Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab 76


__ADS_3

Dan malam itu Anna berhasil keluar dari rumahnya tanpa sepengatahuan keempat pengawal yang menjaga.


Tepat jam 11 malam, penerbangan dari Amsterdam-Indonesia lepas landas. Dan Anna berada salah satu di dalamnya.


Ketika Ari sudah selesai dengan pekerjaannya, ia pun segera berkeliling.


Tampak di dalam kamar sebuah cahaya remang ada sebongkah gundukan yang tertutupi selimut. Ari merasa lega karena nyonya mudanya masih aman di dalam sana.


13 jam berlalu hingga pesawat telah mendarat dengan selamat di bandara internasional.


Terdengar suara pramugari melalui pengeras suara bahwa telah sampai ditempat tujuan.


Anna bergegas mengambil bagasi dan keluar bandara dengan santai. Mencegat taksi lalu mengarahkan sopir taksi menuju alamat yang di berikan oleh Anna.


Ketika pagi menjelasng siang. Ari merasa ada yang aneh. Kenapa nyonya mudanya tidak kunjung bangun. Ini tidak seperti kebiasaannya.


Kening Ari berkerut. Ia mengetuk pintu beberapa kali. Tapi tak ada sautan dari dalam kamar. Ia pun mulai curiga. Ari mendorong pintu kamar itu dengan kasar.


Terlihat gundukan selimut itu masih sama pada terakhir kali yang ia lihat semalam.


"Nyonya, ini sudah siang. Tidakkah anda bangun?" kata Ari melembutkan suaranya untuk membangunkan nyonya mudanya.


Tapi tidak ada pergerakan sama sekali. Ari mendekati ranjang karena penasaran. Dengan perlahan Ari menarik selimut.


Matanya membeliak ketika selimut itu perlahan memperlihatkan bantal lalu dengan tidak sabar menariknya keras. Dan terpampanglah bantal guling tanpa ada sesiapapun manusia yang berada di sana.


Gawat!


Ari berlari keluar dengan tergesa.


"Bos Ari!! Ada apa?" pengawal yang melihat Ari tampak tergesa tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Nyonya hilang!!" sahut Ari diiringi suara yang semakin menjauh.


Pengawal itu membeliakkan matanya dan mengikuti Ari. Keempat pengawal itu mencari ke seluruh tempat tapi tak menemukan jejak apapun di sana. Bahkan ke kebun mawar pun tidak ada tanda tanda keberadaannya. Keempat pengawal itu di landa pening menghantam kepalanya.


Sebuah deringan telepon membuyarkan ke empat pengawal itu. Ari segera merogoh saku celananya dan mengangkatnya.


"Ari, nyonya muda sampai di indonesia. Kamu jangan cari lagi." Seseorang memberi tau.


"Apa!" Ari terkejut mendengar berita ini. Sedetik kemudian ia mengusap wajahnya dan kembali tenang. "Hum. Baiklah, aku mengerti." sahut Ari.


**


Akhirnya taksi yang ditumpangi Anna telah sampai di Villa di jalan Pahlawan. Setelah membayar bill. Taksi kembali keluar dari pekarangan Villa itu.


Anna melihat sekeliling. Villa ini tampak sepi. Tapi pekarangan tampak bersih. Ia mengerutkan kening karena heran.


Jika ada jejak kehidupan kenapa tampak sepi. Biasanya Arsya akan menempatkan banyak pengawal di luar rumah.


Kemudian ia mengenyahkan pikirannya dari rasa keheranannnya.


Ia mendorong pintu utama dengan sekuat tenaga karena pintu itu tampak lebar dan besar.


Brakkk

__ADS_1


Srettt


Ketika pintu terbuka, dirinya ditarik masuk. Anna sempat kaget akan dirinya yang seperti angin terbang.


Sebuah tangan besar nan hangat memojokkannya ke tembok. Seorang pria jangkung mengungkungnya dengan kedua tangan berada dikedua sisinya.


Ada aroma familiar yang menyerbu indra penciuamannya. Anna merasakan aroma itu.


Anna menaikkan pandangannya bersamaan dengan pria yang menundukkan kepalanya. Tatapannya bersirobak.


"Arsya!" dengan suara lembutnya, Anna memanggilnya.


Tanpa bersuara pria itu menyahut.


Cup


Dia tidak tahan melihat bibir ranum berwarna merah muda itu, ketika mendengar namanya di sebut. seolah dirinya tersihir. Ia tidak dapat menahan rasa gejolak yang mencuat kedasar. Seolah ombak lautan menelannya tanpa sisa.


Anna melebarkan matanya karena kejutan besar yang diberikan Arsya.


Kecupan yang awalnya saling menempelkan bibir dengan ringan berubah dengan kecupan yang semakin menuntut.


Rasa manis dan candu itu merayap menjadi satu. Arsya tidak mampu menahannya untuk tidak meminta lebih.


Ia bahkan menjulurkan lidahnya agar si wanita membuka bibirnya. Tapi sikap si wanita yang masih merapatkan bibirnya membuat Arsya terhenti akan aksinya.


Pria itu memundurkan kepalanya. Menatap lekat wajah Anna yang masih dalam keterkejutannya.


Ia mengernyit heran. "Apa kamu tidak senang?" tanya Arsya dengan suaranya yang berat dan serak.


