
Tok. Tok. Tok!
Suara ketukan di pintu membuyarkan perhatian dua dara yang sedang melepas rindu. Anna lalu melepaskan Karina.
"Ya, masuklah!" Teriak Anna kemudian.
Lalu masuklah Teh Anis dengan Zizi ke dalam ruangan. Begitu melihat adiknya itu, Anna langsung bergegas berdiri dan menghampiri Zizi. Dalam hatinya Anna bertekad untuk tetap membawa Zizi pergi ke manapun ia pergi semenjak sekarang juga.
'Maafkan Kakak, Zi.. Kakak telah lalai dalam menjaga kamu..' sesal Anna dalam hatinya.
"Kalau gitu, Ann, aku pulang dulu ya sekarang. Udah jam sepuluh ini. Daddy pastilah udah lama nungguin aku di bawah.." tutur Karina tiba-tiba.
"Oh! Oke. Makasih yaa, Rin..Aku akan tepat janji sama kamu soal yang tadi.." ucap Anna menambahkan. 'Aku akan beri kamu waktu untuk menyembuhkan hati mu. Maafin aku, aku gak bisa melepaskan Daffa untuk kamu, Rin. Karena aku pun mencintainya..' lanjut Anna dalam hatinya.
"It's okay, An.. everything will be okay.." sahut Karina dengan nada yang lebih ceria.
"Dan Rin, kamu juga harus hati-hati ya. Lebih baik kalau kamu enggak keluar rumah dulu selama beberapa hari ke depan. Aku khawatir pelaku sesungguhnya dari penyerangan terhadap Ayah Zion akan menargetkan kamu juga.." Anna mengutarakan cemas.
Karina memberi Anna tatapan menenangkan, "all right. Aku akan ikuti nasihat kamu itu."
Karina lalu mengajak Teh Anis untuk ke lantai bawah bersama-sama. Namun, ditolaknya dengan halus.
"Ada yang mau aku obrolin dulu sama Anna. Kamu gak apa-apa kan ke bawah sendirian?" Tanya Teh Anis perhatian.
"Oh.. iya gak apa-apa, Teh.. kalau gitu, semuanya! Aku pulang ya! Assalamu'alaikum!" Pamit Karina.
"Wa'alaikum salam.. warohmatullah.."
Setelah kepergian Karina, Anna lalu menuntun Zizi untuk duduk di sofa. Dan Teh Anis pun mengikuti langkah Anna.
Setelahnya, Teh Anis melontarkan pertanyaan yang sudah muncul di benaknya sedari mereka masih berada di kamar tamu nomor 13 tadi.
"Jadi, Anna, ternyata kamu juga mempunyai kekuatan magis," Teh Anis mengawali pembicaraan mereka.
Anis memandang junior nya itu lekat-lekat. Sedari pertama kali mereka bertemu di jalan depan kampus, entah kenapa ia sudah langsung menyukai kepribadian Anna.
Flash back on.
Saat itu secara tak sengaja Anis melihat Anna yang sedang menolong seorang nenek renta menyebrang jalan. Dengan sikap sabar, Anna menemani nenek renta itu meniti jalan hingga sampai ke seberang.
Karenanya, begitu Anis kembali bertemu Anna di acara seminar keagamaan, maka ia pun dengan tak segan nya mengajak Anna berkenalan.
Hingga satu tahun pun berlalu dengan begitu cepat. Kini Anna hampir selalu berkonsultasi padanya mengenai banyak hal. Anis menyukai semangat juniornya itu yang haus akan ilmu.
Flash back end.
Kembali ke masa saat ini. Anna terlihat memandangi setiap sisi ruangan, sebelum akhirnya memandang Anis. Dan, apa yang terjadi kemudian, lagi-lagi membuat Anis terkejut kagum.
Anis tiba-tiba saja mendengar suara Anna berbicara, 'Anna juga baru bisa menggunakannya lagi, Teh..' ucap Anna langsung ke dalam benak Anis.
Mulut Anna tampak tetap terkunci saat ia mengatakan kalimatnya tadi. Anna hanya tampak fokus melihat Anis tepat di matanya.
"Maksud kamu, Anna?" Tanya Anis merasa bingung.
'Apa di kamar ini cukup aman, Teh? Maksud Anna..' ucap Anna kembali dalam benak Anis.
