Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Morning Kiss


__ADS_3

[ W A R N I N G !!!


Bab ini khusus untuk readers usia 21++ ya..


Lebih khususnya lagi buat yg udah punya pasangan halal.


Kalau belum punya, cepetan punya! xixixi(ngomporin ceritanya..🤭🤭😜)


Kalau belum sanggup tuk punya, yaudah, mending puasa aja!


Kalau gak suka baca bab ini, yaudah, di skip aja! aku ora popo, guys..👍👍


Btw, kalau mau tahu, Thor nulis ini juga pas Thor lg gak puasa. Jd no batal batal yee..hehehee..😁😁


~Bi Edah lagi makan,


Lihat ondel-ondel ber Oye oye,


Kalian sudah diperingatkan!


jadi jangan pada ngeyel yeee..~


Salam hangat sehatt,


From Thor Meli.🙏😁🥰]


***


"Ihihii..kamu parah banget sih, Daff! Anak orang kamu bikin nangis kayak gitu!" Gelak Anna kepada Daffa ketika keduanya sudah berada di dalam kamar inap mereka.


"Hm..? Siapa yang nangis? Saya gak lihat ada yang nangis kok!" Balas Daffa pura-pura tak mengerti.


"Itu Miss. Corrine. Jelas banget dia suka kamu. Tapi kamunya malah bikin baper. Pamer mesra-mesraan pula!" Tuding Anna kembali.


Keduanya kini sedang berjalan menuju ruangan bersantai. Anna tak menyadari pinggangnya yang masih berada dalam rengkuhan tangan Daffa.


Ia baru menyadarinya saat Daffa tiba-tiba menghentikan langkahnya dan mengajak Anna untuk juga berhenti. Pemuda itu lalu memaksa Anna untuk menghadap padanya dengan tetap memeluk pinggang ramping istrinya itu.


"Saya pamer mesra? Sama kamu? Gak niat pamer sih. Cuman gimana ya, kalo bawaannya pengen meluk kamu aja gimana dong?" Goda Daffa.


Ba-dump. Jantung Anna berdentum kencang.


"Mm.. k..kamu su..suka aneh deh!" Cecar Anna dengan gugup. Ia lalu berusaha melepaskan diri dari rengkuhan tangan Daffa secara perlahan. Sayangnya Daffa menyadari usahanya itu dan jelas tak mengijinkan Anna terlepas dari pelukannya.

__ADS_1


"Hmm? Saya suka aneh? Memangnya.. kamu aneh?" Tanya balik Daffa dengan bola mata yang bersinar jenaka.


Pikiran Anna terasa buntu. Dengan tubuhnya yang hampir menempel seluruhnya ke tubuh Daffa, dan juga wajah tampan Daffa dengan senyuman mautnya, serta aroma mint samar dari tubuh suaminya itu saja telah membuat Anna tak bisa berpikir jernih.


"Mak..maksud ka..kamu apa!?" Tanya Anna tak mengerti.


Kemudian, dengan tiba-tiba Daffa mendekatkan wajahnya ke wajah Anna. Hingga jarak di antara wajah keduanya hanya berkisar dua senti saja. Anna bahkan bisa melihat jelas betapa mulusnya kulit wajah suaminya itu.


'Padahal dia laki-laki. Tapi kulitnya terlihat lebih sehat dari kulitku,' Anna mengeluh dalam hati.


"Kamu kan bilang.." ucap Daffa lambat-lambat.


"Kalau saya suka yang aneh-aneh.." lanjut Daffa kembali.


Seiring dengan setiap kalimat yang diucapkan oleh Daffa, wajah Anna kian dimundurkan nya ke belakang. Untuk menghindari wajah Daffa yang juga kian maju mendekati wajahnya.


"Ya, kan, kamu tadi bilang gitu.." tanya Daffa memastikan.


"Eh? I..iya..?" Sahut Anna tak yakin dengan apa yang ia ucapkan sendiri.


"Kalau saya suka yang aneh-aneh... Berarti.. kamu juga aneh dong!" Tuding Daffa tiba-tiba.


'Karena saya suka kamu'


Anna seolah bisa mendengar kelanjutan dari kalimat Daffa itu lewat tatapan matanya. Seolah tersihir, Anna langsung diam dan tak mengelak lagi ketika Daffa kembali memajukan wajah tampannya ke wajah Anna.


Sentuhan magis itu membuat jantung Anna berdebar kencang. Pandangan Anna pun menembus jauh mata hazzle pemuda di hadapannya itu. Anna membiarkan gejolak rasa asing yang kini dikenalnya sebagai hasrat menguasai tubuhnya.


Dan kemudian, pandangan Anna mengabur secara perlahan. Kelopak matanya pun perlahan menutup seolah tak mampu menahan gempuran hasrat yang menerjangnya tiba-tiba.


