
Ku tengok sekitar jalanan yang amat sepi. Tak ada orang atau kendaraan walau satu pun yang bisa tertangkap mata. Akhirnya dengan gemetar yang tak bisa ku kendalikan, aku pun menelpon Mama.
"Ma, dia.. dia mati! Maksud Dodi, dia mungkin tertabrak. Darahnya keluar sangat banyak. Dodi gak tahu dia udah mati atau enggak," Ucapku dengan suara bergetar.
"Tunggu. Tunggu. Kamu ngomong apa sih, Dod? Yang jelas coba jelasin ke Mama nya!" Terdengar suara Mama kebingungan di speaker telepon.
"Dia, Ma. Dia.. Kak Anna.. baru saja kecelakaan. Sekarang Dodi ada di depan gerbang kompleks."
"..."
Aku merasa sangat kalut. Kuharap Mama bisa segera datang ke tempat ini dan menolong Kak Anna. Tapi aku langsung disergap oleh rasa dingin yang datang tiba-tiba, tatkala kudengar Mama berkata, "pergi dari tempat itu sekarang juga! Pergi Dod! Jangan sampai ada yang melihatmu berada di sana!".
"A.. apa? Tapi, Ma.."
Aku tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Mama menyuruhku untuk pergi? Meninggalkan Kak Anna (Tsy) begitu saja?
Saat aku merasa sangat kebingungan, bahkan suara Mama di telepon pun tak lagi bisa ku pahami lagi, melintas lah sebuah mobil yang hendak memasuki komplek. Tanpa sadar dan dengan cepat aku menghadang mobil itu. Pengemudi nya seorang bapak tua yang tak kukenal.
Ku jelaskan pada Bapak itu tentang Kak Anna (Tsy) yang membutuhkan pertolongan saat itu juga. Dan syukurlah bapak itu mau menolong kami. Dengan menaiki mobil bapak tua itu, kami pun segera membawa Kak Anna ke rumah sakit.
Tak perlu ku ceritakan bagaimana Mama menatapku ketika ia datang menemui ku di rumah sakit. Mama terlihat cemas sekaligus marah kepadaku. Membuatku bingung dan ragu dengan akal sehat Mamaku.
Selang dua jam setelahnya, barulah aku bisa bernapas lega. Kak Anna (Tsy) berhasil diselamatkan. Selanjutnya, ia dipindahkan ke ruang ICU untuk dipantau sementara waktu.
Mama pun kemudian mengajakku pulang.
Di perjalanan pulang menuju rumah, kami berdua hanya berdiam diri.
Tapi tidak, sampai sebelum memasuki gerbang komplek, Mama tiba-tiba saja bertanya.
"Apa kamu melihat orang yang menabrak Anna?"
Aku terdiam. Kupandangi wajah Mama baik-baik. Aku berusaha mencari Mamaku yang dulu, Mama yang penyayang. Mamaku yang baik hati.
Aku berharap Mama bukanlah seorang yang mengatakan kepadaku lewat jaringan telepon untuk pergi meninggalkan Kak Anna yang bersimbah darah. Namun sayang, tak kudapati jawaban apapun dalam mata yang kupandang.
__ADS_1
Dengan ragu, aku pun menjawab, "Enggak, Ma."
Mama menahan mataku selama beberapa detik. Ia lalu tampak menghela napas lega. Seketika itu juga aku mendapatkan jawaban dari pertanyaan di benakku barusan.
'Mama tahu siapa yang menabrak Kak Anna (Tsy). Dan dia besar kemungkinan adalah seseorang yang Mama kenal, dan mungkin juga kukenal. Karena Mama tampak lega saat mendengar jawabanku atas pertanyaannya tadi,' benakku menduga-duga.
Ketika sudah membersihkan diri dan merebahkan badan di atas kasur, banyak hal melintas di pikiranku.
Di mobil tadi, aku mungkin sudah menjawab jujur pertanyaan Mama. Aku memang tak melihat saat kejadian tabrakan itu terjadi. Tapi beberapa menit sebelum kudapati tubuh Kak Anna (Tsy) yang bersimbah darah, aku jelas-jelas melihat Kak Frans melaju cepat dengan mobil milik Om Jordan. Dan setelah itu, aku yakin tak ada kendaraan lain yang melewatiku.
