Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 55


__ADS_3

Ketika Arsya kembali sudah tengah malam. Wajahnya terlihat lelah. Saat memasuki kamar Ia menemukan Anna telah tertidur lelap.


Dia pergi ke dalam kamar mandi dan mandi. Menyalakan air pada shower. Terdengar air yang menyala.


Di dalam kamar Anna bermimpi. Dia bertemu dengan seseorang perempuan cantik di tengah padang rumput yang luas. Dia bermain dengan beberapa binatang seperti kupu kupu yang mengelilinginya.


Terlihat sangat ceria. Dia mengenakan baju putih dengan bahan tile. Setiap melangkah gaunnya akan melambai seiring langkahnya.


Anna tersenyum melihat wanita itu. Ia pun ingin menghampiri wanita itu. Namun setiap kali ia melangkah, wanita itu semakin menjauh. Seakan semuanya sangat terbatas dan tidak bisa menggapainya.


Tiba tiba padang rumput itu berganti dengan sebuah tebing. Lagi lagi tebing itu sangat curam. Dia menjadi takut. Dan sosok setengah monters kembali datang menghantuinya. Dia ingin berbalik pergi tapi seolah kakinya terasa kram. Dan terjatuh ke tanah.


Keringat dingin mengucur deras di keningnya.


Manusia setengah monster itu terus melangkah mendekatinya. Anna mengerutkan wajahnya dengan rasa takut yang tak terkendali. Dia mundur selangkah demi selangkah. Dan terhenti ketika di belakangnya adalah jurang yang dalam. Dia tidak bisa lagi lari. Dan monster dengan wajah yang setengah rusak itu terus berjalan selangkah demi selangkah ingin menangkapnya.


Dia kebingungan. Tidak ada yang bisa menolongnya kecuali dirinya sendiri. Dia ingin berteriak tapi seolah suaranya tercekat di tenggorokan. Dia terus meronta ketika sebuah tangan dari monster itu hampir mencapai lehernya.


"Ugh....Ugh....Ugh..." Dia berlomba meneriakkan sesuatu tetapi tidak bisa.


Saat ini Arsya baru saja selesai mandi. Saat keluar dia masih mengenakan handuk yang melilit pinggangnya. Terlihat air masih menetes di bagian tubuh atasnya. Saat berjalan keluar dia menemukan Anna seolah sedang melawan sesuatu. Di balik selimut tebalnya seolah dia sedang kesulitan bernafas. Arsya dengan panik berlari ke sana dan melompat naik.


"Anna. Bangunlah. Aku bersamamu." Arsya berusaha membangunkannya dengan menepuk nepuk pipinya dengan lembut.


Di dalam mimpi itu, Anna merasakan sebuah pelukan yang hangat. Dia melihat sebuah bayangan seorang pria yang berwajah buruk itu berganti dengan seorang pria yang tampan.


Anna membuka matanya.


"Anna!" pria itu memeluknya dan mendengungkan namanya dengan suara rendah.


Saat itu ia mulai sadar. Ia pun memeluk Arsya dengan segala kekuatannya dan menangis didekapannya. "Aku sangat takut." ungkapnya dengan suara lemah.


"Tenanglah, ada aku disisimu." Arsya menenangkannya dan terus memeluknya. "Apa kau mimpi buruk?" tanya Arsya.


"ya. Dan aku merasa sangat takut."


"Aku akan menemanimu. Ayo kita tidur." Arsya membawanya berbaring di atas kasur dan dia dengan setengah telanjang langsung merebah sambil terus memeluk tubuh ramping Anna.


Tangan Arsya yang besar terus mengelus rambut pirangnya. Sesaat kemudian Anna kembali terlelap. Begitu juga tangan Arsya yang semakin memelan karena ia juga sangat mengantuk. Tak berapa lama elusan itu terhenti dan berubah dengan dengkuran halus.


Malam berganti pagi.


Anna merasa nyaman di dalam pelukan Arsya. Sementara Arsya masih terlelap dalam tidurnya. Namun tidurnya harus terusik ketika Anna menenggelamkan wajahnya ke dada bidangnya.


"Anna! Ayo bangun. Kau membuatku sangat geli."


Saat suara serak Arsya terdengar, Anna tertegun sesaat dan mulai sadar dengan apa yang dilakukannya. Pipinya merona malu.


"Selamat pagi." dia mendongakkan wajahnya memandangnya dengan mata menyipit.


Arsya mencium keningnya. Lalu bangkit dari tempat pembaringan dengan menarik Anna yang masih dalam pelukannya.


"Ayo kita mandi lalu turun untuk sarapan." Arsya turun dari ranjang dengan bokser yang menutupi bagian pentingnya.


Anna menyadari jika saat ini tubuh Arsya bertelanjang. "Arsya kenapa kau tidak mengenakan baju?" Tanya Anna dengan rona merah dipipinya.


"Semalam aku baru selesai mandi lalu melihatmu sulit bernafas dibalik selimut." Arsya berkata sambil terus berjalan memasuki kamar mandi. Ia mendudukkan Anna di atas wastafel lalu menghidupkan air. Mengisi bak mandi dengan air hangat lalu menuangkan cairan aroma terapi ke dalamnya.

