
Anna memandang Daffa dengan tatapan serius. Daffa pun balas menatapnya dengan pandangan yang sama seriusnya. Selama beberapa waktu keduanya berpandangan dalam diam. Hingga Anna tiba-tiba menunduk dan menatap jemari tangannya yang ada di pangkuan Daffa.
Anna menilai tangannya tampak mungil dalam rengkuhan tangan Daffa. Lelaki itu bisa saja meremukkan tangan Anna dalam sekali genggam, jika memang ia menginginkannya. Daffa bisa saja memaksakan hasratnya kepada Anna, jika dia juga se'breng*sek' Frans yang bahkan nekat hingga menculiknya.
Tapi, Daffa tak melakukan semua hal jahat itu. Daffa begitu sabar menghadapi Anna. Lihat saja dari caranya mengusap jemari Anna dengan penuh kelembutan. Ada kasih tulus yang bisa Anna rasakan di setiap sentuhan darinya. Ada rasa hangat yang tertinggal dalam hati Anna di setiap pandangan teduh yang diberikan oleh suaminya itu.
Dalam diam, Anna mengucap syukur pada Allah yang telah mempertemukannya dengan Daffa. Walau ia tak memiliki perasaan cinta pada suaminya saat ini, ia akan berusaha untuk membalas semua kebaikan yang telah diberikan Daffa dalam hidupnya, dengan ketaatannya sebagai seorang istri.
"Aku..," Anna ragu-ragu hendak berkata.
"Ya?" Daffa menunggunya.
"Aku juga akan berusaha untuk menjadi istri yang baik buat kamu," ujar Anna.
Seulas senyum mengembang di bibir lelaki tampan itu. Dan senyumannya kian mengembang saat mendengar ucapan Anna berikutnya.
"Maaf kalau saat ini aku masih merasa malu dan tak terbiasa dengan status pernikahan kita. Tapi aku berharap kita bisa membangun pernikahan yang sebenar-benarnya. Gak perlu lagi ada perjanjian pernikahan seperti di awal persetujuan kita. Karena menurut agama pun itu hukumnya haram. Jadi...," Anna kembali memberi jeda pada ucapannya.
Ia menarik napas dalam dan kembali lanjut berkata, "Jadi aku berharap banget pernikahan ini adalah satu-satunya pernikahan yang akan kulakukan seumur hidupku. Sampai aku tua nanti. Sampai aku punya anak dan cucu nanti.. aku berharap aku bisa menjaga pernikahan ini."
"Kita..," tiba-tiba saja Daffa menyela.
Pandangan mata Anna terangkat dan beradu dengan pandangan hangat milik Daffa.
Ada kebingungan yang Daffa tangkap dalam mata bening milik Anna itu. Maka lebih lanjut Daffa memberikan penjelasan.
"Ini adalah pernikahan kita. Jadi bukan cuma kamu yang akan berjuang untuk menjaga pernikahan ini, melainkan saya juga. Bukan cuma kamu yang berharap keutuhan pernikahan ini hingga kita menua nanti, melainkan saya juga. Dan bukan cuma kamu yang berharap kalau ini akan menjadi pernikahan satu-satunya, melainkan..saya juga."
"Jadi jangan merasa kamu hanya seorang diri dalam pernikahan ini, Anna. Karena saya akan selalu ada untuk kamu. Saya akan menjadi perisai yang akan melindungi kamu dari semua hal jahat. Saya juga akan pastikan kalau kita akan selalu bahagia bersama... Selamanya," janji Daffa diucapkan dengan keteguhan yang menggetarkan batin dan rasa.
Jantung Anna kembali berdegup kencang. Hatinya kembali luluh dalam pandangan mata milik Daffa. Hingga ia tak menyadari ketika Daffa mulai mendekatkan posisi duduknya hingga berdempetan dengan Anna. Wajah pemuda itu pun kian dekat dan akhirnya tak lagi berjarak dengan wajahnya.
