Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Tujuh Puluh Dua


__ADS_3

Saat di pagi hari Linda terbangun. Saat menoleh terdengar suara air shower yang mengalir. Ia langsung membuka mata dan duduk di atas ranjang. Perutnya yang besar tak bisa bergerak lebih.


Terdengar pintu kamar mandi terbuka. Linda tersenyum ke arah Arsya lalu menghampirinya. Air masih menetes dari tubuhnya tetapi Linda segera mencium pipinya secara agresif.


"Selamat pagi!" sapa Linda tersenyum berseri seri.


"Pagi. Kau jangan banyak bergerak. Lantainya licin." Ujar Arsya memperingatkan.


"Aku tau. Tapi ini permintaan bayimu." Ujar Linda. Arsya langsung menampakkan wajah muram.


"Kau pergilah ke bawah. Sepuluh menit aku susul." Ujar Arsya.


"Arsya!" Panggil Linda saat Arsya baru saja melangkah menuju ke walk in closet.


"Hem." Arsya tampak menoleh.


"Kau semalam tak tidur di kamar. Apa kau baik baik saja?" Tanya Linda.


"Ya, aku baik baik saja. Ada apa?" Jawab Arsya.


"Aku takut jika kau bermimpi buruk lagi dan aku tak bisa menemanimu." Ujar Linda.


"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Tuan Bramantyo berpesan padaku agar aku menjagamu. Jadi lebih baik kau memperhatikan kesehatanmu." Sahut Arsya.


"Ugh, papa. Aku tau."


Linda mencebik kesal. Arsya masuk ke dalam walk in closet. Sebelumnya ia belum pernah ke bagian lemari pakaian yang digunakan Anna. Ia pun berjalan kesana. Dia tau di lemari itu ada dua lemari yang digunakan Linda dan masih ada sisa dua lemari.


Saat membukanya ada sebagian baju Anna yang tertinggal. Itu adalah baju lingeria yang pernah disiapkan oleh Ricky. Kemudian ia melirik sekilas ke arah bawah. Ia berjongkok.


Di bawah lemari ada benda yang berkilau. Sepertinya itu adalah mutiara. Ia mengambilnya lalu mengingat. Jika dirinya tak pernah membelikan kalung mutiara.


Ia kembali menggeledah lemari itu lalu mengeluarkan sebuah kotak yang berbahan jati. Ia membukanya. Tampak ada beberapa foto yang tersimpan di dalam sana juga topeng pesta dan kalung mutiara.


Ia mengernyitkan dahinya. Ia membawa ketiga foto itu bersamanya lalu menyimpannya. Ia meletakkan kembali kotak berbahan jati ke tempat semula dan menutupnya dengan rapat.


Ia mengenakan pakaiannya dan keluar. Di ruang bawah terdengar suara Linda memekik ke arah Elsa.

__ADS_1


"Ini terlalu pedas Apa kau lupa jika aku tak suka pedas. Lalu apa ini." Linda melempar makanan ke depan Rani.


Rani tak berdaya melihat semua masakan yang telah susah payah ia masak dibuang begitu saja. Rani hampir tak tahan dengan perlakuan Linda setiap hari selalu meminta sesuai dengan seleranya. Ia sudah banyak mempelajari banyak rasa demi bisa menyenangkannya. Tapi tetap saja Linda selalu berteriak keras dengan masakan yang ia masak.


Rani berlinang air mata dan terus menundukkan wajahnya. Di bawah kakinya ada makanan serta piring yang berserakan. Pagi ini Rani memasakkan tumis kangkung, telur omelet, dan sup iga sapi. Tapi semua makanan itu berhambur begitu saja di lantai.


Arsya melihatnya saat berada di tengah tangga. Ricky yang biasa menyambutnya langsung mendongak dan menyapa.


"Apa yang terjadi?" tanya Arsya.


"Setiap pagi, begitulah tuan. Rani sudah hampir tak tahan dengan sikapnya. Padahal Rani sudah berusaha keras memasakkan yang sesuai dengannya. Tapi tetap saja nona Linda memarahinya." Ujar Ricky akhirnya mengeluhkan yang selama ini ia tahan.


"Hem, aku tau, tapi aku tak bisa membela kalian. Tapi kau tenang saja. Pelayan yang dia bikin keluar dari villa, sudah aku atasi. Tunggu sampai masalah ini selesai. Aku akan menarik kembali ke villa ini."


Akhirnya Ricky bisa bernafas lega mendengar penjelasan Arsya. "Baik tuan." sahut Ricky.


Arsya segera masuk ke ruang makan. Di lantai tampak piring yang pecah juga makanan yang ia lempar sebelumnya.


