
W A R N I N G!
MASIH AREA 21 TAHUN KE ATAS..
BAB BERIKUTNYA BARU AMAN YAA..
🙏🙏😁😁
***
"Hmm.. i miss you so, Dear.." lirih Daffa di telinga kanan Anna.
"Eh? Kita kan baru ketemu tadi pagi, Daff? Hm?!" Pertanyaan Anna tak sempat diselesaikannya, saat ia merasakan sebuah hisapan pelan di bagian pundak nya. 'Apa yang Daffa lakukan?! Dia gak mungkin kan minta.. minta.. 'itu' di dalam mobil?!' batin Anna berteriak panik dalam diam.
"Kamu panggil aku apa tadi, Sayang..?" Tanya Daffa masih dengan suara lirihan.
'Oh! Iya! Aku lupa lagi manggil dia 'Sayang'..' Dalam hatinya, Anna akhirnya menyadari kelalaian kecil yang dilakukannya tadi.
"Maaf! Ss.. Sayang.. aku lupa.." cicit Anna meminta maaf.
Wajah Anna yang belum lagi hilang rona pink nya, kini kembali merona merah oleh sebab rasa jengah.
Daffa lalu menjauhkan kepala nya dari lekukan di antara leher dan pundak Anna. Ia lalu memberikan Anna senyuman terlebarnya.
"Nah.. gitu dong. Kamu harus mulai membiasakan untuk panggil Sayang ya, Dear.." tegur Daffa menyemangati. Yang di iya-kan dengan anggukan malu-malu oleh Anna.
Daffa merasa gemas dengan istrinya itu. Ia lalu mencium kening Anna sekali lagi. Lalu membawa kepala Anna hingga bersandar ke dada bidangnya. Sebuah ketenangan hati, dirasakan Daffa saat ia mendekap erat tubuh Anna. Ia pun menghela napas.
Keduanya menikmati keheningan yang menghangatkan hati, selama beberapa waktu berikutnya. Tak ada yang mau mengusik keheningan di antara mereka, karena bahkan Anna pun merasa nyaman dengan posisinya saat itu.
"Saya rindu banget sama kamu, Sayang.. Maaf ya beberapa hari ini saya pulang larut malam. Gak bisa jemput kamu dari kampus.. Ataupun makan malam bareng sama kamu.."tutur Daffa tiba-tiba.
"Iya, gak apa-apa kok, Daff, eh! Ss.. Sayang!" Anna meralat ucapannya buru-buru.
Daffa tersenyum menyesal. Baru saja ia hendak menegur Anna kembali dengan cara romantisnya. Sayang sekali..
"Kita shalat dulu ya di rumah. Nanti baru kita lanjut ke mall untuk cari hadiah buat Ayah. Kamu kecapean gak?" tanya Daffa dengan nada khawatir.
"Gak apa-apa.. Aku masih kuat kok," sahut Anna, masih dengan bersandar di dada Daffa.
"Good!"
***
Setelahnya, Anna dan Daffa pun pulang terlebih dahulu ke rumah untuk mandi dan menunaikan shalat maghrib. Daffa juga sudah memesankan satu set menu dinner untuk makan malam mereka.
Setelah itu barulah keduanya kembali melakukan perjalanan menuju mall. Mall yang mereka tuju letaknya tidak lah jauh dari gedung apartemen tempat tinggal mereka. Hanya perlu waktu sekitar sepuluh menit saja, Anna dan Daffa telah sampai di salah satu mall terbesar di Indonesia itu.
__ADS_1
Anna sempat ternganga saat ia melihat luasnya area mall yang sudah tampak megah sejak dilihat dari luar gedung. Ia pernah mendengar kalau mall ini adalah salah satu destinasi para artis untuk berbelanja di kota Jakarta.
'Nanti bakal ketemu artis gak ya?' Anna membatin dalam hati. 'eh! Itu kan artis itu! Wah! Itu juga artis itu!..' batin Anna berseru kaget, saat mendapati rumor tentang mall ini ternyata benar adanya.
Di samping Anna, Daffa penasaran ingin tahu penyebab istrinya itu tiba-tiba langsung terdiam begitu mereka memasuki area mall. Saat dilihatnya mata Anna yang agak melebar sembari melihat ke tiap toko yang berjajar rapih, juga ke beberapa pengunjung yang mereka lewati, barulah Daffa mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya itu.
