Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Keinginan Zizi


__ADS_3

"Kamu..?! Apa.. apa yang sebenarnya terjadi, Anna? Tasya? Kamu gak lagi mencandai saya, kan? Kamu benar adalah Tasya? Putri Tasyafa Maharania Frost?!" Tanya Daffa mencari kepastian pada wanita di depannya itu.


"Ya, Sayang.. aku adalah Tasya.." ucap Anna tanpa berbasa-basi lagi.


Seketika itu juga Daffa berdiri dari posisi duduknya, dan melangkah menjauh dari Tasya sekitar dua langkah. Setelahnya, Daffa membelakangi Tasya, memandang pada entah apa di kejauhan sana, seraya mengepalkan kedua tangannya.


Baru kemudian, setelah keduanya melewati keheningan selama lima menit lamanya, Daffa kembali berbalik hingga menghadap ke arah istrinya itu. Sebuah kalimat tanya kembali terlontar dari mulut Daffa.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Putri.. Tasya?" Tanya Daffa meminta penjelasan pada Tasya.


Dan Tasya pun pada akhirnya menceritakan alur hidupnya semenjak ia tiba fi dunia ini bersama Zizi.


Pencariannya atas saudari kembarnya yang bernama Anna, juga Ayah yang telah ia lupa sosoknya seperti apa, namun pada akhirnya Tasya malah mengalami pengurungan oleh Mama Ira.


Bagaimana kemudian ia mendapati kabar Anna yang telah lama menghilang, sehingga ia pun lalu berusaha untuk kabur dan membebaskan diri untuk mencari pertolongan. Hingga akhirnya ia harus mengalami kecelakaan yang dilakukan oleh Frans, keponakan dari Mama Ira.


Tasya menceritakan semua yang dialaminya itu hingga ke detik saat ia tiba-tiba saja mengingat semuanya. Sampai ia juga menceritakan perihal kekuatan magis yang dimiliki oleh Teh Anis. Kekuatan memanipulasi waktu.


"Anis juga berasal dari Nevarest?" Tanya Daffa kemudian.


"Teh Anis mengaku gak tahu. Ia bahkan sepertinya baru mengetahui tentang Nevarest saat semalam Tasya mengaku ingatan Tasya kembali.."


"Oh.."


"..."


Daffa lalu kembali duduk di hadapan Tasya. Ia tak bisa menggambarkan perasaanya saat ini seperti apa. Mendengar setiap fakta yang disampaikan oleh istrinya itu membuatnya merasa bagai dalam mimpi.


Daffa takut untuk mempercayai kebenaran mimpi indah ini. Ia takut, jika kelak saat ia tersadar bangun, ia harus kembali dihadapkan pada kenyataan tentang Anna bukan sebagai Tasya.


Tapi, bila dipikirkan kembali, jikalau Anna bukanlah Tasya pun, Daffa akan tetap bersikukuh untuk tetap bersama Anna. Karena yang ia cintai saat ini adalah wanita di hadapannya itu. Bukan Tasya, tunangannya yang telah lama tak ia ingat rupanya.


Meski begitu, dengan adanya fakta bahwa Anna sesungguhnya adalah Tasya, maka Daffa bersyukur berkali kali lipat. Karena ia jadi tak harus mengingkari janji suci yang telah keduanya ucapkan di altar pertunangan di Nevarest, beberapa tahun yang lalu.


Daffa kembali meraih jemari Tasya untuk ia cium. Berkali-kali ia menciumi punggung dan setiap jemari Tasya hingga istrinya itu mulai jengah dibuatnya. Setelahnya, Daffa langsung menarik Tasya hingga berada dalam pelukannya. Sebuah pelukan yang sangat erat.

__ADS_1


Pelukan kerinduan. Pelukan kelegaan. Pelukan rasa bahagia yang tak terkira yang membuncah dalam dirinya.


"Thank you, Tasya Dear.. for coming back to me.(makasih Tasya sayang.. telah kembali kepadaku).. now i know, that we're meant to be together (sekarang saya tahu, kalau kita memang sudah ditakdirkan untuk bersama)."


"Whoever your name (siapapun namamu).. Anna.. Tasya.. i'm still loving you and only you (saya akan selalu mencintai kamu.. dan hanya kamu..)" lirih Daffa di dekat kepala Tasya.


Setelah agak lama tak menyahut, pada akhirnya Tasya pun membalas ucapan Daffa, suaminya itu.


"I love tou too, Daffa.. Thank you for searching me till here (terima kasih sudah mencari hingga ke sini/bumi).. Thank you for finding me (terima kasih sudah menemukanku).. and loving me again and again (dan mencintaiku lagi dan lagi).. Ti Amorr.." sahut Tasya dengan lirihan yang serupa.


***


"Uhuk! Uhuk! Maaf ya Sepupuku yang sedang kasmaran ini.. Zizi mau menyampaikan sesuatu terlebih dulu, katanya.." suara Teh Anis tiba-tiba saja menyeruak di antara keheningan dan kesyahduan yang melingkupi Tasya dan juga Daffa.


Seketika itu juga Tasya mendorong dada suaminya hingga tubuh keduanya kembali berjarak. Dengan wajah memerah karena malu, Tasya pun menoleh ke arah Zizi, yang terlihat canggung.


"Kenapa Zi?" Tanya Tasya kemudian.