"Entahlah, Ann. Teteh jarang tinggal di mansion. Jadi Teteh gak tahu dengan keamanan di sini seperti apa," jujur Teh Anis kemudian.
Sekilas, bila dilihat, Anis tampak seperti sedang mengobrol sendiri.
Di dekat mereka, Zizi duduk dalam diam, sambil memandang kakaknya, Anna.
'Kalau begitu, mungkin lebih baik kita mengobrol seperti ini saja ya Teh..' suara Anna kembali terdengar di benak Anis.
__ADS_1
"Baiklah. Tapi, memangnya apa yang begitu kamu khawatirkan, Anna?" Tanya Anis penasaran. Ia tak mengerti, penyebab junior nya itu tiba-tiba jadi sekretif seperti sekarang ini. 'Mungkin karena kejadian yang menimpa Paman Zion?' terka Anis dalam hatinya.
Kemudian, jawaban dari Anna kembali terdengar di benak Anis. Tapi, ia sangat terkejut dengan apa yang akan diceritakan oleh Anna selama setengah jam berikutnya itu.
Ucap Anna, 'Sebenarnya, namaku adalah Tasya, Teh. Anna adalah nama saudari kembar ku.'
"Apa?! Kamu punya kembaran?!" Anis sangat terkejut dengan ucapan Anna, bukan, maksudnya adalah Tasya itu.
Tasya tiba-tiba saja terlihat cemas dan melihat ke sekitar ruangan. Terakhir, pandangannya bersarang lama pada sebuah gulungan kain yang ada di ujung terjauh dari tepian meja di depan mereka.
'Tolong pelankan suaramu, Teh! Ada orang yang menanamkan alat perekam tanpa sepengetahuan Tasya!' tutur Tasya menjelaskan.
"Itu..?" tunjuk Anis dengan kedua matanya, sambil menatap bungkusan kecil di tepian meja.
Dan Tasya pun mengangguk, mengiyakan.
'Selama lima tahun lamanya Tasya hilang ingatan. Awalnya Tasya dan Zizi datang ke sini untuk mencari kembaran Tasya, Anna. Kami terpisah sejak kami masih anak-anak. Tapi lalu kami (Tasya dan Zizi) bertemu Mama Ira..' tutur suara Tasya terdengar di benak Anis.
'Mama Ira mengatakan kalau ia adalah ibu sambung dari Kak Anna. Dan memang benar. Ketika kami sampai di rumahnya, kami memang melihat ada banyak foto Kak Anna bersama Ayah di sepanjang dinding dalam rumah itu..'
'Selama beberapa waktu, Tasya dan Zizi tinggal di rumah itu untuk menunggu kepulangan Kak Anna, yang, menurut Mama Ira, Kak Anna sedang bersekolah di asrama. Tapi, setelah berkali-kali Anna mendapati adanya hal yang mencurigakan dari Mama Ira, Tasya pun akhirnya tahu juga kalau Mama Ira telah mengakali kami..'
'Kak Anna ternyata telah pergi menghilang sejak tiga bulan sebelumnya. Tasya mengkonfrontasi Mama Ira terkait fakta itu. Namun Tasya dan Zizi malah dikurung di dalam ruangan di lantai atas rumah..'
'Tasya pun akhirnya berusaha untuk kabur dari rumah itu. Namun, Tasya pada akhirnya malah mengalami kecelakaan mobil yang menyebabkan Tasya jadi hilang ingatan..'
'Setelah hilang ingatan, nyatanya Tasya harus kembali terkurung di rumah itu. Tapi kali ini, Mama Ira juga menanamkan kenangan palsu pada Tasya yang tak mengingat apapun juga. Hingga akhirnya, Tasya pun menjalani kehidupan sebagai Anna selama lima tahun ini..'
Selama beberapa waktu, suara Tasya tak lagi terdengar di benak Anis.
Maka Anis pun kembali melontarkan tanya.
"Lalu bagaimana bisa kamu mengingat kembali identitas kamu?.. Tasya..?" Tanya Anis dengan suara nyata.
Mata Tasya lalu terlihat berkaca-kaca. Ia memandangi Zizi dengan pandangan haru. Anis mengira, Anna mungkin juga berbicara dalam benak adiknya itu. Karena kemudian, Zizi terlihat mengangguk pelan sekali.
