
Anna tak sadar meremas gaun yang dikenakannya. Dan ia langsung beringsut menjauh dari posisi duduknya yang semula.
Setelahnya, Anna memutuskan untuk memandang ke sisi lain jendela dan memejamkan matanya. Sayangnya, Anna masih bisa menangkap percakapan dua orang 'itu'.
Daffa: "Dimana Om Haris?"
Joana aka Gadis Menyebalkan: "Papa balik ke kantor. Ana (Joana) ditinggal. Kakak anterin Ana pulang ya?"
Di sini, Anna seketika membelalakkan mata. Mulutnya komat-kamit menyumpah kesal.
'Awas aja kalau dia (Joana) masuk ke mobil ini! Aku bakal..' jalur pikiran Anna terhenti saat ia menyadari kalau mobil yang dinaikinya saat ini adalah milik Daffa.
'ish!' Anna merasa kesal. Ia akui kalau ia tak berhak melarang Daffa untuk mengantarkan gadis itu, jika suami barunya itu memang benar ingin mengantarnya.
'tapi tunggu! Aku kan istrinya. Jadi kalau aku melarang Daffa mengantarkan gadis menyebalkan itu, gak apa-apa dong, ya!' Anna bergumam sendiri.
Lalu, di saat Anna masih memikirkan apakah ia punya cukup keberanian untuk melarang Daffa atau tidak, terdengar kembali suara Daffa.
Daffa: "Maaf. Saya gak bisa anterin kamu. Saya panggilkan Jill saja ya. Dia sepertinya masih berada di dekat sini. Biar dia yang antar kamu."
"Humph!" Anna menahan tawa, kala mendengar jawaban Daffa barusan.
Tapi Joana, Daffa, serta Pak Kiman yang sedari tadi berusaha menjadi patung tak bernyawa, telah mendengar suara Anna di dalam mobil.
Joana memicingkan matanya menembus kaca hitam mobil.
"Siapa yang ada di dalam mobil?" Tanya Joana tiba-tiba.
Seketika Anna merengut. Ia berharap kalau Daffa tak memintanya untuk keluar dari mobil dan menyapa gadis menyebalkan itu.
Anna melirik wajah suaminya. Dan seolah memiliki ikatan batin, pandangan Daffa terasa tepat tertuju pada netranya.
Jantung Anna kembali berdegup tak menentu. Gadis itu langsung memalingkan wajahnya kembali menjauh.
'Duh! Kenapa sih ya. Kok jadi grogi gini!' Anna bermonolog.
Daffa: "di dalam ada istriku, Anna."
Setelah jeda dua detik, Daffa lanjut bicara. "Tapi dia lagi kurang sehat. Jadi maaf. Kami harus segera pulang. Kamu tunggu saja di sini. Saya barusan sudah nge-chat Jill. Dia mungkin datang sebentar lagi."
Anna tanpa sadar tersenyum. Jika bisa, ia akan memberikan empat jempol untuk kepekaan suaminya itu.
Sementara Joana terlihat tak menyukai saran Daffa. Sehingga ia masih berusaha untuk mengajak obrol Daffa.
"Tapi Joana gak mau pulang sama Kak Jill, Kak. Soalnya Kak Jill genit banget sama Joana. Gimana kalau Joana kenapa-napa?" Joana merajuk.
"Jill orang yang baik. Saya bisa jamin itu. Oke, itu dia datang. Saya pergi ya."
Secepat kilat, Daffa sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Anna. Begitupun dengan Pak Kiman yang secara bersamaan sudah duduk di depan kemudi.
"Berangkat, Pak!" Perintah Daffa pada Pak Kiman segera.
Anna yang memandang ke luar jendela, masih sempat melihat raut kekesalan di wajah cantik Joana.
Entah kenapa, Anna merasa hatinya terasa amat ringan saat itu. Hingga tanpa sadar, seulas senyum pun menghiasi wajahnya.
__ADS_1
Daffa menangkap senyum manis milik Anna. Ketika mobil sudah mulai melaju, Daffa pun tak tahan untuk menanyakan sebab munculnya senyum di wajah istrinya itu.
"Kamu kenapa? Habis dapat lotere?" Tanya Daffa dengan senyuman yang juga turut tersungging.
Anna menolehkan kepala menghadap wajah Daffa. Dengan senyuman yang masih menempel, ia pun menjawab.
