
Di sepanjang perjalanan, pikiran Anna sangat ruwet. Entah kenapa dia menjadi khawatir. Ia menggelengkan kepala agar pikiran itu segera pergi. Tak berapa lama ia sampai di Villa.
Saat keluar mobil ia dapat melihat ke dalam Villa. Karena pintu Villa sedang terbuka lebar.
"Nona muda." seperti biasa Ricky akan menyambutnya.
"Apakah ada tamu? Kenapa begitu ramai?" Tanya Anna.
"Ini...." Ricky tak mampu menjawab pertanyaan Anna.
Gadis itu lalu segera masuk ke dalam Vila. Di dalam Villa begitu heboh karena pelayan bekerja keras membersihkan ruangan. "Apa yang terjadi."
"Kamu!" Terdengar pekikan suara seorang wanita dari tengah tengah tangga.
Anna mendongakkan wajah melihat ke atas tangga. "Linda!" gumam Anna pelan.
Linda bersedekap di dada dan secara perlahan turun dari anak tangga. Bibirnya ia sunggingkan meremehkan. "Mulai hari ini, aku akan tinggal disini." Ujar Linda.
"Apa!" Anna sampai terkejut karena selama ini Arsya tak pernah memberitaukannya.
"Dan kamu harus pindah dari kamar utama ke kamar tamu. Karena mulai detik ini aku akan tinggal di kamar itu." Ujar Linda sampai di anak tangga yang terakhir.
"Kenapa bisa begitu, kau itu hanya tamu." Sahut Anna.
Saat ini terdengar kegaduhan di lantai atas. Para pelayan memindahkan barang barang Anna di kamar tamu di sebelahnya.
"Siapa bilang aku tamu. Aku sedang mengandung anak Arsya."
Duar!
Hati Anna menjadi remuk seketika mendengar hal ini. Kenapa ini bisa terjadi. Anna tertawa seolah mengejek dirinya sendiri. Awalnya hidup berdampingan akan membuatnya merasa lebih baik. Tapi tak di sangka Arsya akan berbuat seperti ini.
"Karena kau tak segera hamil. Dan Adiyaksa butuh seorang penerus." lanjut Linda tersenyum sinis.
"Dan mulai sekarang aku yang akan menggantikan posisimu nanti setelah anak ini lahir."
Anna masih berdiri membeku dengan setiap kata yang terucap begitu lancar oleh Linda.
__ADS_1
"Arsya akan lebih sayang padaku. Dan satu lagi." Linda mengayunkan tangannya, Elsa asisten Linda segera mendekat dan memberikan sebuah dokumen.
"Ini adalah surat perceraian yang telah dikirimkan Arsya kepadamu." setelah memberikan dokumen itu Linda pergi ke lantai atas.
Anna hanya memandang sekilas halaman utama dokumen itu. Akhirnya apa yang ia khawatirkan telah terjadi.
"Terserah kau." setelah menggumamkan kalimat itu, Anna menaiki tangga dan menuju ke kamar tamu.
Di kamar itu, barang barang Anna telah tertata begitu rapi. Bedanya, ia tak tidur sekamar dengan Arsya. Ia meletakkan dokumen itu di atas meja. Sementara dirinya menuju teras balkon.
Sekedar menghirup oksigen agar dadanya tak terlalu sesak untuk menerima kenyataan. Ia kembali lagi melihat saldo melalui ponselnya. Dia tak pernah menggunakan uang pemberian Arsya melainkan ia tabung untuk berjaga jaga.
Ternyata benar, baru saja menyelesaikan ujian sekolahnya surat perceraian telah datang bersamaan dengan wanita pengganti dirinya. Pada akhirnya pernikahan adalah sebuah lelucon.
Kenapa ia begitu bodoh, dan selalu percaya diri. Kebaikan Arsya ternyata hanyalah sebuah kedok belaka untuk menutupi kepalsuannya.
Malam terasa begitu panjang. Ia hanya bersandar di pagar besi teras balkon. Air matanya tanpa terasa meluruh tanpa ia minta.
Tok tok
Seseorang mengetuk pintu. Tetapi Anna tak perduli. Ia benar benar ingin sendiri.
Anna menaikkan tangannya dan mendorong dada Arsya dengan kuat, air matanya mengalir tanpa henti.
"Menjauhlah!" Lirih Anna.
Arsya melihat Anna berlinang air mata. Hatinya juga terasa sakit.
