Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Tiga Puluh Empat


__ADS_3

Pintu kamar mandi terbuka. Sesosok jangkung berdiri angkuh di pintu. Satu tangannya memegang handuk mengusap rambutnya yang masih basah. Lalu melemparnya ke atas ranjang dengan sengaja mengenai wajah Anna.


"Ugh." Anna segera mengambil handuk kecil itu. Wajahnya memerah karena marah.


"Cepat mandi!" Ucap Arsya melangkah pergi ke walk in closet yang tersedia di dalam kamar hotel.


Anna menggeram, tangannya yang memegang handuk itu mengerat. Ingin rasanya ia memukul kepalanya agar tidak menindasnya.


Anna segera bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi. Di luar Danni mengetuk pintu dan masuk ke dalam. Dia berhenti diruang tamu menunggu presdir Arsya keluar.


Setelah beberapa lama, Arsya keluar dengan setelan baju yang baru. Danni buru buru maju ke depan.


"Presdir!" Danni menyapanya dan membungkukkan badan. Ia mengulurkan tangan menyerahkan paper bag berwarna coklat muda.


"Hmmpp!" Arsya menarik paperbag itu.


"Kamu tunggu di bawah, aku akan segera datang."


"Baik."


Arsya melambaikan tangan. Danni segera pergi dari sana. Terlihat Anna keluar dari kamar mandi. Arsya meletakkan paper bag itu di atas ranjang.


"Ini pakaian gantimu."


Anna mendongak menatap paper bag yang diletakkan Arsya di atas ranjang. Anna segera menghampirinya dan membukanya. Setelah itu ia kembali masuk ke dalam kamar mandi dan berganti pakaian dengan pakaian seragam putih abunya.


Setelah rapi ia segera keluar dari dalam kamar mandi.


"Aku antar ke sekolah."


"(?!…)"


Arsya berjalan lebih dulu keluar dari kamar 205 diikuti Anna dibelakangnya. Kamudian memasuki lift. Di dalam ruangan sempit itu hanya mereka berdua. Anna hanya bisa menundukkan kepala.


"Bagaimana cara berterima kasih karena telah menolongmu!" Ucap Arsya datar.


"Ha!" Anna mendongak dan menatap Arsya dengan bengong.


Arsya menyunggingkan senyuman tipis.


"Jika aku mengatakannya apakah kamu percaya?" Arsya melirik Anna yang berdiri tegang disisinya.


"Semalam kamu sangat menikmati belaian pria itu. Apakah kamu belajar ingin menjadi wanita penghibur." Ucap Arsya membuat Anna semakin marah.


"Aku bukan wanita yang kamu katakan. Aku sungguh tidak tau mengenai hal itu." Anna buru buru menyangkalnya.


"Heh!" Cibir Arsya.


"Aku sudah lama membebaskanmu setelah perhitungan terakhir kali. Sekarang kamu terlalu bebas sampai kamu lupa jika kamu bersuami sekarang. Kamu tau apa akibatnya jika kamu melawanku." Ucapan Arsya penuh ancaman.


Anna terdiam.


"Ya aku tau." Jawab Anna dengan pelan.


Arsya memiringkan senyuman.


"Tetapi itu semua bukan kesalahanku sepenuhnya." Lanjut Anna dengan kepala tertunduk.

__ADS_1


"Cih, bahkan masih bisa mengelak."


"Ya…ya…ya. Aku salah. Aku minta maaf.!" Ujar Anna menaikkan sedikit volume suaranya. Buru buru minta maaf.


"Tidak tulus!"


Pintu lift terbuka. Arsya melangkahkan kakinya dengan lebar melewati lobi dan masuk ke dalam mobil. Anna buru buru mengikutinya masuk ke dalam mobil.


Mobil yang di gunakan kali ini adalah mobil anti peluru. Mobil ini didesain begitu detail bahkan peluru tidak akan mampu menembus dinding kaca mobil. Mobil ini jarang digunakan selain dalam hal tertentu saja.


Semua siswa yang berlalu lalang tercengang dengan kehadiran sepuluh mobil yang beriringan dari depan hingga belakang. Di mobil itu ada tanda S emas. Itu adalah iringan presdir Adiyaksa yang terkenal.


Semua siswa terhenti dan menantikan bisa melihat wajah Arsya dari dekat dan nyata. Bukan dari siaran televisi belaka. Semua siswa harap harap cemas menantikan hal langka seperti ini.


Namun pada kenyataannya mereka tak dapat menyaksikan hal ini secara langsung. Anna di dalam mobil menyadari rasa penasaran mereka. Jadi ia memutuskan akan berhenti di halte bis.


"Turunkan di halte bis saja." Ucap Anna.


"Lakukan!"


Sopir pribadi Arsya segera melaksanakan tugasnya. Tepat di halte bus, iring iringan mobil terhenti. Untung saja dihalte tidak terlalu banyak orang.


"Terima kasih." Ucap Anna tulus.


"Tunggu!" Arsya menahan Anna untuk turun dari mobil. Anna kembali duduk seperti semula. Anna memutar matanya malas.


"Ada apa?"


"Permintaan maafmu tidak tulus, kedua kau tidak menghargai aku sebagai suami. Ketiga, kamu ingin mencoba lari dariku."


"Cukup, kamu berkata secara berputar putar. Aku sudah terlambat. Katakan dengan benar." Anna memarahi Arsya.


Anna tertawa terbahak. "Buahahahaha....."


Arsya menaikkan alisnya sebelah, keningnya mengerut. Apakah ini sangat lucu. Anna menyadari wajah Arsya sangat jelek. Ia segera meredakan tawanya. Ini pertama kalinya Arsya sangat lucu di matanya. Ia tertawa sampai perutnya terasa sakit, sampai ia memegangi perutnya.


