
Beberapa hari berikutnya, Tasya melalui hari-harinya seperti biasa. Ia mengikuti saran Karina untuk 'menikmati' dan 'mensyukuri' kehidupan yang dijalaninya.
Tasya masih berangkat pagi ke kampus, sesekali berjualan donat, menulis puisi dan artikel untuk dipasang di mading utama kampus, bersenda gurau dengan kawan-kawannya yang lain, juga berkunjung ke kosan Teh Anis untuk bercengkerama dengan Zizi, adik nya.
Kepada Zizi yang kini telah kembali kesadarannya, Tasya menyampaikan perkembangan usaha Daffa dalam menemukan jalan pulang mereka menuju Nevarest. Dan Zizi sangat menantikan masa kepulangan mereka kelak.
Pernah suatu hari ketika Tasya berkunjung, ternyata ia juga menemukan sosok Dodi, adik sambung nya, juga berada di kosan Teh Anis. Kebetulan saat itu Teh Anis sedang mengajar les, jadi Zizi dan Dodi hanya berdua saja di kosan.
Namun Tasya tetap berbaik sangka dengan dua adik nya itu. Karena keduanya pun hanya duduk mengobrol di depan kosan dengan jarak satu meter yang memisahkan keduanya.
Kedapatan main dan mengunjungi Zizi, Dodi tampak malu ketika menghadapi Tasya. Namun Tasya yang telah mengenal perangai Dodi berusaha untuk tak membuat adiknya itu jadi merasa lebih malu.
Mulanya Tasya ikut duduk mengobrol dan menanyakan kabar Tedi. Dan syukurlah, jawaban dari Dodi perihal Tedi membuat Tasya bernapas lega. Agaknya operasi cangkok jantung yang dijalani oleh adik bungsu nya itu benar-benar berhasil. Karena kini Tedi mulai menunjukan kondisi yang lebih sehat.
Setelah berbincang-bincang singkat, Tasya lalu membiarkan keduanya tetap mengobrol di depan, sementara dirinya mengatakan ingin ikut merebahkan badan di dalam kosan.
Namun, tak lama kemudian Zizi mengikut masuk ke dalam kosan. Sementara Dodi ternyata sudah pamit pulang.
Saat itulah Tasya mulai menanyakan hal serius terkait Dodi pada Zizi.
"Kakak lihat, kalian saling menyukai, Zi.." tembak Tasya dengan kalimat langsung.
Zizi langsung mengerti arah pembicaraan sang kakak. Ia tampak diam sejenak sebelum akhirnya membalas ucapan kakak nya itu.
"Gak ada salahnya kan, Kak, kalau kami saling suka? Kami kan gak ada hubungan darah.." kilah Zizi dengan kalimat langsung pula.
Tasya menatap Zizi yang memiliki pandangan seperti orang dewasa di atas usianya yang baru menginjak 15 tahun itu.
"Tapi kita kan mau pulang ke Nevarest. Jadi saran kakak, kamu jangan terlalu serius dengan perasaan mu ke dia. Kakak gak mau kamu jadi sedih nantinya."
Zizi menatap Tasya sejenak pada kakak nya, sebelum kembali berucap.
"Terima kasih Kak sudah menjaga Zizi selama ini. Kakak tenang lah, Zizi akan menjaga hati Zizi dari tersakiti. Lagi pula kami hanya baru saling suka. Bukankah perasaan suka bisa memudar dan menghilang dalam sekejap waktu?" Tanya Zizi dengan kalimat bijak.
Tasya memandang khawatir pada adik perempuan nya itu. Dalam hatinya ia bertanya, 'tapi apa hati mu bisa merelakan untuk melupakan perasaan suka itu dengan begitu saja, Zi?'
"Hh.. ya sudah. Kakak percaya sama kamu, Zi. Tapi kakak harap kamu bisa memahami petuah lama ini. Tak ada yang bisa mengendalikan hati seseorang. Bahkan pemilik hati itu sendiri," ucap Tasya penuh makna.
Zizi tercenung selama beberapa waktu. Lalu kembali menatap Tasya dengan pandangan lugas dan tenang.