Dan Zizi pun akhirnya berkata, walau suaranya terdengar sedikit serak karena telah terlalu lama ia tak bicara. "Zizi sementara ini tinggal sama Teh Anis dulu boleh Ka?" Mohon Zizi tiba-tiba.


Seketika itu juga Daffa menolehkan wajahnya pada Tasya. Yang, langsung dibalas Anna dengan pandangan memohon.


"Boleh kan, Sayang? Setelah aku mengingat kembali identitas kami, rasa-rasanya aku ngerasa gak tenang kalau ninggalin Zizi di rumah Mama Ira.. Kamu bisa ngerti itu kan, Sayang?" Mohon Tasya.


Daffa langsung memberikan Tasya jawaban positif. "Tentu saja boleh, Sayang.. Memang lebih baik kalau Zizi segera keluar dari rumah itu," sahut Daffa.


"Ya. Aku pikir juga begitu. Tapi Zizi.." Tasya kembali memandangi Zizi.


"Maaf ya, Kak. Zizi merasa akan lebih nyaman kalau Zizi gak tinggal sama Kakak dan Kak Daffa dulu. Bagaimanapun kuga kan kalian baru menikah ya.." papar Zizi kemudian.


Tasya terlihat hendak menyanggah permintaan Zizi itu kembali. Namun, pegangan tangan Daffa di lengannya membuat Tasya menahan diri.


Setelah Tasya memikirkan baik-baik permintaan Zizi itu, Tasya pun akhirnya bisa mengerti dengan kenyamanan yang dimaksud oleh Zizi.


Di usianya yang ke 15 tahun ini, Zizi memiliki pemikiran yang lebih dewasa dibanding usia teman sebayanya. Dengan tinggi tubuh yang sedikit lebih pendek dari Tasya (165 cm), Zizi sekilas tampak seperti sudah duduk di bangku SMA. Meski secara fisik, Zizi belum menunjukkan perkembangan yang cukup menonjol di beberapa bagian anggota tubuh kewanitaannya.

__ADS_1


Tasya memikirkan, jika ia menjadi Zizi, mungkin ia juga akan merasa tak nyaman jika harus ikut tinggal bersama dengan kakak ipar nya yang baru menikah. Terlebih lagi Tasya dan Daffa tinggal di penthouse yang bentuknya serupa dengan rumah berukuran sedang.


Lain halnya jika Zizi tak hanya tinggal bertiga saja dengan Tasya dan Daffa. Tapi, tak mungkin juga kan bila Anis ikut tinggal bersama mereka?


Maka akhirnya Zizi pun menerima tawaran dari Teh Anis untuk tinggal bersama dengannya di kosan dekat kampus kakak-kakaknya itu. Dengan begitu, ia masih bisa sering berjumpa dengan Kak Tasya nya.


Tasya lalu menghela napas panjang. Sepertinya pilihan Zizi untuk tinggal bersama dengan Teh Anis adalah pilihan terbaik untuk saat ini.


Tasya pun menoleh ke arah Teh Anis. "Maaf Teh, apa boleh kalau Zizi tinggal sama Teh Anis dulu untuk sementara waktu? Sampai, keadaan jadi lebih baik.." mohon Tasya dengan kalimat ambigu.


Tasya tampak mengedipkan mata beberapa kali. Dan ia pun kembali menyuarakan telepati ke benak Teh Anis. 'Sampai kita bisa menangkap Frans atau orang-orang jahat dibalik penyerangan terhadap Ayah Zion..'


"Kamu belum..??" Teh Anis bertanya menggantung kepada Tasya.


'Belum, Teh.. Tasya belum cerita tentang kecurigaan Tasya terhadap Frans terkait kejadian semalam tadi..' ucap Tasya kembali melalui telepati.


Teh Anis tampak mengerutkan kening. Ia lalu memberi pandangan tak setuju kepada Tasya. Yang buru-buru dibalas dengan penjelasan lewat telepati kembali.


'Tasya perlu memastikan beberapa hal terlebih dulu, Teh. Sebelum Tasya menceritakan kecurigaan Tasya terhadap Frans.. Tasya janji, Tasya akan jujur pada Daffa secepatnya! Jadi tolong ya, Teh.. tolong rahasiakan dulu tentang Frans dari Daffa..?' mohon Tasya lewat telepati.


Teh Anis terlihat menghela napas. Pada akhirnya, ia mengalah pada kehendak Tasya.


"Jadi, boleh gak Teh kalau Zizi tinggal sama Teteh dulu?" Tanya Tasya kembali.


"...Ya. gak apa-apa. Tapi ingat untuk secepatnya.." kalimat Teh Anis kembali menggantung.


Membuat Zizi mengerutkan kening tak mengerti dengan percakapan di antara dua wanita senior nya itu.


Begitupun juga Daffa. Ia bahkan merasa Tasya seperti masih menyimpan rahasia darinya. Rahasia yang sepertinya diketahui juga oleh Anis.


Tapi Daffa tak ingin memaksa Tasya untuk bercerita. Ia yakin, dengan mereka yang kini sudah mengetahui identitas sebenarnya dari Tasya, hubungan mereka sudah naik ke tingkat yang lebih tinggi lagi.


Dan ia yakin, kelak Tasya pun akan membagi rahasia yang masih disimpannya rapat-rapat saat ini kepadanya.


***

__ADS_1


__ADS_2