Anna membiarkan sentuhan magis itu menyebar dari bibir, ke pipi, ke mata, ke hidung, kembali ke bibirnya lagi, ke rahang, dan bertahan cukup lama di lekukan antara leher dan rahang kanan Anna.


Anna merasa akalnya menghilang entah ke mana. Di mana waktu? Kapankah kini? Segalanya terlupa begitu saja.


Antara sadar dan tak sadar, Anna merasakan pegangan di pinggangnya mengencang. Dan sesuatu yang keras menekan perutnya dengan tiba-tiba. Sebuah erangan terdengar dari tenggorokan Daffa. Dan seketika, sentuhan magis itu terhenti begitu saja.


Daffa terengah-engah. Anna pun tak kalah terlihat payah. Dahi kedua insan itu beradu. Dan kedua pasang mata mereka saling terikat pada satu sama lain.


Kemudian, Daffa mengangkat kepalanya dan merengkuh Anna dalam dekapannya. Hingga akhirnya kepala Anna bersandar pada dada bidang pemuda itu.


Anna mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian. Ketika telinganya mendengar jelas dentum jantung Daffa yang juga sama cepatnya seperti debur jantungnya sendiri, Anna pun tersenyum.


"We were same (kami sama).." lirih Anna tanpa sadar.

__ADS_1


"Hmm?.. kamu bilang apa?" Tanya Daffa tiba-tiba.


Barulah Anna tersadar kalau gumaman nya barusan ternyata masih bisa terdengar oleh Daffa. Ia pun berusaha mengalihkan perhatian agar suaminya itu tak mengetahui apa yang dipikirkannya.


"Aku.. aku lapar," ucap Anna asal.


Daffa lalu sedikit melonggarkan pelukannya pada Anna agar ia bisa menatap langsung wajah istrinya itu.


"Hm? Kamu lapar? Saya juga.." sahut Daffa dengan pandangan mata yang mengisyaratkan kelaparan untuk hal yang lain. Lapar oleh sebab hasrat.


"A.. Aku serius, Daff!" Anna terburu-buru menegur Daffa.


Sebelah alis Daffa terangkat naik. Membuat Anna yang melihatnya tanpa sadar memuji ketampanan suaminya itu.


'Duh! Mau gimana pun ekspresinya, kok dia ganteng terus sih!' suara batin Anna bicara.


"Oh ya?"


Dan sedetik kemudian perut Anna menjawab pertanyaan Daffa itu dengan tegasnya.


"Kukuruyuk.."


Kedua pasang mata milik Daffa dan Anna seketika itu juga langsung terarah ke perut Anna. Anna menggerutu menahan malu. Sementara Daffa tersenyum simpul melihat ekspresi di wajah Anna.


"Sepertinya perut kamu benar-benar kelaparan, An. Baiklah. Ayo kita padamkan kelaparan kamu dengan nasi uduk yang tadi kita beli. Eh, ditaruh di mana ya tadi uduknya?" Tanya Daffa seraya mencari keberadaan bungkusan nasi uduk dengan kedua matanya.


Ia lalu menemukan bungkusan nasi uduk itu berada di belakang kaki Anna. Sepertinya pemuda itu tadi terlupa dengan bungkusan nasi uduk yang dipegangnya. Saat ia sibuk menikmati morning kiss nya bersama Anna.


Di depannya, Anna mengikuti arah pandang Daffa pada bungkusan nasi uduk yang ada di dekat kakinya. Dan Anna pun memikirkan dugaan yang sama mengenai nasib bungkusan nasi uduk itu, sama seperti yang dipikirkan oleh Daffa.


Merasa gerah hati, Anna kembali mencoba melepaskan diri dari rengkuhan tangan kekar Daffa. Dan, kali ini suaminya itu membiarkan Anna melepaskan diri.


Setelah terlepas dari kekangan tangan Daffa, Anna pun bergegas ke pantry untuk mengambil piring dan sendok untuk menyiapkan sarapan pagi pertamanya sebagai suami-istri bersama Daffa.


Anna memilih meja kecil di pinggir jendela yang berada di kamar tidurnya sebagai tempat mereka menikmati sarapan.


"Kamu mau teh, atau kopi?" Tawar Anna saat ia hendak pergi ke pantry.


Dan jawaban Daffa kemudian kembali membuat Anna keki dan lagi gerah hati.


Dengan santainya, Daffa menjawab, "ga usah deh. Saya udah nyemil morning kiss dari kamu tadi. Itu aja udah cukup."


Seketika itu juga rona merah kembali menjarahi wajah putih Anna.

__ADS_1


Merasa kesal sekaligus malu (dan senang), Anna pun berbalik badan meninggalkan Daffa yang masih saja tersenyum hangat. Bahkan meski sosok Anna telah lama menghilang masuk ke dalam pantry.


***


__ADS_2