Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Patah Hati


__ADS_3

Daffa tak menyangka dengan apa yang akan terjadi padanya hari ini. Jika saja ia bisa melihat masa depan, ia tentu tak akan membiarkan Joanna ikut bersamanya ke rumah sakit.


Sore tadi, ketika Kak Marine mengabarkan perihal kondisi ayah yang kembali drop, Daffa sedang terburu-buru. Sehingga ia tak berpikir panjang ketika tiba-tiba saja Joanna muncul dan minta ikut bersamanya menuju rumah sakit.


Keduanya pun akhirnya pergi menuju rumah sakit pusat, tempat Ayah Zion dirawat kini.


Daffa lalu menuju kamar inap Ayah Zion. Di depan kamar ia mendapati Kak Marine yang berjalan bolak-balik, tampak cemas.


"Gimana kondisi Ayah, Kak?" Tanya Daffa kemudian saat ia sudah berada dalam jarak dekat dengan kakak angkat nya itu.


"Belum tahu, Daff! Kakak.. kakak gak tahu!" Ucap Kak Marine setengah histeris.


Daffa menghela napas letih. Perlahan ia menepuk pundak Kak Marine dengan lembut.


"Tenang lah, Kak! Ayah pasti akan baik-baik saja! Insya Allah!" Ucap Daffa dengan nada yakin.


"Bagaimana kamu bisa yakin, Daff?! Bagaimana kalau kondisi Ayah memburuk? Atau Ayah malah akan--" Marine berhenti berucap. Membayangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi pada Ayah mereka saja sudah membuatnya sangat kalut.


"Jangan berprasangka buruk, Kak! Seburuk apapun situasinya, pasti kita akan bisa melaluinya. Karena Allah gak akan menguji hamba-Nya melebihi batas kemampuan hamba-Nya itu," ucap Daffa dengan tenang.


Marine menatap lekat adik angkatnya itu. Dan Daffa pun kembali lanjut bicara.


"Lagipula, bukankah Allah juga mengikuti prasangka hamba-Nya? Semoga dengan prasangka baik kita tentang kondisi Ayah, Allah akan mengabulkan harapan baik kita ini," ucap Daffa kembali.


Marine lalu terdiam. Menekuri kata-kata yang diucapkan oleh adik angkat nya itu.


Tak lama kemudian, ia jatuh terduduk di kursi bangsal yang ada di depan kamar inap Ayah mereka. Dan ia pun menutupi wajahnya yang perlahan mulai basah oleh air mata. Hanya suara isak Marine saja lah yang kemudian terdengar di lorong rumah sakit itu.


Daffa menepuk-tepuk pundak Kak Marine. Berusaha menyalurkan ketabahan pada diri wanita di samping nya itu. Sementara pandangannya menatap cemas pada pintu kamar ayah nya dirawat.


Sesekali seorang perawat keluar dan masuk kembali membawa sesuatu. Setiap kali Daffa menanyakan kondisi Ayah nya, selalu saja jawaban "mohon tunggu sebentar ya, Pak! Pasien sedang ditangani oleh dokter kami," dari para perawat itu.


Sekitar satu jam usai menunggu, Kak Marine memutuskan untuk pulang terlebih dulu. Ia meminta Daffa untuk segera memberinya kabar apapun terkait kondisi Ayah mereka. Dan Daffa memberikan janjinya.


Daffa lalu duduk menunggu di kursi bangsal depan kamar inap ayah nya, berdua dengan Joanna. Padahal ia sudah menyuruh Joanna untuk pulang saja. Namun, adik dari sahabatnya itu memilih untuk tetap menemaninya di rumah sakit. Entah untuk alasan apa.


Daffa lalu membiarkan Joanna menemaninya. Badan dan pikirannya sudah terlampau letih untuk memaksa Joanna pergi. Namun dua jam kemudian, Daffa akan menyesali keputusannya itu.


Karena sebuah insiden pun terjadi di saat ia lengah oleh sebab lelah yang dirasakannya.


Jadi, Daffa sempat tak sengaja tertidur sekitar waktu mendekati maghrib. Kepalanya dirasanya terasa berat dan pusing. Mungkin akibat kurang tidurnya ia selama beberapa hari terakhir.


