
Acara pesta pernikahan Tasya dan Daffa berlangsung sangat meriah. Dengan hiburan dari penyanyi papan atas, sajian hidangan kelas hotel bintang lima, serta dekorasi yang full menggunakan hiasan bunga asli nan wangi, acara pesta itu digadang-gadang jadi pesta termewah di kalangan para sosialita.
Semua orang besar dari banyak profesi datang menjadi tamu di acara pesta ini. Salah satunya adalah desainer sekaligus juga kenalan dekat Daffa yang bernama Yan Chen, atau akrab disapa Jason.
Dia saat ini tampak terburu-buru untuk menuju panggung utama tempat kedua pengantin tengah berada. Di sampingnya, seorang wanita cantik berkulit putih dan rambut lurus sepanjang panggul, mengikuti langkahnya dengan tergesa-gesa pula.
Ekspresi keduanya tampak tegang, kala mereka menerabas kerumunan para tamu dengan saling bergenggaman tangan. Membuat beberapa pasang mata jadi memperhatikan keduanya dengan seksama. Terutama pada wanita di samping Yan Chen, yang datang dengan pakaian tak biasa.
Wanita itu memakai pakaian berlapis-lapis layaknya perempuan Tiongkok. Dengan lapisan terluar yang terbuat dari bahan kain ringan, sehingga begitu mudah tersibak angin.
Di setiap langkah wanita itu, ia nampak seperti dewi yang terasing namun melenakan mata siapa pun yang memandang nya. Terlebih lagi dengan rambut hitam lurusnya yang sangat lebat nan panjang itu. Sungguh pemandangan yang jarang terlihat di zaman sekarang ini, di mana kebanyakan wanita memilih untuk berambut pendek atau tak terlalu panjang.
Wanita itu sendiri kini sedang menatap lurus pada pengantin wanita yang duduk tersenyum dari atas singgasana nya. Matanya menelisik setiap inci dari wajah sang pengantin dan mengakui kalau ia memiliki kemiripan yang teramat identik dengan wajahnya sendiri.
Dan, sang pengantin lalu menyadari sorotan mata dari sang wanita asing. Tasya menolehkan pandangannya ke arah kanan panggung. Dan ia sangat terkejut, hingga tanpa sadar langsung saja berdiri. Di sampingnya, Daffa ikut menoleh, berdiri, dan bertanya khawatir.
"Kamu kenapa, Sayang?"
Tasya mengerjapkan matanya berkali-kali. Masih dengan tetap memandang lurus pada keberadaan wanita asing yang tak asing baginya itu.
"Anna..?!"
"Apa?!" Daffa mengikuti arah pandang sang istri dan ikut terkejut sama seperti Tasya.
Dilihatnya seorang wanita yang memiliki kemiripan hampir 100% dengan Tasya kini sedang berjalan menghampiri mereka bersama seseorang yang sangat dikenalnya.
"Chen? Bagaimana bisa kamu bersama dengan Anna?" Daffa langsung saja melempar tanya.
"Ceritanya panjang. Bisakah kita bicara di tempat yang lebih privat?" Pinta Yan Chen.
Daffa memandangi Yan Chen. Ada yang berbeda dari lelaki di hadapannya itu. Ia tak lagi bersikap gemulai layaknya wanita seperti biasanya ia. Pandangan Yan Chen kini tampak menyimpan misteri yang hanya lelaki itu saja yang mengetahuinya.
"Itu.. bisakah kita menunggu setengah jam lagi? Acara pesta masih berlangsung sampai jam tiga. Setengah jam lagi acara baru akan berakhir." Daffa memutuskan.
Daffa tak ingin media menuliskan sesuatu yang tak baik perihal pesta pernikahannya dengan Tasya. Terlebih lagi dengan kedatangan seorang wanita yang sangat mirip dengan Tasya.
Pastilah sudah ada banyak mata yang menyaksikan kemiripan dua wanita ini. Dan pasti juga banyak dari mereka yang akan bertanya-tanya. Daffa akan menjelaskan identitas asli Anna kepada publik, jika Anna mengijinkan, agar media tak lagi tertarik untuk mencari tahu perihal dirinya dan Tasya sepeninggal mereka ke Nevarest nanti.
Yan Chen lalu menoleh ke Anna. Dan Anna lah yang akhirnya menyahuti ucapan Daffa.
"Baiklah!" Sahut Anna sangat singkat.
"Kau.. Anna bukan?" Tiba-tiba Tasya membuka mulut untuk pertama kalinya sejak kemunculan Anna yang tiba-tiba.