__ADS_1


Tangannya begitu telaten, Anna melihatnya dari samping yang berbatasan dengan kaca buram. Pria ini terlihat semakin dewasa juga sangat perhatian. Setelah Arsya mengisi bak dengan air hangat sudah hampir penuh. Ia segera menghampiri Anna.


"Mandilah, aku akan mandi di sini." Ucap Arsya.


"Aku malu jika harus mandi berdua denganmu." Anna tidak berani melihat ke bawah. Ia terus mendongakkan kepalanya terus ke atas.


Arsya tersenyum lembut. Lalu meliriknya ke bawah hingga bagian dada.


"Kita masih suami istri."


"Engh....."


Setengah jam berlalu. Anna telah selesai mandi, dia sudah mengenakan pakaiannya, sementara Arsya juga sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian rapi seperti biasanya.


Di meja makan Wiryo dan Dewi sudah menunggunya untuk sarapan bersama.


"Selamat pagi papa, selamat pagi mama." Anna menyapa kedua orang tuanya.


"Pagi sayang. Pagi Nak Arsya." Balas Wiryo lalu melirik le belakang Anna.


Sementara Dewi menganggukkan kepala lalu mencium kening sang putri. Sementara Arsya hanya menjawabnya dengan singkat.


"Pagi." ke empat manusia saling duduk berhadapan. Sebuah sarapan roti sandwich telah terhidang di atas piring masing masing.


"Tuan Wiryo, Nyonya Dewi... Saya ingin menjelaskan sesuatu."


Seketika tangan Wiryo dan semua anggota di sana menghentikan gerakan tangan mereka yang akan mulai menyuap sarapan mereka. Tatapan mereka mengarah pada Arsya.


"Satu bulan lagi, saya akan mengadakan acara pernikahan ulang. Tepatnya tanggal 14."


"Uhuk Uhuk...." Anna tiba tiba terbatuk. Arsya pun merasa khawatir dan memberinya segelas air. Anna menenggaknya hingga setengah gelas.


Arsya mengangguk.


"Tapi Arsya!" Anna menyelanya dan tatapannya memandangnya dengan tatapan dingin. "Kita belum menyelesaikan perjanjian kita sebelumnya."


"Perjanjian apa. Bukankah sebelum kembali aku sudah menegaskan untuk menikahimu kembali." Tegas Arsya.


"Itu sewaktu aku masih mengandung. Dan sekarang aku tidak. Bukankah pernikahan ini tidak dapat di teruskan."


"Anna!" Wiryo segera menyelanya dan memberinya nasehat. "Papa sudah percayakan kamu dengan nak Arsya. Sudah saatnya kamu membina rumah tanggamu dengan baik. Lagi pula, selama disini Nak Arsya selalu menjagamu, bahkan selama sepuluh hari kamu menghilang, dia tidak pernah tidur."


"Pa!"


"Anna, papamu benar. Kamu sudah mulai dewasa. Kamu jangan berpikir impulsif lagi." Dewi juga ikut menegaskan.


"Ma, Pa. Kalian tidak mengerti kenapa aku pergi. Arsya, dia memiliki wanita lain saat itu. Dan aku sangat tersiksa dengan kehadiran wanita itu." Anna berucap sambil mendesah pelan.


"Tapi, kamu sudah melihatnya bukan? Saat ini dia sudah meneguhkan hatinya padamu. Apa yang kau ragukan lagi." Ucap Wiryo.


"Aku hanya merasa ragu. Jika suatu saat dia akan berbuat lagi. Terlebih dia memiliki daya pikat yang tinggi sehingga banyak wanita yang suka padanya." Anna berkata sambil mengingat tempo hari.


Arsya tertawa geli dengan pemikiran Anna yang sederhana ini. "Aku tau kekhawatiranmu Anna. Tapi aku bersungguh sungguh menyukaimu." Arsya memandangnya dengan lekat.


"Sudahlah. Pagi pagi sudah banyak berdebat. Ayo mulai sarapan. Nanti papamu dan nak Arsya akan telat ke kantor."


Setelah itu mereka berempat kembali diam dan menyantap sarapan mereka. Setelah selesai. Kedua pria itu meninggalkan kediaman Wiryo dan pergi menuju kantor. Kini tinggal dua perempuan cantik yang masih tinggal di villa mewah bergaya prancis itu bersama beberapa pelayan lainnya.

__ADS_1


Sementara Arsya telah berada di dalam mobil bersamaan dengan segerombolan pengawal yang mengawalnya. Iring iringan mobil Liumosin itu terus menyita perhatian pengguna jalan.


Hingga beberapa menit berlalu, Akhirnya Arsya telah sampai di perusahaan. Dia berjalan ke dalam lift dan pergi menuju ruangannya.


Hingga sampailah di lantai paling atas 48. Arsya melangkahkan kakinya menuju ruangan kantor diikuti beberapa pengawal dan Danni di sampingnya.


