
Setelah mendengar kabar Anna masuk rumah sakit, Leya segera pergi ke sana untuk menjenguk sahabatnya itu. Ia merasa khawatir jika terjadi sesuatu kepada sahabatnya itu. Dengan menggunakan motir matik kesayangannya ia melajukanya menuju rumah sakit.
Tak lupa gadis itu membawakan sebuket bunga lili dan juga sekeranjang buah buahan. Ia berhenti di depan lobi dan bertanya di mana Anna sedang di rawat.
Setelah mendapatkan informasi, Leya bergegas memasuki lift menuju lantai tujuh. Sampai di sana ternyata ada pengawal yang berjaga. Selama ini, ia belum pernah melihat penjagaan ketat seperti ini jadi ia berhati hati.
Saat Leya sudah hampir dekat dengan ruang rawat inap Anna. Ia melayangkan senyuman. Pengawal wanita yang berjaga terus menatap gerak gerik Leya yang mencurigakan.
Salah satu pengawal segera membekuk tangan Leya ke belakang.
"Aduh, ampun! Aku sahabat Anna dan ingin menjenguknya bukan untuk membunuhnya." Leya berjongkok dengan kedua lututnya. Sementara kedua tangannya di bekuk ke belakang.
Salah satu pengawal segera masuk dan melaporkan. Alhasil nona mudanya mengijinkannya masuk. Leya segera merapikan roknya dan meraih bunga dan sekeranjang buah.
"Sudah ku bilang kan dari tadi, tapi kalian tak percaya." Leya berbicara sinis terhadap pengawal yang hampir mematahkan tangannya.
"Maaf nona!" pengawal wanita itu hanya menunduk dan meminta maaf.
Leya membusungkan dadanya, menatap satu persatu pengawal wanita. "Ingat, jika bertemu lagi, ijinkan aku bertemu." ujar Leya dengan sombong dan berlalu pergi.
Ke empat pengawal kembali ke posisi semula. Leya masuk ke dalam kamar dan segera berteriak.
"Annaaaaa!" Leya segera menghambur setelah meletakkan bawaannya.
"Haist, Leya kenapa kau datang! Jangan bilang kau sedang membolos hari ini." Ujar Anna seraya membalas pelukan Leya.
Leya mengendurkan pelukannya dan mengerucutkan bibirnya kesal. Bukannya dia senang dijenguk malah menegurnya.
"Heh, kau ini bukannya senang di jenguk malah memarahi orang." Jawab Leya segera melepaskan tangannya.
"Huh, dasar si pemarah. Baiklah! Aku minta maaf." jawab Anna merayu Leya yang merajuk.
Leya kembali tersenyum. "Oke aku maafkan." jawabnya kemudian tangannya meraih keranjang buah dan membukanya.
"Aku datang kesini susah-susah loh. Masa iya kau tega memarahi aku." Ujarnya. "Aku kupaskan apel kesukaanmu." lanjutnya disertai tangannya mengupas apel.
"Terima kasih loh honey. Aku bukan mau memarahimu, tapi dasarnya kau si pemarah, aku kan cuma nanya. Lagi pula aku juga sangat kesepian. Terima kasih." Ujar Anna.
Kebetulan apel yang ia kupas sudah selesai. "Sama sama, honey. Aku kan tau karakter kamu. Jadi aku bergegas kemari." Tangannya mengulurkan apel kepada Anna.
"Terima kasih. Kau memang sahabat aku." balas Anna lalu menggigit apel itu.
"Eh ngomong-ngomong di depan kenapa ada banyak wanita yang berjaga?" Tanya Leya sambil tangannya mengambil buah apel untuk di makan olehnya sendiri.
"Kau tau tempramen Arsya bukan? Dia adalah pengusaha muda paling sukses dan berkuasa. Jadi dia memberikan penjagaan agar aku tak kabur darinya." Jelas Anna.
"Huh, ternyata memang benar apa kata orang. Dia adalah orang yang paling kejam di dunia bisnis." Leya mengangguk sambil berkata. Tidak heran jika ia tau sedikit tentang tempramen pria itu karena sudah beredar luas di publik dengan karakternya itu.
"Leya, aku sudah bosan disini terus. Aku ingin keluar." Ujar Anna setelah beberapa detik hening. Ia sudah tertidur akibat obat. Sekarang sudah jam 10 pagi. Ia ingin melihat keluar ruangan sekedar berjalan jalan.