Anna memandang Tasya dengan pandangan teduh, lalu memberinya senyuman kecil.
"Ya, adikku. Lama tak berjumpa!" Sapa Anna.
Dan seketika itu pula Tasya langsung menghambur memeluk Anna.
"Sayang.. jangan menangis ya. Bersabarlah setengah jam lagi. Ingat, pesta pernikahan kita masih berlangsung," Daffa mengingatkan.
Tasya melepas pelukannya pada Anna. Lalu membiarkan Anna pergi turun dari atas panggung bersama dengan Yan Chen. Tapi Anna tak berdiri terlalu jauh dari panggung, sehingga Tasya seringkali melirik ke arah kakak kembar nya itu berada.
Tamu terus datang silih berganti. Hingga tak terasa setengah jam pun berlalu sudah. Semua tamu yang tersisa mulai menghampiri pengantin untuk bersalaman dsn menyampaikan doa mereka untuk keduanya.
Setelah menyalami tamu terakhirnya, Tasya dan Daffa langsung pergi ke ruang ganti untuk menemui Anna dan Yan Chen yang sudah menunggu di sana.
"Ceritakan tentang dirimu, Kak! Ke mana saja kamu selama ini? Aku pergi dari Nevarest untuk mencari mu, tapi ternyata kamu gak ada di sini. Menghilang mengikuti jejak ayah yang juga pergi menghilang. Apakah..?"
"Tasya Sayang.. duduklah dahulu. Tenangkan dirimu. Ingat dengan dede janin dalam kandungan mu Sayang. Jangan panik.." tegur Daffa.
Mendengar kalimat Daffa itu, Tasya langsung menenangkan dirinya. Sementara di samping nya, Anna dan Yan Chen membelalakkan mata kaget.
"Kamu hamil, Tasy?"
"Ya kak. Sudah masuk empat bulan sekarang ini.." sahut Tasya dengan rona bahagia di wajahnya.
Tasya lalu menyadari kebingungan di wajah Anna. Dan ia buru-buru menjelaskan.
__ADS_1
"Kami sebenarnya sudah menikah sekitar empat bulan lalu. Tapi baru mengadakan pesta nya sekarang.."
"Ooh.."
"Jadi bagaimana ceritanya Kakak sampai ke sini?"
"Ceritanya sangat panjang, Tasy. Sementara kita sedang diburu waktu saat ini. Nevarest sedang dalam keadaan genting. Tahta Ayah terancam, sementara musuh hampir menguasai seluruh kekuasaan kerajaan. Kami membutuhkan kehadiranmu, Tasya."
"Kehadiranmu akan bisa membuktikan tuduhan tak berdasar kepada keluarga kerajaan. Ayo kita pulang ke Nevarest!" Anna mengajak Tasya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Tak bisakah Kakak menjelaskannya terlebih dulu?" Tasya mendesak.
Anna menghela napas letih.
"Jelaskan saja secara singkat, De.. Tasya berhak untuk mengetahui hal dasar yang sudah terjadi di Nevarest saat ini," Yan Chen tiba-tiba bersuara.
"Hh.. baiklah.."
Dan menit-menit berikutnya, Anna pun menceritakan bagaimana ia pergi untuk mencari ayah melalui petunjuk secarik kertas. Lalu ia sampai di Nevarest dan tinggal di sana selama beberapa tahun ini, karena menunggu sang ayah yang tak jua muncul hingga beberapa bulan yang lalu.
Namun, ketika ayah mereka telah kembali dan memegang tahta nya kembali, keadaan Nevarest tidaklah lagi damai. Ada kekuatan asing yang ingin menguasai Nevarest dan mulai menanamkan banyak mata-mata di istana.
Dengan kondisi Bunda ratu Elva yang terbaring koma, serta munculnya desas-desus tentang dirinya (Anna) yang mungkin telah melukai saudari kembarnya sendiri (Tasya) demi tahta, kondisi Nevarest berada dalam titik paling gentingnya saat ini.
Karenanya, kemunculan Tasya kembali ke Nevarest diharapkan menjadi salah satu cara untuk menstabilkan keadaan istana yang sedang kacau.
Mendengar kisah sang Kakak, Tasya langsung saja berkomentar.
"Kalau begitu, ayo kita pulang ke Nevarest sekarang juga!" Ujar Tasya.
"Saya akan menyiapkan pesawat untuk kita pulang. Sementara itu, kamu bersiap-siaplah!" Daffa berujar.
"Dan aku akan mencari Zizi dan juga Teh Anis. Akan kukatakan padanya kalau kita akan pulang ke Nevarest sore ini juga," ucap Tasya kembali.
