
"Lapor! Tahanan Frans berhasil melarikan diri. Tiga penjaga ditemukan tewas di lorong lantai dasar. Tim sedang menyusuri lantai dua saat ini," lapor anak buah Daffa melalui earphone.
"Apa?!"
Daffa terkejut dengan laporan yang ia terima barusan. Bagaimana bisa Frans melarikan diri padahal ia dikurung dalam kabin yang dikunci gembok dan dijaga oleh anak buah nya?
Daffa sulit untuk mengerti situasi ini.
"Terus laporkan perkembangan situasi. Dan kirim pasukan tambahan ke kabin 472. Segera!" Daffa memberikan titah.
"Siap, Pak!"
Daffa yang mulanya tadi sedang membaca banyak laporan terkait transaksi ilegal yang dilakukan oleh Jendral Sihombing seketika menjadi waswas. Terlebih lagi saat ini Tasya sedang berada di kabin 472 bersama Karina.
Seingatnya tadi hanya ada dua penjaga yang berjaga di dekat kabin itu. Ia berharap Tasya masih aman di dalam sana.
Merasa cemas, Daffa pun mencoba menelpon ponsel sang istri. Dan, panggilannya langsung diangkat. Tapi, bukan oleh Tasya.
"Nona Karina? Katakan pada saya, Tasya.. maksud saya, Anna ada bersama anda kan?!" Tanya Daffa dengan nada genting yang kentara.
"Anna sepertinya dibawa pergi oleh lelaki brengsek itu, Daff! Aku telat menyadarinya. Kupikir Anna baik-baik saja ketika menutup pintu kabin. Tapi lalu aku mendengar suara benda terjatuh begitu pintu tertutup. Saat aku mengecek, ponsel nya sudah ada di bawah lantai. Dan Tasya sudah jauh dan ditarik paksa oleh lelaki itu.."
Daffa seketika itu pula langsung melepas umpatan kasar.
"Tolong selamatkan Anna, Daff! Kamu janji harus membawa Anna kembali!"
"Tenang saja. Tanpa kamu minta pun Saya akan membawa mereka kembali!" Janji Daffa.
"Mereka??" Karina bertanya bingung.
"Ya. Anna dan calon bayi kami. Akan saya pastikan mereka kembali dalam kondisi baik!"
Klik. Telepon pun terputus. Meninggalkan Karina yang masih terpaku syok dengan berita yang baru saja didengarnya dari mulut Daffa.
"Anna hamil? Ya Tuhan! Tolong jaga mereka! Jangan sampai keburukan menimpa sahabatku dan bayi nya itu, Tuhan!" Harap Karina dalam ruangan kabin yang sepi.
Setelah beberapa lama, Karina merasa tak bisa tinggal diam. Dengan meneguhkan hatinya, Karina pun memutuskan untuk mengejar Frans dan Tasya ke arah mereka pergi tadi.
Dek kapal.
'Anna! Tunggu aku! Aku akan menolongmu dari si brengsek itu! Akan kubuat si brengsek itu mati di tanganku sendiri! Bersabarlah!' Janji Karina dalam hati.
Karina lalu mengambil pisau buah yang ada di atas nakas, lalu menyimpannya dengan rapih ke dalam saku belakang celana nya yang berwarna hitam.
***
"Lapor! Target ditemukan di dek utama bersama dengan Madam sebagai sandera," lapor anak buah Daffa kembali melalui earphone.
"Sial! Inilah yang paling kutakutkan!" Gumam Daffa menyesali isi laporan tadi.
"Katakan kepada semua pasukan untuk menahan serangan. Utamakan keselamatan Madam!" Titah Daffa segera. Benaknya langsung teringat pada janin dalam kandungan Tasya.
'Ya, Allah.. lindungi mereka..' doa Daffa dalam hati.
"Siap, Pak!"
__ADS_1
"Tetap awasi target! Apa yang diinginkan oleh target, negosiasikan baik-baik!" Titah Daffa kembali.
"...Target meminta disediakan speedboat untuk melarikan diri," lanjut laporan kembali.
"Hanya itu? Bagaimana dengan Madam?"
"Target memaksa untuk membawa serta Madam sebagai jaminan keselamatan dirinya,"
"Terkutuk!" Daffa geram. "Jangan berikan apa yang diinginkan target! Tujuan utama Frans memang membawa Madam pergi!"