"Lotere apa? Aku cuma lagi ngerasa happy."
Selang beberapa detik kemudian, Anna kembali bicara.
"Cewek yang tadi itu.. kenalan kamu? Atau mungkin... Mantan?"
Daffa menaikkan sebelah alisnya. Ia bisa menangkap rasa penasaran dalam nada bicara Anna.
"Yang barusan itu Joanna. Adiknya Jovi," Daffa menerangkan.
Anna mengernyit. Merasa tak mengenal seseorang bernama Jovi. Maka ia pun kembali bertanya. "Siapa itu Jovi?"
"Jovi itu Jo. Ingat kan salah satu teman saya yang tadi datang ke acara nikah kita," ujar Daffa.
Melihat Anna masih tampak berpikir mengingat-ingat, Daffa pun kembali menerangkan
"Itu loh, yang rambutnya agak cepak. Potongan ala marinir gitu.."
"Oh! Jo. Yang agak lebih pendiam dibanding yang lain itu ya? Siapa itu dua yang lain? Jack? Oh iya. Jack dan Jill," Sahut Anna senang.
Merasa hebat karena berhasil mengingat nama dua teman Daffa lainnya.
"Jo memang awalnya terlihat pendiam. Tapi kamu harus hati-hati sama dia. Soalnya dia punya profesi yang membuat dia dijauhi banyak orang," Ancam Daffa.
Ketakutan Daffa ini bukan tanpa dasar. Karena sudah cukup sering ia bertubrukan jalan dengan kawan baiknya itu dalam hal yang mereka sukai.
Dan Daffa tak ingin Anna menjadi target tropi berikutnya yang diincar Jo dalam persaingan tak kasat mata di antara mereka.
"Memangnya apa profesi Jo?" Tanya Anna tanpa bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Jo termasuk ke dalam anggota intelijen khusus yang menangani tindak kriminal KKN. Jadi semua orang selalu berhati-hati saat bicara dengannya. Salah bicara sedikit, Jo bisa tertarik untuk menyelidiki aset kekayaan kamu sampai ke seluk beluk terdalam. Sudah banyak yang jadi korban kebrutalan Jo dalam beroperasi. Jadi, berhati-hatilah!" Ancam Daffa kepada Anna.
Herannya yang diancam malah terlihat biasa saja. Bahkan dengan santainya Anna malah meledek Daffa.
"Kayaknya kamu melebih-lebihkan deh. Sepertinya Jo enggak seseram yang kamu bilang. Lagipula, jika kita selalu berbuat benar, gak perlu merasa takut juga dong kalau sewaktu-waktu ada yang inspeksi. Jangan-jangan kamu suka korup ya, makanya takut?" Anna menuding Daffa.
Daffa merasa tersinggung dengan tuduhan dari Anna itu.
"Dalam kamus hidup saya, gak kenal itu yang namanya korup. Lagipula untuk apa saya korup di..." Daffa seketika berhenti bicara.
Hampir saja ia kelepasan mengatakan kepada Anna kalau ia bekerja di perusahaan keluarganya sendiri.
Tapi Anna tak tahu identitas aslinya. Anna juga belum tahu siapa sebenarnya keluarga Daffa. Di acara pernikahan tadi, ia hanya mengajak Bibi Soraya untuk menjadi saksi di pernikahannya. Lantaran Ayahnya yang masih berada di Maladewa untuk liburan bersama Yura dan Ayu.
Yura adalah anak angkat ayah Daffa, sekaligus juga adik perempuan satu-satunya Daffa. Ia sangat menyayangi gadis yang seminggu lalu baru menggenapkan usianya jadi 9 tahun. Dan untuk merayakan ulang tahunnya itulah Ayah mengajaknya liburan ke Maladewa.
Sementara itu Ayu adalah asisten pribadi ayah Daffa. Sekaligus merangkap sebagai nanny-nya Yura.
Daffa sebenarnya merasa tak nyaman jika Ayu ikut liburan bersama ayahnya. Wanita itu tampak tulus jika berada di hadapan sang ayah. Tapi Daffa sudah mengetahui kebusukan pribadi wanita itu.
__ADS_1
Karena Ayu pernah secara halus menggoda Daffa dan membujuknya untuk melengserkan tahta sang ayah dari kursi pemilik saham terbesar di Zi Tech. Tapi Daffa menolak ajakan Ayu kala itu.
