
Dorrr Dorrrr
Terdengar suara tembakan dari dalam layar laptop. Darah mengucur di sisi kepala dengan deras. Kemudian tubuh besar itu mulai tumbang. Anna yang melihat pemandangan ini merasa ketakutan Tubuhnya bergetar.
Arsya merasakan getaran yang keluar dari tubuh Anna. Ia menundukkan kepala melihat Anna yang memejamkan matanya dengan takut. Arsya menyunggingkan senyuman.
Arsya menutup video itu. Tak lama setelahnya ponselnya berdering. Itu telepon dari anak buahnya yang berada di sebuah rumah tua yang berada ditengah hutan.
"Hemm." Dehem Arsya seraya mengangkat telepon.
"(……)
"Kerja bagus. Ini adalah sebuah peringatan kepada mereka. Bersihkan mayatnya."
"(……)
Telepon ditutup. Arsya meletakkan kembali ponsel di samping tubuhnya.
"Takut?"
"Kamu kejam sekali Arsya!" Pekik Anna dengan nada api kemarahan.
"Heh! Itu balasan untuk orang yang sudah menjamah tubuhmu."
Mata Anna terbelak. Mendongak menatap Arsya dengan tertegun.
"Sudahlah, lebih baik kita makan martabak ini. Kalau dingin akan terasa tidak enak."
"(... ...)
Tangan Arsya membuka bingkisan martabak. Di dalamnya terdapat dua bingkisan.
"Uh, dua?" Arsya membelakkan mata.
"Aku lapar jadi satu untukmu dan satu untukku." Anna meringis memperlihatkan dua gigi depannya.
Arsya menggelengkan kepala pelan. Gadis itu sudah lupa akan ketakutannya. Kamudian satu tangannya menyerahkan martabak coklat keju itu ke hadapan Anna.
Tak terasa waktu berlalu cepat. Suasana kantor sudah mulai sepi. Para karyawan satu persatu meninggalkan ruangan mereka. Hanya kantor presdir yang lampunya masih menyala.
Merlin menunggu dengan bosan di depan ruangan. Ia belum berani beranjak jika presdir belum pulang. Sementara Danni mengerjakan sesuatu di luar kantor atas perintah Arsya.
"Huft." Merlin mengeluarkan nafas panjang melalui mulutnya. Kepalanya menoleh menatap pintu yang masih tertutup itu. Kelopak matanya sudah mulai mengantuk sekali. Tetapi tidak ada tanda tanda presdir akan keluar.
Saat dirinya menguap. Pintu di depannya terbuka. Merlin terkesiap. Ia buru buru bangkit dari duduknya dan menyapa presdir.
"Presdir!" Merlin berdiri dan menundukkan kepala.
Arsya tercengang. Ini sudah tengah malam tetapi Merlin masih berada di sana.
"Kenapa belum pulang?" Tanya Arsya mengerutkan keningnya. Dibelakangnya Anna masih berdiri tidak tau apa yang terjadi karena tubuh Arsya berdiri tepat di pintu sehingga pandangannya terhalang oleh punggung Arsya yang lebar dan tinggi.
"Saya tidak berani pulang sebelum presdir pulang." Ucap Merlin jujur.
__ADS_1
"Oh, pulanglah! Lain kali jika saatnya pulang. Pulang saja. Jangan menunggu saya." Ujar Arsya.
Merlin tercengang sesaat. Beneran ini presdir Arsya. Merlin hampir tak percaya dengan katanya. Tetapi ia segera tersadar. "Baik." Merlin tersenyum senang dan merapikan mejanya lalu menyandang tas tangannya.
Arsya melewati tubuh Merlin begitu saja. Anna mengikuti langkah Arsya dibelakangnya.
Merlin : "(... ....)
Saat kedua manusia itu akan memasuki lift. Merlin tersadar. Ia buru buru mengejar.
"Tunggu!"