Seketika itu juga Tasya menghamburkan diri dan memeluk Zizi. Sementara Anis memandang bingung pada dua kakak beradik itu.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan di pintu.
Tok. Tok! Tok. Tok!
"Ya?" Tasya bertanya berteriak.
"Saya Pelayan Kim, Nona.." sahut suara lelaki di balik pintu.
"Oh! Biar Teteh yang buka pintunya. Mungkin Pelayan Kim mau mengantarkan baju ganti untuk kamu, Ann.. maksud Teteh, Tasya.." ucap Anis kemudian.
Anis lalu membuka pintu kamar, mengambil pakaian dari tangan Pelayan Kim, dan kembali menutup pintu. Anis lalu menyodorkan bungkusan berisi pakaian gantinya yang sengaja ia tinggalkan di mansion ini. Karena sewaktu-waktu, ia memang sering menginap untuk menjenguk Mama nya.
"Ganti baju lah dulu, Tasy.. " Teh Anis memberi saran.
Tasya melihat gaunnya yang tampak berantakan dengan banyaknya kerutan dan cipratan darah yang tersebar tak merata di bagian pinggang gaunnya.
"Baiklah, Teh. Tunggu sebentar ya, Teh.." sahut Tasya sebelum menghilang ke dalam kamar mandi yang ada di ruangan itu.
Sekitar tujuh menit kemudian, Tasya kembali muncul. Kali ini ia sudah berganti dalam balutan baju long dress. Ukuran tubuhnya yang sedikit lebih tinggi dari Teh Anis membuat bagian bawah baju sedikit agak menggantung. Namun, Tasya tampak menarik dalam balutan gaun bermotif polkadot pink berlengan panjang itu.
"Jadi, apa yang menyebabkan ingatan mu tiba-tiba kembali, Tasy?" Tanya Anis lebih lanjut dengan suara yang masih berbisik.
Tasya terlihat tercenung selama beberapa waktu. Tapi kemudian ia pun mengemukakan sebuah hipotesis.
"Sepertinya kembalinya ingatan Tasya berkaitan dengan apa yang terjadi dalam ruangan tempat kejadian tadi berlangsung. Teteh tentu yang paling tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi, bukan?" Tanya Tasya dengan kalimat ambigu sekaligus menyelidik.
__ADS_1
"Kamu... Tahu?! Tapi.. tapi sejauh ini, tak ada yang pernah menyadari saat Teteh melakukannya!" Ucap Anis dengan kebingungan yang tampak jelas.
"Melakukan apa, Teh?.." tanya Tasya penasaran.
"Oh!" Anis merasa sedikit gugup karena telah salah sangka pada Tasya. Ia mengira Tasya mungkin masih bisa tersadar saat kejadian di lantai bawah tadi. Saat Anis mencoba menyelamatkannya dari serangan Elma, dengan cara memberhentikan waktu selama beberapa saat.
"Hmm..?" Tasya masih memandang Anis dengan tatapan bertanya.
Merasa tak ada salahnya jika ia bercerita kepada Tasya, akhirnya Anis pun mengungkapkan kejujuran terkait kekuatan magis miliknya, yang ia simpan rapat-rapat dari siapapun juga. Sejauh ini hanya Mama yang mengetahui kekuatan yang dimilikinya itu.
Mama justru terlihat terharu saat pertama kali Anis menceritakan tentang kekuatannya itu empat tahun silam. Mama mengatakan, "Itu adalah kekuatan yang diwariskan oleh Papa kamu, Nak.." ucap Mama saat itu.
"Teteh bisa menghentikan waktu, Tasy.. Selama lima belas menit, Teteh bisa menghentikan waktu sekaligus juga membekukan pergerakan dan kesadaran orang-orang yang berada pada jarak jangkauan tertentu," ucap Anis pada akhirnya.
"..."
"..."
"Apa itu berarti, teteh juga berasal dari Nevarest?" Bisik Tasya dengan suara nyata.
"Huh? Nevarest? Teteh belum pernah ke tempat itu. Di mana itu?" Tanya Anis secara spontan.
'Nevarest adalah dunia lain selain dunia bumi, tempat kita berada saat ini,' papar Tasya menjelaskan secara singkat.
