Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 62


__ADS_3

Di sebuah hotel nan mewah di kamar presiden suit room. Anna tengah duduk di sofa panjang. Menyalakan televisi. Tetapi pikirannya melayang sedang memikirkan sesuatu. Selama satu bulan ini terlalu banyak tragedi yang ia lalui setelah pulang ke tanah air. Ia hampir lupa usaha yang telah susah payah ia rintis.


Ia juga merindukan orang orang yang sudah ia anggap sebagai sahabat, teman bahkan keluarga saat berada di Amsterdam selama hampir satu tahun juga telah melalui suka duka bersama saat membangun kebun mawar itu.


"Anna!" Arsya datang dari luar dan memanggilnya. Pikiran Anna yang kosong telah tersadar kembali lalu menoleh ke arah Arsya yang berjalan mendekatinya dengan Rendi yang berjalan di belakang menerima mantel yang diulurkan oleh Arsya.


"Sudah pulang?" Ia bangkit berdiri, Arsya mengangguk lalu mencium keningnya sekilas. Sementara Rendi langsung masuk ke dalam menyimpan mantel yang diberikan Arsya.


"Bosan?" Tanya Arsya lalu mengajaknya duduk di sofa yang sama.


"Umm. Kamu bilang, siang bakalan pulang. Tapi ini sudah lebih dua jam." Anna mengangguk kemudian mengangkat tangannya melihat jam di tangan kanannya.


"Maaf, aku banyak urusan. Kamu sudah makan?" Tanya Arsya merasa bersalah.


"Belum." Anna menggelengkan kepala.


"Oke, Aku akan memerintahkan Rendi untuk memesan makanan." Ujar Arsya bersiap mengangkat ponselnya.


"Tidak." Anna menggelengkan kepalanya. "Kita makan di luar saja sekaligus membeli oleh oleh buat kelima pegawaiku." Ujar Anna menjelaskan.


Segera alis yang terangkat pun melonggar. Arsya melempar senyum kecil dan mencubit pipi Anna. "Oke. Terserah tuan putri saja." Sahut Arsya.


"Ugh. Sakit." Anna memonyongkan bibirnya satu tangannya mengusap pipinya yang di cubit Arsya.


Arsya merasa gemas lalu mengusap pucuk kepala Anna dengan ringan. "Cepat ganti baju. Nanti keburu malam. Kita juga harus segera menghadiri perjamuan."


"Umm." Anna mengangguk dan berlari memasuki kamar sekedar mengganti pakaian. Setelah beberapa lama ia pun keluar dengan pakaian kasual.


"Ayo."


Arsya melirik pakaian Anna sekilas. Lalu segera bangkit. "Ayo."


Mereka berdua pun pergi menuju lobi yang berada di lantai bawah. Sementara ke empat pengawal telah bersiap dengan mobil yang sudah tersedia di depan lobi.


"Kita mau beli apa?" Tanya Arsya setelah memasuki mobil.


Mobil melaju di jalanan yang padat kendaraan. "Aku sudah mencatat semuanya."


"Um." Arsya menaikkan satu alisnya. Anna memberikan catatan kecil dan memberikannya kepada Arsya. "Banyak sekali?" Kata Arsya saat melihat catatan tulisan Anna yang mencatat berbagai makanan dan juga oleh oleh kepada mereka semua.


"Mereka sangat senang dengan makanan. Juga harus memberi mereka pakaian. Mereka jarang sekali pergi keluar. Bahkan pakaian yang mereka gunakan sudah kuno. Mereka hanya tau bekerja menafkahi keluarga mereka."


"Kamu bos yang baik hati." Arsya mengendurkan alisnya dan memujinya.

__ADS_1


"Haha, kamu memujiku atau mencibirku?" Tanya Anna dengan tertawa riang.


"Tentu saja memujimu. Aku sebagai CEO tak pernah melakukan hal seperti ini. Kamu mulia sekali." Balas Arsya.


"Mereka sudah aku anggap sebagai keluarga. Tidak bisa mengabaikannya."


Arsya tersenyum dan mengeratkan rangkulan pada bahu istrinya. Dan mencium kepalanya.


Mobil telah sampai pada sebuah mal terbesar di kota itu. Anna dan Arsya masuk ke dalam mal yang dijaga ketat oleh pengawal. Meski mereka terlihat menonjol karena pengawalan tetapi mereka terlihat sangat santai.


Mereka mengambil beberapa pakaian dan juga membelikan sembako. Setelah satu jam akhirnya sudah terkumpul 10 troley yang berisikan pakaian dan juga sembako. Dan yang lainnya ada beberapa makanan. Anna merasa senang dan bersiap membayarnya.


Setelah mengantre selama setengah jam akhirnya giliran mereka membayar. Arsya dengan tenang mengeluarkan kartu hitamnya. "Biar aku saja yang bayar." Anna menahan Arsya. "Lagi pula kartu ini juga pemberianmu." lanjut Anna.


"Tidak apa apa. Itu milikmu. Belanjakan saja untuk dirimu. Lagi pula. Kamu setelah ini harus mendirikan perusahaan. Tentu akan membayar mahal."


"Um." Anna terbengong dengan perkataan Arsya.


Arsya tersenyum kecil dan menyerahkan kartu miliknya kepada kasir. Pengawal segera mendorong satu persatu troley untuk penghitungan. Sementara Anna dan Arsya duduk di samping menunggu selesai pembayaran.


"Apa maksudmu?" Tanya Anna ketika telah tersadar kembali.


