
Sudah dua hari Anna berada di desa, Ia merasa sangat bahagia bisa berada di tengah tengah masyarakat yang kepeduliannya sangat tinggi. Terlebih lagi ia bisa menenangkan diri untuk pemulihan kakinya yang cidera di dampingi Bu Sari yang selalu sabar.
Pelan pelan Anna latihan berdiri, dihari hari berikutnya ia mulai berjalan. Meskipun masih terasa sakit di bagian cideranya tapi ia tidak mungkin berada di atas kursi roda terus menerus. Ia harus bangkit dan menjalani kehidupan yang bebas.
Selepas dari itu, Ia akan menata hidupnya jika sudah tidak lagi bersama Arsya. Ia akan menyiapkan segalanya di mulai dari sekarang. Bu Sari selalu memberikan semangat kepada Anna yang melakukan terapis.
Satu minggu berada di desa, membuatnya semakin nyaman. Kini kakinya sudah bisa berjalan meskipun masih terasa sakit jika digunakan perjalanan yang agak jauh.
"Pelan pelan saja nduk. kakimu baru saja sembuh." Ujar Bu Sari menasehati Anna kala sedang membantu membawa barang menuju warung yang biasa digunakan bu sari untuk menjual nasi uduk.
"Hm, iya bu. Ini sudah sembuh kok. Lama lama tidak akan terasa sakit lagi." Jawab Ana dengan senyuman manis dan itu membuat bu sari luluh.
Bu Sari hanya menggeleng pelan lalu melanjutkan langkahnya menuju warung. Bu sari adalah penjual nasi uduk, gorengan dan jajanan lainnya. Dia seorang janda yang ditinggal mati suaminya, apalagi dia tidak memiliki anak. Jadi ia merasa senang saat Anna datang kerumahnya.
Bu sari tidak lagi kesepian, setiap malam ia akan menceritakan kehidupan masa mudanya dulu. Dan Anna juga merasa senang, Ia sudah menganggap Bu sari sebagai ibunya sendiri.
"Bu sari, ini anak perempuannya sangat cantik." Puji salah satu pembeli di warung bu sari.
"Eh, pak Sudir. Iya pak, ini anak perempuan saya. Dia dari kota." Jawab Bu Sari tertawa.
Pak Sudir mengangguk. Anna tidak menghiraukan percakapan antara bu Sari dan pembeli itu. Ia terus sibuk dengan membuatkan teh untuk para pembeli.
"Sudah ketemu?" Arsya memandang pengawalnya satu persatu dari lima orang pengawal yang berada di deretan barisan paling depan.
"Belum tuan, kami sudah menelusuri seluruh kota ini bahkan di pinggiran kota tapi kami tidak menemukannya." Ujar salah satu pengawal yang di anggap sebagai ketua.
"Cari terus sampai ketemu. Sekarang alihkan seluruh pencarian di desa terpencil." Perintah Arsya dengan tegas.
"Baik tuan." Pengawal itu segera bubar.
Arsya mendesah pelan, ini sudah ke tujuh hari masa pencarian. Tetapi masih belum menemukan keberadaan Anna. Jika kakeknya mengetahui hal ini pasti beliau akan sangat marah besar dan dia akan dibunuh. Haist, memikirkan hal ini serasa kepalanya mau pecah.
Apalagi sekarang ibunya berada di sini. Itu akan sangat merepotkan, ia seringkali mendapatkan telepon dari ibunya dan selalu memberikan nasehat nasehat yang membuat kupingnya terasa panas.
Arsya juga sudah bolak balik ke kediaman Villa Wirawan, ingin hati menanyakan keberadaan Anna di sana tetapi suaranya seakan tersangkut di dalam tenggorokan tatkala ayah mertuanya menanyakan kabar Anna. Itu artinya Anna tidak berada di sana.
__ADS_1
Arsya merasa sangat prustasi, untuk sementara ini ia masih bisa merahasiakan keberadaan Anna dari kakeknya Jadi ia masih terasa aman.
"Dimana kamu Anna, Aku hampir gila mencarimu. Ini sudah hari ketujuh, kenapa kau tidak mengabariku juga. Sekalipun ponselmu mati kenapa kau tidak meminjam temanmu atau...."
Berbicara soal teman, ia teringat akan satu hal. Ia meraih kunci mobilnya dan pergi keluar. Ia berniat mengunjungi sekolah di mana Anna mendapatkan ilmu. Ia bergegas melajukan mobil mewahnya ke arah gedung sekolah.
Sampai di sana, Pagar sekolah itu tertutup rapat. Ia hampir gila. Bagaimana ia bisa masuk ke dalam sana. Oh, Ayolah Arsya hanya karena wanita itu kau jadi seperti ini. Monolog Arsya menghentakkan kepalanya di pegangan setir. Akhirnya Arsya menunggu jam sekolah berakhir.
Tepat jam 4 sore, para siswa berhamburan keluar dari gedung sekolah. Arsya berpikir keras, Ia tidak mengenal satu persatu teman Anna. Jika ia keluar sekarang ia pasti akan dikerubuti orang-orang dan usahanya mencari Anna akan gagal.