'So cute..' puji Daffa pada Anna.
Sekitar hampir dua jam berikutnya, dengan tangan yang saling bergenggaman, Daffa mengajak Anna berkeliling di mall. Ia tak hanya membeli kado untuk Ayah Zion. Melainkan juga membelikan Anna banyak baju baru.
Anna sebenarnya hendak menolak Daffa saat suaminya itu akan membelikannya baju yang ke sembilan. Tapi lalu Daffa berkomentar, "Baju dress kamu kan sedikit banget, Sayang.. gak apa-apa ya beli lagi buat salinan nanti kalau kita nginap di mansion?"
Memikirkan alasan Daffa itu, akhirnya Anna mengiyakan tawaran Daffa. Hingga beberapa stel lagi kemudian pun dibeli oleh mereka.
Tak hanya baju, Daffa juga mengajak Anna ke toko yang khusus menjual pakaian dalam. Mulanya Anna merasa malu saat Daffa menarik lengannya masuk ke dalam toko itu. Apalagi Daffa yang terlihat bersemangat mengambil beberapa lingerie berbahan polos, ataupun satin halus dengan potongan yang.. 'sangat seksi'.
Anna lalu mendorong paksa Daffa keluar toko dan meminta suaminya itu untuk menunggu di luar. Sementara Anna kembali masuk ke dalam toko untuk membeli beberapa underware dengan potongan biasa.
Tapi saat melihat lingerie yang tadi sempat dipilihkan Daffa untuknya, Anna tiba-tiba saja teringat dengan nasihat lain dari Teh Anis.
"Sebagai seorang istri, kita sangat dianjurkan untuk menghias diri secantik mungkin saat berhadapan dengan suami. Agar Suami puas dengan pemandangan halal yang bisa dilihatnya dari wanita yang menunggunya di rumah. Sehingga suami kita tak akan tergoda dengan wanita-wanita yang bukan mahram nya di luaran sana.." nasihat Teh Anis saat itu.
Pada akhirnya, dengan malu-malu, Anna pun buru-buru mengambil potongan lingeri berbahan satin pink itu. Lalu Anna melihat lingerie pilihan Daffa lainnya ketika ia hendak menuju kasir. Tahu-tahu, Anna kembali mengambil lingerie itu. Hingga beberapa potong underware model seksi lainnya pun jua ikut Anna beli.
***
Anna melihat Daffa di sampingnya, yang mendorong troli berisi belasan tas belanja mereka. Sementara tangan kanan Daffa mendorong, tangan kiri Daffa menggenggam erat tangan Anna hingga keduanya tiba di pelataran parkir.
Setelah itu Pak Kiman memasukkan semua belanjaan Anna dan Daffa ke dalam bagasi. Sementara pasutri itu masuk ke dalam mobil.
Daffa lalu membuka tas belanjaan makanan dan mengeluarkan minuman botol untuk diberikannya kepada Anna. Sementara untuknya sendiri ia memilih minuman soda kaleng.
Anna melihat Daffa menghabiskan minuman bersodanya dalam tiga kali tegukan. Tanpa sadar, ia menegur suaminya itu.
"Kamu jangan terlalu sering minum minuman bersoda ya, Sayang..Itu gak baik loh buat kesehatan. Aku pernah baca, kalau efek minuman bersoda tuh bisa merusak gigi, menyebabkan kegemukan, diabetes, penyakit hati, jantung, bahkan juga jadi penyebab kanker!" Tutur Anna berapi-api.
Mendapat perhatian dari Anna, Daffa tersenyum senang. Belum selesai Anna menguliahinya tentang bahaya minuman bersoda, tahu-tahu Daffa malah tergoda untuk menyerang istrinya itu kembali.
Dan... Ya. Daffa memang kembali menyerang Anna dengan ciu*man-ciu*man nya. Bahkan hingga mobil Bentley mereka telah berhenti pun Daffa masih menyerang Anna.
...
...
