
Ketika Daffa sampai di mansion, waktu menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Ia melihat Anna, Zizi, dan Anis yang sedang duduk sarapan di salah satu gazebo yang ada di depan mansion.
Daffa sebenarnya merasa sangat letih, usai bergadang hampir semalaman di rumah sakit. Dua kantung hitam pun muncul di bawah mata hazel pemuda itu. Namun, begitu ia melihat wajah Anna sejak dari kejauhan, anehnya Daffa merasa langkahnya kembali bersemangat. Ia ingin segera tiba di hadapan istrinya itu untuk membawa Anna ke dalam pelukan nan erat.
Begitu ia sudah berdiri di hadapan Anna dan dua wanita lainnya, ia langsung melayangkan kecupan di ujung kepala istrinya itu.
"Gimana kondisi Ayah, Sayang?" Tanya Anna seketika.
"Tadi sebelum saya pulang, kondisi Ayah sudah lebih baik. Sekarang Ayah udah ada di kamar inap. Kalian sarapannya di sini?" Tanya Daffa tiba-tiba.
Biasanya seluruh anggota keluarga Zion selalu makan bersama di ruang makan besar.
"Mm.. cuma mau cobain makan di gazebo sini. Kamu udah sarapan belum?" Tanya Anna.
"Belum. Tadi habis dari rumah sakit, saya mampir ke kantor, terus langsung ke sini," sahut Daffa.
"Ooh.. sarapan dulu ya?" Anna menawarkan Daffa untuk sarapan.
"Kamu berangkat pagi kan kuliahnya? Kita pulang dulu aja yuk sekarang, saya sarapannya nanti aja," tolak Daffa.
Anna mengernyitkan dahi. "Kamu sarapan dulu aja ya sekarang. Saya berangkatnya siang aja gak apa-apa," tutur Anna kembali.
"Oh.. ok."
Kemudian Daffa mengambil tempat duduk di samping Anna yang kosong. Kemudian Anna mengambil sepotong roti isi daging yang masih ada di meja bulat di depannya, lalu meletakkannya di depan Daffa.
Anna juga terlihat sibuk menuangkan teh ke cangkir kosong yang belum terpakai di nampan, untuk suaminya, Daffa.
"Hmm.. Zi, apa kita cari tempat lain aja yuk. Rasa-rasanya, kalau kelamaan di sini, nanti kita bisa jadi semak-semak bunga deh di antara dua kumbang yang lagi asyik tebar kemesraan," ucap Teh Anis tiba-tiba.
Zizi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sementara Anna menundukkan kepala usai digoda oleh Teh Anis. Daffa sendiri tetap bersikap cuek. Ia malah sengaja menyodorkan potongan roti di tangannya ke mulut Anna. Membuat istrinya itu jadi serba salah sekaligus juga malu.
"Kita ke dalam dulu ya, Tasy.. ehh.. Ann..na.." ucap Teh Anis salah memanggil nama.
Anna tampak gugup dan melirik ke arah Daffa. Dan suaminya itu memandang Anis dengan pandangan bingung.
__ADS_1
Sebelum benar-benar berlalu, Teh Anis kembali menyampaikan pesan tersembunyi lewat kalimatnya. "Anna.. Daffa.. kalian ngobrol dulu aja ya.."
Setelah Teh Anis dan Zizi menjauh pergi, Daffa tiba-tiba saja bertanya.
"Sepertinya Zizi langsung akrab dengan Anis. Apa mereka sudah sering bertemu?" Tanya Daffa.
"Itu.. alhamdulillah.. anggaplah kondisi mental Zizi perlahan membaik." Sahut Anna dengan jawaban ambigu.
"Maksud kamu? Zizi sudah sembuh?" Tanya Daffa memastikan.
Anna mengangguk, dengan senyuman bahagia yang tersungging di wajahnya.
"Bagaimana bisa? Memangnya dia sudah berobat ke psikiater?" Tanya Daffa kebingungan.
Tasya menggeleng pelan. Merasa bingung untuk menjelaskan kondisi ajaib yang dialami olehnya dan juga Zizi semalam tadi.
Bagaimana ia bisa mengingat kembali identitasnya yang ternyata adalah Tasya, setelah lima tahun lamanya ia hidup dalam bayang identitas sebagai Anna, saudari kembarnya.
Tasya lalu menatap wajah Daffa lekat-lekat. Tiba-tiba saja ia teringat dengan rasa cemburu yang pernah ia tujukan untuk dirinya sendiri saat ia masih hilang ingatan. Anna ingin sekali menertawakan kebodohannya itu.
Di hadapan Tasya, Daffa memandang istrinya dengan tatapan bingung. Ia merasa ada yang berbeda pada diri Anna. Entah apa.