"Aku sudah menandatangani surat cerai sesuai perjanjian kita sedari awal. Dan kau bisa merawat bayimu tanpa ada aku yang jadi penghalang. Sekarang kau bisa pergi." Ujar Anna. "Pergi!" pekik Anna.
Arsya bergeming di tempatnya. Ia tak mengucapkan sepatah kata. Ia ingin menjelaskan jika itu bukan miliknya, tetapi ia belum mempunyai bukti yang kuat untuk menjelaskannya soal hal ini.
"Beri aku kesempatan untuk bicara." Ujar Arsya.
Anna mendongakkan wajahnya, menatap wajah Arsya yang datar. "Kesempatan?"
Anna benar benar tak mengerti, bukankah ia memberi sebuah kesempatan begitu lama untuk menjelaskan. Tetapi pria itu tetap bungkam dan selalu mengelak dengan mengkambing hitamkan sebuah perjanjian.
__ADS_1
"Ya, aku akan membuktikan jika semua ini salah. Aku benar ben...."
"Stop!...jangan diteruskan lagi. Dari awal kita menikah bukan karena cinta. Tapi karena perjodohan. Dan aku sadar siapa diriku. Aku hanyalah penghalang sedari awal. Sekarang aku ingin sendiri." Ujar Anna.
Arsya ingin menggenggam tangannya lalu memeluknya. Menghapus rasa sakitnya. Ia tau jika dirinya adalah duri yang membuatnya terluka. Kenapa dadanya berdebar. Entah kapan perasaan itu muncul.
Dia selalu mengalah dengan membungkam. Tapi tak di sangka semua yang ia lakukan tak sejalan. Arsya hanya mampu melihat dari kejauhan saat punggung ramping itu bergetar hebat.
Mengapa dia yang berkuasa harus di patahkan dengan satu wanita. Awalnya dia juga tak ingin mengekspos istrinya ke publik demi melindunginya. Tapi dengan kecerobohannya ternyata dia malah terhalang oleh Linda.
Arsya berjalan menuruni tangga. Ricky segera mendekat. "Tuan muda!"
Arsya menatap Ricky. "Buatkan kopi ke ruang kerja." Ujar Arsya.
Ricky melihat tatapan Arsya seolah memiliki beban yang sangat berat. Ia melihat punggung lebar itu masuk ke dalam ruang kerja.
Arsya duduk di ruangan dengan tatapan kosong. Pada akhirnya ia hanya menemukan jalan buntu. Sebagai pria, kenapa dia begitu lemah dengan wanita. Harusnya ia lebih kuat seperti perusahaan yang sekarang ia pimpin. Lebih besar dan berkuasa.
*
Di pagi hari, ketiga orang melakukan sarapan pagi. Arsya duduk di tempat seperti biasa. Sementara Anna harus mengalah karena Linda mengambil tempat duduk yang biasa ia gunakan.
Linda berseru senang mengambilkan beberapa lauk ke atas piring Arsya. Sementara Anna menjadi seorang penonton yang melihat kemesraan mereka. Arsya tetap berwajah datar.
"Sepertinya, aku harus pergi. Melihat mereka sangat menjijikkan." batin Anna.
Ia segera bangkit dari duduknya seraya kursi berderit dan terdorong ke belakang. Membuat dua orang dihadapannya menoleh secara bersamaan.
"Mau kemana?" Tanya Arsya tanpa ekspresi.
"Pergi!" Jawab Anna. Setelah itu ia pergi menuju ke kamarnya.
Ia sungguh jijik dengan dua orang itu. Sesampainya di kamar, ia menoleh ke dokumen surat cerai. di sana sudah ada tanda tangannya. Cepat atau lambat dia akan pergi dari villa ini.
Pada awalnya ingin segera mengakhiri perceraian dengan cepat, tapi tak di sangka hatinya begitu berat. Di sekolah juga sudah tak diwajibkan masuk. Sepanjang hari, ia hanya bisa rebahan di kamar miliknya.
Sepertinya Villa ini sudah di kuasai Linda. Terlihat jelas, ia yanh mengatur semuanya. Para pelayan sungguh tak suka dengan sikap Linda ini. Tetapi ia merasa takut jadi hanya terdiam dan melaksanakan perintah Linda.
__ADS_1
Anna dapat melihat dari lantai atas, Linda yang arogan. Anna mendesah pelan. Sepertinya dia terlalu berkuasa di Villa ini. Jelas jelas statusnya bukanlah nyonya. Tapi sifatnya seperti nyonya di rumah ini.