Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Enam Belas


__ADS_3

"Kamu di kelas berapa?" Tanya Leya.


"Dua belas Ipa A2."


"Wah kebetulan kelas kita berdampingan."


"Kamu gak pesan sesuatu."


Di saat Leya bertanya. Pak Karso selaku penjaga kantin datang membawa nampan berisikan soto serta es teh.


"Itu, sudah datang." Jawab Daren menatap pak Karso yang berjalan ke arahnya. Leya mengangkat tatapannya. Dan benar Pak Karso yang mengantarkan makanan untuk Daren.


"Mas Daren kan?" Tanya Pak Karso.


"Ya." Jawab Daren.


Pak Karso meletakkan soto dan es tehnya di hadapan Daren. "Makasih pak." Ucap Daren.


"Sama sama mas Daren." Balas Pak Karso yang kemudian berlalu.


"Ayo makan, nanti dingin gak enak." Sela Anna.


Ketiga orang itu serentak memakan makanan mereka dan sambil bercerita. Tepat makanan mereka habis, bel masuk berdentang.


"Kita ke kelas barengan aja." Usul Leya.


Baik Daren maupun Anna sama sama mengangguk. Ketiga orang itu berjalan berdampingan menuju kelas mereka.


"Daren! Kita masuk duluan ya. Sampe ketemu nanti sore." Ucap Leya seraya melambaikan tangan ke arah Daren.


"Ya." Daren mengangguk dan berlalu menuju kelasnya sendiri yang berada di samping.


Anna dan Leya memasuki kelas mereka. Saat Daren sudah berlalu, Anna segera menarik lengan Leya. "Kamu tau nggak, aku rasa Daren itu ada yang aneh." Ucap Anna.


"Hah, aneh kenapa? Aku rasa biasa biasa aja." Jawab Leya yang berlalu menuju bangkunya.


Anna menggaruk pelipisnya. Masa iya biasa aja. Dari sejak pertama bertemu, lelaki itu menyanjungnya dan dari tatapannya seolah dia adalah pria mesum yang sangat lapar. Anna bergidik kemudian menuju bangku miliknya yang berada di sebelah Leya.


*


"Wah, akhirnya selesai juga." Leya menguap seraya merenggangkan otot ototnya yang terasa kaku.


Anna yang duduk di sebelahnya hanya menggelengkan kepala saja. Ia segera memasukkan semua bukunya ke dalam tas. "Yuk pulang." Ajak Anna yang lekas berdiri.


Leya yang selesai mengemasi barangnya ikut berdiri. Keduanya keluar kelas bersamaan. Tepat di saat itu Daren juga berjalan ke sana. "Wah kebetulan. Ayo bareng kebawah." Ucap Daren menawarkan.


"Ayo." Balas Leya.

__ADS_1


Ketiganya memasuki lift bersamaan lalu menekan tombol menuju parkiran bawah tanah.


"Leya, Kita udah lama gak ketemu. Gimana kalau kita pergi ke mall untuk merayakan kedatanganku." Celetuk Daren.


"Ah, iya boleh juga. Sekalian aku juga udah lama gak pergi ke mall." Balas Leya.


"Kamu ikut nggak?" Kini tatapan Daren tertuju pada Anna yang berdiam diri di samping Leya. Anna menaikkan tatapannya menatap Leya yang tengah menatapnya.


"Tentu saja ikut, dia kan nginep di tempat aku. emang ada angkutan yang sampai di rumahnya." Celetuk Leya.


"Iya." Anna hanya tersenyum. tapi dalam hati ia ingin memaki Temannya itu, karena dipaksa ikut olehnya, sementara dirinya sangat lelah sekarang.


Sampai di parkiran bawah tanah, Leya mengambil motor matiknya. Sementara Daren mengambil motor gede miliknya. Anna membonceng di sepeda motor Leya.


Kedua motor itu membelah jalanan yang terasa macet. Apalagi di sore seperti ini adalah waktu pulang oleh para pekerja. Jalanan pun sangat ramai.


Leya melajukan motornya dengan kecepatan biasa, sementara Daren melajukan motornya di belakang Motor Leya seolah Daren sedang mengawal mereka berdua.


Tak membutuhkan waktu lama, kedua motor itu memasuki parkiran bawah tanah mall Matahari. Anna, Leya dan Daren memasuki pintu mall dari belakang.


Leya menarik tangan Anna dari toko satu ke toko lainnya. Daren hanya mengikuti kedua gadis itu dibelakangnya. Memilih barang yang menurutnya sangat unik. Bahkan rela membeli baju couple untuk Anna dan dirinya.


"Nah ini sangat pas." Ucap Leya seraya menempelkan baju di dadanya.


Anna hanya menatapnya saja. "Bagaimana menurut kamu?" Tanya Leya dengan menatap dirinya melalui pantulan cermin.


Tepat di saat ini, Banyak orang orang sedang berbondong bondong dan mengerumuni sebuah toko di sebrang. Toko itu memperjualkan barang barang branded.


