Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Tiga Puluh Sembilan


__ADS_3

Anna memasuki mobil Phantom yang terbiasa menjemputnya. Saat pak Jaki masuk ke dalam kursi kemudi. Tanpa sadar Anna melirik keluar jendela.


Seorang gadis mengenakan jaket hodie hitam menutupi wajahnya, Gadis itu seperti tengah menunggu seseorang. Ia bagai pencuri dengan melirik ke sana kemari dengan tak tenang.


Tetapi Anna tidak tau siapa gadis itu, Ia menolehkan kepala saat mobil sudah melaju meninggalkan sekolah. Ia tak memikirkan lagi tentang gadis itu.


Sementara iringan mobil Phantom sudah menjauh. Gadis yang tertutup dengan kupluk itu tersenyum sempringah tatkala Dea dan Kesya keluar dari dalam sekolah.


"Hei!" Pekik Indri seraya membuka kupluk hodie yang menutupi wajahnya.


"Indri." Pekik Kesya senang. Dea yang mendengar kata Indri segera menoleh. Betapa terkejutnya mereka. Akhirnya bisa bertemu setelah sekian lama tidak bertemu.


"Duh Indri. Kami baru saja akan mencari alamatmu. Kemana kamu selama ini?" Tanya Kesya seraya melepas pelukan mereka bertiga.


"Ya, kita bahkan rela membalaskan dendammu kepada Anna sialan itu yang sudah buat kamu seperti ini." Lanjut Dea dengan menggebu.


"Sudahlah. Sekarang kita sudah bertemu. Kalian apa kabarnya. Lebih baik kita cari tempat dan ngobrol. Aku kangen kalian." Ucap Indri.


Baik Kesya dan Dea mengangguk. Dengan motor matik mereka masing masing, Kesya dan Dea yang memboncengkan Indri segera melajukan motor mereka menuju ke salah satu Cafe terdekat dari sekolah.


Tak membutuhkan waktu lama mereka telah sampai di Cafe. Mereka bertiga segera masuk dan memesan minuman.


"Coba katakan! Kamu tinggal di mana? Sejak hari itu. Kamu tidak bersekolah. Dan kami ingin pergi ke rumah kamu. Tapi saat kita kesana rumah kamu di sita. Ada apa denganmu Indri?" Tanya Kesya meminta penjelasan terhadap sahabat baiknya itu.


"Ah. Aku tinggal di kontrakan kecil. Tadinya aku kira kalian akan menjauhiku karena aku sekarang bukan apa apa lagi." Indri menundukkan kepalanya dengan sedih.


"Hei, kita ini sahabat. Mana mungkin kita meninggalkan kamu dalam keadaan seperti ini." Kini jawaban itu keluar dari bibir Dea.


Kesya mengangguk membenarkan perkataan Dea. "Iya. Kita ini sahabat. Kita tidak akan meninggalkanmu."


"Terima kasih." Balas Indri sembari menyeka air matanya yang menggenang di sudut matanya.


"Sekarang ceritakan apa yang terjadi denganmu dan keluargamu." Tanya Kesya langsung pada pokok isi permasalahannya.


"Itu karena Dia." Kini tatapan Indri lurus ke depan sembari membayangkan kejadian tempo hari di malam itu.


"Dia?" Kesya dan Dea saling bertatapan sesaat sebelum kemudian mereka menatap Indri dengan seksama. "Dia siapa?" Lanjut Kesya.


"Tentu saja Anna Anggitasari Wirawan. Gara gara dia, keluargaku menjadi hancur. Perusahaan ayahku juga bangkrut. Itu dikarenakan dia." Jawab Indri dengan yakin.


"Hah sudah ku duga?" Sahut Kesya sesuai dengan dugaannya.


"Bagaimana bisa Ndri. Perusahaan ayahnya tidak sekuasa dengan perusahaan Ayahmu." Sela Dea tak mengerti.


"Memang bukan perusahaan Wirawan. Tetapi Adiyaksa Group." Jelas Indri.


"Hah." Kesya dan Dea sama sama terkejut dengan penuturan Indri.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin?" Tanya Dea tak percaya.


"Iya." Lanjut Kesya.


"Itu karena Keluarga Adiyaksa mempunyai hubungan erat dengan keluarganya. Aku juga tak mengerti. Tetapi aku mendengar ayah menyebutkan Adiyaksa grouplah sebagai peran utama dalam perusahaan ayah menjadi bangkrut." Ucap Indri penuh keyakinan.


"Hubungan? Hubungan Apa?" Tanya Dea penuh tanda tanya.


"Aku juga tidak tau. Sekarang aku mempunyai tugas kepada kalian. Kalian mau bantu." Tanya Indri kepada dua sahabatnya itu.


"Iya. Kan kita sahabat. Kita siap bantu kapanpun yang kamu butuhkan." Balas Kesya dengan tenang dan yakin.


"Betul." Dea menambahkan.


"Kalian selidiki hubungan Anna dan Arsya. Aku yakin ada yang tidak beres disini." Ucap Indri.


"Kita mulai dari kapan?" Tanya Kesya.


"Malam ini. Kita cari tau dari rumah orang tuanya. Dari situ kita akan mengerti dan kita bongkar hubungan mereka ke media. Biar dia tau bagaimana hancurnya dia seperti yang aku rasakan." Ucap Indri.


"Oke. Nanti malam kita bertemu." Balas Kesya.


"Ya." Timpal Dea.


Ketiga gadis itu menumpuk tangan dengan Indri yang pertama di ikuti Kesya dan Dea.