"Parfummu telah melampui pasaran eropa. Kamu harus membuat perusahaan sendiri untuk melakukan presentasi. Juga harus merekrut banyak karyawan. Followersmu hampir lima juta."


"Hah!" Anna merasa kaget dengan penjelasan Arsya. Arsya tersenyum kecil dan melanjutkan. "Selama kamu berada di rumah sakit melakukan pemulihan, aku telah melakukan banyak hal termasuk parfum yang kamu buat itu telah di sukai banyak kaum. Aku juga telah banyak melakukan kerja sama dengan beberapa pihak rekan bisnisku. Mereka sangat suka. Selain itu mereka juga ikut mempromosikan parfummu itu di media sosial mereka."


"Terima kasih." Mata Anna berkaca kaca.


"Sudah selesai." Arsya melihat ke arah godie bag yang besar yang dibawa oleh para pengawal. Ia pun berseru. Membuat Anna juga mendongakkan kepalanya sambil tangannya mengusap matanya.


"Kalian bawa ke mobil. Aku dan Anna akan pergi ke salon." Ucap Arsya memberi perintah kepada ke empat pengawal. Pengawal itu mengangguk dan membawa semua barang ke mobil.


Arsya menarik tubuh Anna ke dalam dekapannya lalu mencium kepalanya. "Tidak perlu berterima kasih. Apapun yang kamu lakukan aku akan mendukungmu." Bisik Arsya dan membawanya pergi ke sebuah salon.


Anna sangat terharu.


Mereka berdua pun berjalan berdampingan menuju ke salah satu salon di sana. Di belakangnya tersisa dua pengawal yang mengawal.


Saat sampai di pintu depan salon. Seorang pegawai menyambutnya dengan hormat. Arsya berkata dengan berbahasa inggris meminta pemilik salon itu sendiri yang harus menanganinya.


Pegawai salon pun bergegas melaporkan. Dan tak berapa lama pemilik salon itu pun keluar. Arsya segera memerintahkan untuk merias wajah Anna. Pemilik salon itu pun membawanya masuk dan merias sendiri.


Dia melihat wajah Anna yang sudah sangat cantik. Dia pun memujinya. "Wajah anda sudah sangat cantik." Ujar pemilik salon itu yang bernama sharon.

__ADS_1


"Hm. Terima kasih." Balas Anna dengan bahasa inggris


Tak berapa lama pemilik salon itu memerintahkan kepada kelima pegawainya untuk menyiapkan berbagai peralatan termasuk gaun dan juga sepatu. Setelah siap, pemilik salon itu mulai berkutat dengan alat tempurnya.


Anna merasa sangat mengantuk sehingga perias itu merasa kesusahan. Tetapi sebagai penata rias yang profesional ia pun mampu menyelesaikan dengan sempurna.


Wajah Anna semakin cantik bak putri raja. Merasa sudah tidak ada gerakan pada wajahnya. Anna membuka matanya bertanya. "Apa sudah selesai?"


"Ya." Balas penata rias itu. Lalu menarik kaca besar di depannya. "Lihatlah." Sharon tersenyum memperlihatkan hasil karyanya selama beberapa waktu lalu.


Anna terkejut. Ini tampak bukan seperti dirinya. "Sempurna."


Arsya di belakang mengomentarinya. Anna dan beberapa perias lain segera menoleh dan tampak Arsya tengah berdiri di ambang pintu melihat wajah Anna melalui pantulan cermin.


Anna tersenyum. Pipinya merah merona. "Arsya."


Tatapan mereka saling beradu. Arsya tersenyum ringan. "Keluarkan gaun terbaik disini." Perintah Arsya pada pemilik salon itu.


"Baik." pemilik salon itu pun mengisyaratkan kepada kelima pegawainya. Dan mereka bergegas pergi mengeluarkan gaun terbaik yang mereka punya.


Tak berapa lama kelima pegawai itu mengeluarkan gaun terindah yang mereka miliki. Arsya melihat semua gaun itu lalu memilihkan gaun berwarna merah maroon. Anna di bantu dengan salah satu pegawai salon masuk ke dalam ruang ganti.


Tak berapa lama Anna keluar dengan balutan gaun panjang yang pas di badan. Sangat sempurna. Pemilik salon itu tidak bisa tidak tersenyum. Ia bahkan melebarkan senyumannya dan tampak bahagia. Ia menggumamkan kata perfect berulang kali. Sangat memuji tubuh sempurna Anna meski terlihat agak pendek.


"Anda cantik sekali." Ucap pemilik salon itu memuji.


"Terima kasih."


"Ehemm." Arsya berdehem membuat kedua wanita itu berhenti. "Sudah selesai. Ayo berangkat. Waktu kita hanya setengah jam." ia mengulurkan tangan melihat jam.


"Nona Sharon terima kasih." Ucap Anna.


"Sama sama." balas Sharon.


Anna berjalan mendekat ke arah Arsya. Lalu menggamit lengan Arsya.


Rendi sudah mengatur segalanya termasuk pembayaran pada salon itu.


Sesampainya di dalam mobil Anna sangat gugup. "Ini pertama kalinya aku pergi menghadiri perjamuan atas usahaku sendiri." ujar Anna.


"Kamu gugup?" tanya Arsya.


Anna mengangguk.

__ADS_1


Tangan Arsya terulur menyambut tangan Anna dan menggenggamnya. Terasa sangat dingin dan berkeringat. "Di sana ada Tuan Anderson. Kamu adalah tamu. Jadi kamu tenang saja." Arsya menenangkan.


"Oh."


__ADS_2