
"..."
"..."
Selama beberapa waktu suasana di dalam kamar kembali hening. Daffa menatap sendu pada sosok yang bergumul di balik selimut. Ia menyadari, ia sudah kelewatan dalam meminta jatah kepada istrinya, Anna.
Tapi bagaimana ia bisa menahan diri jika Anna selalu saja menggodanya? Seperti tadi contohnya.
Daffa sebenarnya sudah sangat senang karena Anna mau membantunya menggosok punggungnya. Bahu Daffa memang benar terasa agak linu setelah hampir dua jam lamanya Anna tiduran bersandar padanya.
Mulanya, Daffa tak ada niatan untuk meminta jatah kepada Anna. Tapi, ketika di kamar mandi, ia tak sengaja melihat pandangan Anna pada dada bidangnya dari pantulan cermin.
Jelas-jelas istrinya itu yang mengundang dirinya dengan kilatan hasrat di mata indahnya. Apalagi ketika Daffa melihat Anna menggigiti pinggiran bibirnya berkali-kali. Juga tarian lidah Anna yang sesekali menjilati bibirnya.
Lelaki mana yang bisa menahan diri melihat istrinya menggoda seperti tadi.
Terlebih lagi Anna pun tak menolak sentuhannya. Daffa bahkan lebih mengutamakan kepuasan Anna terlebih dahulu sebelum akhirnya ia memanjakan junior nya. Jadi, kenapa sekarang istrinya itu malah marah kepadanya?
Daffa benar-benar tak habis pikir. Ia adalah lelaki normal seperti lelaki sehat lainnya. Ia bahkan sudah menahan diri untuk tidak melakukan 'itu' lebih dari satu kali sehari. Meski sebenarnya junior miliknya itu sering terbangun setiap kali melihat Anna yang terus menerus menggigiti bibir pink nya yang penuh itu.
Tapi melihat Anna saat ini yang meringkuk kelaparan di balik selimut, Daffa anehnya malah merasa bersalah pada istrinya itu. Akhirnya, Daffa pun mendekati dan mencoba untuk membuka gundukan selimut itu pelan-pelan.
"Ann.. Anna sayaang.. Iya deh. Maafin saya ya. Saya salah.. Saya ngaku salah. Kita makan aja yuk sekarang. Perut kamu udah laper, kan tuh!" Ajak Daffa dengan suara lembut.
Anna hanya beringsut sedikit. Ia masih sebal dengan suaminya itu. 'Sebal! Sebal! Sebal!' gerutu Anna di dalam hati.
"Kamu mau makan apa, Sayang?Kita bisa pesan apa aja di sini. Sebutin aja yang kamu mau deh!" Bujuk Daffa lagi, seraya mengusap pelan rambut panjang Anna yang masih basah sehabis mandi jun*ub tadi.
Daffa melihat Anna yang masih berpura-pura tidur, meski ia sudah mengaku salah. Walaupun sebenarnya Daffa juga tak tahu kesalahannya di mana.
Kemudian tiba-tiba saja Daffa teringat pada perbincangannya dengan Jo dan kawan-kawannya dulu sekali. Dari perbincangan itu, ia mendapatkan tips untuk menghadapi perempuan yang sedang marah.
'Pertama, minta maaf lah kepadanya. Meski kamu gak tahu kesalahan kamu apa.
Kedua, jika masih memungkinkan, berikan dia kecupan dan katakan juga betapa kamu sangat mencintainya. Kamu rela melakukan apapun untuk menerima maaf darinya.
Ketiga, jika si dia masih marah, berikan dia sesuatu yang sekiranya dia suka dan paling dibutuhkan saat itu.
Keempat, berikan dia waktu untuk sendiri. Tinggalkan dia untuk sejenak waktu, tapi kamu tetap harus menunjukkan perhatianmu kepadanya.
Kelima, berdoa. Kalau semua usahamu itu tak kunjung membuatnya memaafkanmu, berdoalah di waktu dia sekiranya bisa mendengar mu yang sedang berdoa.