Arsya mengerutkan kening. Menatap Merlin yang berjalan tergesa dengan sepatu stiletto-nya. Pintu Lift tertutup bersamaan ketiga manusia itu berada di dalamnya. Merlin menekan tombol di samping pintu pada lantai satu.
Di dalam ruangan sempit itu, Merlin merasa canggung dengan suasananya. Anna yang berdiri di samping Arsya segera menepuk bahu sekertaris itu dengan pelan.
Merlin terkaget karena, itu bukan sikap presdir. Ia pun menoleh karena posisi Arsya berada di belakang tubuhnya.
Anna tersenyum, Merlin yang mendapat tatapan dari gadis di samping presdir itu menyadari dengan senyuman ramah dan sopan. Merlin segera menyambut senyuman itu dengan balasan yang paling sopan dan menunduk.
"Mbak! Kamu sudah lama bekerja di sini?" Tanya Anna pada Merlin.
"Ya." Merlin menganggukkan kepala.
"Berapa lama? Satu taun, dua taun, tiga taun..."
"Dua taun."
"Uhg, betah juga ternyata." Anna mengangguk anggukan kepala.
Ekspresi Arsya mulai merubah. Ia menaikkan alis sebelahnya. Anna menatap sekilas pada wajah Arsya yang berubah ubah. Ia tetap tersenyum lalu menatap Merlin yang melongo.
"Semangat ya Mbak." Ucap Anna kemudian mengepalkan tangannya naik ke atas.
Merlin melirik presdir dengan takut takut. Presdirnya ini memang sangat kejam dan sesuka hatinya. Ia pun memaksakan senyuman dan mengangguk ragu.
"Terima kasih."
Anna tersenyum lalu tangannya menyenggol lengan Arsya dengan pelan.
"Tuh liat, karyawan kamu sangat takut padamu. Karena kamu terlalu datar dan dingin. Coba kalau kamu senyum sedikit saja. Pasti mereka akan lebih semangat kerjanya." Ucap Anna dengan wajah polosnya.
"Sebagai atasan harus profesional." Jawab Arsya dengan datar.
Dalam hati Merlin merasa terkejut. Gadis kecil itu siapanya presdir? Dia bahkan berani memanggil dengan namanya. Bahkan berani memarahinya dengan sesuka hatinya.
Tepat saat sedang berpikir demikian, pintu lift terbuka. Merlin membalikkan badan dan membungkuk hormat.
"Selamat malam presdir. Selamat malam nona." Ucap Merlin penuh hormat.
"Ya." Merlin segera melangkah keluar dari ruangan sempit. Pintu lift segera tertutup dan menuju ruang basement.
Merlin mengelus dadanya. Hampir saja ia mati karena kekurangan oksigen. Barusan gadis kecil itu membuat jantungnya berpacu begitu cepat. Apalagi ekspresi presdir begitu menakutkan. Semoga besok tidak terjadi apa apa. Pikir Merlin kemudian segera menuju ke depan.
__ADS_1
"Loh mbak Merlin, sudah malam begini baru pulang?" Seorang satpam yang berjaga malam melihat Merlin yang baru keluar kantor segera menyapa.
"Eh iya pak, lembur." Sahut Merlin tersenyum.
"Oh. Udah malem mbak. Hati hati." Ucap Satpam itu memberi peringatan.
"Iya pak terima kasih." Ucap Merlin menuju ke tukang ojek yang sudah ia pesan sejak lima jam yang lalu. Untungnya tukang ojek itu mau menunggu Merlin hingga ia keluar dari kantor. Kalau tidak, entah bagaimana Merlin bisa pulang ke rumah karena hari semakin larut dan semua kendaraan umum pasti akan sulit untuk menemukannya.
Merlin berjalan cepat menuju ke sana. "Maaf pak, sudah menunggu lama." Ucap Merlin pada tukang ojek itu.
Tukang ojek itu segera menoleh. "Mbak Merlin? Gak apa apa mbak." Tukang ojek itu menyerahkan helem kepada Merlin.
