
Pagi yang cerah dan hari yang cerah. Matahari terbit di sebelah timur. Kedua manusia masih tenggelam satu sama lain di atas ranjang. Semalaman penuh seorang gadis menahan rasa laparnya karena mengantuk. Sekarang waktu hampir pagi. Dia menggerak gerakan kelopak matanya. Tangannya meraba raba sekitar.
Dia menyadari ada yang aneh disini. Jadi lekas membuka mata. Betapa terkejutnya dirinya Saat membuka mata, Sosok Arsya mendekapnya dengan erat. Bahkan ranjang sekecil ini, bisa bisanya Arsya ikut tidur di atasnya.
Anna segera mendorong Arsya dengan keras. Namun karena dirinya didekap begitu erat jadi tubuhnya ikut jatuh. Jarum yang tertancap di atas lengannya terlepas. Darah segar muncrat ke wajah.
"Ah!"
Arsya yang masih tertidur terkejut saat dirinya didorong kuat dari atas ranjang. Bersamaan dia jatuh juga tertindih tubuh Anna yang ramping. Keduanya jatuh bersamaan.
Apa yang terjadi?
Di dalam benaknya masih kosong memikirkan apa. saat membuka mata, ia terbelak. Ia hanya menatap Anna yang meronta ingin bangkit.
"Ugh...." dia juga merasakan sebutir air menciprat ke wajahnya. Ia segera mencari sumber.
Saat menyadari jarum infus terlepas. Ia segera bangkit namun kesulitan karena tubuhnya masih tertindih tubuh Anna.
"Sialan!" terdengar raungan kesal dari mulut Anna. Dan berlomba untuk segera bangkit dari tubuh Arsya. Saat mengangkat kelopak matanya, ia kaget karena saat ini Arsya sedang menatapnya.
Ia membeku, kedua pandangan mereka terpaku satu sama lain. Seorang pengawal yang berjaga didepan mendorong pintu. Dokter dibelakang juga ikut tercengang melihat pemandangan ini.
"Ah!"
Mendengar ******* orang di pintu, kedua manusia segera tersadar dan menoleh ke arah pintu. Anna segera bangkit dari tubuh Arsya. Dan dengan kesal menatap Arsya. Lantas kembali ke atas ranjang brankar.
Arsya juga bangkit dari lantai, memelototi pengawal. Pengawal itu tidak berani menatap dan terus menundukkan kepala.
Dokter masuk dengan dua perawat dibelakangnya. Memeriksa keadaan denyut nadi dengan seksama, jarum infus kembali tertancap di atas lengan Anna. Keadaannya sudah sangat stabil.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Arsya kepada dokter yang tengah memeriksa keadaan Anna.
"Sudah baik. Hanya beristirahat sebentar semua sudah pulih dengan cepat." jawab dokter sembari tersenyum.
Arsya mengangguk satu kali. "Siang ini bisa langsung pulang kan dok?" Itu adalah pertanyaan dari Anna.
Arsya menatap ke arah Anna. Dokter pun mengangguk. "Ya."
Anna tersenyum lebar karena sudah bisa diperbolehkan pulang. Ia merasa bosan jika berada di rumah sakit. Setelah itu dokter keluar bersamaan dua perawat.
Arsya menatap Anna. "Ada apa?" Anna bertanya dengan bibir cemberut.
"Kau sungguh keras kepala. Untung kau masih diberi kesempatan terus hidup. Jika pohon itu yang menimpamu. Apakah akan ada hari cerah seperti ini." Arsya menggertakkan giginya dengan marah.
Anna menundukkan wajahnya. Meneteskan air mata. Memang benar apa yang dikatakan Arsya barusan. Dia pun tersadar akan masa lalunya. Arsya menghela nafas berat. Wanita sungguh merepotkan.
"Aku memang hidup sebatang kara di dunia ini. Jika tidak ada papa Wiryo dan Mama Dewi mungkin aku sudah tiada dari dulu."
Tetapi semua itu juga tak akan ada gunanya, meratapi nasib yang sudah berlalu. Setidaknya sekarang ia masih bisa melindungi wanitanya di masa depan.