"Kenapa kamu tanya hal itu? Apa ada sesuatu yang kamu tahu tapi saya gak tahu?"
"Gak apa-apa. Aku tiba-tiba penasaran aja," ucap Tasya dengan jawaban asal.
"..."
Daffa menyelidik Anna lewat tatapannya.
Setelah jeda yang cukup lama, Daffa pun memberikan jawabannya.
"Mungkin, saya akan meminta maaf sama Tasya. Karena saya harus mengingkari janji suci kami di pertunangan kami dulu di Nevarest.."
Anna memberikan Daffa senyuman miring.
__ADS_1
"Kamu yakin gak akan menyesal dengan pilihanmu itu, Daff? Ehm.. sayang?" Tanya Anna kembali.
Daffa menghabiskan potongan terakhir roti di tangannya. Mengunyahnya hingga halus kemudian menelannya. Setelah menenggak setengah isi gelas susu, Daffa lalu meraih jemari Anna hingga berada dalam genggamannya.
"Dear, Anna. Sejak saya mengikat kamu dalam ijab kabul di pernikahan kita dua minggu yang lalu, maka sejak itu lah saya sudah memutuskan untuk menghabiskan sisa umur saya untuk hidup bersama kamu. Saya harap, kamu bisa mempercayai kesungguhan saya ini, Ann.." ucap Daffa bersungguh-sungguh.
Tasya memandang Daffa haru. Ia tak menyangka, dengan kesungguhan perasaan Daffa kepadanya. Terlepas dari siapa identitasnya yang sebenarnya, kalimat Daffa tadi membuktikan kepada Anna bahwa Daffa mencintai dirinya yang saat ini. Dirinya yang sebenarnya.
Dan Tasya pun bersyukur dalam hatinya, bahwa takdir telah mempertemukan mereka kembali di dunia ini. Meski ia sempat mengalami hilang ingatan yang cukup lama.
Dengan kalimat dari Daffa barusan, hilang sudah keraguan Tasya atas perasaan Daffa padanya. Ia pun akhirnya tahu, kalau Daffa pada akhirnya hanya mencintai ia dan ia saja.
"Daffa Scholinszky.. terima kasih sudah mencintai Tiang dengan begitu setia..Tiang pun.." untuk sesaat, Tasya terlihat berhenti berkata-kata. Sementara di sampingnya, Daffa mulai merasakan keanehan dalam gaya bicara Anna di depannya.
Ia terlihat mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan kalimat berikutnya.
"Tiang pun mencintai Bangsawan Linski, entah sejak kapan lamanya.." tutur Tasya dengan pandangan mata menatap lurus ke arah Daffa.
Daffa tertegun. Ia menyadari ada sesuatu yang berbeda dari Anna di depannya. Gaya bicara Anna mengingatkan Daffa pada kalimat seseorang dari tempat tinggal lamanya di Nevarest.
Seketika itu juga, Daffa menarik tangannya hingga terlepas dari tautan jemari wanita di depannya. Kemudian secara refleks, ia pun mengepalkan ke dua tangannya di pangkuan. Mencoba menahan gejolak rasa asing yang menderanya tiba-tiba.
"Siapa kamu sebenarnya?! Apa kamu juga berasal dari Nevarest, Anna? Atau.. "
Daffa menyipitkan mata ke arah Anna atau siapapun identitas asli dari istrinya itu. Entah kenapa batinnya merasa ada rahasia yang akhirnya terkuak dan akan diketahuinya sesaat lagi.
Tasya kembali meneguhkan diri. Sebelum akhirnya menyampaikan apa gang dirasakannya terhadap Daffa, saat itu juga.
"Dear, Daffa.. maafkan Tiang, karena telah membuat mu terjebak di dunia ini. Maafkan Tiang juga yang sempat fak mengingat siapa diri Tiang sendiri. Maafkan Tiang untuk semua rasa curiga dan penantian yang sudah Tiang ciptakan di antara kita. Tiang sungguh tak bermaksud untuk sengaja menciptakan jarak rahasia di antara kita.."
"Tiang pun mengakui kalau Tiang pun mencintai Bangsawan Linski. Sebagai putri ke dua dari Raja dan Ratu Nevarest, Tiang akan menerima konsekuensi untuk semua sikap salah Tiang kepada kamu, Bangsawan Linski. Ti Amorr..Sir Daffa Scholl Linski." Tutur Tasya panjang lebar.
(arti 'Ti Amorr' adalah 'aku mencintaimu')
Di depannya, Daffa tampak terhenyak begitu mendengar gelar yang disebutkan oleh wanita di depannya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
'Putri ke dua dari raja dan ratu Nevarest?! Maksudnya, dia adalah... Tasya?!' Daffa terkejut saat menyadari fakta yang disampaikan oleh istrinya itu.
***