
Sudah dua hari Arsya tak menampakkan diri. Hati Anna berkecamuk. Tetapi ia tak mengatakan apa apa. Ia hanya duduk di sofa di ruang tengah seraya menonton tv. Sementara tangannya sibuk memasukkan camilan ke dalam mulut.
Sesekali gadis itu melihat keluar jendela. Berharap Arsya segera kembali. Tiba tiba terlintas pikiran negatif di otaknya. Ia segera menggelengkan kepalanya agar pikiran negatif itu segera menghilang.
Di kejauhan Ricky melihat gerakan Anna seperti orang linglung. Laila segera menepuk bahu Ricky.
"Pak Ricky, apa yang sedang kamu lihat. Sejak tadi kau menggelengkan kepala. Apa kepalamu pusing?" Tanya Laila.
"Heh, kau ini mengagetkanku saja." balas Ricky memegang dadanya.
"Hehe. Lagian pak Ricky sejak tadi bengong disini." Ujar Laila.
"Aku hanya melihat nona muda. Sangat kasihan sekali." wajah Ricky berubah menjadi sendu dan merasa kasihan.
Laila menoleh, ia memandang Nona mudanya. Ia mengamati gerakannya yang selalu melihat keluar jendela.
"Benar. Dia sangat kasihan." Laila membenarkan ucapan Ricky.
Ricky kembali ke akal sehatnya, ditatapnya Laila yang sedang berdiri di sampingnya.
"Laila, kenapa kamu masih disini. Cepat pergi!" Ucap Ricky.
"Oh...oh...galak sekali. Ini juga mau pergi." Ujar Laila kemudian bergegas pergi.
Ricky melihat punggung Laila sudah menjauh. Ia sendiri melangkahkan kakinya keluar. Memang Majikannya itu sudah tidak ada kabar sama sekali. Tetapi ia juga tak berhak bertanya tanya tentang apapun, selain ia melakukan tugasnya. Ia juga bertanggung jawab menjaga nona mudanya.
Anna duduk di sofa sudah setengah hari. Ia melihat hasil ulangan yang hampir seratus persen di tangannya.
"Padahal, aku cuma mau ngasih ini. Tapi kamu diluar sangat bersenang senang sekali. Rasanya sia sia saja kau mengajariku sampai seperti ini. Kau memberiku harapan dan pada akhirnya kau menghempaskannya ke tanah." Gumam Anna pelan. Air matanya bahkan sudah menggenang di pelupuk matanya.
Hampir saja ia meneteskan air matanya, tetapi ia segera mengusap dengan lengannya.
"Anna, kamu harus sadar. Dia sudah bahagia sama wanita lain. Buat apa kamu menunggu seperti orang bodoh disini." Ia bergumam dengan pelan dan kemudian kembali menggelengkan kepalanya. Sedetik kemudian ia mematikan televisi.
Ia membawa berkas yang sudah ia siapkan sejak tadi, tetapi Arsya belum juga kembali. Akhirnya ia beranjak sambil membawa berkas itu lagi dan masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar, ia melihat saldo tabungannya melalui M-Banking. Saldonya Sudah hampir mendapatkan satu miliyar. Dia tersenyum, akhirnya akan ada hari cerah setelah hubungan ini berakhir.
Ia tidak perlu khawatir lagi setelah hari itu tiba. Ia akan keluar negeri dengan uang itu sebagai bekalnya nanti. Lalu menempuh pendidikan sesuai dengan karakternya. Dengan begitu ia akan merasa tenang.
Setelah lama pikirannya berkelana ke mana mana, akhirnya ia merasa lelah dan tertidur dengan sendirinya.
Di jalur selatan
Akhirnya Arsya sudah sadar. Ia juga sudah normal seperti biasanya. Dokter Angga segera masuk dan memeriksa jantung dan nadinya. Kondisinya cepat pulih dengan baik.
__ADS_1
Arsya mengatupkan bibirnya, melihat dokter Angga memeriksanya secara detail.
"Kamu sudah pulih dengan cepat. Lain kali jangan memikirkan hal berat." Ujar dokter Angga lalu menyimpan stetoskopnya ke dalam saku jas kebesarannya.
"Tentu saja." Jawab Arsya acuh tak acuh. Lalu mengangkat tangannya melihat jam di tangannya.
"Sudah pukul 10. Aku harus kembali." Ujar Arsya.
Satu persatu, Arsya menurunkan kakinya yang panjang. "Kau sudah bisa pergi. Jaga kesehatanmu." setelah itu dokter Angga menepuk bahu Arsya dan keluar kamar.
Reimond sopir pribadi Arsya segera pergi mendekat. "Tuan muda!"
Reimond segera memberi satu set pakaian kepada Arsya. Arsya segera menerimanya. Sementara Arsya sedang mengganti pakaiannya Reimond keluar dari dalam kamar.
Seorang pria mengenakan jas hitam keluar dari dalam kamar. Wajahnya terlihat sangat segar dan berwibawa. Para pengawal bergegas memberi hormat. Kaki jenjang Arsya melangkah melewati satu persatu para pengawal yang menundukkan kepala. Kemudian berjalan mengikuti dibelakangnya.
Terlihat sekumpulan orang berduyun duyun berjalan keluar rumah sakit. Di samping itu, pengawal kepercayaannya berada di belakangnya.
Sebuah mobil berjalan mendekat, satu pengawal maju dan membukakan pintu. Pengawal yang lainnya menyusul di depan dan belakang mobil Liumosin.
Iring iringan ke empat mobil bergegas meninggalkan pelataran rumah sakit jalur selatan.
"Tuan muda. Apakah sekarang kembali ke Villa?" Tanya Reimond sopir pribadi Arsya.
