
~Kembalilah, Sobat!
Ingatlah mimpi-mimpi mu, mimpi-mimpi kita
Genggam erat jemariku, jangan lagi kau lepas
Tak ingin ku berpisah, ah... Ah..~
#sepenggal lirik awal lagu ending soundtrack Anime Naruto yang berjudul "No regret Life" atau "Nakushita Kotoba".
***
Pada akhirnya, hubungan Anna dan Karina pun resmi menjauh sejak perselisihan mereka pada Selasa sore lalu. Karina selalu bersikap seolah-olah mereka tak pernah berteman sama sekali.
Sehari.. dua hari.. tiga hari berlalu begitu cepat. Anna melalui hari-harinya itu dengan semangat yang kurang daripada biasanya.
Di kampus, meski Anna masih bisa bercanda dengan kawan sekelasnya yang lain, ia tetap saja merasa sedih saat dilihatnya Karina yang duduk sendirian tanpa seorang pun teman untuk diajaknya berbincang.
Ya. Karina kembali ke perannya dulu. Menjadi Sang Putri Es yang sulit untuk didekati oleh siapapun. Ia lebih sering terlihat sendirian di perpustakaan, atau di taman kampus, menyantap bekal makan siangnya yang dibawanya dari rumah.
Anna sangat menyayangkan apa yang terjadi di antara keduanya. Hingga saat ini ia masih belum mengetahui alasan pasti penyebab Karina marah padanya.
Jauh di dalam hatinya, Anna masih ingin memperbaiki hubungan persahabatannya dengan Karina. Karena walau bagaimanapun juga, Karina adalah teman dekat pertama Anna semenjak ia hilang ingatan lima tahun lalu.
Ya. Berkat kecelakaan mobil lima tahun itulah Anna akhirnya harus mengulang kehidupannya lagi sedari awal. Ia bahkan harus mempelajari banyak hal tentang hidupnya sendiri.
Anna juga terkadang merasa beberapa kebiasaannya dulu (menurut cerita Bik Inem ataupun Mama Ira) tidaklah sesuai dengan kata hatinya. Seolah-olah cerita orang-orang tentang dirinya sebelum kecelakaan adalah tentang orang lain.
Semisal bermain piano dan menari balet. Dua kegiatan itu adalah contoh dari beberapa hal tentang dirinya di masa sebelum kecelakaan, yang tak lagi Anna lakukan saat ini.
Anna merasa tangannya seolah telah lupa untuk menekan tuts-tuts piano. Serasa kaku atau bahkan bisa dibilang ia tak memiliki bakat. Padahal menurut Bik Inem, dirinya dulu sering bermain piano sepanjang sore.
Pun jua dengan balet. Kegiatan menari yang setelah Anna melihat rekaman dirinya saat latihan menari, Anna malah merasa tak tertarik untuk menari lagi.
Hingga kini Anna masih merasa seolah ia hidup dalam kehidupan yang berbeda. Sungguh perasaan yang aneh sekali.
Karenanya, saat ia bertemu dengan Karina, lalu bersahabat dengan nya, Anna merasa bahagia. Seolah-olah ia akhirnya menemukan sahabat pertamanya dalam hidupnya ini.
Anna berharap ia bisa segera mengingat ingatannya kembali. Sehingga ia bisa beraktivitas normal tanpa adanya bayang-bayang rasa asing yang senantiasa membuntuti hidupnya kini.
***
Hari ini adalah hati Sabtu. Esok Anna akan menghadiri acara ulang tahun Ayah Zion bersama suaminya, Daffa.
Sabtu ini Anna tetap pergi ke kampus pagi-pagi. Karena ia akan ikut membantu teman-teman di BEM untuk mengadakan acara pensi musik.
Ceritanya BEM akan berkolaborasi dengan alumnus kampus yang telah sukses menjadi salah satu grup musik terkenal di Indonesia, Stardust. Stardust terdiri dari lima orang alumni kampus Airlangga yang telah lulus beberapa tahun yang lalu.
Melalui kegiatan ini, BEM ingin menaikkan pamor nama kampus ke lingkungan sekitar dan juga lingkungan luas bahwa kampus Airlangga memiliki jebolan alumni yang telah berhasil di bidang seni.
__ADS_1
Harapan nya, dengan diadakannya pensi ini, popularitas Fakultas Seni dan Budaya yang terbilang masih baru didirikan beberapa tahun belakangan, akan menjadi naik.
