
"Aku baru aja magang di perusahaan keluarga. Masih jadi staf bawahan sih. Aku mau mulai belajar manajemen perusahaan dari bawah. Jadi aku bisa tahu pasti semua masalah yang bisa muncul di perusahaan mulai dari tingkat bawah sampai bertahap ke atas.." tutur Sella bercerita.
"Semangat yang bagus. Bagaimana di tempat kamu yang sekarang? Staf Teknisi kan? Apa ada yang bisa jadi catatan?" Sambung Daffa yang entah sejak kapan telah tiba dengan dua gelas minuman di tangannya.
Anna langsung menoleh dan meraih gelas berisi jus jeruk yang disodorkan oleh Daffa kepadanya. Sementara itu Daffa terlihat meneguk minuman berwarna merah terang.
'Jus buah naga?' Anna menerka.
"Well.. sejauh ini, aku belum nemuin masalah s berarti sih. Semua prosedural kerja sudah tersusun rapih, jadi setiap pelaksanaan pengamanan juga bisa dieksekusi dengan rapih.." tutur Sella dengan nada yang penuh semangat.
Anna menguap. Menahan kantuk. Mendengarkan dua orang di depannya itu membahas masalah kantor yang tak ia mengerti barang satu kata pun sungguh membuat kepalanya mumet.
'Mereka bahas apaan sih? Kalkulus kah ya?' gumam Anna di dalam hati.
Merasa bosan mendengar pembicaraan yang tak ia mengerti, Anna pun pada akhirnya mulai melayangkan pandangannya ke segala penjuru ruangan pesta beserta orang-orang yang hadir di dalamnya.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Tapi yang membuat Anna heran, selama beberapa menit sekali masih saja ada tamu yang baru datang dan melewati pintu masuk.
"Daffa.. kamu jahat banget sih, masa nikahan gak ngundang-ngundang. Memangnya ada sesuatu yang kalian sembunyiin sampe-sampe nikahan aja main umpat-umpatan.."
Sebuah suara nyaring yang tadi sempat men julid kan Anna, kembali terdengar berada di dekat Anna. Anna pun menolehkan kepalanya ke sumber suara. Dan ya. Benar saja. Sosok Elma tahu-tahu sudah duduk di dekat Daffa. Sedikit agak terlalu dekat, sebenarnya.
Anna mengerutkan kedua alisnya. 'Jangan bilang perempuan ini juga salah satu hyena betina yang harus aku hadapi untuk tetap berada di samping Daffa!' Anna menggerutu di dalam hati.
Daffa tak menggubris ucapan Elma. Dia langsung bangkit berdiri untuk pindah ke tempat duduk di sisi lain dari tempat duduk Anna. Kebetulan, ada sedikit jeda antara Anna dan Sella. Jadi sekarang Daffa pun duduk di antara Anna dan Sella.
Elma yang jelas sekali mendapat sambutan dingin dari Daffa sepertinya memiliki hati sekuat baja. Karena sedetik kemudian setelah ia terpaku dengan sikap Daffa padanya, Elma langsung memasang ekspresi netral di wajahnya. Untuk kemudian lanjut berbicara.
"Jangan bilang kalau kamu dan cewek ini... Kecelakaan? One night stand? Nikah kontrak?--"
Deg.. jantung Anna berdentum kencang begitu mendengar Elma mengucapkan 'nikah kontrak'. Karena pada mulanya pernikahan dirinya dengan Daffa memang berawal dari niat di atas perjanjian/kontrak. Meski niat itu langsung diluruskannya kembali jadi pernikahan gang sesungguhnya.
Anna memandang gugup ke arah Daffa. Tak ada raut khawatir ataupun kecemasan yang bisa Anna tangkap di wajah Daffa. Hal ini membuat Anna kagum pada suaminya itu. Karena bisa tetap tenang dalam menghadapi ucapan sindiran dari Elma yang hampir mendekati kebenaran.
"Maka nya kalian buru-buru nikah tanpa ada resepsi? Atau.. jangan-jangan cewek ini nyimpan kelemahan yamg kamu punya ya, Daff? Dia ngancam kamu gitu?" Tutur Elma kembali, hingga membuat hati dan telinga Anna jadi pengang rasanya.
Belum selesai Elma bicara, Daffa tahu-tahu langsung memotong ucapannya.
__ADS_1
"Shut up your mouth, El (tutup mulutmu, El)! Jangan labeli Anna dengan pikiran picikmu itu! Anna adalah wanita terbaik yang pernah saya temui!" Hardik Daffa tiba-tiba.
Elma langsung berhenti bicara. Tapi tak lama. Karena kemudian ia kembali melanjutkan cibiran pedasnya.
"Apa sih yang dipunya cewek ini, dan gak aku punyai? Oke, dia emang lumayan cantik. Tapi aku juga cantik! Dia memangnya kaya? Jelas lebih kaya aku! Ayahnya aja gak jelas menghilang ke mana. Dan baru-baru ini.."
"El!"
Elma tak menggubris cecaran dari Daffa kepadanya. Ia terus saja meluncurkan kata-kata beracun dari mulut pedasnya.
".. baru-baru ini dia juga ketangkap basah punya affair/hubungan gelap sama seorang model muda.." ucap Elma setengah histeris menudingkan telunjuknya ke arah Anna.
