
"Anna, bangunlah! Bangun, Sayang! Kita sudah sampai."
Samar-samar, Anna mendengar suara Daffa di kejauhan. Panggilan dari Daffa itu terdengar berulang kali dan semakin kencang terdengar.
Hingga akhirnya, Anna membuka matanya perlahan, dan melihat interior mobil yang serba hitam. Anna pun menyadari keberadaannya saat ini.
Perlahan Anna mengerjapkan matanya, berkali-kali. Sampai ia bisa menangkap citra wajah Daffa yang berada tepat di atasnya.
Anna kemudian menyadari kalau ia tak sengaja telah tertidur di atas pangkuan Daffa. Anna berusaha memfokuskan pandangannya pada wajah suaminya itu. Dan, Anna mendapati kekhawatiran di sana.
"Daff..? ehm!" Anna menyebut nama Daffa. Namun ia terhenti dari melanjutkan kalimatnya oleh sebab tenggorokannya yang terasa kering.
"Kamu haus? Ini, minumlah!" Daffa kemudian menyodorkan bibir botol yang sudah terbuka ke depan muka Anna.
Perlahan, Anna bangkit duduk. Ia lalu menenggak sepertiga isi botol yang disodorkan oleh Daffa.
"Makasih," ucap Anna kemudian.
Dan, Anna tiba-tiba saja menyadari kalau mobil Bentley yang mereka tumpangi kini telah berhenti. Ia menengok ke luar jendela, pandangannya langsung menangkap bangunan gedung tinggi nan asri yang tampak seperti apartemen elit.
"Ini di mana?" Tanya Anna penasaran.
"Rumah kita untuk sementara waktu," Daffa menjelaskan.
"Rumah kita? Hotel ini??" Anna terkejut. Ia langsung memberi Daffa pandangan takjub.
Daffa menggeleng pelan. "Ini apartemen, Ann. Untuk sementara waktu, kita akan tinggal di penthouse yang ada di lantai atas. Ayo, barang-barang kita sudah di atas!" Ajak Daffa kemudian.
Tak lama kemudian, Daffa mengajak Anna masuk ke dalam gedung apartemen. Setelah itu mereka menaiki lift. Daffa lalu mengeluarkan sebuah kartu yang digesek kan nya pada sebuah papan panel di dekat tombol penunjuk lantai.
Setelahnya, keduanya pun tiba di lantai teratas gedung itu, yang adalah sebuah penthouse. Keluar dari lift, Anna terkejut karena mereka ternyata sudah langsung masuk ke dalam penthouse, yakni ke bagian ruang tamu. Anna memandang takjub pada teknologi di gedung ini.
Begitu masuk ke dalam ruang tamu, mata Anna langsung menikmati dekorasi minimalis dengan aksen warna hitam dan putih mendominasi interior ruangan. Sofa putih, meja yang terbuat dari kaca, dengan pot bunga sintetis menghiasi ruangan tamu.
Anna kemudian melihat tas koper miliknya dan Daffa yang sudah tergeletak di samping meja kaca.
"Ini ruang tamu, dan itu kamar kecil untuk tamu.." Daffa mengenalkan Anna pada isi penthouse.
"Di sebelah kanan itu ada ruang gym, dapur dan mini bar, serta satu ruang tidur untuk tamu. Di sebelah kiri ada satu kamar tidur tambahan, satu kamar tidur utama, ruang kerja merangkap perpustakaan, juga ada mini pool," papar Daffa.
Daffa lalu mengajak Anna memasuki kamar tidur utama. Dan, Anna terhenyak saat menyadari kalau kamar tidur utama itu luasnya tiga kali lipat kamar lamanya di Puri Anggrek Ayu.
__ADS_1
Itu bahkan belum termasuk kamar mandi yang besarnya seluas kamar tidur lamanya dengan bath tube yang besarnya cukup untuk dua orang dewasa.
"Ini.. Kita akan tinggal di sini, Daff?" Anna melempar pandang tanya kepada Daffa.
"Ya.. untuk sementara kita tinggal di sini dulu aja ya. Apartemen ini yang paling dekat dengan kampus kamu, yang bisa saya temukan. Nanti saya akan cari lokasi lain lagi untuk bangun rumah kita," papar Daffa kembali.
Anna terhenyak. Tak menyangka dirinya akan bisa merasakan tinggal di tempat yang mewah seperti ini. Kembali ia memandangi Daffa yang kini sedang membuka bajunya.
Dalam hati Anna, ia memikirkan nasibnya yang kelewat beruntung semenjak ia bertemu dengan Daffa. Mau tak mau, Anna pun akhirnya kembali membandingkan status keduanya yang terlampau jauh berbeda. Sebuah helaan napas, keluar dari dada Anna.