"Kamu jahat Arsya." kata Anna menyalahkan. Ia terus terguguk menangis dan memukul dada Arsya tiada henti.


Arsya menangkap kedua pergelangan tangan Anna lalu membawanya ke dalam pelukannya. Di sana Anna menghirup aroma yang samar. Dengan begitu pukulan Anna terhenti dan terganti dengan tangan yang melingkar pada punggung Arsya dengan kuat.


Anna menumpahkan segalanya ke dada bidang itu. Ia menangis kencang. Hingga kemeja putih yang dikenakan Arsya menjadi basah.


"Ada apa?" tanya Arsya setelah beberapa saat tangis Anna mereda.


"Kamu jahat Arsya! Kenapa kau menyembunyikan semua ini dariku?" tanya Anna dengan sesekali sesenggukan.


Arsya menghela nafas, ia melonggarkan rengkuhannya dan menundukkan kepalanya.


"Ssssttt." Arsya menempelkan jari telunjuknya ke depan bibir Anna membuat wanita itu mendongak.


"Kau baru saja kembali. Jangan bicarakan hal yang tidak penting. Ayo masuk." ajak Arsya. Pria itu bahkan membalikkan tubuhnya dengan tangannya yang menggenggam tangan Anna.


"Arsya! Kau menyebalkan!" pekik Anna ketika pria itu membawanya masuk.


Arsya hanya tertawa ringan.


Anna merasa sangat kesal. Ia menarik pergelangan tangan yang digenggam Arsya sehingga langkah Arsya terhenti dan berbalik menatap Anna yang menampakkan wajah merajuk.


Anna cemberut dengan tangan berlipat di depan perut.


"Arsya! Kenapa kau menyembunyikan ini semua kepadaku?" Anna berteriak marah kepada Arsya.

__ADS_1


Arsya terdiam bergeming di tempatnya tanpa menyahut melihat wajah Anna yang tampak berkaca kaca.


"Jika kau bilang pada saat itu dengan sebenarnya. Aku tidak perlu memikirkanmu siang dan malam. Sejak hari di mana kau meninggalkan aku. Saat itu aku merasa prustasi. Sya! Aku tau, betapa cobaan hidup yang sedang kau alami ini. Tapi kau tidak perlu menyembunyikan ini semua. Meski kau miskin dan tidak punya apa apa. Aku akan menafkahimu. Aku masih mampu untuk memberimu apapun. Tapi jangan kau coba meninggalkanku lagi." Anna kembali terisak.


Arsya tidak tahan dengan kesedihan yang dirasakan oleh wanita itu. Ia merengkuhnya dengan sekuat tenaga. Ia menyalurkan rasa aman nan hangat kepada tubuh ramping wanita.


"Maaf. Aku salah." hanya itu yang mampu dikatakan oleh Arsya.


"Kau jahat Arsya! Aku menunggumu kembali." ungkapnya kesal.


"Hum aku tau." sahutnya dengan nada ringan.


"Arsya! Kenapa kau menyebalkan sekali." ungkap Anna masih dengan kemarahannya.


"Hum, aku tau." jawab Arsya dengan jawaban yang sama.


"Kau, pria berengsek yang pernah aku temui."


"Hum, aku tau."


Mendengar jawaban yang sama dari awal hingga akhir, anna mengernyitkan keningnya.


"Ada apa?" tanya Arsya yang heran karena tiba tiba tangis Anna terhenti. Ia menundukkan kepalanya dan melihat Anna yang mengernyitkan kening.


"Kenapa kau diam?" tanya Arsya yang masih merada kebingungan.


"Kau paham tidak dengan yang aku katakan." tanya Anna.


"Iya aku tau." Arsya mengangguk.


"Ih, Arsya! Kau menyebalkan sekali." kata Anna lalu mendorong Arsya hingga mundur dua langkah.


Arsya tergelak. "Anna, jika kau seperti ini. Kamu sangat lucu." jawab Arsya yang membuat Anna semakin mengerucutkan bibirnya.


"Hum. Jika kau seperti ini juga. Lebih baik aku kembali." Kesal Anna dan hendak berbalik pergi. Tetapi Arsya segera menangkap tangan Anna dan kembali merengkuhnya.


"Baiklah, aku minta maaf. Aku tidak ingin kau menderita bila ada disisiku. Awalnya aku akan menjemputmu ketika semuanya sudah kembali normal. Tetapi sekarang kau sudah kembali ke sisiku. Maka aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi." kata Arsya dengan panjang.


Dengan keterangan Arsya yang panjang itu Anna semakin terlena. Wanita itu mengeratkan pelukannya.


"Ayo kita masuk. Aku sudah menyiapkan kamar kita." kata Arsya membuyarkan buaian Anna.


"Ha, kamar kita?" tanya Anna.


"Ya. Sebentar lagi kita akan menikah. Kamar itu akan kita tinggali bersama." kata Arsya. Kini rengkuhan mereka telah terlepas.


"Kalau begitu, kita pisah ranjang. Kita kan belum menikah ulang." kata Anna dengan polosnya.


Wajah Arsya menunjukkan kesuraman.


"Anna!" Arsya mengeratkan rahangnya.


"Hahahahaaaaaa....." Anna terbahak dan berlari ke arah lantai dua.


Arsya hanya menggelengkan kepalanya tanpa daya.

__ADS_1


"Terserah kau." gumamnya dengan bahu yang merosot lemah.


__ADS_2