Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 50 perseteruan dewan direksi


__ADS_3

Arsya kemudian bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi. Sepertinya Anita telah mempermainkannya hanya karena dia tidak diperbolehkan ikut masuk ke dalam perusahaan. Kini dia memiliki wewenang atas hak itu dengan mengelabui Herman.


Arsya merentangkan kedua tangannya di atas bak mandi. Kepalanya bersandar pada bak, matanya terpejam menikmati hangatnya air. Asapnya mengepul memenuhi wajahnya yang bersih.


Di rumah tua


Anna menatap kosong ke dinding dinding putih. Dia menekuk lututnya dengan gemetaran. Satu minggu di sekap di tempat itu, membuatnya merasakan sakit mental. Dia hampir setiap hari di suntik oleh para pria yang menjaganya dan setelah itu ia selalu tak sadarkan diri. Mungkin itu adalah obat bius untuk membiusnya.


Terdengar suara langkah kaki mendekat. Anna menatap dengan waspada jika pria itu kembali menyuntiknya. Di lengan nya banyak goresan dan juga bekas suntikan itu diakibatkan oleh ulah mereka.


Ceklek


Pintu terbuka. Anna menatap tajam ke arah pria itu. "Apa yang ingin kalian lakukan?" tanya Anna dengan suara gemetar dan takut.


Pria itu tersenyum sinis dan meletakkan sepiring nasi dengan daging di atasnya, juga memberikan segelas air ke sampingnya.


"Makanlah, jika kau teriak teriak setiap hari, aku akan terus menusukmu hingga kau tidak bisa teriak lagi." ujar Pria itu.


Anna menatap sepiring nasi itu kemudian melihat pria yang berjalan keluar. Terdengar pintu kembali terkunci dari luar. Sudah seminggu Anna menolak untuk makan, dia sangat kelaparan sekarang, Di dalam perutnya ada bayi yang harus ia jaga, setidaknya jika bukan karena Arsya dia juga harus memikirkan bayi itu karena bayi itu juga miliknya.


Dia juga memikirkan tentang usahanya yang baru ia rintis. Setidaknya ia harus hidup demi mimpi dan cita citanya. Dia pun mengambil sepiring nasi itu dan melahapnya dengan rakus.


Hari pertemuan dewan direksi sebentar lagi akan digelar. Arsya setelah melewati hari liburnya dengan hampa, kini akan menghadiri pertemuan itu. Namun sebelum acara di mulai, ia sudah menugaskan pengawalnya untuk memata matai Anita dan juga anak buahnya.


Ini semua pasti ulah wanita itu.


Rendi segera bersiap dan mengawal ke sepuluh anak buahnya untuk mencari titik lokasi melalui nomer telepon yang biasa digunakan wanita itu untuk menelepon. Dan untuk melakukan hal itu Rendi harus bekerja sama dengan polisi dan juga pihak telekomunikasi.


"Presdir, rapat akan dimulai lima menit lagi." Danni melaporkan situasi di perusahaan.

__ADS_1


"Apakah semua dewan sudah datang?"


"Ya, termasuk nyonya Anita."


"Oke. Aku sebentar lagi sampai."


Telepon ditutup. Arsya merapikan jas hitamnya. Dia berdiri menampakkan pesona yang arogan dan berwibawa. Wajahnya memancarkan kesombongan yang mendominasi.


Ia melangkahkan kakinya setelah turun dari dalam mobil. Memasuki lift dan perlahan naik ke lantai atas. Sampai di lantai 48 ruangan kecil itu terhenti dan pintunya terbuka, Dia berjalan dengan tangkas keluar dari dalam lift. Danni di depan pintu lift segera menyambut. Arsya berjalan di koridor menuju ruang rapat, Di belakangnya Danni mengikuti.


Di dalam ruang rapat tidak ada yang berani bersuara. Anita duduk dikursi samping presdir dengan elegan dan menarik. Wajahnya terlihat sangat cantik apalagi mengoleskan lipstik yang terlihat terang benderang. Tubuhnya sangat molek dan kulitnya sangat bersih. Dia tersenyum ke arah semua para dewan yang akan mengikuti rapat pada hari ini. Namun senyuman ini membuat para dewan malah ketakutan.


Di luar, Danni mendorong pintu masuk. Semua dewan direksi seakan beban yang ia pikul segera terbebas. Kepala mereka langsung menoleh dan tatapannya tertuju pada wajah Arsya yang dingin. Meskipun mereka sangat takut kepada Arsya tetapi mereka sangat senang jika perusahaan ini tetap di pimpin oleh Arsya.


"Maaf terlambat." Serunya dengan suara rendah. Ia berjalan dengan tangkas menuju kursi pimpinan dan duduk di sana.


"Hm." Arsya berdehem sekilas sebagai jawaban.


Danni segera mengeluarkan dokumen dan membagikan satu persatu kepada dewan direksi. Dewan direksi ini ada sekitar 20 orang. Mereka menerima dokumen itu dan membukanya lalu membacanya dengan teliti.


