Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Empat Puluh Tujuh


__ADS_3

"Oke, Aku maafkan." Jawab Arsya kemudian kembali meneliti dokumen penting. Arah pandangannya menuju ke arah komputer didepannya.


Anna mengikuti arah pandang Arsya menuju layar datar didepannya.


"Ini...."


"Ya, ini konstruksi yang di kerjakan ayahmu." Jawab Arsya menyela ucapan Anna.


Tiba tiba ia merasa rindu dengan Wiryo dan Dewi. Tatapannya berubah menjadi sendu. Arsya memperhatikan wajah Anna lalu segera menunduk.


"Kenapa?" Arsya segera bertanya.


Anna menggeleng pelan, tanpa terasa air matanya menggenang di pelupuk mata. Ia mengusap matanya dengan lengannya.


"Hei, katakan! Apakah kamu merasa kangen sama mereka?" tanya Arsya menangkup wajah Anna dengan kedua telapak tangannya yang besar.


Anna mengangguk mengiyakan. "Tunggu satu minggu lagi, setelah kamu membuktikan nilaimu seratus persen." Ucap Arsya.


"Benarkah!" Anna hampir tak percaya.


"Ya." Arsya segera mengangguk dengan senyum tipis melengkung di bibirnya.


Anna tak bisa tak tersenyum. Tepat di saat ini ada suara ketukan dipintu. Anna mendongak menatap pintu.


"itu pengawalmu." Anna segera berucap dan ingin turun dari pangkuan Arsya tetapi ditahan oleh Arsya.


"Masuk!" perintah Arsya dari dalam ruangan.


Segera pengawal itu bergegas masuk. Tetapi, ia malah merasa canggung saat melihat hubungan mereka terlalu intim.


"Maaf tuan muda sudah mengganggu waktumu. Diluar ada orderan makanan dari restoran itu atas nama nona muda." pengawal itu hanya berdiri di pintu setelah mengatakannya ia kembali keluar.


Arsya mengerutkan keningnya. "itu pasti Leya yang mengirimnya." Anna segera menjelaskan. Perlahan kerutan di dahi Arsya berkurang.


"Kamu makanlah." Ucap Arsya lalu merentangkan tangannya.


"Ya." Anna segera turun dari pangkuan Arsya. Kemudian keluar dari ruangan kerja Arsya.


Di luar, Indri mengirim beberapa foto yang ia dapatkan selama membuntuti Anna. Ia menyusun rencana agar mukanya tercoreng di masa depan, dengan begitu pembalasan dendamnya akan segera terbalaskan.


Ia menatap ke arah pintu tatkala ada seorang yang mengetuk pintu. "Siapa?" Tanya Indri dengan keras.

__ADS_1


"Ini aku!" Seseorang menjawab.


Indri segera beranjak dan membukakan pintu. Ternyata itu adalah Ardan. "Ada apa kamu kesini?" Tanyanya dengan sinis.


Pria itu tersenyum lembut merangkul pinggangnya. "Malam ini aku sangat ingin..."


"Jangan mengada, aku tak mau. Aku sedang sibuk." Tolak Indri.


Plak! Ardan langsung emosi dan menampar wajah Indri hingga terhuyung ke samping. Darah segar muncrat dari bibir Indri.


Tangan Ardan segera meraih rambut Indri hingga ke belakang. "Aku sudah melakukan banyak hal untukmu, jangan coba coba melawanku!" Ancam Ardan dengan suara rendah.


Di dalam hati, Indri mengutuk pria itu. Tapi jika tidak ada pria itu, maka dia tidak bisa hidup layak meski tinggal dikontrakan kecil. Ardan melepas rambut Indri dan melempar ke samping.


Sekarang mood-nya tidak terlalu baik. Ia segera menyalakan sebatang rokok dan menyalakannya.


Indri segera mendekatinya, dengan bermuka tebal, ia harus merayu pria itu agar tidak mengusirnya. Terlebih lagi dia masih butuh bantuannya.


"Maaf, Ardan! Tadi aku benar benar tidak mood. Sekarang, tidak lagi." Indri merangkul tubuh kekar itu dengan lembut dan memaksanya tersenyum. Ia menarik anak rambutnya ke belakang telinga.


Tetapi pria itu masih tidak menggubrisnya, ia masih menghisap rokoknya. Asapnya mengepul ke atas. Setelah merasa mood-nya sudah lebih baik pria itu menoleh menatap Indri.


"Oke! Tetapi aku sudah tidak mood lagi." pria itu mengusap sudut bibir Indri yang berdarah dan mematikan puntung rokok.


"Oh ya, aku butuh bantuanmu!" ucap Indri.


"katakanlah!" balas pria itu masih menciumi leher indri dengan ganas.


"Aku mau kamu melakukan satu hal. Apakah kamu punya kenalan wartawan yang dapat dipercaya." tanya indri.


"itu mudah saja." balas pria itu dengan mudah.