Sejak itu pula Ayu dan Daffa selalu menjaga diri dari satu sama lain. Hingga kini Daffa masih mencari cara untuk menunjukkan kelicikan wanita itu pada sang ayah. Sayangnya ia belum jua menemukan caranya.
"Daff! Kok malah bengong," Panggilan dari Anna membuyarkan lamunan singkat Daffa.
Ia berusaha memfokuskan kembali pikirannya pada sosok istrinya itu.
Daffa meraih jemari Anna. Kali ini Anna membiarkan Daffa menahan jemarinya. Sampai di sini Daffa tersenyum merasa senang karena Anna sepertinya mulai menerima perhatian darinya.
"Jadi, setelah ini kita mau ke mana? Bermalam di rumah kamu atau kita stay cation aja?" Tanya Daffa tiba-tiba.
Anna mengernyit bingung.
"Kenapa gak ke rumah kamu aja?" Usul Anna.
Sepintas Anna menangkap ketidaknyamanan di gestur Daffa saat mendengar usulannya barusan.
Pemuda itu lalu berkata dengan pandangan yang dialihkan ke titik lain. Ia terlihat menghindari pandangan mata Anna.
"Rumahku.. gak nyaman untuk ditempati kita berdua saat ini. Kita stay cation aja ya kalau begitu?" Usul Daffa.
Sebenarnya Anna ingin menelisik jauh tentang latar belakang Daffa. Ia pikir, dengan tinggal di rumah Daffa, ia akan bisa bertemu langsung dengan keluarga Daffa. Ia bahkan belum mengenal ayah suaminya itu.
Daffa memang sudah menjelaskan kalau ayah dan adiknya sedang liburan ke luar negeri. Tapi.. siapa yang tahu?
Terkadang kita tak bisa benar-benar mempercayai alasan yang diberikan oleh orang lain, bukan? Terlebih Anna juga baru mengenal suaminya itu kurang dari seminggu yang lalu.
Namun melihat keengganan Daffa untuk mengajak Anna ke rumahnya membuat Anna tak percaya diri untuk meminta lebih. Ia pun mengangguk pelan mengikuti permintaan suaminya itu.
"Oke. Aku ikut kamu aja," Sahut Anna dengan nada kalah.
Seketika kelegaan tersirat di wajah Daffa. Tapi pemuda itu pun bisa menangkap kekecewaan Anna terhadap pilihannya.
Bukannya tanpa alasan Daffa mengajak Anna stay cation, dibanding pergi ke wisma tempat tinggal keluarganya. Tapi di wisma itu juga tinggal paman dan bibi-bibi Daffa yang Daffa khawatirkan akan memberikan penilaian buruk kepada Anna juga pernikahan mendadak mereka.
Daffa berusaha untuk menjaga hati istrinya itu dari dilukai oleh sikap culas dan mulut beracun beberapa anggota keluarga besarnya.
Mungkin, seiring berjalannya waktu Daffa akan memperkenalkan Anna kepada keluarganya satu persatu. Tapi jelas saat ini bukanlah waktu yang tepat.
Berusaha untuk mencairkan ketegangan yang tak sengaja tercipta, Daffa pun memberikan alasan lain soal pilihannya untuk stay cation, dibanding tinggal di rumahnya.
"Lagipula kita cuma semalam aja stay cationnya. Kan besok pagi-pagi kita harus pergi ke Lombok. Kamu ingat, kan, kalau aku ada kerjaan ke luar kota? Besok kita ke Lombok. Sekaligus honeymoon," Papar Daffa sambil tersenyum. "Kamu... jadi cuti kuliah kan besok?" Tanya Daffa memastikan.
"Oh. Iya. Aku baru ingat. Aku jadi kok ambil cuti seminggu," Sahut Anna mengiyakan alasan Daffa.
Daffa menghela napas lega. Ia bersyukur karena Anna sepertinya bisa menerima alasannya.
Dan di sisa perjalanan dalam mobil itu, keduanya diam oleh sebab sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Sementara kedua tangan muda-mudi itu terus bertautan hingga mobil yang membawa mereka tiba kembali di rumah Anna.
Begitu sampai, Anna disambut oleh Mama Ira dengan wajah tegang. Ia bertanya-tanya, apa kiranya yang menyebabkan wajah ibu sambungnya hingga menjadi setegang itu.
***
__ADS_1