*


*


*


Sebuah Villa mewah bergaya perancis, Anna menapakkan kakinya di atas marmer putih. Saat datang Ricky akan menyambutnya di depan pintu seperti biasanya. Bedanya, Arsya datang lebih cepat dari jam kerjanya.


Anna menghentikan langkahnya tatkala ia menemukan seorang pria tengah duduk dengan kaki bertumpu di atas kaki lainnya. Punggungnya dengan santai bersandar pada sandaran sofa. Tetapi Tatapan mata pria itu tengah menyorot kepada kedatangan Anna dengan tatapan tajam.


Awalnya gadis berambut lurus yang tergerai itu tersenyum. Tapi melihat ekspresi muram dari pria itu. Seketika senyum di wajah gadis itu luntur seketika.


"Kamu, Kenapa sudah pulang?" Tanya Anna.


"Heh, kenapa?" Tanya Arsya dengan dingin.


"Tidak apa apa!" Anna menggelengkan kepala dan berniat kembali menuju kamar yang berada di lantai dua. Tapi baru menginjakkan anak tangga yang pertama suara Arsya menghentikannya.


"Coba jelaskan!" Suara Arsha menggema di seluruh ruangan. Membuat si gadis yang menapakkan kakinya di atas tangga harus berbalik menatap pria yang bertanya dengan nada dingin.


"Jelaskan apa?" Tanya Anna yang tidak begitu mengerti dengan pertanyaan yang dilayangkan Arsya barusan.

__ADS_1


Mendengar Anna yang mempertanyakan maksudnya. Arsya mengeluarkan sebuah kertas dan membantingnya ke atas meja di hadapannya. Tangannya terlipat di depan dada dengan angkuh dan arogan.


"Apa maksudnya dari ini!" Ucap Arsya lalu menunjuk ke arah kertas yang bentuknya sudah rapi.


Anna buru buru mendekat dan mengambil kertas yang terlempar di atas meja dengan tak berdaya. Anna benar benar tercengang. Bukankah kertas itu sudah hilang. Kenapa bisa ada pada Arsya.


"Kenapa ada di kamu?" Tanya Anna balik seraya menatap Arsya yang masih dengan posisi semula.


Arsya mencebikkan bibirnya kemudian dengan gerakan elegan mengambil secangkir kopi dan meneguknya satu tegukan.


"Mudah saja." Setelah mengatakannya Arsya meletakkan cangkir kopi ke tempat semula. Arsya melirik Ricky yang berdiri tak jauh dari Kedua manusia itu tinggal.


Anna buru buru melihat Ricky yang menunduk, Dia baru saja selesai meletakkan tas nona mudanya di kamarnya. Setelah kembali ia justru mendapatkan tatapan tajam dari dua sejoli itu.


Keringat dingin membasahi pelipis Ricky. Ricky menundukkan kepalanya tak berani menatap ke arah majikannya.


"Oh, jadi ini kerjaannya pak Ricky!" Gumam Anna pelan namun bisa didengar dengan jelas oleh Arsya.


"Jangan menuduh sembarangan. Dia sudah bekerja begitu lama padaku. Jadi aku tau perangainya di rumah ini." Sela Arsya dengan dingin.


Ricky menghembuskan nafasnya panjang. Dalam hati Ricky tersenyum karena posisinya saat ini sangat tidak baik baik saja.


Arsya melirik Ricky yang masih berdiri membeku di belakang Anna. Dengan gerakan mata Ricky segera menyadarinya. Ia segera pergi dari sana setelah membungkuk hormat kapada Arsya.


Anna melirik kepergian Ricky, dalam hati Anna ingin sekali merutuki Ricky yang sudah mengadukannya.


"Itu.....Bisa aku jelaskan!" Anna ingin duduk di samping Arsya seraya menjelaskan apa yang terjadi.


"Diam di sana. Dan jelaskan!" Arsya mengulurkan tangannya agar berhenti.


Baru selangkah Arsya sudah menghentikannya. Tubuh Anna membeku ditempat.


Anna terdiam sesaat mencari alasan yang tepat Agar manusia es itu tidak menuduhnya macam macam.


"3....2....


"Aku jelaskan, Aku akan jelaskan.." Tetapi perkataan Anna terhalang dengan ucapan terakhir Arsya.


"1... Selesai." Arsya melirik Anna yang membeku di tempatnya kemudian melanjutkan perkatannya.


"Aku akan mengatakannya. Pertama kamu tidak pernah mengikuti pelajaran dikelas dengan baik, kedua kamu sering bermain main dengan lelaki itu. Ketiga kamu akan dipindahkan dari kelas unggul ke kelas umum. Itu yang akan kamu jelaskankah...."


Anna mengernyitkan keningnya dengan heran. Selama ia hidup bersama Arsya, tidak pernah sekalipun pria itu mengurusinya tentang situasi di sekolahnya. Pria itu akan selalu cuek dengan kehidupannya.


"Tunggu! Dari mana kamu tau semua itu?" Anna melompat ke atas sofa tubuhnya condong ke depan bahkan wajahnya sedekat bulan bintang. Arsya bahkan dapat merasakan hembusan nafas Anna diwajahnya. Arsya tidak bergeming bahkan tetap santai menatap layar lebar di depannya.


"Tau dari mananya itu tidak penting. Meskipun selama ini aku tidak terlalu memperhatikanmu. Tapi aku bukan orang bodoh." Arsya mengambil remot televisi dan mematikannya.

__ADS_1


__ADS_2