Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 7


__ADS_3

Direktur Roni berlari tergesa sampai di lahan konstruksi. Diikuti Lincoln di belakangnya. Tak lama setelah melakukan persiapan, iringan mobil Arsya datang.


Mobil terhenti di depan kantor. Danni keluar terlebih dahulu dan membuka kan pintu mobil samping. Arsya keluar dengan Auranya yang kuat. Direktur Roni segera berjalan kedepan dan menyapa.


"Presdir." direktur Roni segera menunduk hormat.


"Hem." Arsya berdehem dan melanjutkan langkahnya memasuki kantor. Dibelakang Danni, direktur Roni dan Lincoln pergi mengikuti.


Sampai di dalam kantor, Arsya duduk di kursi eksekutif. Sementara ketiga manusia itu berdiri. Danni berdiri disisi Arsya. Sementara kedua manusia yang lainnya berdiri di depan yang berhadapan dengan meja kerja.


"Presdir, anda kemari tidak memberitau saya terlebih dahulu. Saya tidak mempunyai persiapan apapun untuk menyambut anda." Ujar direktur Roni.


Arsya melirik sekilas ke arah Direktur Roni. Kemudian berdehem sekilas. Direktur Roni tidak berani melanjutkan perkataannya. Ditambah lirikannya yang dingin.


Setelah semua isi ruangan itu terasa hening. Arsya segera menengadahkan tangannya. Danni segera mengeluarkan dokumen tentang laporan proyek Amsrerdam dan memberikannya kepada Arsya.


"Coba jelaskan mengenai laporan ini?"


Direktur Roni segera mengambil dokumen itu. Lalu membacanya.


"Ini...Presdir. Maaf saya kurang teliti dalam masalah ini. Saya waktu itu..."


"Kau terlalu keasyikan dan selalu menggoda para gadis. Sekarang saya ingin bertemu dengan Nonimu itu yang membuat kau lengah dalam bekerja."


"Ach." Direktur Roni tercengang. Sedetik kemudian ia kembali bersuara. "Jangan presdir. Ini yang terakhir kalinya. Aku akan membereskan masalah ini. Tapi soal Noni kau jangan kesana. Bulan depan aku berniat melamarnya."


"Uhuk." Arsya tersedak oleh air liurnya. Danni yang berada disisinya merasa khawatir dengan segera mengambilkan air putih ke hadapan Arsya. Arsya meraih air putih itu dan meneguknya.


"Presdir."


Arsya melambaikan tangannya yang menyatakan bahwa dia baik baik saja. Danni segera mundur satu langkah. Kini tatapan Arsya tertuju pada pria berukuran tinggi 175 cm itu. Tatapannya seolah sedang mencemooh.

__ADS_1


"Sudah berapa lama kau bekerja padaku. Ini bukan yang pertama kalinya kau seperti ini. Bahkan kau berapa lama mengenal Nonimu itu. Jika kau bukan anak bibi sudah lama aku menendangmu. Semua masalah terjadi karena kau tak sungguh sungguh bekerja. Kau masih bermain main. Selalu aku yang harus turun tangan menangani masalahmu sekarang kau malah ingin melamar wanita. Cih..."


Direktur Roni segera berlutut di hadapan Arsya. "Presdir. Aku tau aku salah. Tapi aku benar benar menyukai Noni. Soal masalah ini, aku akan segera menyelesaikannya."


"Tiga hari. Kau sudah harus menyelesaikan hal ini." Arsya memberi tenggat waktu.


Direktur Roni segera berdiri. Dengan senang ia mengangguk. "Baik presdir. Tiga hari."


Arsya segera beranjak dari kursi eksekutif. Menatap sekilas ruangan kantor yang penuh bunga mawar. Kemudian ia pergi. Direktur Roni bisa bernafas lega karena ia masih tahap pendekatan dengan Noni, jika Arsya membereskan masalah hubungannya. Tentu saja usahanya itu akan sia sia.


Selama tiga hari ini Direktur Roni benar benar mencari akar masalahnya. Ternyata Eden, salah satu anak buahnya menjual bahan bangunan yang membuat perusahaan merugi.


Direktur Roni menyerahkan Eden ke pihak yang berwenang. Setelah itu ia mulai memikirkan cara untuk menutupi kekurangannya. Ia masih memiliki sisa uang satu miliar dan satu miliar lagi entah bagaimana caranya untuk mendapatkannya.


Direktur Roni merasa sedih. Ia ingin menghibur dirinya agar tidak terlalu tertekan. Jadi hanya bisa pergi ke kebun mawar.