"Bagaimana kita keluar? Di luar ada pengawal. Apakah bisa pergi dari sini dengan bebas. Aku tadi mau masuk saja tanganku mau patah di cekal olehnya." Ucap Leya menceritakan dirinya saat mau masuk ke dalam.
"Apa! Sampai segitunya mereka denganmu?" Anna membelalakkan mata karena sahabatnya hampir di buat mati atas ulahnya.
__ADS_1
"Iya, apakah kau bisa melewati mereka?" tanya Leya lalu menggigit apel yang sudah ia kupas.
"Memang susah sih mengalihkan mereka. Mereka selalu mengawasiku di manapun aku berada..."
"Jadi, kalau disekolah...." sela Leya.
"Tentu saja. Makanya aku takut berhubungan dengan siapapun. Termasuk Daren. Karena berkali kali Daren selalu mendekatiku dan aku akan selalu bertengkar karena masalah ini. Sebab itu aku ingin menghindar sejauh mungkin."
"Pantas saja. Aku juga merasa ada yang tidak beres disini. Bagaimanapun aku juga membantumu menjauhinya."
"Kau memang pantas disebut sebagai sahabat. Kau cepat respect dengan apapun yang berhubungan denganku." Leya menjadi terharu saat mendengar kata ini.
"Ugh, terima kasih." Sahut Leya.
Saat jam makan siang. Seorang perawat mengenakan masker mendorong troli masuk ke dalam ruangan rawat Anna. Pengawal itu mencegatnya.
"Tunjukkan identitas!" perintah salah satu pengawal wanita yang berjaga.
Untung saja Indri membawa kartu identitas perawat yang sengaja ditinggal disertai seragamnya.
Pengawal wanita itu meneliti dengan seksama akan identitas perawat itu. Lalu memperbolehkannya masuk dan membukakan pintu. Indri di balik masker yang menutupi sebagian wajahnya tersenyum sinis.
Ia kembali melajukan langkahnya dengan mendorong troli makanan ke dalam.
Anna mengernyitkan keningnya saat ada perawat yang mendorong troli makanan masuk ke dalam ruangannya. Kenapa dia tidak kepikiran untuk pergi menyamar. Ia pun tersenyum smirk.
"Ini makan siang anda." Ujar perawat itu dengan suara kecil dan serak.
"Terimakasih sus." Jawab Leya dan mengambil semangkuk bubur dan meletakkannya di meja nakas.
Anna kembali mengobrol dengan Leya. "Ugh, makan siangmu. Kau pasti tidak enak kan makan bubur seperti ini terus." ujar Leya. Meskipun begitu tangannya tetap menyendokkan bubur dan menyuapkannya ke mulut Anna.
"Kalau kau tau, kenapa masih menyuapkanku." Sambil berbicara tangannya menepis tangan Leya dengan pelan.
"Huft!" Leya kembali menarik tangannya dan mengembalikan bubur mangkuk ke atas nakas.
"Bagaimana kalau kita keluar diam diam...."
"Keluar kemana?" Ucapan itu bersamaan dengan pintu terdorong dari luar. Kaki jenjangnya melangkah masuk dengan perlahan.
Leya tertegun saat melihat ini. Perlahan wajah Arsya terlihat jelas di pandangannya. Ternyata pria muda yang selalu sukses dalam bisnisnya memang benar benar tampan dalam tampilan nyata. Ini pertama kalinya Leya bisa melihat dengan jelas wajah Arsya apalagi sedekat ini. Ia benar benar terpana.
Arsya berhenti tepat di hadapan Anna yang sedang menatapnya. Satu tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. Wajahnya terlihat dingin dan menakutkan. Tetapi Anna sudah biasa menghadapi sikap Arsya yang seperti ini. Juga biasa menghadapi wajah dingin Arsya.
"Enggak kemana mana kok." Dalih Anna.
Leya segera tersadar dengan ucapan Anna. Ia menarik kesadarannya ke dunia nyata setelah ia mengagumi beberapa menit. Leya menatap Anna dan mencubit tangan Anna. Anna menetap sebentar kemudian ia kembali menatap Arsya yang tiba tiba datang.
"Lagi pula ini belum saatnya jam pulang kerja. Kenapa kamu ada disini?" Tanya Anna dengan ketus.
Arsya melirik sekilas ke arah Leya yang hanya terdiam lalu kembali menatap Anna dengan jengkel. "Tentu saja menjemputmu." Jawab Arsya tenang.