"Baik, kak.. Zizi akan berhati-hati.."
Selepas pembicaraan itu, Tasya dan Zizi kembali berbincang tentang banyak hal. Dan sejak hari itu pula Tasya tak lagi memberikan komentar terkait hubungan spesial di antara Zizi dan Dodi.
__ADS_1
Pikir Tasya, 'biarlah. Namanya juga anak-anak. Nanti juga lupa sama hal baru.'
***
Hari-hari terus berlanjut.
Selain sibuk dengan kegiatan perkuliahannya, Tasya juga sibuk memilih gaun, dekorasi, dan semua pernak-pernik terkait pesta pernikahan nya dan Daffa yang rencananya akan digelar satu bulan ke depan.
Tugas Tasya sebenarnya sangatlah mudah. Ia hanya perlu mencontreng satu gambar dari beberapa gambar pilihan terkait gaun dan segalanya itu. Namun, Tasya yang awam dengan acara memilih-milih pun jadinya merasa pusing sendiri.
Pada akhirnya Daffa hanya memintanya untuk memilih gaun dan suvenir pernikahan saja sementara urusan lainnya akan diserahkan ke pihak WO (Wedding Organizer).
Pilihan Tasya akhirnya jatuh pada salah satu gaun pengantin berwarna putih rancangan Jason, kawan lama mereka. Begitu melihat gaun itu, Tasya sudah langsung menyukainya.
Gaun itu bentuknya long dress dengan bahan sutra yang tampak jatuh natural. Panjangnya mencapai tanah dengan sedikit ornamen bunga di bagian pinggang nya. Lengan gaun itu panjang hingga menutupi pergelangan tangan, namun terbuat dari bahan kain yang berbeda dari bagian badan.
Terdapat garis besar yang membentuk spiral mengitari sepanjang lengan dan terbuat dari bahan yang menerawang. Sementara kerah gaun dibuat tinggi hingga menutupi separuh leher, dengan lagi-lagi ada ornamen bunga-bunga kecil di setiap tepiannya.
Tampak jelas tema yang diusung oleh gaun pengantin karya Jason ini adalah tentang bunga. Dan Tasya, sangat menyukainya.
Selain gaun, Tasya juga memilih suvenir untuk para tamu yang akan hadir di acara pesta nya nanti.
Menurut Daffa, mereka tak hanya akan mengundang semua teman-teman Tasya di kampus, teman-teman Daffa, tapi juga semua tamu penting keluarga besar Zion, serta kolega bisnis Zion Tech.
Mulanya Tasya agak keberatan dengan perayaan yang sepertinya agak terlalu mewah menurutnya. Namun, usai dibujuk oleh Daffa yang mengatakan kalau ini adalah permintaan khusus dari Ayah Zion, akhirnya Tasya pun mau menyetujui pesta pernikahannya diadakan besar-besaran.
Satu minggu sebelum hari H, berita baik datang. Pagi-pagi sekali, Anak buah Daffa melapor kalau mereka telah berhasil menemukan lokasi rumah kosong yang menjadi jalan pulang mereka menuju Nevarest, berdasarkan ciri-ciri yang telah disebutkan oleh Daffa.
Mendengar berita itu, Daffa langsung mengecek ke lokasi dan membuktikan kebenaran berita itu. Tasya sebenarnya ingin ikut pergi juga, namun mengingat kalau ia perlu banyak beristirahat akhir-akhir ini untuk kebugaran tubuh menjelang hari pernikahannya, Tasya pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk ikut serta.
Alhasil Tasya pun menunggu kepulangan Daffa di penthouse mereka dengan perasaan harap-harap cemas. Syukurlah itu adalah hari minggu, jadi Tasya tak perlu membawa kecemasannya ke kampus.
Daffa baru pulang menjelang sore. Dan suaminya itu pulang dengan senyum sumringah.
"Kita berhasil menemukan jalan pulangnya, Sayang!" Ucap Daffa pertama kalinya kala Tasya menyambutnya di depan lift dalam penthouse.
"Sungguh?!"
"Ya! Sebentar. Biarkan saya mandi dulu ya baru saya akan bercerita," ucap Daffa kemudian berlalu menuju kamar mandi.
