
"Nona Anna mengalami trauma atas kejadian yang menimpanya sebelumnya. Trauma ini bisa sembuh dalam waktu singkat, bisa juga dalam waktu lama. Saran saya, pertemukan istri Anda dengan seorang psikiater. Karena hanya ahli nya saja yang bisa mengetahui sedalam apa trauma yang dirasakan oleh Nyonya Anna. Bisa jadi nanti akan ada terapi yang harus dilewati oleh istri Anda. Lebih cepat itu dilakukan, itu akan lebih baik. Sementara saya sudah resep kan obat penenang dan anti mual. Obat mual hanya diminum jika Nyonya Anna merasakan pusing dan mual saja. Saya harap, istri Anda segera sembuh dari trauma nya."
Suara dokter pria yang menangani Anna tadi terus terngiang-ngiang di benak Daffa. Ia tak tahu bagaimana cara ia menyampaikan ucapan dokter itu kepada Anna. Ia berharap Anna mau bertemu dengan psikiater. Tapi... Entahlah.
Saat ini Daffa berada di kamar pasien di rumah sakit kecil yang terletak tak jauh dari hotel Amora. Enam jam yang lalu, begitu ia dapati kalau Anna hilang kesadaran, Daffa bergegas membawa istrinya itu ke rumah sakit terdekat.
Daffa bahkan sengaja menyewa satu ruangan khusus untuk hanya ditempati oleh Anna saja, karena di rumah sakit kecil itu tak ada kamar VIP. Syukurlah pasien rumah sakit saat itu sedang sedikit, jadi pihak rumah sakit mengijinkan Daffa menyewa satu ruangan penuh untuk istrinya itu. Jika pasien sedang banyak dan pihak rumah sakit tak mengijinkan keinginan Daffa itu, bisa jadi Daffa akan spontan membeli rumah sakit saat itu juga agar ia bisa mendapatkan perawatan terbaik untuk istrinya, Anna.
Dan di ruangan berukuran 4x5 meter itu, akhirnya kini hanya ditempati oleh Anna seorang. Sementara tiga kasur pasien yang ada dalam ruangan itu kosong tak ada yang mengisinya.
Daffa melirik jam di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi kini. Daffa belum bisa memejamkan matanya oleh sebab khawatir dengan kondisi Anna.
Menurut dokter, Anna akan siuman saat pertengahan malam. Tapi ini sudah lewat tengah malam dan Anna masih belum terbangun. Dua orang perawat yang tadi menyuntikkan cairan sesuatu pada tabung infus Anna mengatakan kalau Anna bisa jadi akan mengalami demam. Bisa jadi juga tidak.
Daffa merasa sulit untuk mempercayai apa yang ia alami selama beberapa jam ini. Bagaimana tidak? Setelah ia menyelamatkan Anna, gadis itu tampak tangguh dan tak terlihat tertekan atau apa. Ya. Anna memang terlihat pucat. Tapi Anna masih tampak teguh dalam pendiriannya ketika ia mengusulkan untuk melanjutkan acara pernikahan. Terlepas dari Daffa yang mencoba membujuknya untuk menunda acara akad nikah.
Saat perjamuan pun Anna terlihat normal. Daffa yang menawarkannya untuk beristirahat pun tak digubris oleh Anna. Gadis itu bersikukuh untuk menyambut tamu mereka yang jumlahnya tak banyak itu hingga acara selesai. Akhirnya Daffa pun memangkas acara hingga hanya sampai jam satu saja.
Setelah acara perjamuan selesai, Daffa mengajak Anna makan siang. Anna memang sempat terlihat kesal oleh sebab yang tak diketahui Daffa. Tapi ia terlihat kembali bugar. Kecuali jalannya yang memang agak berjinjit oleh sebab kaki kanannya yang terkilir. Tapi secara umum, Anna terlihat normal.
Dan di hotel Amora, di bawah lindungan cahaya sunset yang menyilaukan.. mereka sempat berciuman mesra, dan Anna tak mengalami gejala trauma. Daffa bahkan menangkap wajah merona nya Anna beberapa kali sebelum kejadian pingsannya terjadi.
'Lalu mengapa? Mengapa ketika mereka bercumbu di ruangan bersantai itu Anna mengalami trauma? Apakah sentuhan yang terlalu intim lah yang memunculkan gejala traumanya Anna? Jika benar begitu, apa berarti Anna sempat mengalami pelecehan yang...
Tidak. Tidak.! Menurut dokter sebelumnya, lapisan hymen Anna masih utuh. Itu artinya tindak pelecehan yang dialami tidak sampai merenggut kesuciannya. Jadi kalau begitu, hanya sentuhan intim saja kah yang menyebabkan trauma Anna muncul?' Daffa membatin sendiri dalam sepi.
Tak lama kemudian, Daffa melihat pergerakan kecil dari tangan Anna. Daffa merasa sangat senang dan langsung memanggil nama istrinya itu.
"Anna! Anna! Kamu bisa dengar saya? Anna!" Panggil Daffa berkali-kali.
Perlahan mata Anna terbuka. Kedua mata cokelat milik Anna itu terlihat redup sedikit. Anna lalu berusaha bangkit dari posisi berbaring. Tapi Daffa bergegas menahannya kembali untuk berbaring.