"Tidak mau, kau bilang kita bisa hidup sendiri sendiri. Kenapa kau begitu repot menjemputku. Aku masih ada Leya yang akan menjemputku. Iya kan Leya?" Anna mengalihkan pandangannya ke arah Leya dan mengedipkan mata.
__ADS_1
Leya yang mendapatkam kode isyarat ini merasa terkejut dan takut. Tetapi ia tetap respon dengan kode isyarat Anna. "I--Iya...." Jawab Leya dengan gugup lalu menundukkan kepala. Ia sungguh takut dengan tatapan pria ini yang terlihat angkuh dan dingin.
"Oke, aku kabulkan persyaratanmu. Kita hidup sendiri sendiri setelah ini." Arsya melirik bubur di ata meja nakas. "Tapi kau habiskan dulu makan siangmu." Lanjut Arsya.
Anna melirik sekilas bubur yang sudah hampir dingin itu di atas meja nakas. Tiba tiba ada kucing yang melompat dari teras balkon. Anna segera meraih mangkuk itu tetapi kucing yang melompat itu menubruk tangannya sehingga semangkok bubur itu terpental ke arah kiri.
Hampir saja mengenai Leya jika saja gadis itu tidak menghindar.
"Ahg!" Tangan Anna terkena cakaran kucing. Kucing yang melompat itu segera turun ke lantai sembari mengeong juga menjilat bubur yang tumpah.
"Aist. Dari mana asal kucing itu." Leya mendesis segera meraih tisu dan mengusap bagian bajunya.
Sementara Arsya segera berjalan tergesa dan memeriksa tangan Anna. Ada terdapat goresan kecil di tangan Anna yang mengeluarkan darah.
"Apakah terasa sakit. Pengawal! Cepat panggilkan dokter." Ucap Arsya seraya berteriak kepada pengawal yang berjaga.
Pengawal wanita membuka pintu dan kembali menutup pintu untuk memanggil dokter.
Bersamaan dengan itu, kucing yang memakan bubur itu tiba tiba terkapar dan mengeluarkan buih dari mulutnya. Leya segera menoleh dan tertegun melihat kucing itu tergeletak di lantai.
"Kucingnya!" Arsya yang mendengar teriakan sahabat istrinya itu segera menoleh dan menatap kucing itu yang terkapar.
"Bangsat!" Geram Arsya. Ia kembali berteriak dan memanggil pengawal.
Rendi segera masuk. "Tuan muda."
"Cepat selidiki kenapa kucing itu bisa mati. Juga selidik siapa yang melakukannya."
"Baik!" Balas Rendi sebelum pergi ia melirik kucing yang berbuih di mulutnya itu.
Tak berapa lama pengawal yang lain masuk dan membawa kucing yang mati itu keluar dari ruangan.
Leya yang melihat kucing itu mati, ia melirik jaket yang ia kenakan. Meskipun terciprat sedikit tetapi ia merasa takut akan terkena imbasnya juga. Ia segera mencopot jaketnya dan ia mencari kantong plastik dan memasukkannya ke dalam.
Tak berapa pengawal yang memanggil dokter pun kembali bersamaan dengan dokter yang yang merawat Anna.
"Dokter! Cepat obati luka istriku. Dia terkena cakaran kuku kucing." Ujar Arsya panik begitu dokter itu masuk ke dalam ruangan.
Leya dan Arsya menyingkir dan membiarkan dokter dan perawat itu bekerja. Anna merasakan tubuhnya semakin dingin.
"Dokter, kenapa badanku terasa dingin?" Ujar Anna.
Dokter itu mengecek suhu tubuh Anna lalu meletakkan stetoskop pada nadinya. Kemudian ia mengecek botol infus. Dokter itu mengerti kenapa suhunya begitu dingin, ternyata itu akibat infus yang mengalir terlalu deras.
"Dokter, bagaimana keadaannya?" Tanya Arsya dengan datar dan tenang tetapi di dalam hatinya ada rasa khawatir yang berlebihan.
"Kondisinya sudah lebih baik." Ujar dokter itu. "Tunggu sampai infus habis, anda baru diperbolehkan pulang." lanjutnya.
Anna merasa senang dan hanya menunggu sampai infus itu habis. Mungkin tinggal menunggu setengah jam saja infus itu akan habis.
"Baiklah. Terima kasih dokter." ujar Arsya.
Dokter itu mengangguk dan keluar dari ruangan rawat inap Anna.
__ADS_1
"Yeay, akhirnya pulang juga." Ucap Anna dengan wajah riang.