Atau bisa juga kamu pura-pura mengigau begini saat dia ada di dekatmu. "Sayang! Tidak! Tidak! Jangan tinggalkan aku! Aku mencintaimu, Angel ku!"' begitu tips yang pernah tak sengaja Daffa dengar dari Jo kepada Jill.
'Mungkin aku harus mencoba tips dari Jo ini,' batin Daffa bermonolog.
__ADS_1
Kemudian Daffa berdeham pelan. Setelahnya..
"Anna.. saya minta maaf! Iya saya salah.." step satu.
Daffa lalu mengecup ujung kepala Anna dengan agak lama. Dan, ia sempat menyadari tubuh Anna yang tampak bergetar sedikit. Daffa tersenyum. Merasa senang karena Anna tak menolak kecupannya.
"Anna.. saya sayang banget sama kamu. Jadi tolong maafin saya ya, sayang.." ucap Daffa lagi. Step dua.
Melihat Anna yang masih terdiam, Daffa pun akhirnya memikirkan step ke tiga. Memberikan dia sesuatu yang dia sukai/ paling dibutuhkan saat ini.
Daffa lalu memikirkan sesuatu. Setelah mengetahui apa yang bisa diberikannya kepada Anna saat ini juga, Daffa pun bergegas berdiri dan keluar ruangan.
Sementara itu, Anna yang mendengar langkah suaminya itu pergi keluar akhirnya membuka kedua matanya. "Kok dia pergi sih! Katanya mau ngajak makan!" Anna mencebik kesal.
Anna menatap perutnya sendiri dengan pandangan nelangsa. "Apa aku pesan grabfood aja ya? Hp, mana hp? Oh shi*t! Hp ku ada di ruang tamu lagi!" Anna yang sudah sempat bangun dan mencari hp nya, akhirnya malah duduk kembali di pinggiran kasur.
Setelah menimbang-nimbang lagi, akhirnya Anna memutuskan untuk mengintip keluar. Ia berharap tak bertemu dengan Daffa terlebih dulu.
Anna lalu membuka pintu kamar secara perlahan. Dan, ternyata Daffa masih berdiri di depan pintu kamar. Pemuda itu terlihat baru menutup teleponnya ketika Anna membuka pintu.
Sayangnya, aksi Anna membuka pintu itu terlihat oleh Daffa. Suaminya itu mengira Anna hendak keluar kamar karena sudah memaafkannya. Namun..
Bruk. Anna dengan cepat, kembali menutup pintu.
Sekitar lima belas menit kemudian Daffa yang masih menunggu di depan pintu kamar tidur utama pun akhirnya mendengar dering bel. Wajahnya seketika kembali cerah sedikit.
Pesanan makanan Daffa sudah sampai. Ia sengaja memesan makanan satu troli penuh untuk membujuk Anna.
Setelah mengambil alih troli makanan dari pengantar makanan, Daffa pun lalu mendorong troli makanan itu ke dalam kamar tidur. Dan, ia sempat melihat Anna yang tergopoh-gopoh kembali pura-pura tidur, dari posisi awal duduk di pinggiran kasur.
Daffa berusaha keras menahan tawa. Pengantin cantik nya ini memang sungguh menggemaskan.
Begitu sudah ada di dekat kasur, Daffa pun membuka penutup makanan di troli satu per satu. Seketika itu jua aroma lezat menguar ke seluruh penjuru isi kamar.
"Anna, sayang.. Makan dulu yuk.. ini saya udah pesan makanan buat kamu. Ada es krim juga loh.." bujuk Daffa kembali.
Anna terlihat masih juga tak bergeming. Step tiga masih juga tak berhasil.
Step empat. Berikan dia waktu untuk sendiri.
Akhirnya dengan berat hati, Daffa pun beranjak berdiri untuk kembali keluar kamar. Meski hatinya terasa berat untuk menjauh dari Anna di saat istrinya itu masih marah kepadanya, Daffa menguatkan tekadnya.