Arsya kembali menaikkan lengannya melihat jam dengan sinar ultra di layarnya. "Ke kantor lebih dulu. Ada pekerjaan yang masih tertunda." ujar Arsya.
Iring-iringan mobil melaju ke perusahaan Adiyaksa Group. Sesaat kemudian iring iringan itu telah tiba di perusahaan. Arsya segera menuruni mobil dan masuk ke dalam perusahaan. Sudah jam 11 malam saat masuk. Suasana kantor juga sudah sepi.
Hanya ada Danni yang sedang mengerjakan urusan kantor. Wajahnya terlihat kuyu karena ada masalah yang tiba tiba muncul. Membuat dirinya tidak bisa tidur karena kedatangan presdir Arsya absen selama dua hari. Jadi dia yang menanganinya.
"Danni!" terdengar suara rendah dari belakang. Danni segera menoleh.
"Presdir!" Danni akhirnya bisa bernafas lega saat presdir datang tepat waktu saat ini. Ia beranjak dari kursinya dan menunduk hormat.
Arsya dengan langkah jenjangnya masuk ke dalam kantor dan duduk di singgasana dengan elegan. Danni memberi beberapa dokumen dan juga melaporkan segala hal yang sedang terjadi selama dua hari ini.
Arsya meneliti satu persatu dokumen itu dihadapannya. Keningnya berkerut dalam saat tiba tiba menemukan masalah yang janggal. Ia mengetuk ngetuk ujung pulpennya.
"Ada apa presdir?" tanya Danni saat suara pulpen terdengar lebih keras saat malam hari.
"Ini...bagaimana kamu menanganinya?" tanya Arsya dengan terus menatap bagian gambar yang janggal.
"Saya sudah memeriksanya beberapa kali, tapi aku tidak menemukan apa apa!" jawab Danni.
"Hem, baiklah." Arsya kembali meneliti dokumen itu. Dengan sedikit gerakan dan goresan kejanggalan itu akhirnya bisa terjawab.
__ADS_1
Setelah duduk beberapa lama. Ia merasa sedikit lelah. Ia menyandarkan punggungnya dan melepas kaca mata bacanya. Ia memijit pangkal hidungnya dan menghela nafas.
Saat Danni membaca ulang dokumen itu, Ia menoleh ke arah Arsya.
"Presdir, gambar konstruksi ini ada sedikit berbeda." Ungkap Danni.
"Ya. Kau belum meneliti dengan sempurna. Jadi kamu tak tau kesalahan pada gambar itu." jawab Arsya.
Danni menganggukkan kepala, akhirnya kejanggalan pada gambar tadi telah di sempurnakan Arsya. Akhirnya ia memahami dengan jelas kesalahannya.
Arsya menilik jam dipergelangan tangannya sudah jam 2 subuh. Ia segera beranjak dari kursinya.
"Pulanglah beristirahat. Kau pasti lelah." ujar Arsya.
Akhirnya selama dua hari berturut turut tidak tidur. Danni bisa bernafas lega. "Baik!" jawab Danni.
Arsya melangkahkan kakinya keluar kantor diikuti Danni dibelakangnya. Akhirnya ada hari cerah setelah hari gelap. Danni bisa beristirahat dengan tenang hari ini.
Di bawah kantor Adiyaksa
Arsya masuk ke dalam mobil Liumosin, perlahan mobil itu meninggalkan pelataran. Di dalam mobil Arsya duduk tegak. Tetapi pandangannya ia alihkan keluar jendela.
"Tuan muda? Apa sedang terjadi sesuatu?" suara Reimond mengalihkan pandangannya.
"Tidak!" Jawab Arsya.
Reimond mengangguk, Ia kembali fokus pada jalanan didepannya. Sampai di Villa sudah jam 3 subuh.
Ricky yang sudah menunggunya mendengar suara mobil di luar. Jadi ia bergegas membukakan pintu.
Sesampainya di depan pintu utama, mobil Liumosin terhenti. Arsya segera keluar dan masuk ke dalam Villa. Ricky segera menyambutnya dan menunduk hormat.
"Tuan muda!" Ucap Ricky selalu menyapa dengan hormat. Kemudian menerima jas dan tas kerja milik Arsya.
"Hem, Selama aku tidak di rumah. Apa yang terjadi?" Tanya Arsya seraya berjalan masuk ke dalam Villa. Ricky berjalan dibelakang mengikutinya.
Ricky menceritakan apa saja yang berada di kediaman Villa, selain itu dia menceritakan tentang Anna.
"Nona muda selalu menunggu dan menanyakan kedatangan Anda. Dia mengira anda bersama nona Bramantyo." Jawab Ricky.
Arsya menghentikan langkahnya, mengerutkan keningnya. Ricky pun ikut terhenti, dia linglung mengira ada yang salah.
"Tuan muda!"
Arsya melambaikan tangan mengisyaratkan Ricky boleh pergi. Kemudian ia melangkah masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar, ruangan itu terasa gelap. Ia berjalan mendekati ke samping ranjang. Ia mencium keningnya sekilas, tanpa sadar tangannya menyentuh pipi mulus Anna. Pipi itu masih terasa basah dan belum mengering dengan sempurna. Ia mengernyitkan keningnya. Ada perasaan bersalah di dalam hatinya. Tapi ia juga tak ingin terjadi kesalah pahaman. Tetapi ia tak mungkin mengatakan segala penyakitnya.
__ADS_1
Arsya menghela nafas dan masuk ke dalam walk in closet mengganti pakaian dengan piyama.
Anna membuka matanya, saat tangan Arsya menyentuhnya ia segera sadar. Ia menatap kosong pintu menuju walk in closet. Pikirannya seakan ingin meledak. Tetapi tak dapat mengungkapkan. Bibirnya terkatup rapat. Dan lanjut tidur.