Dan... Dua insan itu pun kembali meluruh dalam nuansa mahabbah yang suci. Suci oleh sebab akad yang telah mengikatkan keduanya dalam lindungan asma Illahi. Akad yang telah menjadikan setiap sentuhan di antara mereka menjadi sebuah ibadah yang memiliki nilai pahala. Sentuhan yang juga kian mengukuhkan ikatan batin dan rasa di antara keduanya. Hingga...
Daffa melepaskan dirinya dari Anna. Seketika itu juga keduanya tampak seperti ikan yang kehabisan udara. Tangannya masih memeluk erat tubuh Anna, saat tiba-tiba saja tawa bahagia terlepas dari mulutnya.
"Hahahaha! Lihat apa yang sudah kamu lakukan pada saya, Anna. Saya sampai ikut lupa untuk bernapas! Padahal kita hanya berciuman saja tadi," Daffa berujar. Ia lalu merengkuh kepala Anna hingga bersandar ke dada bidangnya. Keduanya menikmati degup jantung masing-masing dalam keheningan malam itu.
Daffa tersenyum lepas.
Anna pun tak bisa menahan senyumannya.
__ADS_1
Dalam diam, keduanya menikmati rasa. Dalam diam, keduanya meramu cinta.
Kebahagiaan bagi keduanya adalah hal yang sederhana. Asalkan ada Daffa, asalkan ada Anna, maka perlahan kebahagiaan pun akan menyertai.
'Ketika dua hati saling berusaha untuk mengenal dan memahami. Ketika dua jiwa sama-sama berusaha untuk menguatkan rasa, maka kebahagiaan bagi mereka akan menjadi sesuatu yang niscaya keberadaannya,' begitulah pikir Daffa.
Tak lama kemudian, samar-samar terdengar dering handphone memecah keheningan. Anna seketika langsung menegakkan kepalanya ke arah suara dering itu.
"Itu handphone ku..,"tutur Anna.
Ketika Anna hendak bangkit dan mengambil handphone nya, Daffa menahan pundak Anna.
"Tunggu di sini, biar saya yang ambilkan," Daffa menawarkan bantuan.
Pandangan keduanya bertemu selama dua detik. Dan dengan pandangan itu Anna luluh dan mengangguk. Mengiyakan tawaran dari Daffa. Anna pun kembali menyandarkan punggungnya ke sofa cokelat yang ia duduki. Sementara Daffa bangkit berdiri untuk mengambil handphone milik Anna.
Sekitar satu menit kemudian Daffa kembali dan menyerahkan smartphone Anna yang kini tak lagi berdering.
"Tadi, pas kamu mandi juga sempat berdering. Maaf saya lupa bilang," Daffa tiba-tiba mengaku.
"Oh! Iya gak apa-apa. Makasih ya, Daff," Anna memberikan Daffa senyuman manisnya.
"Halo? Assalamu'alaikum!" Daffa menangkap suara Anna yang ditujukan pada entah siapa di seberang telepon.
Dan, tiba-fiba saja Daffa tertarik untuk mengetahui orang yang ditelpon balik oleh Anna itu, karena orang itu bisa memunculkan senyuman manis sang istri, walau hanya lewat sambungan telepon saja. Segera saja Daffa memasang kupingnya baik-baik untuk mendengarkan Anna bicara.
"Iya. Iya.. Maaf. Aku memang baru megang hp ini. Ga sempet cek telepon karena nyiapin banyak hal." Sahut Anna.
Daffa mendekatkan kepalanya ke Anna. Ia bahkan pura-pura bersandar pada istrinya itu agar bisa mendengar percakapan telepon istrinya. Tapi Anna menyadari sikap Daffa dan memindahkan hp nya ke telinganya yang lain, menjauh dari Daffa. Ini membuat Daffa makin penasaran dengan identitas orang di seberang ditelepon.
"Itu.. mm..," Anna melirik ke arah Daffa. Dan Daffa yang tahu sedang dilihat oleh Anna langsung menaikkan alisnya tanda bertanya.
"Aku udah married tadi pagi.." Anna berkata pelan.