"Kami akan menunggu kalian di sini," ucap Yan Chen menambahkan.
"Baiklah. Kita akan bertemu lagi sekitar satu jam kemudian,"
Daffa lalu memerintahkan anak buahnya untuk mempersiapkan satu pesawat kecil yang bisa menampung lima belas penumpang untuk keberangkatannya ke Nevarest. Tadinya ia mengira akan pulang bertiga saja dengan Tasya dan Zizi. Jadi pikirnya dengan helikopter pun akan cukup.
Tapi dengan kemunculan Anna dan Yan Chen ini, tentu saja sebuah helikopter tak akan muat membawa mereka semuanya.
Sementara itu, Tasya kini sedang menelpon Zizi. Syukurlah ia telah membelikan Zizi ponsel untuk memudahkan komunikasi mereka. Jadi di saat kondisi sedang genting seperti ini, Tasya tak perlu sibuk mencari Zizi ke mana-mana.
"Zi? Kamu di mana?" Tasya bertanya lewat sambungan telepon.
"Di toilet, Kak.. kenapa?"
"Cepat temui Kakak di ruang ganti. Sekarang juga!" Desak Tasya.
"Baik, Kak!"
Klik. Sambungan telepon pun terputus.
Selanjutnya, Tasya menelpon teh Anis. Pada teteh yang sudah seperti kakak baginya itu Tasya mengatakan kalau ia akan pulang ke Nevarest sore ini juga. Dan Teh Anis pun mengatakan akan menemuinya di ruang ganti.
"Karina.." Tasya menggumam kan nama sahabatnya itu. Ia ragu untuk menelpon sahabatnya itu. Pada akhirnya ia memutuskan untuk mengirim pesan singkat terakhirnya untuk Karina.
Dalam pesannya, Tasya menyampaikan kalau ia dan Daffa akan berbulan madu ke tempat sepi untuk waktu yang sangat lama. Karenanya mungkin komunikasi akan jadi semakin sulit nanti.
'...berbahagia selalu ya Rin Rin, di manapun kamu berada. Dan, walaupun kita terpisah, kamu harus yakin kalau doaku selalu menyertaimu. Terima kasih sudah jadi sahabat terbaikku, Ya Rin..'
Tasya mengusut tangis yang kembali hendak meluncur turun dari sudut matanya. Ia masih saja bersedih atas perpisahan yang akan dilakukannya beberapa waktu lagi.
Tasya lalu pergi ke kamar ganti pribadinya untuk berganti baju yang lebih nyaman. Ia memutuskan untuk memakai gaun long dress yang menyerupai gamis, dengan model outer berwarna toska. Penampilannya hampir menyerupai gaya berpakaian Kak Anna. Meski tak setebal yang dipakai oleh kakak kembarnya itu.
Setelahnya, ia bergegas menunaikan shalat zuhur yang dijama' dengan shalat ashar. Karena kini waktu telah memasuki waktu shalat ashar.
Pandangan Tasya lalu menatap ke arah tumpukan kado dari teman-teman nya yamg belum ia buka. Tasya kembali memandang sedih. Merasa bersalah karena ia mungkin tak akan sempat untuk membuka kado-kado itu.
__ADS_1
Ingatannya kembali menelusuri kenangannya bersama semua orang yang dikenalnya di bumi. Dan perasaan sedih itu kembali menguasai.
Namun, pikiran sedih itu tak bercokol lama di benak Tasya. Kala diingatkannya cerita Kak Anna tentang kondisi ayah dan Bunda nya di Nevarest kini. Mereka sangat membutuhkannya.
Tak lama setelah itu, Zizi dan Teh Anis masuk ke dalam kamar ganti nya. Teh Anis memeluknya sangat lama.
"Berhati-hatilah, Tasya. Di manapun kamu berada," nasihat Teh Anis.
"Ya, Teh.. teteh gak mau ikut ke Nevarest?"
"Untuk menemui siapa, Tasy? Papa teteh? Teteh aja gak tahu siapa dia. Jadi biarlah teteh menikmati hidup teteh di sini. Kamu pulang dan temui orangtua mu. Mereka pastilah sangat merindukan mu," papar Teh Anis.
"Maafkan Tasya ya teh untuk semua kesalahan Tasya kepada Teteh.."
"Ya. Ya.. dan Teteh pun minta maaf sama kamu ya. Kamu baik-baik jaga diri dan dede janin dalam kandungan mu,"
"Kita.. pulang sekarang Kak?" Zizi tiba-tiba bertanya.