"Kamu lucu sekali. Oke baiklah, aku akan membelikan martabak coklat manis buatmu. Tetapi…Bukankah aku waktu itu sudah membuangnya." Anna mengingat ingat kejadian waktu itu. Ia sudah membuang martabak manis itu ke tempat sampah karena syok melihat mereka berciuman.


Arsya melotot sempurna. Membayangkan makanan itu pernah berada di tempat sampah. jiwa kebersihannya meronta. Ia bergidik ngeri, itu pasti sangat menjijikkan.


"Kamu!"


"Puft.."Anna tidak bisa membayangkan betapa Arsya tidak tau jika ia sudah membuangnya. Pasti ia menderita sekali sekarang.


"Suamiku yang baik. Aku akan membelikanmu martabak. Tunggu aku pulang. Oke." Anna menepuk bahunya pelan dan segera keluar dari dalam mobil.


Danni merasa jiwanya terancam sekarang. Ia merasa belakang punggungnya terasa dingin dan mencekam.


"Ugh, panas sekali. Tuan sepertinya AC-nya kurang dingin." Ujar Danni dengan gugup.


Dibelakang Arsya sudah menatap tajam Danni. "Keluar!"


"Ugh." Danni hanya bisa mengerutkan wajahnya. Sopir disampingnya hanya tersenyum seolah mengejek dan melambaikan tangan. Danni mengulurkan tangan ingin memukul pria itu tapi ia tahan. Karena sopir itu menunjuk Arsya melalui matanya.


Danni tidak berani melawan, dia segera keluar dari mobil. Mobil melesat meninggalkan Danni di tepi jalan.


"Mampus!" Batin Danni meronta. Ia menatap satu persatu mobil yang telah menjauh dari pandangannya.

__ADS_1


Ia berjongkok di tepi trotoar. Ingin rasanya menangis, dompet dan ponsel tertinggal di dalam mobil.


*


Hari sudah sore, saatnya Anna kembali pulang. Ditangannya ada kertas hasil ulangan. Dia mendapatkan nilai C di sesi ulangan Matematika. Ia memandang nilai itu dengan tatapan rumit.


"Ugh, aku pasti akan mendapat pukulan di pantatku." Ucap Leya penuh kesedihan.


Anna menoleh ke arah Leya yang masih menatap kertas hasil ulangan. Wajahnya cemberut dan sedih.


"Ayo pulang!" Anna memasukkan kertas hasil ulangan itu ke dalam tasnya kemudian ia bangkit dari tempat duduknya dan mengajak Leya pulang.


"Ugh, kamu berapa nilaimu?" Tanya Leya.


"Jangan bahas. Itu akan membuatku rumit." Balas Anna kemudian melangkahkan kakinya menuju keluar kelas.


"Ugh," Leya tertegun sejenak.


Di depan gerbang pak Jaki sudah menunggu bersama dua mobil di depan dan belakang berada agak jauh. Anna setelah melambaikan tangan ke arah Leya, ia segera masuk ke dalam mobil.


"Pak kita cari martabak di kedai yang waktu itu." Ucap Anna memberitaukan tujuannya.


"Baik." Pak Jaki segera melajukan mobil ka arah jalan raya. Dan memberitaukan para pengawal didepan untuk berhenti di kedai martabak yang waktu itu.


Mobil beriringan melintasi jalanan. Anna duduk diam seraya menutup matanya. Ia terasa lelah karena harus menguras otak dan pikirannya untuk mengerjakan tugas ulangan matematika secara mendadak.


Mobil berlalu dengan cepat. Tak terasa mobil terhenti didepan kedai martabak manis.


"Nona sudah sampai."Ujar pak Jaki.


Anna membuka matanya dan segera turun dari dalam mobil. Ia memesan martabak manis coklat dan pisang keju mozarela. Setelah menunggu beberapa lama, martabak manis telah tersaji. Ia menerima bungkusan plastik hitam dan menyerahkan uang seratus ribuan.


"Ambil saja kembaliannya." Ucap Anna pada penjual martabak.


"Aduh. Terima kasih nona. Hati anda sangat baik." Ucap penjual itu seraya membungkukkan badan berkali kali karena senang.


Ia masuk ke dalam mobil. Mobil segera melaju meninggalkan kedai.


"Ke Adiyaksa group." Ucap Anna.


Pak Jaki menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sampai di pelataran Adiyaksa Group Mobil terhenti.


"Nona sudah sampai." Ucap Pak Jaki.


Anna segera turun dari dalam mobil. Sudah pukul tujuh malam. Kebanyakan dari karyawan masih ada yang bekerja. Anna memasuki Lobi. Terlihat seorang karyawan kebersihan sedang mengepel.


"Permisi!" Ucap Anna.


Wanita kebersihan itu menghentikan gerakannya ingin melihat siapa yang datang dan begitu sopan menyapanya. Ini pertama kalinya dia di manusiakan. Hatinya terenyuh.


Saat mendongak, betapa terkejutnya dirinya jika itu adalah gadis SMA yang tempo hari ia tegur dan ia hina. Wanita itu adalah Yanti, karyawan resepsionist.


Yanti buru buru menutupi wajahnya dan menghindari tatapan gadis itu. Ia segera mengambil peralatan pel-nya dan buru buru pergi.


Anna segera melihat wanita itu yang menghindari tatapannya. Ia menatap punggung wanita itu dengan aneh Seolah wanita itu takut kepadanya.


"(……)

__ADS_1


Anna tidak menghiraukan wanita itu dan terus melangkah memaduki lift khusus. Di kedua sisi-nya ada pengawal wanita yang berjaga.


__ADS_2