***

__ADS_1


__ADS_2