
Bi Mini begitu gelabatan mendapat pertanya demi pertanyaan dari Abraham.
Abraham begitu Geram tapi ditahanya. Ingatanya terus fokus kepada Istrinya.
"Bi ...tenang! tarik nafas dalam dalam lalu buang secara pelan pelan" ucap Abraham mencoba menenangkan Bi Mini.
Setelah Bi Mini terlihat sudah menguasai diri, Abraham kembali mengajukan pertanyaan kepada Bi Mini yang sempat tertunda tadinya.
"Bi ..Nyonya dimana" ucap Abraham dengan nada pelan
"Nyonya dilarikan kerumah sakit Tuan! Perut nyonya tiba tiba sakit" ucap Bi Mini
"Apa....! kenapa kalian tidak mengabariKu kalau Nyonya dilarikan kerumah sakit! ucap Abrahan kini meninggikan suaranya.
"Tadi Saya disuruh Nyonya untuk menghubungi Tuan tapi, handpone Tuan Abraham sibuk terus. makanya bibi berinisiatif pergi kerumah sakit membawahkan pakaian Nyonya" ucap Bi Mini menundukkan kepala.
"Kalau begitu cepatlah ikut dengan Kami" ucap Abraham melangkah keluar diikuti Bi mini di belakanya.
"Jo cepat ..kita kerumah sakit" ucap Abraham sambil membuka pintu dan duduk di kursi penumpang.
Sementara itu Bi Mini duduk di samping Jonathan yang bertugas sebagai pengemudi.
Jonathan tidak mau mempertanyakan untuk apa mereka kerumah setelah melihat wajah Abraham yang begitu panik.
Jonathan melajukan kendaraannya dengan kecelatan sedang menuju rumah sakit yang di infokan Bi Mini padanya.
"Bram di depan Ada Razia! Ucap Jonathan memandang Abraham melalui kaca spion dalam mobil.
"Sial..!Jo terobos saja" ucap Abraham begitu panik dengan keadaan Maya.
"Jangan Bram ini bisa membahayakan pengguna kendaraan lain dan para aparat ke polisian yang sedang bertugas disana" balas Jonathan.
"Kalau begitu Kau turun biar Aku yang mengemudikanya" ucap Abraham keluar dari dalam mobil.
"Tapi Bram...! ucap Jonathan gantung setelah tubuhnya ditarik paksa oleh Abraham keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
"Kau tenanglah ...Aku juga masih ingin hidup dan menemani anak Aku hingga tua nantinya"ucap Abraham mencoba menenangkan Jonathan.
Abraham menjalankan mobilnya dengan pelan.
Seorang polisi mendekat kearah mobil mereka sembari memberi hormat.
"Siang Tuan! Bisa lihat SIM beserta STNKnya " ucap polisi tersebut dengan sopan.
Abraham yang hanya membuka setengan kaca mobil menyodorkan SIM beserta STNK dengan ujung jarinya.
Mata polisi tersebut membelalak melihat siapa pemilik Mobil saat ini.
"Maafkan Kami Tuan Abraham yang sudah menghambat perjalanan Anda" ucap Polisi itu sambil menundukkan kepala.
"Tidak apa apa Pak! memang sudah tugas kalian! Tapi kalau boleh biarkan kami lewat. Istri Aku sedang berada di Rumah Sakit" balas Abraham sedikit memohon.
"Baik Tuan Abraham" ucap Polisi tersebut sambil membukakan jalan Untuk mereka.
Setelah mengucapkan terimah kasih Abraham mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Bi Mini yang duduk disampingnya hanya menutup mata menggunakan tas Maya yang sedari tadi Ia peluk.
klakson mobil Abraham bunyikan di sepanjang jalan hingga pengendara lain berhamburan ke pinggir untuk memberi ruang mobil mereka untuk berlalu.
Tak lama kemudian kini mobil mewah itu memasuki area halama rumah sakit.
Abraham memarkirkan mobilnya asal asalan.
Ia segera keluar dari dalam mobil tanpa mematikan mesin mobil terlebih dulu.
Abraham berlari kearah pintu rumah sakit. pikiranya yang kacau mengalahkan segalanya.
Abraham berlari kearah balai informasi rumah sakit untuk mencari Info dimana keberadaan istrinya saat Ini.
"IstriKu di rawat dimana...." ucap Abraham dengan nafas terputus putus sehabis berlari.
__ADS_1
"Maaf Tuan Abraham! Sebentar Saya cek dulu , Mohon kesediaanya untuk menunggu" ucap Seorang karyawati yang sedang bertugas disana.
Abraham menunggu dengan tidak sabar, beberapa kali kakinya di hentakkan kelantai untuk menetralkan ketidak sabarannya.
"Nyonya Maya berada di ruang Melati no..."ucap Karyawati tersebut menggantung karna segera terpotong oleh Abraham
"Ah ...lama" ucap Abraham kembali berlari menuju Ruang Melati yang dikhususkan untuk Ibu yang sedang atau ingin melahirkan.
Abraham melewati koridor Rumah Sakit. satu persatu kamar pasien dibukanya hingga, mendapati Istrinya pada kamar No 1 ruang VIP sedang terbaring lemah di temani oleh Naomi.
"Sayang...." ucap Abraham memeluk tubuh Maya.
Wajahnya yang pucat dan terlihat lesu
membuat Maya heran melihatnya.
"Bram kenapa Kau jadi acak acakan begini" ucap Maya mengusap wajah Abraham.
"Aku kuatir padaMu sayang! Babang panik, Babang gelisah, Babang takut kalau kalau babang tidak ada di sampingMu saat kau melahirkan buah hati Kita"ucap Abraham menciumi punggung tangan Maya.
Naomi yang mendengar ucapan Abraham yang berubi tubih membuatnya memutar balikkan kedua bola matanya.
"Kau ini! Maya yang mau lahirin malah kau yang panik setengah mati! Emang begitu ya kalau laki laki bucin menunggu anak pertamanya lahir! Apa Jonathan akan sepertiMu nanti bila Aku berada di posisi Maya saat ini." balas Naomi sedikit tersenyum.
"Tentu saja sayangku! Suami tuamu ini akan lebih panik lagi kalau kau yang akan melahirkan nantinya" ucap Jonathan yang masuk dalam ruangan di ikuti Bi Mini.
"Apa Ibu akan hamil ? Seingat Maya, dulu ibu bilang ingin mengkonsumsi obat pencegah kehamilan" ucap Maya menatap kearah Naomi.
"Biarpun Ibu mengkomsumsi obat pencegah kehamilan toh pastinya Ibu akan hamil juga" ucap Naomi merangkul pinggul Jonathan yang sedang berdiri di sambingnya.
"Loh ..kok bisa" ucap Maya dan Abraham bersamaan.
"Bagai mana tidak Obat baru sampai di leher celana sudah sampai di lutut" ucap Naomi menatap Jonathan sambil tersenyum.
Sontak membuat semuanya tertawa dalam ruangan itu mendengan canda gurau Naomi.
__ADS_1
👉beri like, vote, coment , rate bintang limanya ya Makasih......