Setelah sampai di depan pintu kantor. Danni membukakan pintu seperti biasa. Namun matanya tertuju pada seseorang yang tengah duduk di atas kursi dengan mengayunkan pulpennya pada jemarinya yang lentik.


Arsya memandangnya dengan tatapan dingin. Ia mengayunkan kakinya melangkah masuk dengan tenang.


"Ckckck....Selamat pagi keponakanku!" sapanya dengan tersenyum cerah.


"Setelah ingin menjebloskanku ke dalam penjara, ternyata kau diam diam menyembunyikan istrimu lagi. Sungguh bagus membuat permainan petak umpet denganku."


Arsya harus lebih tenang dari sebelumnya. Jadi ia mengayunkan kakinya menuju sofa dan bersandar dengan arogan. Kakinya saling bertumpu dan alisnya tegak. Memberikan kesan bahwa dia sangat tegas dan tenang.


"Bibi. Bukankah anda yang telah bermain petak umpet bersamaku. Kenapa kau malah berbanding terbalik dengan apa yang kau tanyakan. Aku sudah memberimu kesempatan setelah memberimu kedudukan. Lalu permainan petak umpet apa yang harus aku mainkan. Bukankah aku mengikuti permainan bibi?"


"Jadi, maksudmu akulah yang mempermainkanmu?" Wajah Anita tegang.


"Seperti yang anda katakan. Aku masih memiliki banyak bukti meskipun anda meyakinkan kakek dalam perjanjian kontrak bersama tuan Albert." Arsya melempar beberapa kopian gambar cctv dari ruangannya.


Anita melirik gambar yang dilempar Arsya dengan sekilas. "Gambar itu tidak jelas. Lagi pula kontrak bersama tuan Albert berjalan lancar. Dan akhir bulan nanti proyek itu akan selesai. Justru kau yang membuat perusahaan merugi bahkan sampai triliunan. Dan kau tidak mampu mengatasinya. Cepat atau lambat kau pasti akan digeser dari seorang presdir menjadi staf biasa. Dan pada saat itu tiba, maka aku akan mencalonkan putraku untuk menguasai perusahaan ini."


"Bagus sekali Bibi. Dengan begini. Aku sudah mendapatkan informasi dengan akurat melalui mulutmu. Dan pada saat itu tiba Brian tidak akan bisa masuk ke perusahaan ini karena aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."


"Hahaha...aku pasti akan menantikan itu." Setelah itu Anita bergegas pergi dari ruangan Arsya.


Di Amsterdam


Eli sudah hampir menyelesaikan tugasnya dalam mengerjakan proyek pembangunan perusahaan cabang.


Dia pergi ke kantor dan menemui Albert.


"Papa, proyek ini akan segera selesai."


"Bagus Eli, kau sudah menjalankan tugasmu dengan baik. Dan sudah waktunya bagimu untuk menyembunyikan kehamilanmu keluar negeri. Papa sudah menyiapkan tiket dan sebuah rumah yang harus kau tinggali selama kau berada di sana." Albert memberikan sebuah amplop putih bersama dengan kuncinya.


"Papa sudah menyediakan beberapa pelayan wanita di sana. Rumahnya dekat pantai, dan itu akan membuatmu lupa dengan Arsya yang telah menghamili kamu. Lagi pula pria itu tidak bertanggung jawab atas perbuatannya. Jika memang bertanggung jawab dia tidak akan meninggalkanmu setelah melakukannya." tegas Albert.


Eli ingin membantah perkataan papanya. Tetapi suaranya tercekat di dalam tenggorokan. Dia hanya mampu menerimanya dengan lapang dada.


Setelah keluar dari ruang kantor Albert. Eli kembali ke ruangannya. Tepat saat itu Sebuah nama tercantum di papan layar. Eli melirik ke dalam ruangan kantornya yang tinggal beberapa langkah. Kemudian menutup pintu dan mengangkat panggilan dari Anita.


"Halo nona Elisabeth."


"Nyonya Anita."


"Hahaha. Kontrak kerja kita akan berakhir. Dan anda akan pergi meninggalkan kotamu. Apakah itu benar?" Anita bertanya dengan arogan.


"Nyonya Anita, bagaimana anda tau."


"Hahaha, nona Eli. Bagaimana aku tau, itu adalah hal yang mudah. Lebih baik kita bicarakan hal lain. Bagaimana dengan penawaranku. Kita bisa saling bekerja sama dan saling menguntungkan diluar kerja nyata."


Eli di sebrang telepon menaikkan alisnya. "Anda adalah orang yang dirugikan dengan membawa kehamilan seorang diri tanpa seorang suami. Jika anda mau dengan penawaranku, maka aku akan merestui anda menikah dengan keponakanku."


"Apakah anda berkata benar. Bagaimana jika papaku mengetahui jika aku kabur ke sana. Aku pasti dibunuh oleh papaku."

__ADS_1


"Itu hal mudah. Aku akan membantu anda dalam hal ini. Dan soal tuan Albert aku memiliki rencana lain. Jadi anda tidak perlu khawatir."


"Aku akan memikirkannya...."


__ADS_2