"Ya Zi.. kepulangan kita dipercepat jadi sore ini. Kamu.. udah pamitan sama Dodi kan?" Tanya Tasya hati-hati.
Zizi sekilas menunduk, sehingga Tasya maupun Teh Anis tak bisa melihat kilat kesedihan di wajah gadis yang mulai beranjak dewasa itu.
"Sudah, Kak," sahut Zizi akhirnya.
"Kalau gitu, kakak akan mengajakmu menemui seseorang."
"Siapa Kak?" Tanya Zizi sedikit penasaran.
"Kamu akan mengetahuinya nanti," ujar Tasya dengan nada misterius.
***
Tasya lalu mengajak Zizi dan Teh Anis untuk menemui Anna. Keduanya mulanya sangat terkejut kala bertemu dengan kembaran identik nya Tasya itu. Namun, setelah beberapa menit bercengkerama, keakraban langsung menyelimuti hubungan di antara wanita-wanita itu.
Daffa lalu muncul beserta Ayah Zion yang duduk di kursi roda, Kak Marine beserta suaminya, serta Tante Soraya.
Tasya pun lalu berpamitan pada keluarga yang baru dikenalnya itu. Ia memeluk Kak Marine, Ayah Zion dan juga Tante Soraya secara bergantian.
Suasana kembali diliputi kabut haru. Menyadari ini adalah perpisahan yang telah mereka ketahui akan terjadi sejak jauh-jauh hari. Membuat perpisahan jadi terasa agak berat jadinya.
Dalam setiap pelukannya, Tasya memohon maaf pada mereka yang ia peluk. Dan ucapan yang sama pun diterima juga oleh Tasya.
Namun ketika Tasya memeluk Tante Soraya, Tante nya itu tahu-tahu mengatakan sesuatu yang tak terduga kepada Tasya.
"Berikan gelang ini pada seorang kakek yang menjaga dunia enam pintu, jika nanti kamu bertemu dengan nya. Katakan kepadanya, hutang nya pada Sora dianggap lunas."
Tasya memandang bingung pada sebuah gelang manik-manik berwarna hijau zamrud yang baru saja diberikan oleh Tante Soraya padanya. Namun melihat ekspresi di wajah Tante nya itu, Tasya tak jadi bertanya. Dan memutuskan untuk langsung menyimpan gelang itu ke dalam saku baju nya.
"Ya, Tante. Jika Tasya bertemu dengan kakek itu, Tasya akan memberikan gelang ini padanya," janji Tasya.
"Terima kasih, Tasya, Sayang.."
"Sama-sama Tante."
Selanjutnya, Daffa mengajak Tasya, Zizi, Anna dan juga Yan Chen untuk mengikuti nya menaiki mobil Bentley.
Syukurlah mobil milik Daffa itu memiliki kapasitas yang cukup luas. Sehingga cukup untuk ditumpangi oleh kelima orang itu dengan kondisi masih nyaman.
Sebelum memasuki mobil, Tasya kembali memandangi satu persatu wajah yang akan sangat ia rindukan kelak. Entah ia bisa kembali lagi ke bumi atau tidak, yang jelas Tasya bersyukur karena ia telah mengenal semua orang baik di bumi ini.
'Terima kasih semuanya! Aku bersyukur telah mengenal kalian. Aku tak akan melupakan kalian sampai kapan pun juga. Kenangan bersama kalian akan selalu kusimpan dalam hatiku. Dan akan ku ceritakan nanti pada anak-anak ku. Terima kasih untuk memori indah yang telah kalian bagi bersamaku. Semoga kebaikan senantiasa menyertai kalian semuanya di manapun kalian berada. Perpisahan ini, akan ku anggap sebagai masa tunggu bagiku untuk perjumpaan abadi yang akan kita sambut kelak ketika kita sama-sama menghadap pada-Nya nanti. Sayonara!' pamit Tasya dalam hati.
Tasya lalu masuk ke dalam mobil. Melambaikan tangannya singkat pada Teh Anis, Ayah Zion, Kak Marine serta Tante Soraya yang masih melepas kepergian mereka di depan gedung ballroom.
Mobil pun mulai melaju. Membawa serta kelima penumpangnya menuju tempat tujuan mereka berikutnya. Bandara privat yang dimiliki oleh Keluarga Zion Tech.
Di bandara sana, pesawat komersil mini telah menanti mereka berlima. Untuk mengantarkan mereka menuju Nevarest, dunia penuh keajaiban, di mana keluarga kandung Tasya dan Anna sebenarnya berada.
TAMAT
__ADS_1
***