Saat tak sengaja tertidur itu lah Daffa merasakan seseorang mencium bibirnya. Dalam kabut letih dan pusing, Daffa sempat mengira kalau orang yang menciumnya itu adalah Tasya. Sehingga ia pun membalas ciuman orang itu dengan mata yang masih terpejam.

__ADS_1


Daffa lupa kalau dirinya masih berada di rumah sakit. Hatinya masih selalu merindukan Tasya, istrinya itu. Sehingga hasrat nya pun selama beberapa waktu telah menguasainya.


Tapi, tak lama kemudian alam bawah sadarnya mengingatkan Daffa.


Aroma milik orang yang menciumnya itu bukanlah seperti aroma yang biasanya ia tangkap dari tubuh Tasya. Seketika, Daffa pun membuka kedua matanya. Dan terkejut saat matanya bertatapan dengan mata Joanna.


Daffa langsung saja mendorong Joanna menjauh. Lalu mengusap mulutnya berkali-kali. Berusaha menghapus jejak sentuhan bibirnya Joanna pada bibirnya.


Daffa sangat marah sehingga ia langsung bangkit berdiri dan pergi. Namun, Joanna malah mengejarnya.


"Kakak! Kak Daffa! Tunggu Anna, Kak!" Panggil Joanna pada Daffa.


Daffa tak menggubris panggilan dari Joanna dan tetap saja melangkah cepat-cepat. Ia bermaksud untuk pergi ke toilet. Untuk membersihkan wajah dan terutama bibirnya dari bekas jejak Joanna tadi.


Begitu menemukan WC di ujung lorong, Daffa langsung masuk ke dalam sana dan menutup pintu dengan bantingan keras.


Brak!


Beberapa menit kemudian usai membersihkan diri, Daffa pun keluar dari toilet pria. Tapi Joanna sudah mencegatnya di depan pintu.


"Kak! Dengerin Joanna dulu, Kak!"


Daffa tak menatap Joanna sama sekali. Ia langsung berjalan lurus melewati adik sahabatnya itu tanpa berkata apa-apa lagi.


"Kak Daffa! Tolong dengerin Anna dulu, Kak!" Panggil Joanna kembali.


Merasa frustasi, Joanna pun setengah berlari mengejar Daffa dan menarik lengan pemuda yang dicintainya itu.


"Kak Daffa! Tunggu du--!" Ucapan Joanna terpotong oleh tepisan dari lengan Daffa.


Kemudian Daffa berbalik dan barulah memandang padanya. Memandang dengan tatapan yang sangat tajam.


"Joanna! Kamu sudah saya anggap seperti adik sendiri. Saya sangat kecewa dengan apa yang tadi telah kamu lakukan!" Kecam Daffa to the point.


"Tapi, Kak Daffa! Joanna cinta Kakak!" Ucap wanita muda itu dengan suara lantang. Terdengar nyaring dalam lorong rumah sakit yang sepi orang itu.


Lantai mereka berada saat ini memang ada di lantai kedua teratas dari bangunan gedung. Lantai yang memang dikhususkan untuk para pasien VIP dan VVIP, sehingga tak banyak orang-orang dan atau pengunjung yang berlalu lalang.


"Dan kamu juga tahu kalau saya sudah menikah! Jadi kamu gak berhak untuk mencuri ciuman seperti yang tadi kamu lakukan! Itu sangat tidak pantas untuk dilakukan oleh kamu yang bahkan belum menikah!" Kecam Daffa kembali.


"Joanna gak perduli!"


"Tapi saya peduli! Sangat amat peduli! Karena bagaimanapun juga saya sudah menyerahkan hati dan tubuh saya untuk istri saya! Tidak untuk wanita manapun lagi! Termasuk juga tidak untuk kamu!"

__ADS_1


Joanna menatap Daffa dengan pandangan terluka. Sebuah isak mulai menerobos dinding pertahanan di tenggorokannya.


"Tapi.. tapi Joanna cinta, Kak sama Kak Daffa!" Tutur Joanna tak mau berhenti. Ia merasa harus menyampaikan perasaannya kepada Daffa, lelaki yang telah tiga tahun ini diam-diam dicintainya.