"Eh, apaan itu? Kenapa di sana begitu ramai." Leya mengernyitkan keningnya, Begitu juga Anna yang menolehkan kepala.


"Ayo kesana!" Leya spontan menarik tangan Anna lalu melempar baju yang ia pegang ke gantungan semula.


"Wah, lihat. Perempuan itu sangat cantik sekali. Bahkan seperti model papan atas."


"Iya benar."


"Tapi lihat pria yang disebelahnya juga menarik dan tampan."


"Ya, mereka sangat cocok sebagai pasangan."


"Benar, si perempuannya cantik dan prianya sangat tampan. memang pasangan yang sangat cocok."


"Benar,"


Terdengar orang yang berkerumun itu membisikkkan lontaran pujian. Leya pun merasa sangat penasaran. Siapa orang yang sedang mereka bicarakan.


"Permisi!" Leya berusaha menerobos jajaran orang orang berkerumun itu agar bisa melihatnya. Dibelakangnya Anna juga ikut menerobos masuk.

__ADS_1


Saat ia sudah dapat melihat siapa orang yang sedang mereka bicarakan, matanya membelalak. Orang itu adalah Arsya dan Linda yang sedang dilayani banyak pelayan sedang memilih gaun dan sepatu.


"Sialan! Jadi dia tidak mencariku karena sudah ada wanita lain." Gumam Anna kesal sampai tak sadar tangannya mengepal erat di samping tubuhnya.


"Wuah, ternyata beneran. Dia adalah tuan muda Adiyaksa dan Nona muda Bramantyo--Nona Linda." tebak Leya sesuai yang ia pikirkan tadi.


"Siapa?" Ucap Anna.


"Nona Linda!" Ucap Leya menyebutkan nama Linda dua kali.


Anna mengangguk anggukkan kepala. 'Oh namanya Linda, Awas aja kalau kamu berani selingkuh dari aku.' Batin Anna.


Di dalam hati Anna, Ia mengingat apa perjanjian pranikah dulu. tidak boleh mencampuri urusannya di dalam kantor dan di luar kantor. Tapi ini sudah melenceng terlalu jauh.


Benar dia diakui istri yang sah, dalam perusahaan maupun diluar perusahaan. Dia adalah istri secara hukum dan akan membawanya pergi ke perjamuan perjamuan manapun. Tetapi ini sudah membuat dirinya tidak di akui. Sejenak hatinya terasa sakit.


Tiba tiba di dalam hatinya ada sebuah dorongan kuat untuk mengakuinya.


"Leya, kamu pergi dulu ke restoran. Aku ada sesuatu hal yang harus aku selesaikan." Ucap Anna.


"Ah iya, Aku juga sudah sangat lapar." Ucap Leya menepuk dahinya. Ia pun bergegas pergi dari sana mencari keberadaan Daren yang ternyata sedang menunggunya di sebelah toko tersebut.


Setelah Leya pergi. Anna melangkah masuk ke toko itu. Tetapi pelayan toko menghadangnya terlebih dulu.


"Maaf nona, toko ini sudah direservasi oleh tuan muda Adiyaksa. Anda tidak boleh masuk." Sergah pelayan itu.


Anna melirik pengawal yang berbaris di depan pintu masuk toko hanya diam saja. "Mbak, kamu liat nggak orang yang berbaris rapi itu?" Tanya Anna dengan mengendikkan dagunya ke arah para pria yang berbaris rapi di depan.


"Iya, mereka adalah pengawal khusus tuan muda." Jawab pelayan itu menjelaskan.


"Jika aku adalah orang lain, para pengawal ini sudah menghadang aku duluan mbak, gak perlu mbak yang menghadang aku disini." Ucap Anna percaya diri.


Pegawai itu termangu. Ia melihat para pria berbadan kekar itu memang membiarkan gadis SMA ini. Padahal orang orang tadi yang ingin menyaksikan tuan muda sudah dihadang terlebih dahulu.


"Kamu tanya sama mereka, siapa aku?" Ucap Anna menunjuk salah satu pengawal itu.


"Tetapi mbak, saya hanya pegawai yang mematuhi sesuai perintah." Pegawai itu hampir manangis.


"Oke--oke, aku tak akan memaksa. Tapi katakan sama tuan mudamu. Aku ingin menemuinya." Ucap Anna.


"Tapi..." Ucap pegawai itu ketakutan.


"Jika kamu tidak mau, biarkan aku yang masuk saja."


Pegawai itu ragu. Dan pada akhirnya, ia memperbolehkan gadis itu melangkah masuk. Sebelum langkah Anna sampai, pegawai itu menarik lengannya.


"Tapi jangan katakan saya yang membiarkanmu masuk. saya takut dipecat." mohon pegawai itu.

__ADS_1


"Oke, aku akan melindungimu." Anna tersenyum dan menepuk bahu pegawai itu.


__ADS_2