Arsya merutuki kebodohannya itu, Akhirnya Arsya menjalankan mobilnya meninggalkan sekolah. Terdengar deringan ponsel yang menyentak kefokusan dalam berpikir.
"Halo tuan." Ricky bertelepon.
"Apakah Anna sudah pulang?"Tanya Arsya tidak sabar.
"Belum tuan, tapi ada Tuan besar datang berkunjung."
Oh ****, kenapa hari ini lelaki tua itu datang. Apa alasan yang tepat untuk menyembunyikan berita ini. Arsya memutar otaknya.
"Hallo tuan, masih di sanakah?" Tanya Ricky.
"Baiklah Tuan, akan saya sampaikan." Telepon ditutup. Ricky menggosok belakang lehernya merasa takut akan ancaman Majikannya itu.
Takut kebohongannya terbongkar, Arsya tidak berani pulang. Ia menjalankan mobilnya mengikuti sebuah jalan yang entah ia tidak tau dimana keberadaannya.
Arsya menelusuri jalan sempit, penerangan di sana juga sangat minim. Selama menempuh perjalanan hampir satu jam itu, akhirnya ia menemukan sebuah desa yang terpencil. Arsya pun merasa tenang.
Ia masih mengemudikan mobilnya ke desa itu, berharap ada sebuah penginapan untuk menginap untuk sementara waktu.
Pada keesokan paginya Anna bersiap menemani bu sari ke pasar.
"Ayo Bu sari, Anna sudah siap." Anna berteriak di depan rumah seraya membawa tas besar yang akan ia gunakan untuk membawa barang belanjaan nantinya.
"Sabar dong nduk, ini ibuk lagi nyari kerudung. haduch di mana tadi ya." Terdengar Bu sari sedang mencari kerudungnya. "Ah ini dia..." Bu sari pun segera keluar dari dalam rumah.
__ADS_1
"Ayo nduk." ajak Bu sari.
Untung saja ada tukang becak yang mau bersabar menunggu keduanya bersiap siap. "Sudah siap semua?" Tanya Bang Muin kepada dua wanita didepannya.
"Oke lets gooo!" Anna berteriak senang.
"Ayo Bang muin yang kenceng nariknya." Ujar Bu sari berteriak kencang.
"Siap bu Sari." Bang Muin pun mendorong becaknya hingga ke jalan barulah ia naik dan mengayuh becaknya dengan kekuatan ekstra.
Keduanya menikmati perjalanan menuju pasar yang jaraknya dua kilometer. Angin di sana sangat semilir, dan udaranya masih begitu segar tanpa adanya polusi udara. Anna merasa sangat senang dengan kehidupan yang tenang seperti ini.
Tak terasa, becak yang mereka tumpangi telah sampai di pasar. Anna dan bu Sari turun dari becak.
"Tunggu disini ya bang muin, awas jangan kemana mana! Nanti saya kesusahan cari bang muin." Ancam Bu Sari.
"Asiap bu Sari. saya akan tunggu sampai bu sari keluar pokoknya. Tenang saja." Jawab Bang Muin dengan tertawa.
"Maaf ya bang Muin." Ucap Anna.
"Is okelah nak Anna, demi cintaku sama bu Sari. Apapun akan saya lakukan." Ucap bang muin.
Anna tertawa seraya menggeleng pelan. Cinta memang buta. Anna segera berlari menyusul bu sari yang sudah masuk ke dalam pasar terlebih dulu. Mencari bahan yang akan di jual di warungnya. kerap sekali bu Sari menawar barang dagangan. Anna hanya geleng geleng kepala tatkala Bu sari dan penjualnya itu saling ngotot.
Tetapi pada akhirnya, Penjual itu akan memberikannya dengan potongan lima persen. Setiap penjual memiliki watak yang berbeda. kadang ada yang menggoda kadang juga ada yang dingin karena barangnya ditawar.
Bu Sari sambil berjalan sambil ngomel tak jelas. Anna hanya mengikuti bu sari sambil cekikikan mendengar celotehan Bu Sari.
"Eh, malah ketawa. Ini Ibu beneran nduk. Jangan gampangan sama lelaki. Enak saja ngasih barang cuma cuma eh ujung ujungnya ngajak ke hotel. memang saya ini wanita apaan..." Oceh Bu Sari panjang.
Sudah hampir satu jam bu sari dan Anna berada di dalam pasar, setelah mendapatkan beberapa sayuran dan barang lainnya mereka keluar dari pasar.
"Bang muin sini!" Bu Sari menjatuhkan barang bawaannya dengan hati hati.
"Udah selesai bu sari?" Tanya Bang muin serambi mendorong becaknya mendekat.
__ADS_1
"Udah. yuk nduk keburu siang. panas." Bu sari menarik tangan Anna naik ke becak. Sementara barang belanjaan Bu Sari di angkat bang muin dan di letakkan di atas atap becak tersebut.
Anna menurut pada Bu Sari masih dengan menahan tawa. Bu Sari adalah orang yang sangat baik hati dan selalu membuat Anna terhibur dengan celotehannya. Bahkan sampai melupakan masalah yang sedang menimpanya.