__ADS_1
"Istirahatlah dulu. Kamu pingsan tadi. Kamu mau minum?" Daffa menawarkan air putih yang tersedia di nakas samping ranjang pasien kepada Anna. Anna lalu meneguk air putih itu beberapa kali. Setelahnya, Anna 'dipaksa' Daffa untuk kembali berbaring.
"Apa yang terjadi?" Anna bertanya kepada Daffa.
"Kamu pingsan. Dokter mengatakan kalau kamu kemungkinan mengalami gejala trauma," Jawab Daffa.
Hening..
"Jam berapa sekarang?" Anna kembali bertanya.
"Jam 2 lewat."
"Hah?!" Anna terkejut.
"Kamu pingsan selama enam jam, Ann. Saya khawatir kamu kenapa-kenapa jadi saya langsung bawa kamu ke rumah sakit ini," tutur Daffa kembali.
"..."
'Sepertinya Daffa berkata benar. Ini memang tampak seperti ruangan di rumah sakit,' Anna bermonolog dalam hati.
Anna lalu mengingat kembali kejadian yang diingatnya terakhir kali sebelum ia kehilangan kesadaran.
Seingatnya ia berada di ruangan bersantai bersama Daffa. Ia mencicipi kue tart es krim Molan yang telah disiapkan oleh Daffa untuknya. Lalu mereka bercumbu..
Sampai pada ingatan ini, wajah Anna seketika merona. Dan Daffa menangkap rona pink yang tiba-tiba memberikan warna pada kulit Anna yang mulanya tampak pucat itu.
"Muka kamu merah. Apa kamu ngerasa sakit? Gak nyaman? Saya panggilkan dokter ya!" Daffa bertanya dengan kecemasan yang terlihat nyata.
Anna menggeleng cepat-cepat. Ia merasa malu dengan apa yang baru saja ia pikirkan. Anna berharap Daffa tak mengetahui apa yang dipikirkannya barusan. Jika suaminya itu tahu... Sulit bagi Anna untuk menatap kembali wajah Daffa.
Lalu Anna teringat dengan sesuatu. "Daff! Kita mesti berangkat jam 5 pagi ini, kan?" Anna berseru.
__ADS_1
"Iya,"
"Kalau gitu, kita mesti balik ke hotel sekarang juga untuk ngerapihin barang-barang," seru Anna kembali seraya hendak bangkit duduk.
Tapi Daffa mencegah Anna. Ditahannya bahu Anna dari pembaringan, sebelum ia berkata, "kita istirahat di sini aja, Ann. Saya sudah minta orang hotel untuk membereskan barang-barang kita dan mengirimkanya ke bandara. Di sana ada Pak Kiman yang sudah menunggu keberangkatan kita jam 5 nanti. Tanggung juga kan, sekarang sudah jam 2 lewat. Sudah. Kamu istirahat aja ya."
Anna menatap wajah Daffa. Dan Anna menangkap keletihan di wajah tampan suaminya itu. Anna menduga Daffa mungkin belum beristirahat sejak ia pingsan semalam. Sebelum Anna sadar, tahu-tahu mulutnya sudah berkata, mendahului pikirannya.
"Kamu tidur bareng aku di sini ya," ucap Anna setengah sadar, seraya menggeser badannya ke pinggir kasur pasien. Tak lupa, Anna pun menepuk pelan sedikit bagian kasur yang kosong di sampingnya.
Satu detik.
Dua detik. Tiga detik berlalu dalam keheningan.
Hingga setelah Anna sadar dengan ucapannya barusan, wajahnya mulai merona oleh rasa malu.
Sementara itu Daffa perlahan bangkit berdiri dan melepas sepatu yang dikenakannya. Setelahnya, ia menaiki kasur dan menempati bagian kasur yang masih kosong di samping Anna.
Ukuran ranjang pasien itu memang tak nyaman untuk ditempati dua orang. Tapi Anna dan Daffa tidur menyamping, dengan posisi Anna yang membelakangi suaminya itu. Jadi, ranjang pasien itu pun cukup untuk Anna dan Daffa tidur bersama.
Kemudian Anna teringat dengan cerita Nunik, teman kampusnya yang sudah menikah. Teman Anna yang kesehariannya selalu mengenakan jilbab yang sangat lebar itu pernah bercerita kalau seorang istri tidak diperbolehkan tidur membelakangi suaminya. Kecuali dengan izinnya. Jika sang suami hendak meminta untuk berjima' dan istri menolaknya tanpa adanya alasan yang diperbolehkan, maka selama semalaman itu malaikat akan melaknat sang istri.
Duh.
Seketika itu juga Anna langsung membalikkan badan dan menghadap Daffa.
Daffa yang mulanya terkejut dengan gerakan tiba-tiba Anna itu akhirnya merasa senang. Karena kini ia bisa tidur memeluk Anna sekaligus memandang wajahnya. Sementara Anna yang merasa malu, akhirnya memilih untuk langsung memejamkan kedua matanya.
Dalam keheningan malam, pasangan suami-istri itu melewatkan malam pertama mereka dalam dekapan mahabbah pernikahan yang menenangkan.
***
__ADS_1