"Bagus!" indri tersenyum dan memikirkan banyak hal. "Aku ada tugas untukmu." Kata Indri dengan semangat.


"Oke. Tapi kamu harus melayaniku dulu." Balas Pria itu.


Ada rasa keterpaksaan di dalam hati Indri. Indri dengan lembut menjulurkan tangannya dan mendorong dada Ardan mundur. Ardan mengernyitkan keningnya. Nafasnya naik turun karena tak mampu menahan hasrat yang ia tahan selama beberapa hari ini.


"Ugh, A....Aku sedang halangan." Ucap Indri sedikit merendahkan suaranya. Takutnya jika ia melakukan penolakan yang kedua dengan tak sabar itu akan membuat pria itu kembali murka. Dan benar saja wajah pria itu terlihat muram. Ia memalingkan wajahnya dan kembali menyalakan puntung rokok. Menghisapnya dalam dan mengepulkan asapnya ke atas.


"Kamu tidak berbohongkan?" Rahang pria itu mengetat dan menolehkan kepala seraya mengeluarkan asap lagi.

__ADS_1


Indri mengangguk. "Tentu saja tidak. Tapi, Tenang saja, ini akan berakhir tiga hari lagi." Indri tersenyum dan lekas menenangkan emosi pria itu.


Pria itu lekas mengangguk. "Oke, aku percaya." Ardan segera merapikan kemejanya yang kancingnya terbuka.


"Aku akan datang tiga hari lagi." kata Ardan seraya mengancingkan kemeja-nya.


Indri mengangguk. Tetapi satu tangannya menengadah. Pria itu meliriknya. "Uangmu sudah habis lagi?" tanya pria itu mengerutkan keningnya.


"Selama seminggu ini aku sering melihat baju bagus. Aku membelikannya yang baru sementara itu jatah makan menjadi kurang." Indri mencebikkan bibirnya dan berkata dengan sedih.


"Kamu sekarang sudah bukan orang kaya lagi, jangan gunakan lagi berbelanja baju." pria itu mengingatkan dengan keras.


"Ya aku tau, tetapi baju ini sudah satu bulan. Bagaimana mungkin aku berganti pakaian dengan pakaian yang sama."


Indri menunjuk baju yang dipakainya. Sudah sedikit lusuh dan warnanya sedikit pudar, pancaran wajahnya juga sudah berbeda.


Ardan melihatnya dengan seksama. Tetapi pendapatannya sebagai preman pasar tak setinggi karyawan perusahaan. Setiap yang datang adalah orang yang berpenampilan menor mungkin akan mendapatkan uang lebih tinggi tetapi jika hanya orang biasa maka pendapatannya akan sedikit.


Jika dibandingkan dengan kehidupan Indri yang sebelumnya serba berkecukupan itu akan sangat berbeda jauh. Indri selalu menggunakan kebiasaannya yang selalu berganti pakaian. Dan membeli tas mahal. Sementara Ardan adalah preman, mana mungkin uangnya cukup untuk membelinya.


Palingan uang yang diberikan akan cukup untuk membeli baju loakan sementara yang lainnya cukup untuk makan.


"baiklah, lain kali beli baju dipasar loakan. Maka akan bisa menghidupi dirimu sampai sebulan." Ardan merogoh koceknya dan memberikan uang lima ratus ribu kepada Indri.


"Segini mana cukup?" Indri tidak terima jika uang yang diberikan terlalu sedikit.


"Itu pendapatanku seharian ini. Jika kurang? Pergilah ke rumah bordil, di sana kamu akan mendapatkan lebih banyak juga bisa membeli pakaian mahal. selain itu, kau bisa memberiku uang yang telah kau habiskan selama ini." ucap Ardan dengan nada rendah.


Indri mendengar Ardan menyebutkan rumah bordil. Hatinya terasa panas. Apalagi di sana banyak orang berganti ganti pasangan. Selain itu, banyak wanita di sana yang selalu mendapatkan kekerasan jika tidak mau melayani pria hidung belang dan akan dipukul sampai mati. Sampai disini hatinya seperti diiris.


"ini....kau mau menjualku." pekik Indri dengan marah.


"Tidak, tapi itu adalah sebuah pilihan." jawab Ardan singkat dan bergegas pergi.


"Tunggu."


Ardan menghentikan langkahnya dan berbalik. "Apalagi, kau berubah pikiran?"


Saat melihat tatapan pria itu, Indri menjadi panik. "Bukan!" Indri menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ardan orang yang tidak bisa bersabar, ia segera berbalik.


"Masalah wartawan itu."

__ADS_1


"Tunggu sampai kau melayaniku, maka aku akan mencarikannya untukmu." setelah mengatakannya ia pergi dari kontrakan kecil Indri. Indri tersenyum, bayangan Anna yang merasa terhina dan terpukul melintas di otaknya.


"Lihat saja Anna. Aku tidak sabar bagaimana kamu terlempar ke dalam lumpur. Sama seperti kau membuat keluargaku bangkrut dan hancur seperti ini."


__ADS_2