
Ledakan begitu dasyat terdengar diudara. hingga puing puing hallicopter berjatuhan bersama api yang masih menyala.
"Bram,Ayah ......" ucap Maya, Ryo dan Arthur berlari mendekati tubuh Abraham.
Tubuh Abraham sempat terpental dan jatuh dengan berlumuran darah. Sebagian Tubuhnya sudah tidak berbentuk lagi bahkan hilang.
Sedangkan tubuh Teos sudah di pastikan hancur tak tersisa setelah menelan bom dalam mulutnya.
"Bram! bangunlah sayang!" ucap Maya terduduk sambil membelai lembut wajah suaminya itu.
"Ayah Aku mohon bertahanlah" ucap Arthur sambil megangkat kepalah Abraham dan meletakkan diatas pangkuanya dengan deraian air mata yang mengalir bak anak sungai.
Bukanya merintih kesakitan Abraham malah tersenyum kepada mereka keduanya.
"Sayang kenapa Kamu lakukan semua ini! ucap Maya dengan linangan Air mata.
"Babang harus lakukan ini sayang supaya banjing4n itu tidak lagi merongrong ketentraman keluarga kita. Walau bahang harus mengorbankan Nyawa ." ucap Abraham memegangi tangan Maya.
"Tapi tidak begini caranya Sayang! Aku dan bayi bayi kita sangat membutuhkanMu! mereka membutuhkan kasih sayang seorang Ayah sepertiMu." balas Maya menggenggam erat tangan Abraham.
__ADS_1
"Ryo.....,!" panggil Abraham kepada Ryo.
"Iya ...Bram" ucap Ryo yang juga bercucuran air mata memandang keadaan Abraham saat itu.
"Tolong jaga IstriKu dan Ketiga anak anaKu seperti Aku menjagan mereka selama ini! Sayangilah mereka dengan segenap jiwa ragaMu dan menikalah dengan Maya. Aku yakin Kamulah yang cocok mendampinginya sampai maut memisahkan kalian! seperti Aku saat ini" ucap Abraham memelas kepada Ryo.
Ryo hanya mengangguk pelan. Ia tidak sanggup menatap wajah Abraham, karena terlalu berat baginya melihat keadaan Abraham saat ini.
"Sayang boleh bawah putra kita kesini! Aku mau melihatnya untuk yang terakhir kalinya" ucap Abraham kepada Maya.
Maya mengangguk pelan, dan berdiri mengambil Raymond dari gendongan Rita yang sedang berdiri di belakangnya.
Setelah Raymond benar benar ada di pelukannya, Maya kembali duduk dan mendekatkan bayi mungil itu kepada Abraham.
Raymond yang sedari tadi tertidur tiba tiba membuka matanya dan tersenyum kepada Abraham.
Tangan kecilnya membelai wajah Abraham yang penuh dengan darah dan terus tersenyum.
Bayi bungil itu seolah olah berterimah kasih kepada Abraham, bukan melalui ucapan tetapi senyum yang termanis yang Ia miliki.
__ADS_1
"Nak ...! Ayah sangat menyayangiMu serta menyayangi adikMu Alea. Kelak jika Kalian berdua dewasa jangan pernah lupakan Ayah" ucap Abraham sambil mencium lembut kening putranya.
Abraham kemudian menatap kearah Jonathan, Leon dan Rita yang berdiri di bilakang Maya, Arthur dan Ryo sembari tersenyum.
Tatap matanya begituh teduh, seakan akan mengucapkan selamat tinggal kepada mereka.
Tak lama kemudian, mata Abrahan pelan pelan tertutup dan kepalanya lulungai di pangkuan Arthur.
Senyum manis Abraham terus terpancar walau nyawa dalam tubuhnya sudah tiada.
"Ayah, Bram" ucap Arthur, Maya dan Ryo histeris sambil memeluk tubuh Abraham yang sudah tak bernyawa lagi.
Semua menagis terseduh seduh. Kenangan demi kenangan bersama Abraham terus berputar di ingatan mereka.
"Nak! sudah! Iklaskanlah kepergianya. Abraham sudah tenang dialam sana. Inilah jalan yang Ia pilih jadi kita harus menerimahnya dengan lapang dada" ucap Rita membelai punggung Maya untuk memberinya semangat hidup.
"Bu kenapa harus Bram kenapa bukan Aku saja Bu" ucap Maya terus memeluk jasat suaminya.
"Nak tidak boleh berkata seperti itu! bila Abraham mendengarnya pasti Ia akan merasa bersedih! Jadi Ibu mohon padaMu iklaskanlah kepergiannya" ucap Rita sambil memeluk tubuh Maya
__ADS_1
"Bu bram Bu!" ucap Maya yang semakin melemah hingga, Ia sudah tidak sadarkan diri lagi dalam pelukan Rita.
*** Maaf para readers yang merasa kecewa dengan part ini. tapi inilah yang selama ini yang ada dalam pikiran Author bram harus pergi demi menyelamatkan keluarganya dari rongrongan Teos! dan dengan part ini juga Author tidak bisa tidur semalaman. Reders bisa bayangin sendiri dari tadi pagi Author bikin part ini dengan jumlah kata cuman 500, tapi kerjanya sampai berjam jam lamanya. Author seakan akan tak iklas tapi jalan ceritanya memang begini adanya. Jadi bila ada yang tak suka Author minta maaf. wassalam.