
Abraham mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit terdekat.
Sementara itu Jonathan yang duduk di kursi penumpang sambil menggendong tubuh Naomi yang sudah tidak berdaya, Sesekali Ia melap keringat yang keluar deras dari dahi Naomi dengan saputanganya.
"Sayang bertahanlah sebentar lagi kita akan tiba di rumah sakit" ucapnya dengan lirih dan sesekali membelai pucuk kepalanyanya.
"Tuan Abraham bisa cepat sedikit tidak! kasihan Dia tubuhnya sudah sangat lemah!" ucap Jonathan yang sudah tidak peduli lagi dengan siapa Ia berbicara.
Abraham hanya mengangguk dan menambah kecepatan mobilnya.
Tidak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi memasuki gerbang rumah sakit termewah dan termegah yang ada di kota itu.
Abraham segera mematikan mesin mobilnya pas di depan pintu rumah sakit.
Semua orang yang ada di sana segera menyingkir memberi jalan.
Jonathan segera membuka pintu mobilnya dan melarikahkan Noami masuk ke dalam rumah sakit tanpa mempedulikan orang di sekitarnya.
"Doctor......tolong" Teriak Jonathan memecah keheningan Rumah sakit.
Para pegawa rumah sakit segera mendekati setelah mereka tau siapa yang sadang meminta pertolongan disana.
Walaupun hanya seorang secretaris orang orang juga sangat menakuti Jonathan sama seperti rasa takut mereka ke pada Abraham apalagi rumah sakit yang mereka tempati sekarang ini adalah rumah sakit milik Abraham otomatis mereka kenal betul siapa Jonathan, sekertaris dingin tanpa memandang ampun.
"Tuan Jonathan lewat sini" ucap Doctor Ryan memberi jalan kemuju ruang Unit gawat darurat.
__ADS_1
Jonathan terus mengendong tubuh Naomi dan berlari kecil mengikuti langkah Doctor Ryan.
Walau umurnya sudah dibilang tak muda lagi tapi tenaga Jonathan tidak kalah dengan pria umuran 20an .
Setelah tiba dalam Ruangan UGD Jonathan segera meletakkan tubuh Naomi diatas pembaringan.
"Aku mohon sayang bertahanlah " ucap Jonathan sambil meneteskan air matanya.
Doctor Ryan yang melihat adegan memilukan itu ikut merasakan apa yang di rasakan Jonathan saat ini.
"Tuan Jonathan bisakah Anda keluarlah sebentar! kami akan memeriksa pasien" ucap Doctor Ryan sambil mengusap punggung Jonathan.
"Apa tidak bisa saya disini saja! Saya ingin menemani dan memberinya semagat doctor"Ucap onathan yang terus tertunduk membelai pucuk kepala Naomi.
Jonathan mengangguk pelan tapi sebelum melangkah, satu kecupan manis Ia daratkan ke dahi Naomi.
"Doctor tolang lakukan yang terbaik untuknya" ucap Jonathan sambil memegang bahu Doctor Ryan.
Doctor Ryan mengangguk pelan dan mempersilahkan Jonathan meninggalkan ruangan itu.
Dengan langkah sempoyongan Jonathan melangkah keluar ruangan, Ia mendudukkan tubuhnya diatas kursi panjang yang di sediakan pihak rumah sakit untuk para pembesuk yang bosan menunggu dalam ruangan.
Jonathan menutup wajahnya dengan kedua buah telapak tanganya dan sesekali mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tuhan Andai bisa tukarlah diriKu dengan dirinya! Biarlah Aku yang menanggung segala sakit yang Ia derita! Sungguh Aku tak sanggup melihatNya seperti Tuhan" ucap Jonathan yang sesekali megusap air matanya dengan telapak tanganya.
__ADS_1
Abraham yang baru saja memarkir mobilnya berlari kecil mendekat kearah Jonathan.
"Jo bagaimana keadaan Ibuku " ucap Abraham menepuk punggung Jonatan yang sedang tertunduk lesuh sambil menutup wajahnya dengan kedua tanganya .
Jonathan mendongak kearah Abraham dengan mata sembab dan raut wajah yang pucat.
"Saya belum tau pasti Tuan! Semetara ini Nyonya Naomi masih di periksa oleh doctor Ryan di dalam ruangan itu" balas Jonathab sambil menunjuk sebuah ruangan yang ada di hadapanya.
Dari Arah pintu nampak Maya dan Arthur berlari mendekati mereka berdua dengan wajah prihatin.
"Bram bagaimana keadaan ibu" ucap Maya yang sedikit ngos ngosan .
"Duduklah dulu sayang tenangkan diriMu! Ibu masih di dalam doctor Ryan sedang menanganinya" Balas Abraham sambil merangkul istrinya dan menyuruhnya untuk duduk.
"Ya TuhanKu selamatkanlah Nenekku"ucap Arthur sambil menyandarkan kepalanya di diding .
Tidak lama kemudian pintu ruang UGD terbuka dari arah sana nampak doctor Ryan keluar dari rangan itu dan mendekati mereka.
"Doctor bangai mana keadaan Ibu saya" ucap Maya sambil berdiri dari tempat duduknya.
Wajah doctor Ryan pucat sesekali Ia menyekah keringatnya dengan sapuh tanganya.
"Maafkan Kami Tuan Abraham ,Nyonya maya ....." ucap Ryan sedikit takut memandang kearah mereka berdua.
👉makin hari makin kurang like ,coment dan votenya ...author jadi pusing padahal up terus tiap hari ....semangat ya tetap mainkan jari jarinya bagi lik,coment ,vote yang banyak gratis kok...trimah kasih.
__ADS_1