Tak lama kemudian Anna menjauhkan handphone dari telinganya. Daffa bisa mendengar suara nyaring dari lubang speaker handphone Anna. Mendengar suara itu, Daffa bernapas lega. Karena suara dari lubang speaker telepon itu jelas adalah milik seorang wanita.
Menyadari kalau ia tak perlu waspada dengan orang di seberang telepon, Daffa pun kembali fokus membaca laporan keuangan untuk pertemuan besok malam di Lombok. Ia tak terlalu memperhatikan pembicaraan Anna lagi.
Hingga sekitar 10 menit kemudian Anna menutup panggilan teleponnya dan membaca sesuatu di layar hp nya. Di sampingnya, Daffa meletakkan handphone nya di saku. Ia lalu menarik Anna hingga mendekat padanya. Dan secara perlahan, Anna pun menyandarkan kepalanya di bahu Daffa.
"Itu tadi siapa?" Tanya Daffa tiba-tiba.
__ADS_1
"Karina, teman se kelasku," jawab Anna dengan masih menatap layar handphone.
"Kenapa tadi dia ga datang? Sepertinya tadi kamu gak mengundang teman dekat atau teman kampus kamu?" Daffa mengira-ngira.
"Terlalu mendadak, Daff. Aku cuma sempat ngabarin Karina, tapi dia tadi ada keperluan. Jadi gak bisa datang," tutur Anna.
"Oo.." Daffa mulai kesal ketika Anna masih juga lebih memperhatikan layar handphonenya. Kedua alis Anna bahkan hampir bertaut saat membaca sesuatu di layar handphonenya. Pertanda ia begitu serius dengan bacaannya.
Daffa pun akhirnya tergoda untuk melirik layar handphone milik Anna. Ternyata Anna sedang membaca pesan WA dari Karina. Begini isi pesan dari teman kampusnya Anna itu.
Karina: watch out, Anna. Every man is tiger who wear Kitty costume! They are beast! (Awas, Anna. Setiap lelaki itu adalah macan yang memakai kostum kucing. Mereka adalah hewan buas.)
Anna: don't scare me, Rin. (Jangan menakutiku, Rin)
Karina: nah. Then don't call me if your 'hubby will' eat you tonight. (Nah. Jangan panggil aku kalau suamimu akan 'memakanmu' malam ini.
Anna: you were nuts. (Kamu gila.)
Karina: hey! Its' you who were nuts. And I'm not. Never in a million month that i will be married based on contract! (Hey! Itu kamu yang sebenarnya gila. Dan aku enggak gila. Tak akan pernah walau sampai sejuta bulan lagi pun aku akan menikah, berdasarkan kontrak.
Anna: well.. i'm truly married now, Rin. Not based on contract though. (Baik.. sebenarnya aku benar-benar sudah menikah sekarang, Rin. Tak lagi berdasarkan kontrak.
Karina: is that so? (Sungguh?)
Anna: yeah. So please give me your blessing, Rin. (Ya. Jadi tolong beri aku restumu ya, Rin)
Karina: as if i'm your Mom to give you my bless. Don't mind me. (Seolah-olah aku ibumu saja harus memberikan restuku. Jangan hiraukan aku deh)
Daffa menghela napas. Matanya cukup pusing mengikuti pergerakan pesan singkat di hp Anna. Ia lalu melihat Anna yang masih juga serius berkirim pesan singkat dengan Karina.
Akhirnya, karena sudah kesal menunggu, Daffa pun mengajak Anna untuk shalat isya berjamaah.
"Anna, kita shalat isya bareng, yuk?" Ajak Daffa.
Mendengar ajakan dari Daffa, Anna pun langsung mengalihkan pandangannya kembali ke wajah Daffa. "Yuk," sahut Anna.
Akhirnya keduanya berjalan beriringan dan kembali masuk ke dalam kamar, dengan Daffa yang membantu memapah Anna.
Dalam kepala Daffa, sudah terancang skenario untuk malam pertama mereka malam ini.
***
__ADS_1