"Baik, Pak!"
"Situasi? Apakah tim sniper ada?"
"Ada, Pak! Tapi.."
"Tapi apa?!"
"Target mengikat tangannya dan tangan Madam dengan menggunakan satu borgol yang sama!"
"!!!" Daffa merasa sangat marah. Kemungkinan untuk menyelamatkan Tasya terbilang sangatlah kecil kini.
'Andai saja kekuatan inner power ku dalam meng copy kekuatan manipulasi waktu bisa kugunakan lagi.. tentulah aku akan dengan mudah mengalahkan Frans lagi seperti saat masih di pantai tadi siang! Sayangnya inner power ku hanya bisa digunakan sekali, kecuali saat ini ada Anis di sini yang menunjukkan kekuatan manipulasi waktu nya lagi..' Daffa berandai-andai.
'Tapi tunggu dulu..!' benak Daffa berpikir cepat.
"Di mana posisi target saat ini?"
"Masih di dek utama, Pak! Dekat tangga darurat menuju dek di bawahnya."
Daffa kembali berpikir cepat untuk menyusun rencana. Setelah memikirkan baik-baik, ia akhirnya memutuskan untuk menggunakan cara yang baru saja terpikirkan di benaknya.
Daffa menjelaskan rencana nya kepada pasukannya melalui earphone. Setelah semua mengetahui rencana nya, Daffa bergegas turun dari Bridge/anjungan dan melangkah cepat menuju dek utama.
"Bersabarlah, Sayang! Kalian harus menungguku!" Gumam Daffa di antara langkah kaki nya yang terburu-buru.
***
Karina tak sengaja mendengar ucapan anak buah Daffa yang mengatakan kalau saat ini Frans ada di dek utama. Dan Frans juga meminta speedboat untuk melarikan diri.
Merasa ada kesempatan baginya untuk menolong Anna, Karina memutuskan untuk menyembunyikan dirinya di speedboat dan menyerang Frans di saat yang tak terduga.
Meski tekad nya sudah ia bulatkan, tetap saja. Tangan Karina tak bisa menahan diri untuk tidak gemetar oleh sebab gentar. Namun Karina mencoba untuk menabahkan dirinya.
Terbayang kembali momen mengerikan yang dialaminya di rumah putih itu, saat ia masih berada dalam sekapan Frans.
"Awas kau brengsek! Tak akan kubiarkan kau melukai sahabatku juga!" Janji Karina berapi-api.
***
Frans merasa mulai letih. Ia mendekap erat tubuh Tasya pada tubuhnya, lalu menggerak-gerakkannya ke sana ke mari sebagai perisai diri.
'Keparat Eagle suaminya Tasya itu! Lama sekali dia membuatku menunggu! Apa kulukai saja ya Tasya. Agar ia bergegas memberikanku speed boat. Agar ia tak lagi main petak umpet dan membuatku terlunta-lunta di atas dek sini! Luka ku mulai menyiksaku lagi! Sial!' umpat Frans dalam hati.
"Mana Kapten Eagle kalian! Cepat berikan speed boat untukku, atau jika dalam satu menit lagi dia tak memberikan yang kuinginkan, akan kucoreng wajah istrinya yang cantik ini!" Teriak Frans pada lima orang penjaga berbaju hitam yang berada tak jauh dari posisinya berada.
__ADS_1
Semua penjaga tampak bergeming tak membalas ucapan Frans.
"Dasar tolol kalian semua! Kenapa kalian diam saja! Aku tak main-main dengan ancaman ku ini! Lihat ini!"
Frans lalu menggoreskan bagian bawah pistol yang agak runcing ke lengan Tasya hingga membentuk sayatan yang cukup panjang. Seketika itu pula Tasya mengaduh kesakitan dalam dekapan Frans. Dan darah segar mengalir turun dari luka sayatan di tangannya itu.
"Brengsek kau, Frans! Jangan sakiti istriku atau kubunuh kau!" Geram Daffa kala melihat Tasya yang kesakitan.
Frans menyeringai.
"Akhirnya! Kau muncul juga Daffa scholinszki. Atau baiknya kusapa dirimu sebagai Tuan Eagle, komandan tinggi pasukan Z!"