Teh Anis terlihat mengerutkan kening, tanda ia sulit memahami penjelasan dari Tasya barusan.
Lalu Tasya pun kembali menjelaskan. 'Anggap saja, Nevarest adalah dunia paralel lain yang terhubung ke bumi dengan kekuatan magis. Di sana, kehidupannya pun tak jauh berbeda seperti di bumi ini. Bahasanya pun memiliki banyak kemiripan. Namun, di Nevarest, orang-orang dengan kekuatan magis seperti kita, tersebar terang-terangan ..' papar Tasya menjelaskan.
Anis tampak sulit membayangkan kebenaran cerita Tasya itu. Tapi, ia meyakini kalau Tasya tak sedang berbohong padanya. Apalagi, Anis sendiri kesulitan untuk menjelaskan penyebab ia memiliki kekuatan untuk memberhentikan waktu.
Kemudian, Anis tiba-tiba saja menyadari sesuatu. "Bagaimana kamu bisa menyadari kekuatan Teteh, Tasy? Bukankah kamu juga ikut membeku bersama yang lainnya?" Tanya Anis kebingungan.
'Tasya mempunyai dua jenis kekuatan magis, Teh.. yang pertama adalah kekuatan menyampaikan kata-kata ke dalam hati siapa pun yang Tasya kehendaki. Dan yang kedua adalah, Tasya mampu melihat pergerakan panca warna chi ketika seseorang menggunakan kekuatan magis nya..'
'Jadi walaupun tubuh Tasya ikut membeku oleh sebab kekuatan penghentian waktu milik Teh Anis. Tapi batin Tasya tetap bisa melihat saat balon chi dalam tubuh Teteh tiba-tiba saja meledak ke segala arah, hingga waktu kemudian akhirnya berhenti..'
"Tapi, apa hubungannya dengan ingatanmu yang kini telah kembali, Tasy? Maaf kan Teteh yang masih belum memahaminya.. Kamu tapi tak bisa mendengar apa yang orang lain pikirkan?" bisik Teh Anis dengan suara nyata.
'Enggak bisa, Teh. Tasya cuma bisa menyampaikan isi pikiran Tasya pada orang-orang..'
"Oh.."
'Dan sepertinya, karena ledakan chi dari Teh Anis itu lah yang menyebabkan ingatan Tasya akhirnya bisa kembali. Pun jua Zizi yang ikut merasakan manfaat dari ledakan chi milik Teteh tadi..' lanjut suara Tasya dalam benak Anis.
"Zizi?" Anis bertanya yang lalu mendapat anggukan singkat dari Tasya.
"Apa yang telah terjadi lada Zizi?" Anis memandang adik juniornya itu dengan heran. Ia lalu mendapati Zizi yang kini memberinya sebuah senyuman ramah.
Anis mengernyit bingung. Seingatnya, dulu Anna/Tasya pernah bercerita kalau adiknya itu mengalami skizofrenia. Seringkali ia mengalami hilang kesadaran atas apa yang terjadi di sekelilingnya.
"Akibat ledakan chi milik Teteh, Zizi juga sepertinya memiliki kesadarannya lagi. Karenanya, Tasya sangat berterima kasih yaa, Teh.." lirih Tasya dengan suara nyata.
"Terima kasih, karena teteh sudah membantu Tasya dan juga Zizi.. kebaikan Teteh ini akan selamanya Tasya ingat.." lanjut Tasya dalam bisikan lirih.
"Husy.. ini adalah kuasa Allah, Tasy.. Bukan Teteh yang memiliki kekuatan untuk menyembuhkan kalian berdua. Dia-lah Gusti Allah yang Maha Kuasa atas segala daya dan upaya. Jadi, kesembuhan kalian berdua ini juga adalah bukti dari Kekuasaan-Nya. Maka perbanyaklah bersyukur kepadanya ya, Tasy!" Tegur Anis kepada Tasya.
"Ya.. Baik, Teh.."
"Lalu, apa kamu udah cerita ke Daffa, soal ingatanmu yang sudah kembali ini?" Tanya Anis kemudian secara tiba-tiba.
"Tentang itu..." Tasya tampak bergumul dalam kebimbangan.
***
__ADS_1