'Itu berarti...'
Trak..
Hatiku retak untuk yang ketiga kalinya. Menyadari kalau Mama menyembunyikan fakta terkait identitas asli gadis yang kini terbaring di rumah sakit. Menyadari kalau Mama mengetahui kalau Kak Frans berkemungkinan menjadi pelaku tabrak lari yang menimpa gadis itu. Aku tak menyangka, kalau Mama telah berubah menjadi orang yang tak kukenal. Dirinya yang sekarang terasa sangat asing bagiku.
Akhirnya, selama beberapa bulan berikutnya aku memperhatikan setiap gerak-gerik Mama juga Kak Frans. Akulah yang membujuk Mama untuk tak mengusir pergi gadis bisu Zizi dari rumah, di saat Kak Anna (Tsy) masih terbaring tak sadarkan diri.
Aku juga yang mengirim pesan-pesan darurat kepada Paman Sam, pengacara sekaligus teman dekat Papa Jordan. Berharap Paman Sam bisa lebih menjaga keselamatan Kak Anna (Tsy) di rumah sakit dari ancaman orang suruhan Frans.
Semua itu kulakukan diam-diam. Demi menebus rasa bersalahku pada Kak Anna (Tsy) oleh sebab apa yang dilakukan Mama.
Aku bahkan diminta Mama untuk menceritakan perihal kegiatan Kak Anna sehari-harinya. Itu pun hanya sebatas yang kutahu saja. Walau aku merasa bersalah telah ikut menanamkan ingatan yang salah pada gadis itu, tapi aku merasa lega. Seiyanya dengan begini nyawa gadis itu akan aman. Mungkin ini memang sudah menjadi takdir Tuhan untuk mengambil ingatan gadis itu.
Akhirnya sejak itulah aku mulai sering berdiam di rumah. Aku mengabaikan hobiku di fotografi dan mulai tertarik untuk membaca buku-buku tentang medis. Aku berkeinginan kuat untuk menjadi dokter, kelak. Bilamana gadis itu tak jua mendapatkan kembali ingatannya, maka aku akan berusaha untuk mengobatinya.
Dalam diam kuperhatikan gadis itu baik-baik. Dan beberapa fakta yang kudapat kemudian semakin menguatkan dugaanku kalau gadis itu bukanlah Kak Anna.
Seperti misalnya gadis itu bukanlah kidal. Ia juga tak mengenal nada-nada piano. Ia tampak kaku saat aku mengajaknya bermain piano. Bahkan ketukan nada saat ia mencoba mengiringiku menyanyi pun tak tepat. Padahal aku pernah membaca, kalaupun seseorang kehilangan ingatan, maka beberapa hal dasar dalam hidupnya akan tetap diingatnya tanpa ia sadari.
Kepribadian gadis ini pun cenderung lebih emosional. Berbeda dengan Kak Anna yang ia kenal selalu berkepala dingin. Jelas sekali kalau gadis itu memang benar adalah saudari Kak Anna yang bernama Tasya.
Begitu aku menyadari fakta sebenarnya ini, aku tak bergegas menyampaikannya pada orang lain. Aku merasa bimbang. Bila aku menyampaikan fakta ini pada orang lain, Paman Sam misalnya, maka Mama bisa jadi akan menerima konsekuensi atas perbuatannya. Bagaimana jika Mama dipenjara? Aku tak akan mampu menanggung rasa bersalah karena menjadi penyebab kejatuhan Mama.
Akhirnya, kuputuskan untuk menjaga Kak Anna (Tsy) dalam diam. Aku lebih sering berada di rumah untuk memantau sikap Mama dan Kak Frans.
__ADS_1
Aku akan berusaha semampuku untuk melindungi kedua gadis (Tasya dan Zizi) yang entah datang dari mana itu. Berharap ada jalan lain yang bisa kulakukan untuk menolong mereka tanpa akan melukai Mama ku.
Dalam diam aku menjadi pemerhati Kak Anna (Tsy). Hingga ia akhirnya mulai menjalani kehidupan baru sebagai Kak Anna. Dan kuakui, Tasya memang seorang yang berbeda dengan Kak Anna.