Sementara Arsya yang berada di hotel sudah mendengar perihal usaha Roni. Roni memang selalu cepat menangani suatu masalah hanya saja dia selalu kurang teliti. Maka dari itu Arsya selalu mempertahankannya. Jadi ia bergegas menemuinya dan akan memberikan solusi terkait dana yang masih ada kekurangan.


Laila adalah orang pertama yang melihat Arsya masuk ke dalam kebun, jadi ia segera menyapa. Siapa tau dia adalah pembeli yang akan membeli dalam jumlah banyak. "Tuan, apakah ingin membeli bunga ini. Seikat berisi sepuluh tangkai dan harganya EUR 4.00 (63.264,52 rupiah indonesia)." Ucap Laila menawarkan menggunakan bahasa inggris.


"Hem, bukan. Saya sedang mencari Roni." Ujar Arsya dengan berbahasa inggris.


"Oh, Mr. Roni. Dia pergi ke rumah penelitian. Di sebelah sana. Mari saya antar." Sahut Laila. Ia pun pergi mengantarkan Arsya ke sebuah rumah yang dijadikan sebagai rumah penelitian.


Direktur Roni saat ini sedang duduk menghadap pintu. Tetapi matanya sedang menatap tangan Anna yang sedang bekerja membuat ekstrak mawar Sebagai bahan dasar. Ia berkali kali bercerita dan Anna seraya bekerja juga mendengarkan keluhan Roni.


Laila sampai di depan pintu rumah penelitian, ia mengetuk pintu dua kali. Lalu mendorong pintu hingga terbuka. Di sekitar ruangan itu terdapat sofa panjang di pinggiran tembok dan menghadap langsung ke jendela kaca. Sementara di tengah tengah ruangan ada set kursi serta meja. Suasana di ruangan itu teihat rapi. Sangat enak dipandang.


"Ach, sepertinya Noni berada di ruang kerjanya. Saya akan panggilkan." Ujar Laila menyadarkan pandangan Arsya. Arsya hanya mengangguk dan Laila berlalu menuju ke ruangan kerja Anna.


"Noni, ada tamu pria. Dia sedang mencari Mr Roni."

__ADS_1


"Oh, baiklah suruh dia tunggu sebentar. Aku akan memberi tau Mr Roni." sahut Anna.


"Baik." tak lama setelahnya Laila keluar dan memberitaukan kepada Arsya jika Noni sedang memberitaunya.


Arsya pun mengangguk. Selama menunggu ia pun menelisik ruangan itu seakan merasa damai.


Setelah kepergian Laila. Anna memberitaukan jika ada seseorang yang akan bertemu dengan Direktur Roni. Direktur Roni tau siapa orang itu. Hanya Arsya lah yang ingin menemuinya. Dia takut jika arsya memaksanya untuk menutupi kekurangan dana itu.


"Noni, aku takut bertemu dengannya. Dia adalah presdir yang sangat galak. Noni tolong bantu aku, katakan jika aku tidak ada disini."


"Ha. Tapi dia..."


"Please. Kaulah satu satunya penyelamatku. Aku benar benar tidak punya pilihan lain." Direktur Roni memohon seraya berlutut dihadapaan Anna.


"Mr, Roni jangan seperti ini. Baiklah. Aku akan pergi menemuinya."


Mata direktur Roni berbinar terang. Ia segera beranjak dari lantai dan menggenggam tangan Noni. "terima kasih." Ujar Direktur Roni.


Anna merasa tak nyaman saat tangan Anna digenggam oleh direktur Roni. Jadi ia menarik tangannya dengan perlahan. Direktur Roni melihat wajah Anna yang tak nyaman oleh genggamannya. Ia menundukkan kepalanya dan melihat tangan Anna yang ia genggam. Ia terlalu senang hingga reflek menarik tangan Anna dalam genggamannya.


"Maaf." Ujar direktur Roni dan melepaskan tangan Anna.


"Tidak apa apa." Anna menarik sudut bibirnya. Lalu menepuk lengan direktur Roni dengan pelan.


Direktur Roni menatap punggung yang ramping itu perlahan keluar. Setelah Anna sudah tak lagi berada dalam pandangannya, direktur Roni segera pergi ke pintu yang tertutup dan menempelkannya di pintu.


Saat ini Arsya berdiri membelakangi saat Anna datang. Anna segera berjalan menemui pria yang di maksud direktur Roni. Jadi ia bergegas menghampiri Arsya.


"Halo, siapa ya?"


Deg....

__ADS_1


__ADS_2