Anna yang ditunjuk oleh hyena Elma pun sempat merasa sedikit gentar. Tanpa sadar, ia beringsut mendekat kepada Daffa.
Seketika itu juga Daffa langsung berdiri dengan mengajak serta Anna dalam rengkuhan tangannya di pinggang Anna. Dengan pandangan tajam, Daffa pun melontarkan kalimat yang tak kalah beracun nya seperti yang telah diucapkan oleh Elma tadi.
Daffa berkata, "she is much much so much better than you (dia/Anna itu seorang yang lebih lebih lebih baik daripada kamu). Even your self completely couldn't compared with just an inch of Anna's thumb nail (bahkan dirimu seutuhnya gak akan sebanding dengan hanya se inci ujung kukunya Anna)!"
Dan Daffa pun menarik Anna menjauh dari tempat itu. Meninggalkan Elma yang terlihat jelas sangat marah. Herannya, kemarahan Elma itu justru hanya ditujukannya kepada Anna. Padahal Anna sama sekali tak mengatakan apapun sedari tadi.
Daffa lalu mengajak Anna ke luar rumah hingga keduanya berhenti dan duduk di salah satu kursi yang ada di halaman mansion. Dari tempat duduknya kini, Anna tak lagi bisa mendengar suara keramaian pesta di dalam mansion.
Anna menengadahkan kepalanya, menatap langit. Sayangnya, harapannya untuk bisa melihat bintang, tak bisa jua terwujud saat ini.
Meski mansion ini berada di pertengahan hutan, namun karena letaknya masih tak terlalu jauh dari hiruk pikuknya perkotaan Jakarta, membuat langit terselimuti oleh pekatnya awan dan juga sisa asap kota metropolitan.
"Kamu gak apa-apa kan, Sayang? Maaf ya, karena kamu harus melalui kejadian tadi.." Daffa memulai ucapannya.
Anna menengok ke arah Daffa dan memberi suaminya itu sebuah senyuman menenangkan.
"Gak apa-apa. It's okay, Daff.. Dear.. aku gak ngerasa sedih kok sama ucapannya. Bagaimana pun juga, ucapan Elma hanya akan menjadi ucapan saja jika aku tak menganggapnya serius, bukan? Lagipula, dalam beberapa aspek, sikapnya itu masih bisa dibenarkan," sahut Anna.
"Maksud kamu?"
"Well.. dia ada benarnya juga kan soal kontrak pernikahan.." ucap Anna mengurai fakta.
Daffa tertegun selama sedetik. Sebelum akhirnya menyanggah ucapan Anna dengan sebuah fakta lainnya.
__ADS_1
"Tapi kita sudah meluruskan niat kita juga kan untuk menjalani pernikahan yang sesungguhnya!" Tutur Daffa.
"Ya.. soal itu, kamu juga benar, Daff.."
"..."
"..."
Selama beberapa menit kemudian keheningan menyelimuti kedua insan itu. Anna masih memandang lurus ke kejauhan, sementara Daffa menatapnya lekat-lekat.
Hingga, Anna tiba-tiba saja menoleh ke arah Daffa dan berkata. "Kamu gak mau bertanya soal isu affair antara aku dan seorang model yang diceritain Elma tadi, Daff?"
"Gak perlu. Kamu udah pernah cerita kan soal itu. Kamu bilang kalau kalian gak ada apa-apa. Foto kalian berdua pun cuma editan atau angle yang kebetulan pas aja kan?" Daffa mengingatkan Anna.
"Well.. yah. Itu memang benar. Aku memang gak ada hubungan apa-apa sama model itu," ucap Anna dengan mata yang masih fokus memandang Daffa.
"Ya udah. Berarti kita gak perlu bahas soal itu lagi kan ya.." Daffa memberi saran.
"Kamu percaya aku begitu aja, Daff?" Anna bertanya sangsi.
"Kamu istri saya, Anna. Bukan kah dasar utama dari pernikahan adalah saling percaya? Maka sejak saya mengucapkan akad untuk menikahi kamu, sejak itu pula saya memberikan kepercayaan penuh sama kamu.." ucap Daffa dengan pandangan serius.
'Dan saya harap, kamu pun bisa memberikan kepercayaan penuh juga ke saya, Anna..' lirih Daffa dalam hatinya.
Anna yang ditatap begitu intens nya oleh Daffa, tak kuasa menahan pandangannya lebih lama lagi. Ia pun mengukuhkan pandangannya kembali ke depan, seraya mengucap pelan, "Makasih ya Sayang.." balas Anna dengan suara lirih.
Dan, kemudian, tiba-tiba saja Anna menangkap citra sebuah mobil civic yang amat ia kenal.
Mobil itu masuk ke dalam pekarangan mansion dan berhenti tak jauh dari tempat Anna berada kini.
Ketika mobil itu berhenti, dari dalamnya keluar beberapa orang yang amat Anna kenal dan rindukan.
"Zizi?!" Seru Anna terkejut, saat didapatinya Zizi yang terlihat keluar dari dalam mobil. Mengikuti langkah Mama Ira, Dodi, serta... Frans.
'?!! Frans??!!' batin Anna menjerit dalam hati.
Serta merta saat itu juga Anna merasakan rasa dingin di sekujur tubuhnya. Tangannya pun tiba-tiba juga ikut gemetar.
__ADS_1
***