Jika Kak Anna selalu menjaga jarak dengan orang lain, Kak Tasya adalah seorang yang tak segan untuk merangkul orang lain agar mendekatinya. Ia seorang yang ramah, bersemangat, sedikit pendiam tapi tetap tangguh setiap kali menghadapi orang-orang yang melukainya.
Aku yang tadinya hendak menjadi penolongnya di balik bayangan, seringkali malah jadi penonton aksi-aksi heroik Kak Tasya.
Pernah suatu ketika ia menolong seorang ibu yang dijambret. Saat itu ia dengan beraninya menghadang penjambret yang sedang berlari ke arahnya. Itu terjadi saat aku pulang dari sekolah, dan tak sengaja melihat ia berjalan beberapa langkah di depanku. Melihat seorang ibu yang mengejar-kejar penjambret yang berlari ke arah kami, tadinya aku hendak menyingkir dan membiarkan penjambret itu pergi. Tapi aku terpaku saat melihat Kak Anna (Tsy) begitu berani memukul penjambret itu dengan tas selempangnya.
Entah apa isi dalam tas Kak Anna (Tsy). Tapi penjambret itu terlihat cukup kesakitan. Lalu penjambret itu terlihat hendak melukai Kak Anna (Tsy), aku pun segera berlari untuk menolongnya.
Sejak saat itu aku dan Kak Anna (Tasya) mulai dekat. Ia selalu menyapaku. Ia selalu bertanya tentang kegiatan di sekolahku. Ia juga satu-satunya yang tahu tentang hobi fotografiku.
Diam-diam aku menyimpan beberapa potretnya. Diam-diam aku menyimpan beberapa barang pemberiannya. Hingga tanpa sadar, aku mulai jatuh cinta kepadanya.
Sayangnya aku terlambat menyadari perasaanku itu. Hingga saat kudengar berita pernikahannya dengan seorang pria yang tak kukenal berasal darimana.
Trak..
Hatiku kembali retak. Kali ini retaknya merata hingga ke relung terdalam di hatiku. Perasaanku hampa kala melihat gadis yang kucintai menikah dengan pria lain. Tapi apa yang bisa kulakukan?
Walau aku menyadari perasaanku lebih cepat, tetap tak ada yang bisa kulakukan untuk mencegah Kak Tasya menikah dengan pria lain. Dibandingkan dengan pria itu, aku jelas kalah jauh.
Aku baru berumur 17 tahun. Ijazah SMA pun aku belum memilikinya.
Dan yang paling utama adalah, aku belum memiliki kemampuan untuk memberikan nafkah. Terutama adalah nafkah lahir. Jangankan untuk memberi nafkah. Aku saja masih menerima uang saku dari Mama. Jelas sekali, aku kalah telak.
Maka mau tak mau aku harus mengaku kalah pada lelaki bernama Daffa itu. Meski begitu, aku akan tetap mengawasi Kak Anna (Tsy). Bilamana Daffa melukai hati wanita yang kucintai itu, maka aku akan dengan berani merebutnya nanti.
Selagi menunggu, kuputuskan untuk berbenah diri. Aku harus memikirkan cara agar aku bisa menjadi seorang pria yang layak untuk dipilih oleh Kak Anna (Tsy) atau wanita manapun lainnya nanti. Mungkin aku harus memulainya dari mencari jalan agar aku memiliki penghasilan sendiri.
Hmm.. tiba-tiba saja aku teringat sesuatu.
Ketika Kak Anna (Tsy) berpamitan padaku sebelum pergi mengikuti suaminya, ia sempat meminta padaku untuk memantau keadaan rumah. Kurasa aku tahu dengan apa yang sebenarnya membuatnya khawatir. Dan itu adalah tentang Zizi.
__ADS_1
Maka aku pun menyanggupi permintaan wanita yang kucintai itu. Biarlah sementara ini kukubur dulu perasaanku padanya. Lagipula, jika memang ia adalah jodohku, bukankah walau kemana pun ia pergi, kelak ia akan selalu kembali dan akhirnya menjadi milikku? Kita tunggu saja nanti.
***