Anna seperti biasa, berangkat bersama Daffa, diantar oleh Pak Kiman. Sebelum berpisah, Daffa mengatakan kalau sore nanti ia akan ikut menjemput Anna. Rencananya mereka akan mampir ke mall terlebih dahulu untuk membeli hadiah Ayah Zion yang berulang tahun.
Bicara tentang Daffa, Anna semakin mensyukuri pertemuannya dengan suaminya itu. Entah bagaimana, ia merasa takdir sangat baik kepadanya karena menghadirkan sosok lelaki yang membuatnya merasa nyaman, padahal Anna baru mengenalnya sekitar tiga minggu ini.
Beberapa hari ini, saat Anna berselisih dengan Karina, Daffa menjelma jadi salah satu orang yang dekat dengannya. Di saat Anna merasa sedih dengan sikap Karina, juga rindu pada Zizi, Tedi, Dodi, bahkan juga Mama Ira, Daffa menghiburnya dalam bentuk perhatian-perhatian kecil yang menghangatkan hati Anna.
Meski Daffa masih sering pulang larut malam, ia selalu memberikan perhatian kecil seperti memesankan makanan, menyediakan jasa pinatu saat Anna berangkat kuliah (sehingga Anna belum pernah mencuci baju sejak kepulangan mereka dari Lombok), serta perhatian-perhatian kecil lainnya.
Walau, Anna juga masih kaku saat mereka melakukan Husui (Hubungan Suami Istri), tapi Anna bisa menilai kalau Daffa tetap lebih mementingkan Anna terlebih dahulu sebelum mengejar kenikmatan dirinya sendiri.
Kembali ke saat ini, ketika Anna selesai mengecek persiapan pengadaan alat-alat pensi. Acara pensi rencananya akan dimulai jam sepuluh nanti. Anna yang sudah selesai dengan tugasnya, lalu berkumpul bersama teman panitia lainnya di belakang gedung.
Mereka sedang melepas lelah dengan memakan rujak buah yang baru saja dibelikan oleh Ketua BEM mereka yang baik hati, Kak Daniel. Di saat waktu mendekati dimulainya acara, tiba-tiba saja Beti, sang MC acara terlihat panik usai membaca pesan di hp nya.
"Duh! Gimana nih guys?? Olan yang seharusnya ngisi acara dengan solo akustik, tiba-tiba ngabarin kalau dia kecelakaan motor pas di jalan mau ke kampus!" Ucap Beti menyampaikan berita genting itu.
" Tenang, Bet! Coba kontak anak musik lainnya. Masih ada waktu sekitar setengah jam an lah sebelum slot time solo akustik mulai," sahut Ririn mencoba menenangkan Beti.
"Oke. Gua coba kontak deh ya. Eh, boleh dong kalian juga kabarin ke temen-temen. Biar kita bisa cepet dapet penggantinya," mohon Bella kepada kelima belas panitia yang ada di belakang panggung saat itu.
Selama sepuluh menit berikutnya, panitia pensi tampak sibuk mencari pengganti untuk penampil solo akustik nanti. Kini Beti sudah berdiri di atas panggung untuk memulai acaranya.
Dengan saran Kak Daniel, Beti pun berusaha mengulur-ulur waktu agar panitia pensi mendapatkan waktu yang cukup untuk menemukan penampil acara pensi.
"Udah, Dan. Dito sms ngabarin kalo dia lagi ada kelas praktik sekarang," sahut Bagas.
"Diandra gimana? ada yang punya nomor kontaknya gak?"
"Udah ku kontak. Tapi dia lagi ada acara keluarga sekarang. Katanya mau lamaran.."
"Atau dimajuin aja penampilan nya? ada yang udah ready?"
"penampil berikutnya kan Band Indie. Tapi dua anggota nya belum datang Dan.. masih di jalan.."
"Coba kontak dua orang yang belum datang itu. Minta untuk tampil lebih awal. Tapi yang lain tetep cari opsi lainnya!" saran Kak Daniel kemudian.
Beberapa saat kemudian...
"Gimana? udah dapat kabar dari Band Indie?" tanya Kak Daniel.
"Negatif, Dan.." sahut Ema.
"..."
"..."
"Efin, gimana? Denger-denger anak baru itu juga jago main piano," tanya Kak Daniel lagi.