"Jangan banyak bicara! Kau menginginkan speed boat, baik akan kuberikan itu padamu. Tapi lepaskan dulu istriku!"
"Qiqiqiqiqi!! Kau pikir aku begitu bodoh untuk melepaskan jaminan mahal yang sudah susah payah kutangkap dengan kedua tanganku sendiri ini, Eagle konyol?! Tak akan! Tasya akan ikut bersamaku!"
'Tasya? Frans juga mengetahui identitas asli Tasya yang sebenarnya. Tapi, sejak kapan? Bagaimana bisa?!' benak Daffa bertanya-tanya.
"Licik kau, Frans! Bawa saja aku! Aku rela diikat sebagai ganti istriku, Tasya. Bawa aku sebagai tawananmu!"
Frans memicingkan kedua matanya. Namun,
"Kau terlalu cerdas untuk menjadi tawananku, tuan Eagle! Aku takut, kau malah akan membawa bahaya saat pelarianku nanti!" Tolak Frans apa adanya.
"Pengecut kau, Frans! Tasya hanya wanita lemah. Dan kau bahkan sudah melukainya kini! Bagaimana jika dia kekurangan darah di pelarian kalian. Aku tak mungkin membiarkannya dalam celaka!" Umpat Daffa kembali.
"Cih. Ini hanya luka goresan saja, Eagle! Kau konyol sekali! Tanyakan saja pada istrimu ini. Apakah luka nya dalam atau tidak!" Ejek Frans dengan wajah sinis.
Daffa lalu beralih menatap Tasya. Dan Tasya juga memandangnya dengan tatapan cemas. Kedua tangan Tasya tampak memeluk bagian perut nya. Satu-satunya yang akan dia jaga sekuat tenaga karena kini ada sesuatu yang hidup di dalam sana.
"Tasya sayang.. bicaralah padaku. Apa itu sakit? Apa kau perlu ke dokter dulu?" Tanya Daffa dengan nada lembut.
Tasya menatap sang suami. Ia menyadari ada pesan tersembunyi yang ingin dikatakan oleh Daffa kepadanya. Akhirnya, ia pun mengingat inner power milik mereka yang bisa saling bersahutan dalam kontak telepati.
'Daffa! Aku takut!' ucap Tasya lewat telepati langsung ke benak Daffa.
Dan Daffa yang bisa mengcopy inner power milik orang lain secara langsung pun juga bisa membalas ucapan Tasya melalui telepati pula.
'Tenanglah Sayang! Aku punya rencana yang baik. Tapi aku membutuhkan bantuan mu!'
'Apa itu?!'
'Aku akan mengatakan pada Frans kalau aku akan memberikan speed boat padanya. Tapi nanti, begitu kamu sudah turun dari tangga darurat di dek dasar, kamu tahan posisi borgol yang mengikat tangan mu selama beberapa detik saja. Nanti akan ada sniper yang menembak tepat ke borgol itu. Baru setelah nya, kamu cepat berlari pergi ke lorong di antara kabin-kabin. Di bawah sana sudah ada tim ku yang bersiap siaga! Kamu paham kan, Sayang?!' papar Daffa panjang lebar.
Tasya mengangguk dalam diam.
"Sial! Katakan sesuatu pada suamimu itu, Cantik! Jangan hanya mengangguk dan diam saja!" Frans menegur Tasya yang menurutnya hanya diam saja memandangi Daffa.
"I.. iya.. aku oke," ucap Tasya terbata-bata.
"Lihat? Tasya merasa oke. Jadi cepat siapkan speedboat untukku, Eagle kunyuk!" Teriak Frans tak sabar.
Daffa mengangguk dan memerintahkan anak buahnya untuk mengeluarkan speedboat ke sisi kapal yacht.
Dalam sepuluh menit, sebuah speedboat pun diturunkan ke laut di sisi kapal yacht. Speedboat itu masih terikat tali dengan pinggiran kapal Yacht sehingga menyebabkannya tak lantas lepas terbawa ombak.
__ADS_1
Hanya saja tak ada yang menyadari, dalam speedboat yang diturunkan itu, terdapat Karina yang bersembunyi di balik tumpukan plastik yang menutupi tubuhnya.
***