"Arsya." Linda memekik ke arah Arsya dengan manja. Lalu menggamit lengannya, satu tangan kirinya menunjuk ke araj Rani.


"Arsya dia membuat makanan pedas ini untukku. Tentu saja aku tak bisa memakannya. Tapi dia selalu lupa jika aku tak suka makan pedas. Arsya pecat saja pelayanmu yang tak becus ini. Aku punya koki bagus selain dia." Tunjuk linda.


"Tuan, saya mohon jangan pecat saya. Saya sudah bekerja lebih dari sepuluh tahun bagaimana saya harus menghidupi anak saya. Tuan!"


"Rani, kau telah melakukan banyak kesalahan. Kau segera keluar dari Villa ini." Ujar Arsya.


Rani tercengang, lututnya seakan lemas mendengar Arsya sendiri yang memecatnya. Ia segera berlutut di depan Arsya penuh permohonan.


"Tuan, beri saya kesempatan." Ujar Rani.


Linda di samping, tersenyum mengejek. Arsya melirik Linda sekilas lalu beralih menatap Ricky. "Ricky, kau urus Rani. Dan bantu dia mengemasi barang barangnya." Perintah Arsya.


"Tuan." pekik Rani memelas. Tetapi Arsya tidak memberinya kesempatan dan membawa Linda keluar dari ruang makan.


Saat keluar melihat pengawal yang berjaga di sana. "Rapikan ruang makan seperti semula." perintah Arsya.


"Baik."

__ADS_1


Arsya mengajak Linda duduk di ruangan tengah. Lalu memeriksa tubuh Linda bila saja ada terkena goresan kaca. Elsa segera datang membawa kotak obat. Dan meletakkannya di hadapan Linda.


Arsya menggeser kotak obat itu dihadapannya. Membuka dan mengambil kapas dan menuangkan alkohol lalu mengoleskan bagian yang terluka.


"Linda. Kau seharusnya selalu berhati hati. Perutmu semakin besar dan kau juga harus banyak beristirahat."


"Luka sekecil ini tidak apa apa." sahut Linda.


"Kau jangan keras kepala. Bagaimana jika janin di dalam perutmu terjadi apa apa. Bagaimana aku menjawab tuan Bramantyo." Sahut Arsya masih menyeka darah di telapak tangan Linda.


"Aku bilang tidak apa apa ya tidak apa apa. Kau tau kan." Pekik Linda kemudian ia menangis tersedu.


Arsya menghela nafas panjang. Tangan kanannya terulur meletakkan kapas yang telah ternoda darah. "Oke, tapi kau jangan menangis." ujar Arsya.


Ia mengusap pipi Linda yang basah dengan ibu jarinya. "Tanganmu terluka dalam. Aku akan memanggil dokter buat menjahit luka kamu." Ujar Arsya lalu mengambil ponsel dan menelepon dokter keluarga.


Setelah menutup telepon. Tangan Linda yang sebelah kiri mengambil tangan Arsya yang kosong. Arsya segera menoleh. "Ada apa?" tanya Arsya.


"Kau apa masih perduli padaku?" Tanya Linda.


"Ya,"


"Tapi kau selama aku tinggal disini tak pernah tidur di kamar. Kau meninggalkanku seorang diri di sana." ujar Linda.


Arsya menumpukan tangan kanannya di atas tangan Linda yang memegang tangannya. "Kita belum menikah, tak seharusnya kita tidur bersama." jawab Arsya secara logis.


"Oke, aku mengerti." Linda mengangguk. "Kalau begitu kita segera persiapkan pernikahan." Ujar Linda tersenyum.


Arsya menaikkan alisnya. Lalu melirik perut Linda yang membesar. "Di dalam sini ada sebuah janin. Seseorang tidak bisa menikah karena ini."


Linda menundukkan wajahnya dan mengelus perutnya. "Baiklah masih ada tiga bulan lagi, setelah anak ini lahir. Kita cepat menikah." Ujar Linda.


Arsya hanya mengangguk. Tak berapa lama dokter keluarga datang membawa dua perawat. Arsya segera menyingkir dan memberitaukan luka Linda. Dokter Keluarga mengangguk dan segera memeriksa tangan Linda yang tergores cukup dalam.


Sementara dua perawat menyiapkan jarum untuk menjahit luka Linda. Dokter segera menyiapkan suntikan dan menyuntikkan obat bius dan setelah obat bereaksi, Dokter keluarga memulai menjahit luka Linda. Ada empat jahitan di telapak tangan Linda. Setelah selesai, tangan Linda dibungkus dengan kain kasa. Perawat segera merapikan peralatannya dan mereka kembali ke rumah sakit.


"Kau belum sarapan. Bagaimana kita makan diluar saja." Ajak Arsya.

__ADS_1


"Hem baiklah."


__ADS_2