Daffa berharap, setelah ia membiarkan Anna sendiri selama beberapa waktu, istrinya itu sudah akan memaafkannya nanti, saat ia kembali.
Daffa pun akhirnya melangkah pergi. Sebelum menutup pintu, ia menatap gundukan di balik selimut itu sekali lagi. "Saya keluar dulu ya, Ann.." ucap Daffa dengan nada sendu.
__ADS_1
Cklik.
Setelah mendengar suara pintu yang tertutup, Anna tak langsung bangun dari dorman pura-pura nya. Setelah lima menit berlalu kemudian lah akhirnya Anna membuka selimut dan mengintip ke arah pintu.
"Daffa benar-benar keluar? Dia ke mana ya?" Anna tercenung. Tapi hanya sesaat saja. Karena kemudian perutnya kembali berunjuk rasa minta diisi.
"Kuruyuukkk.." suara perut Anna cukup nyaring.
"Ah! Nanti juga dia pulang lagi. Aku makan aja dulu sekarang."
Dan, Selama hampir setengah jam ke depannya, Anna pun sibuk melahap hampir semua isi piring yang ada di troli makanan. Ada ayam goreng madu, sup ayam jamur, acar buah, dan beberapa makanan lain yang tak Anna kenal tapi habis juga disantapnya.
Ketika Anna merasa perutnya sudah sangat penuh, hanya tersisa dua piring yang masih utuh dan tak bisa lagi ia makan. Tiba-tiba saja Anna teringat, "Daffa udah makan belum ya?"
Baru terpikirkan tentang Daffa, yang dipikirkan tiba-tiba saja langsung masuk ke dalam kamar. Anna yang tertangkap basah telah menghabiskan hampir semua makanan di troli, merasa agak malu. Ia berusaha menutupi rasa malunya dengan buru-buru meraih gelas dan meminum air putih di dalamnya.
Daffa yang baru masuk ke dalam kamar, langsung mengamati perubahan ekspresi di wajah Anna. Tapi sayangnya ia tak bisa melihat rona malu yang berhasil Anna tutupi dengan gelas gang masih juga menempel di mulutnya.
Daffa mendesah. Ia mengira istrinya itu masih marah kepadanya.
'Berarti, tinggal langkah terakhir. Berdoa?' Daffa tertegun. 'Bagaimana caraku berdoa tapi Anna tak curiga kalau aku hanya berpura-pura? Lagi pula, tadi kami baru selesai shalat zuhur. Dan ini masih lama ke waktu shalat ashar,' Daffa terlihat melirik jam di dinding yang menunjukkan masih ada waktu setengah jam lebih sebelum waktu ashar tiba.
'Apa aku tidur saja dulu ya? Lalu..' lanjut Daffa membatin.
Akhirnya, dengan kepala menunduk, Daffa pun berjalan menuju sisi lain kasur yang kosong. Tanpa melirik pada Anna, Daffa langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Lalu ia memejamkan matanya.
Sementara itu, Anna yang melihat gerak-gerik Daffa malah membatin, 'dia mengantuk? Berarti dia sepertinya sudah makan..'
Namun, beberapa waktu kemudian...
"Kuruyuukk..."
Mata Anna seketika melayang ke sumber suara yang barusan didengarnya. Tepat ke perut Daffa. Ia lalu menarik pandangannya ke atas, ke wajah Daffa yang kini terlihat mengerutkan kedua alisnya.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Empat detik. Lima detik. Daffa masih terbaring dengan mata yang juga masih terpejam.
Enam detik. Tujuh detik. Delapan detik.
Tiba-tiba saja kedua mata Daffa terbuka, dan ia menolehkan kepalanya ke arah Anna, yang juga masih memperhatikan wajah suaminya itu sedari tadi dalam diam.
Daffa lalu berkata, "Ann, saya lapar. Masih ada makanannya enggak?"
"Kuruyuukkk.."
***
__ADS_1