__ADS_1
"Efin lagi PMS, Dan.."
Selama sesaat, suasana hening. Sampai kemudian Kak Daniel kembali melontarkan nama orang-orang yang dikenalnya mampu menjadi penampil acara.
Tapi semua nama yang disebut Kak Daniel itu selalu saja mendapat jawaban yang negatif. Entah ada yang berhalangan lah, sedang sakit lah, rumahnya terlalu jauh lah, terlalu malu lah, dan lain-lain.
Sampai kemudian, Inge tiba-tiba saja mencetuskan nama yang tak disangka-sangka oleh semua yang ada di situ.
"Eh, Anna! Lo kan jago nyanyi ya! Udah. Lo aja deh ya yang nyanyi," celetuk Inge tiba-tiba.
"HAH?! Enggak! Enggak! Plis jangan aku deh. Kamu tuh ya Nge. Bisa nyanyi sama jago nyanyi tuh beda ya!" Anna mengkesal pada Inge yang mencetuskan namanya secara tiba-tiba.
"Tapi suara Lo tuh merdu banget loh, Ann. Gua masih inget banget pas kita lagi ngejagain stand acara seminar di Aula Madya. Pas lagi sepi-sepinya Lo nyanyiin lagu nya Melly Goeslaw yang 'Jatuh Cinta'. Itu tuh asli, keren tahu!" Ucap Inge kembali, sedikit mengompori.
Anna mendelik kan matanya ke arah Inge agar temannya itu segera menutup mulut. Tapi terlambat. Kini perhatian semua orang sudah tertuju pada Anna. Sampai-sampai Kak Daniel pun akhirnya menyimpulkan.
"Well, Anna. Kayaknya kita bergantung sama kamu ya untuk ini. Kita akan langsung kabarin ke orang panggung kalo kamu yang akan tampil lima belas menit lagi. Ok? Sekarang, kamu pilih dulu lagu yang mau kamu nyanyiin nanti. Biar nanti orang panggung siapin musiknya, we count on you, Anna (kami bergantung padamu, Anna)!"
"Ehh?! Tunggu Kak Daniel! Anna gak pernah nyanyi di atas panggung. Kalo Anna demam panggung gimana??" Anna memberi alasan.
"Kamu demam panggung? Seinget saya, kamu juga jadi kandidat MC selain Beti dan Elang. Kamu pasti bisa, Anna. Semangat!" Ucap Kak Daniel lagi, seraya berjalan menjauh.
Anna terhenyak merasa sedikit panik.
"Ingeee! Gimana ini? Kamu sih! Aku kan pemalu. Mana bisa aku nyanyi di depan panggung, Nge!" Anna menggerutu.
Yang dimarahi malah menyengir ke arah Anna.
"Udah.. eksekusi aja, Ann. Lo punya modal suara yang bagus kok! Daripada gua yang nyanyi, coba? Bisa-bisa orang-orang malah kabur lagi, pas denger gua baru ngomong halo! Lo kan tahu gua tuh deaf tone (buta nada)," tutur Inge beralasan.
"Iya, Anna. Kamu cukup tampil tujuh menit juga gak apa-apa kok. Segitu juga udah lumayan ngebantu banget. Kasihan tuh Beti di panggung. Yang lagi nyerocos ngalor ngidul gak jelas nyari bahan omongan," ucap Yoga, teman panitia yang lainnya.
Merasa pasrah dengan nasibnya, Anna pun akhirnya menghela napas kesal.
"Terus nyanyi apa nanti aku? Lima belas menit lagi ini?" Keluh Anna sedikit panik.
"Apa aja deh yang Lo bisa. Lo mood nya lagi nyanyi apa sekarang, udah eksekusiin aja di atas panggung!" Celetuk Inge lagi.
Anna kembali mendelik kan matanya ke arah Inge. Sedikit kesal dengan celetukan temannya itu sehingga menjebak Anna pada kondisi seperti saat ini.
"Yang sesuai ama mood-ku?" Tanya Anna membeo.
"Ho oh! Lagu Burung Kaka Tua, kalau Lo yang nyanyiin juga kayaknya bakal merdu banget deh!" Ucap Inge dengan asal.
"Ngawur kamu, Nge!" Anna mengkesal pada Inge.
"Hmm.. Lagu apa ya?" Anna merenungkan pertanyaan itu pada dirinya sendiri.
***
__ADS_1