Setelah lima menit berlalu Arsya segera membuka suaranya. "Di dalam dokumen itu, telah tercantum nama nyonya Anita yang akan bergabung sebagai dewan direksi yang memiliki saham lima persen pada perusahaan ini. Di dalamnya sudah ada kopian serah terima yang telah ditanda tangai tuan besar juga nyonya Anita yang disaksikan langsung oleh pengacara Adrian."


Arsya menatap satu persatu anggotanya yang hadir. Terlihat jelas pada wajah mereka banyak yang tidak setuju. Anita di samping tidak bersuara, dia tersenyum melihat wajah para dewan direksi itu yang terus menundukkan kepala.


"Jika memiliki pendapat mengenai hal ini, silahkan bersuara."


Para dewan berdiskusi sesaat kepada teman di sampingnya. Mereka melihat melalui persepsi mereka yang artinya semua itu sudah sah jika bergabung menjadi dewan direksi. Setelah beberapa saat tidak ada satupun yang menyuarakan pendapat mereka.


"Tidak ada pendapat?" Arsya menaikkan alisnya. Mereka langsung terdiam. Suasana yang awalnya riuh mendadak hening. Para dewan direksi itu menatap satu pandangan ke arah Arsya. Terlihat Arsya menatap satu persatu dewan direksi. Terlihat wajah para dewan direksi menegang.

__ADS_1


Kemudian salah satu dewan bernama Rudi, menaikkan tangannya. "Silahkan pak Rudi." Arsya menunjuknya dengan tatapan matanya yang mengarahkan kepadanya. Di sudut bibirnya terulas senyuman lebar.


"Presdir. Jika dilihat melalui hukum. Mengenai peralihan saham dan juga posisi. Saya rasa ini sudah menjelaskan bahwa nyonya Anita bisa bergabung dengan perusahaan secara sah dan legal. Hanya saja, kami memiliki trauma yang mendalam kepada nyonya Anita sendiri. Jika suatu saat perusahaan mengalami kebangkrutan lagi, bagaimana presdir menangani hal ini?" sebuah pendapat yang bagus. Ternyata para dewan direksi memiliki kekhawatiran yang mendalam.


Anita di samping mengepalkan tangannya, Arsya sebelum menjawab melirik ke arah Anita sekilas. Dia telah menduga hal ini pasti akan terjadi. Tetapi dia tetap bersikap tenang dan menjawab.


"Jika yang para anggota meragukan soal itu, kita buat sebuah kesepakatan."


Di dalam para dewan berdiskusi lagi. Suasana rapat menjadi ribut.


"Nyonya Anita, bagaimana kesepakatan yang anda mampu untuk meyakinkan mereka?" Arsya bertanya dengan melihat melalui sudut matanya. Kini tatapan para dewan juga menatap ke arahnya menanti jawaban dari Anita.


Anita menengadahkan tangannya ke samping, Arin memberikan sebuah kerja sama yang kini tengah berjalan bersama tuan Albert.


"Tuan tuan sekalian. Anda tidak perlu meragukan hal ini lagi. Demi memajukan perusahaan ini, aku telah membuktikan sendiri. Dengan kerja kerasku, aku telah menjalin kerja sama dengan tuan Albert. Dan Tuan Albert itu merupakan pemilik perusahaan terkemuka di Amsterdam. Saat ini proyek tengah berlangsung di Amsterdam." Anita berbicara sambil meletakkan dokumen diatas meja menampilkan kerja sama dengan tuan Albert.


Salah satu dewan direksi yang berada dekat dengan Anita mengambilnya, melihatnya secara rinci dan cepat. Dokumen itu saling bergeser dan membuat mereka yakin akan kinerjanya. Dan terakhir dokumen itu berada di tangan Arsya.


"Bagaimana menurut kalian?" Anita bertanya kemudian mereka saling berdiskusi dan menganggukkan kepala.


"Semuanya tenang." Arsya bersuara setelah mereka saling berisik.


Para anggota dewan direksi kembali tenang. "Nyonya Anita telah membuktikan kinerjanya. Saya yakin, anda para dewan sudah setuju mengenai hal ini. Jadi nyonya Anita mulai saat ini sudah sah bergabung di perusahaan." Setelah itu Arsya bangkit dan mengulurkan tangan ke arah Anita.


Anita menyambutnya dengan senyum kepuasan. "Selamat bibi. Anda harus berusaha lebih keras lagi setelah ini." Ucapnya memberi selamat.


"Terima kasih Arsya. Keponakanku yang baik." Balasnya menyeringai.


Arsya menarik tangannya dan melewati tubuh Anita, sampai di samping telinganya Arsya terhenti melirik sekilas Anita yang sangat puas dengan keputusannya. Senyum Arsya luntur kala itu berganti dengan wajah ketidaksukaan. Kemudian ia pun berlalu keluar dari ruangan pertemuan.

__ADS_1


__ADS_2