Melihat sang suami yang berlalu di hadapannya itu, Tasya baru menyadari kalau pakaian yang dipakai oleh suaminya tampak kucel sekali. Beberapa potongan ranting kecil dan daun kering bahkan terlihat menempel di baju dan celana yang dipakainya.
Setelah mandi, barulah pasangan suami istri itu melanjutkan perbincangan mereka di ruang tv. Tasya sudah menyiapkan teh herbal dan kue wafel yang dipesannya secara on line di atas meja di depan mereka.
__ADS_1
"Jadi??" Tanya mengawali tanya.
"Lokasi nya ternyata agak jauh ke pelosok hutan, Sayang. Waktu pertama kali kita sampai di bumi, saya gak menyadari jauh nya karena saya sempat dikejar-kejar babi hutan. Tapi tadi saya ke sana lagi dan memastikan kalau itu adalah rumah yang sama, tempat kita tiba pertama kalinya ke bumi. Dan saya bisa katakan kalau itu cukup jauh. Mungkin sekitar belasan kilometer jika berjalan kaki," tutur Daffa menjelaskan.
"Sejauh itu?!"
"Ya. Tapi kamu jangan khawatir, Sayang. Saya sudah memasang alat pemancar dan menyimpan titik lokasi nya. Jadi nanti kita ke sana dengan helikopter saja agar kamu tak perlu berjalan jauh."
"Naik heli?"
"Ya. Kasihan kan dede janin kalau kita ajak jalan kaki sejauh belasan kilometer."
"Hmm.. terus, kamu benar-benar sudah memastikan kalau di rumah itu juga ada pintu ajaib yang bisa mengantar kita ke Nevarest?" Tasya bertanya kembali.
"Ya! Saya sudah memastikannya tadi. Tapi.. ada kejadian yang cukup aneh terjadi."
"Kejadian apa?" Tasya bertanya penasaran.
"Jadi, ketika saya sampai di sana, saya kan langsung membuka pintu masuk rumah itu ya. Dan saya langsung bisa melihat hamparan tanah lapang di balik pintu itu. Sama persis dengan tempat ajaib yang ada enam pintu ajaib saat pertama kali kita ke sini. Kamu ingat kan dengan tempat itu?"
"Ya! Aku ingat. Terus?"
"Tapi ketika saya mau masuk, salah satu anak buah saya melarang saya dan mengatakan kalau ia akan mengecek keamanan di dalam rumah. Katanya khawatir ada ular atau hewan berbisa lain yang menghuni di dalam rumah itu. Aneh kan?"
"Aneh gimana?"
"Kamu gak ngerasa aneh, Sayang? Anak buah saya itu lalu masuk ke dalam rumah, dan tahu-tahu pemandangan tanah lapang itu langsung berubah jadi pemandangan dalam rumah yang terbengkalai. Saya melihat anak buah saya itu menyibak beberapa sawang yang ada di dekat pintu, juga menyenteri kedalaman rumah."
Tasya tercenung selama beberapa waktu.
"Jadi.."
Daffa memberi isyarat dengan tangannya agar Tasya mendengarkan ceritanya sampai selesai.
"Lalu anak buah saya itu keluar. Dan pemandangan dalam rumah kembali berubah jadi hamparan lapangan dengan enam pintu yang berdiri sendiri di kejauhan. Merasa heran, saya lalu masuk melewati pintu. Dan saya langsung merasa seperti benar-benar ada di sebuah tanah lapang."
"Tapi lalu saya mendengar suara anak buah saya yang memanggil-manggil nama saya. Akhirnya belum jauh saya melangkah di tanah lapang itu, saya pun memutuskan untuk kembali keluar. Dan kamu tahu gak apa yang terjadi?"
"Apa, Daff?"
"Menurut anak buah saya, saya tahu-tahu menghilang ketika masuk ke dalam rumah itu. Dan ternyata saya sudah menghilang selama setengah jam! Setengah jam, Tasy! Padahal saya merasa ada di tanah lapang itu gak sampai satu menit lamanya!" Tutur Daffa berapi-api.
"?!"
__ADS_1
***