Lamunan Anna itu tak berlangsung lama. Saat kemudian ia menyadari Daffa yang mendekatinya dengan hanya menggunakan kaos dalam dan celana pendek.
"Err.. a.. apa?" Tanya Anna dengan grogi. Tanpa sadar, ia mundur selangkah.
"Ini.. bahu saya rasanya agak sakit. Mungkin karena tadi ada yang kelamaan bersandar ya pas tiduran di pesawat.." tutur Daffa mengawali.
Anna mengernyit tak paham. Meski ia tahu dengan siapa yang dimaksud Daffa tidur bersandar pada bahunya di pesawat tadi. Itu adalah dirinya sendiri.
"I..ya.. terus?" Tanya Anna seraya memicingkan mata.
Daffa menunggu hingga ia sampai di depan Anna. Baru akhirnya melanjutkan bicaranya.
"Terus, saya kayaknya gak bisa gosokin punggung deh pas nanti mandi. Soalnya, bahu saya sakit banget kalau di tarik ke belakang gini nih. Aduh! Tuh kan, sakit!" Tutur Daffa seraya mencontohkan gerakan tangan yang menggosok punggung.
"Terus?"
"Ya.. Berhubung saya gak bisa gosokin punggung dulu untuk sementara waktu. Jadi, saya bisa kan minta tolong kamu..?" Mohon Daffa dengan pandangan setengah memelas, setengah berharap.
Anna mengumpat dalam hati. Ingin ia menolak permintaan Daffa, tapi.. Bagaimana pun juga itu adalah perintah suaminya, bukan? Seingat Anna, seorang wanita tak boleh menolak permintaan suami, kecuali ada udzur tertentu.
Lagipula, Daffa hanya meminta tolong kan padanya?
"Cuma gosokin punggung aja kan?" Tanya Anna pelan-pelan.
Dan Daffa langsung mengangguk cepat, dengan pandangan serius. Kelewat serius, malah.
Anna memicingkan kedua matanya. Mencoba menyidik setiap inci ekspresi di wajah suaminya itu. Entah kenapa firasat Anna menangkap hal yang mencurigakan dari cara Daffa memandanginya. Tapi..
"Yaudah. Ayo cepetan. Aku juga belum shalat!" Ujar Anna pada akhirnya.
Anna pun mendahului Daffa masuk ke dalam kamar mandi utama. Dengan Daffa yang mengekor di belakangnya.
__ADS_1
Sayang sekali, Anna tak melihat kilatan emosi di mata dan senyuman Daffa, suaminya itu.
***
Satu setengah jam kemudian, Anna selesai meng-aminkan doa yang dilantunkan Daffa selesai shalat zuhur.
Selesai berdoa, Anna langsung berdiri dan merapihkan mukena yang baru saja dikenakan olehnya.
"Ann.." Daffa terdengar memanggilnya pelan.
Anna tak menghiraukan panggilan dari Daffa.
"Anna, sayaaang.." Panggil Daffa kembali.
Anna masih juga terdiam. Ia sudah selesai melipat mukenah nya dan kini hendak berjalan menuju kasur besar ukuran king size. Namun rasa ngilu pada pinggang dan selang*kangan yang ia rasakan ketika melangkah telah membuat Anna teringat kembali dengan aksi Daffa selama satu setengah jam terakhir.
Dengan tidak tahu malunya, Daffa mengingkari ucapannya sendiri. Dari yang mulanya hanya meminta tolong digosokkan punggung, akhirnya malah..
Blush..
Anna merasa sangat malu saat ia kembali mengingat "siang panas" yang baru saja dilaluinya bersama Daffa.
Mulai dari kamar mandi, berlanjut hingga ke kasur..
'Sebal! Sebal! Sebal! Yang kemarin juga masih kerasa linu. Dia malah..!' batin Anna menggerutu.
Sekilas Anna memberi Daffa tatapan tajam.
"Kamu kenapa sih, Ann? Maaf kalau saya tadi agak kelewatan. Habis kamu nya juga sih.." ucap Daffa menggantung.
Seketika itu juga Anna meradang.
"Aku kenapa? aku gak ngelakuin apa-apa kok!" cibir Anna.
"Kamu gak ngelakuin apa-apa aja udah jadi godaan berat buat saya loh, Ann. Serius!" Daffa menyumpah.
Sumpahan Daffa itu malah membuat Anna jadi tambah kesal. Ia sudah akan pura-pura tidur jika saja perutnya tak melakukan aksi memalukan diri.
"Kuruyuukkk..." perut Anna berbunyi.
'Sial! ini perut minta ditoyor nih kayaknya!' umpat Anna pada perutnya sendiri.
__ADS_1
***