Tiga tahun lamanya Joanna merasa kecewa karena Daffa selalu saja menganggapnya seperti adik kecil. Padahal ia sangat mengharapkan lelaki itu bisa memandangnya sebagai seorang wanita. Wanita dewasa yang pantas untuk dicintainya!


"Joanna udah cinta sama kakak.. bahkan lebih lama dari Kakak ketemu wanita itu!" Kecam Joanna dengan suara tersendat.


Daffa mendengus kesal.


"Joanna. Saya sebenarnya sudah tahu tentang perasaan kamu sejak lama sekali. Tapi bukankah saya sudah memberikan jawaban saya pada kamu lewat sikap-sikap saya selama ini?" Ucap Daffa kemudian dengan nada lebih tenang.


"Saya hanya menganggap kamu sebagai adik saja, Joanna. Kakak kamu pun, Jo, mengetahuinya. Tidakkah ia memberi nasihat ke kamu untuk berhenti mengharapkan saya?" Tanya Daffa tiba-tiba.


Joanna terhenyak. Ia tak menduga kalau Daffa ternyata telah menyadari perasaannya terhadap lelaki itu. Selama ini ia mengira Daffa tak pernah tahu. Tapi ternyata..


Dan Joanna kembali terhenyak. Saat ia mengingat nasihat-nasihat yang sering diucapkan oleh kakak kandungnya, Jo padanya. Untuk berhenti mengharapkan Daffa. Untuk berhenti mencintai pemuda itu.


Tapi jelas, Joanna merasa tak mampu! Bagaimana lah ia bisa menghapus rasa cinta begitu saja, setelah rasa itu menjeratnya begitu erat selama bertahun-tahun lamanya?!


Joanna sebenarnya sudah ingin menyerah atas perasaannya terhadap Daffa ketika menyaksikan pemuda itu menikahi wanita yang memiliki nama panggilan yang sama dengannya, Anna.


Namun, dengan berita akhir-akhir ini terkait skandal yang dilakukan oleh wanita itu, Joanna merasa harapannya kembali melambung. Ia tak rela jika ia harus melepaskan Daffa untuk wanita sundal itu.


Karenanya, mulanya hari ini Joanna bermaksud untuk mengutarakan perasaannya terhadap Daffa. Dan menyerahkan pada Daffa untuk menerima perasaannya atau tidak.


Tapi lalu Joanna melihat Daffa yang tertidur. Dan entah bagaimana ia tergerak untuk mendekati wajah lelaki yang amat dicintainya itu. Salahkan saja hasrat yang telah lama dipendamnya selama bertahun-tahun. Sehingga tanpa sadar, Joanna pun malah tergerak untuk mencium bibir pink milik Daffa itu.


Dan, ketika Daffa juga menyambut ciumannya, sesaat Joanna merasa sangat bahagia. Ia mengira Daffa pun membalas perasaannya.. Namun melihat Daffa di hadapannya kini, seketika saja harapan Joanna itu harus pupus seketika.


Joanna akhirnya menyadari bahwa Daffa ternyata sangat mencintai Anna.


'Sakit.. rasanya sakit sekali hati ini!' batin Joanna menjerit dalam diam.


Dipandanginya wajah Daffa lekat-lekat. Joanna masih berusaha mencari sedikit saja jejak harapan kalau Daffa akan menerima dirinya. Namun, sayang. Joanna tak menemukan jejak kasih apalagi cinta di mata Daffa untuknya.


Hati Joanna pun patah. Sepatah-patahnya hati.


"Pergilah, Anna!" Usir Daffa dengan suara tegas.


"Dan jangan pernah muncul di depan ku lagi!" Titah Daffa membahana.


Bagai guntur yang menancapkan paku nya ke dalam hati Joanna. Kalimat Daffa itu membuat Joanna merasa tak mampu lagi memikirkan apa-apa.

__ADS_1


Dengan usaha keras, Joanna pun langsung berbalik dan berlari pergi. Membawa sepotong hatinya yang terluka parah meski tak berdarah.


***


__ADS_2