Dress atas Anna telah tersingkap. Menampakkan dua gunung kembar yang sudah menyembul keluar dari kurungan bra pink yang Anna kenakan. Satu tangan Daffa sibuk menggoda puncak salah satu gunung sementara satu tangan lainnya bertahan di pinggang Anna. Menjaga agar istrinya tak sampai terjatuh dari kursi mobil.
Kedua mulut Anna dan Daffa sibuk berpagut. Dengan Daffa yang bertindak sebagai pelaku aktif, sementara Anna menjadi si pasif yang menikmati serangan mesra dari suaminya itu.
__ADS_1
Anna yang mulanya terkejut dan hendak menegur aksi serangan Daffa pun pada akhirnya mengaku kalah bahkan ikut hanyut dalam gejolak hasrat yang mendera keduanya tiba-tiba.
Anna sudah memasrahkan dirinya pada apapun yang akan dilakukan suaminya itu jika saja inderanya tak mendengar suara mobil yang melintas di luar sana.
Seketika itu juga Anna tersadar dengan keberadaan mereka saat ini yang masih berada di dalam mobil.
Anna lalu sekuat tenaga melepaskan mulutnya dari kurungan mulut Daffa. Begitu terlepas, ia lalu mengingatkan suaminya itu.
"Hah. Hah. Sayang! Kita kayaknya udah sampai!" Anna mengingatkan Daffa.
Daffa yang kini beralih menyerang leher Anna pun hanya menyahut pelan, "hmm.." tanpa melepaskan diri dari Anna.
Kedua tangannya kian cepat melakukan tarian pada puncak gunung milik Anna, sehingga menyebabkan Anna menggelinjang oleh kenikmatan yang menyerangnya tiba-tiba. Tapi Anna masih bisa ingat dengan posisi mereka saat ini.
"Sayang.. Plis.. Kita balik dulu yuk ke kamar.. aku... Ahh.." Anna terhenti oleh serangan kenikmatan yang kembali menyerang puncak gunungnya secara tiba-tiba.
"Aku gak mau kita ngelakuin 'itu' di dalam sini. Ada Pak Kiman kan!" Tegur Anna kembali dengan susah payah.
Daffa akhirnya berhenti melakukan serangan kepada Anna. Dengan tak sabar, ia merapihkan kembali dress yang Anna kenakan. Tapi saat dilihatnya wajah Anna yang memancarkan aura tercantiknya usai larut dalam kenikmatan singkat tadi, Daffa merasa tak rela jika orang lain melihat wajah istrinya itu saat ini.
Lalu, terpikirkan lah sesuatu di pikiran Daffa. Ia lalu memberikan titah.
"Kamu tunggu dulu di sini. Jangan keluar sebelum saya bilang keluar, Ya!" Daffa menitahkan Anna.
Dan Anna mengangguk patuh.
Kemudian Daffa keluar dari dalam mobil, berputar mengitarinya, dan membuka pintu mobil lain di sisi bagian Anna duduk.
"Ayo keluar sekarang!"
Dengan patuh, Anna segera keluar dari dalam mobil. Tapi, belum sempat ia menjejakkan kakinya ke tanah, Daffa langsung meraih tubuhnya dan menggendong Anna ala Bridal style.
Anna yang terkejut, langsung melingkarkan lengannya ke sekeliling leher Daffa. "Apa yang kamu lakukan??" Anna bertanya.
"Syuut.. sembunyikan wajahmu dulu, Ya Sayang.. " perintah Daffa kembali.
"Tapi kenapa--?"
"Don't ask anything (jangan bertanya lagi). Trust me, Dear. Kamu gak akan mau orang lain lihat penampilanmu saat ini," bujuk Daffa.
"Tapi--" Anna meragu.
"Kamu lupa, tadi kita habis ngapain di mobil?" Tanya Daffa dalam bisikan pelan.
Dan Anna pun akhirnya paham dengan maksud Daffa. Pada akhirnya ia membiarkan Daffa menggendongnya ala bridal style hingga keduanya sampai ke dalam penthouse mereka.
Sementara itu, Pak Kiman yang masih lajang, harus menahan diri untuk tidak iri pada keromantisan pasangan muda di depannya itu. Sembari membawa belasan paper bag yang berisi barang belanjaan Tuan dan Nyonya Muda nya.
__ADS_1
***