"Masih ada aku disini. Aku akan berusaha melindungimu sebisa mungkin." ucap Arsya dengan suara rendah.
"Berhentilah! Kau seperti ini hanya akan membuatku sakit. Lebih baik kita hidup sendiri tanpa harus bergantung satu sama lain. Lagi pula cepat atau lambat, kita akan segera bercerai." Anna segera menepis pelukan Arsya.
Arsya menggeram. Rasa kesal segera menguasai dirinya. Kenapa wanita ini tidak mengerti pengorbanannya. Dia hanya menatapnya dengan jengkel. Wajahnya terlihat muram dan dingin. Dia tidak mengatakan apa apa selain pergi dari ruangan itu.
Anna menatap kosong ke arah pintu yang tertutup rapat. Pria itu sungguh menyebalkan. Kenapa dia tidak bisa melepaskan satu sama lain. Dengan begini mereka akan hidup berdampingan dengan baik tanpa harus menyakiti.
Tak berapa lama Arsya kembali datang dengan membawa banyak makanan. Dia semalaman belum memakan apapun jadi ia merasa lapar dan berinisiatif mencari makanan.
__ADS_1
Saat pintu terdorong dari luar. Anna menoleh ke arah pintu. Ia terpana ketika Arsya benar memperdulikannya. Tetapi otaknya selalu menolak dengan apa yang ia pikirkan.
"Makanlah! Semalam kau pasti lapar." Arsya mengambil meja di atas brankar dan menggesernya hingga kehadapan Anna. Satu persatu makanan ia tata dengan rapi.
"Tidak mau." Anna memalingkan wajahnya ke arah lain seraya bersedekap di depan dada. Ia begitu gengsi saat harus menerima makanan dari Arsya.
Ia beneran marah karena dia hanya dijadikan sebagai boneka. Dia seperti mainan demi menutupi hubungannya dengan wanita lain. Siapa yang tahan dengan tempramen pria seperti ini.
Bukan Arsya namanya jika harus menyerah. Dia mengambil makanan dan menyendokkan ke depan bibir Anna.
"Oke, kita hidup sendiri sendiri. Tapi kau sedang sakit, setidaknya kau makanlah sedikit baru punya tenaga. Jika kau tidak mau makan. Apakah kau masih sanggup hidup sendirian." Ucap Arsya dengan sabar.
Anna menoleh ke arah Arsya. Benar dengan apa yang diucapkan Arsya. Jika dia tidak mempunyai tenaga bagaimana ia akan tinggal sendiri. Akhirnya ia mau membuka mulutnya.
Arsya tersenyum dan menyuapinya hingga tandas. Benar benar mudah dibujuk. "Good!" Arsya mengusap rambutnya dengan pelan lalu menunjukkan mangkuk yang tiada sisa makanan apapun.
Bibir Anna cemberut. Arsya menyimpan kembali peralatan makan. Terdengar deringan telepon dari dalam sakunya.
"Pergilah, kau sangat sibuk." Ujar Anna sembari melirik ke arah ponsel yang tersimpan di balik saku kemejanya.
"Aku akan pergi setelah memastikan kau istirahat dengan baik. Nanti siang aku akan kembali menjemputmu." ujar Arsya.
Anna membaringkan dirinya di atas brankar. Arsya menyelimuti tubuh Anna yang ramping sebatas leher. Setelah memastikan Anna terlelap, barulah dirinya meninggalkan Anna di ruangan itu dengan tenang.
Dia segera memerintahkan pengawal wanita berjaga di depan pintu, tidak membolehkan siapapun masuk tanpa identitas. Barulah ia bergegas pergi dari rumah sakit.
Ketika terdengar langkah sekelompok orang menjauh, seorang gadis menengok ke arah ruang rawat inap yang digunakan Anna. Ia tersenyum menatap ke empat pengawal di sana.
Bagaimanapun ia harus memutar otaknya untuk mengalihkan ke empat pengawal itu agar dia bisa menerobos masuk ke dalam sana.
__ADS_1
Gadis itu tersenyum sinis. Ia segera menoleh ke belakang memberi kode kepada Ardan yang berjaga tak jauh darinya.