Merlin mengangguk dan menerima uluran helem itu dari tukang ojek. Setelah memakainya Merlin segera naik ke atas boncengan dan motor itu segera berlalu.
***
Di basement. Arsya dan Anna berjalan berdampingan. Di sana hanya tinggal mobil Arsya sementara dua mobil lainnya adalah mobil pengawal yang berjaga. Pengawal segera masuk ke dalam mobil setelah melihat postur tubuh Arsya keluar dari dalam lift.
Mengatur mobil mereka berada di depan dan belakang mobil presdir. Arsya segera masuk ke dalam kursi belakang dan diikuti Anna di sampingnya. Mobil Roll Royce Phantom segera meninggalkan area kantor.
Di jalanan, Anna merasa sangat mengantuk. Tanpa terasa kelopak matanya memejam. Arsya segera menarik tubuh Anna dan kepalanya ia sandarkan di pahanya. Anna bergerak sedikit agar merasa nyaman. Arsya tersenyum tipis.
Hari hari berlalu dengan cepat. Anna sudah bersiap dengan seragam sekolahnya. Ia pergi keluar dan mobil phantom sudah bersiap mengantarkannya.
Waktu berputar tanpa terasa sudah siang. Sudah enam bulan mereka menikah. Memikirkan hal ini, Arsya tidak pernah memerhatikan sekolah Anna. Jadi berinisiatif pergi ke sekolah melihat keadaan.
Danni bersiap, sopir sudah menunggu dibawah. Arsya segera turun ke bawah. Mobil Limosin segera melesat ke arah jalan raya.
"Nona muda belajar begitu giat, saya rasa dia akan lulus dengan baik." Laporan Danni kepada Arsya.
"Ya, selama aku tidak ada dia pasti sangat kelelahan belajar. Dan aku akan ke sana melihatnya. Barulah bisa tenang." Sahut Arsya.
Tepat saat ini mobil Limosin berhenti di area halaman sekolah. Kepala sekolah dan staf lainnya segera menyambutnya.
"Presdir Adiyaksa. Sungguh kehormatan bagi kami bisa berkunjung di sekolah ini." Ucap Kepala sekolah dengan sopan.
"Ya." Jawab Arsya dengan mengangguk.
Kepala sekolah mengajaknya berkeliling dan staf mengikuti dibelakang. Di belakang Arsya, Ada Danni yang mengikuti dan dua pengawal yang menjaga. Sementara empat pengawal yang lain berjaga di depan.
Kepala sekolah memperkenalkan satu persatu setiap ruangan dan memiliki fasilitas yang memadai. Dengan begini para murid akan mendapatkan pengajaran yang lebih baik.
Juga mengenalkan beberapa murid yang mendapatkan beasiswa adalah siswa yang mempunyai peringkat terbaik. Adiyaksa merasa puas dengan lingkup sekolah itu. Pantas saja Wiryo menyekolahkan Anna di sana.
Selain fasilitas yang memadai, sekolah itu merupakan tempat ternyaman bagi siswanya untuk mendapatkan pengajaran. Kepala sekolah naik hingga ke lantai empat.
Kepala sekolah antusias memperkenalkan kelas terbaik. "Ini adalah kelas yang paling unggul." Arsya mendongak dan menatap kelas itu dengan seksama XII Ipa A 1.
"Dikelas ini banyak siswa berprestasi." Ujar kepala sekolah itu merasa bangga.
Arsya mengangguk. Kemudian Kepala sekolah itu menunduk melihat jam tangan di tangab kanannya.
"Sepertinya sudah waktunya jam istirahat. Sebentar lagi para siswa akan keluar. Lebih baik pak Adiyaksa menuju ke ruangan peristirahatan." Ujar Kepala sekolah.
__ADS_1
"Ya."
Segerombolan orang orang itu menuju lantai bawah. Namun sebelum pergi ia melirik sekilas papan nama di atas pintu yang bertuliskan kelas XII IPA A 1. Seolah ada rasa penasaran di dalam kelas itu.