Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 35


__ADS_3

Arsya langsung menoleh. "Kenapa?" Tanya Arsya dengan menaikkan alisnya sebelah.


"Eh, tidak apa apa. Kau terlalu cepat kembali. Bukankah sejak awal kau bersikeras ingin tinggal." Anna mengalihkan pemikirannya dan bersikap rasional.


"Ya. Tapi sejak kedatangan bibi. Aku harus kembali. Dia orang yang tidak mudah ditangani terlebih dia adalah orang yang terlalu progresif."


"Jadi kau masih mempunyai keluarga yang lain?" Tanya Anna. Dia selama ini tidak terlalu perduli dengan keluarga Arsya jadi ia tak tau menahu masalah keluarga Arsya.


"Ya, dia adalah adik dari papa. Tapi karena dia terlalu serakah dia diusir keluar negeri. Dan mungkin sekarang dia sudah kehabisan uangnya dan dia kembali. Untuk sementara aku harus kembali dan menangani masalah ini."


Oh...Anna mengangguk mengerti sekarang. Dan makan malam mereka telah selesai. Setelah membayar bill. Anna dan Arsya segera kembali.


Sesampainya di rumah Arsya mempersiapkan barang barangnya. "Kapan kau kembali, kenapa kau sudah mempersiapkan semua barangmu?"


Anna berdiri dengan tangan terlipat di dada menatap kegiatan Arsya yang sedang menata keperluannya.


"Besok pagi jam enam. Aku harus segera check-in." Ujarnya sambil memasukkan baju ke dalam koper. "Ini buku yang harus kau pelajari. Semuanya ada di sana. Bisnis tak semudah membalikkan telapak tangan. Semuanya adalah dasar dasar ilmu bisnis."


"Eh setebal ini." Anna menerima di kedua tangannya karena buku itu sangat tebal. Akan sangat malas jika harus membacanya.


"Ya. Segala macam dunia pemasaran ada di sana. Ah iya. Di dalam kulkas aku sudah mengganti semua makanan instan dengan berbagai sayuran dan buah buahan. Ingat untuk menjaga dirimu jangan makan mie instan meski kau malas memasak. Ada buah hatiku yang harus kau jaga." peringat Arsya seraya menutup koper.


"Arsya, sudah aku bilang. Kalau aku tidak hamil." Ujarnya dengan kesal.


"Tidak apa kau belum mengakuinya. Danni sudah membelikan ini berbagai merk. Jika hasilnya di ketahui segera periksa ke dokter." Ujar Arsya sembari memberi sepuluh barang kecil itu kepada Anna.


"Jika hasilnya negatif?"


"Berati itu belum keberuntunganku. Tapi aku bisa berusaha lagi." Anna langsung melebarkan matanya. Dengan spontan langsung menggeplak bahu Arsya dengan keras hingga pria itu mengaduh kesakitan.


"Sialan kau Arsya!" pekiknya penuh amarah.


"Yach, bagaimana lagi jika bukan seperti itu. Kau adalah istriku dan sudah kuumumkan ke seluruh dunia bahwa kau istriku. Kenapa kau selalu mengelak. Anna, meskipun dunia runtuh aku akan tetap mengatakan bahwa kau adalah istriku." Ujarnya penuh penegasan.


"Benarkah?"


"Ya. Sejak dulu sampai sekarang bahkan sampai masa depan. Sampai kapanpun kau adalah istriku." Ujarnya dengan tegas.


"Arsya! Kenapa kau sekarang bersikap seperti ini?" Anna bertanya dengan air mata yang tanpa sadar menetes di pipinya.


"Hei! Kenapa kau menangis?" Arsya langsung menarik Anna ke dalam dekapannya. Ia memeluknya dengan penuh kasih sayang. "Jangan menangis." Ujarnya sembari ujung ibu jarinya mengusap lembut di pipinya yang basah.


"Aku entah kenapa menjadi melow seperti ini. Setelah melihat sikapmu yang selalu membantuku. Mengajariku dengan sabar. Dan memperbaiki laptopku semalaman dan aku dengan tak tau dirinya menganggap bahwa kau yang selalu membuatku jengkel akan memberiku kesan buruk. Setelah sebulan setengah ini aku bersamamu. Aku menjadi berbeda menilaimu." Ujar Anna.


"Hm. Jadi...."


Anna langsung mendongakkan kepalanya menatap lekat mata hitam Arsya. Begitu juga Arsya langsung terpana akan tatapan mata Anna. Arsya tak bisa memungkiri di dalam tatapan itu seolah ia masuk ke dalam gelombang air.


Ia terbawa arus seolah membawa dirinya berada ke tengah lautan. Arsya tak bisa menahan segala gelombang itu. Lalu ia mendekatkan wajahnya sedikit demi sedikit. Tubuhnya sedikit membungkuk untuk bisa berdekatan dengan wajah Anna.

__ADS_1


Semakin dekat dan semakin dekat hingga Anna bisa merasakan hembusan nafas Arsya mengenai kulit wajahnya. Anna tanpa sadar memejamkan matanya. Arsya langsung mencium bibirnya dengan lembut.


Namun ciuman itu berubah dengan ******* kecil. Membuat perasaan mereka saling bergejolak. Seolah tubuh mereka terangsang dan meminta lebih. Arsya semakin tak tahan, ia membawa tubuh Anna berada di atas ranjang dan terus melanjutkan ciuman mereka hingga pasokan oksigen yang masuk ke dalam paru paru terasa menipis. Barulah Arsya melepas pagutannya.


Anna dan Arsya saling menghirup pasokan oksigen setelah ciuman itu terlepas. Terlihat sangat jelas jika rongga dada mereka naik turun secara kasar. Dahi Arsya langsung ia tempelkan di dahi Anna dan mereka saling tersenyum satu sama lain.


"Anna sebenarnya aku menginginkan lebih. Tapi disini belum tentu menerimanya." tangan Arsya meraba perut Anna yang masih datar.


"Aku pernah membaca artikel tentang ibu hamil. Jika trisemester pertama pada ibu hamil sangat rentan jika terjadi goncangan. Anna! Kau harus menjaga kesehatanmu dan juga kesehatan bayi kita. Aku tidak ingin terjadi apapun padamu selama aku tidak berada disini." lanjutnya berucap.


"Ya." Sahut Anna sambil menganggukkan kepalanya.


Arsya langsung membalikkan tubuhnya dengan menyamping. Satu tangannya langsung memeluk pinggang Anna.


"Sya, kenapa dulu kau tak bersikap seperti ini? Mungkin dengan seperti ini aku akan mempertimbangkan segala hal untuk tetap berada disisimu. Dan aku baru sadar ternyata kau begitu manis jika bersikap lembut seperti ini." Ujar Anna saat mereka saling terbaring.


Arsya tak bisa menahan tawanya. "Hahaha...benarkah!"


"Ya, andai wajahmu tidak kaku dan dingin mungkin banyak wanita yang terpesona padamu." Lanjut Anna.


"Yach, kau benar. Asal kau tau. Sebelum bertemu kau. Aku menganggap dunia sangat membosankan. Dan semuanya sangat tidak menarik."


"Apakah termasuk Linda?"


"Eh...."


"Kau bilang duniamu sangat membosankan. Menurutku, saat kau bersama Linda kau tetap berbeda. Kau selalu memperlakukannya dengan lembut meski wajahmu masih saja kaku."


"Lihatlah, kau lebih sering tertawa sekarang." Ujar Anna sembari menaikkan alisnya.


"Oh ya? Entah kenapa sejak bertemu dirimu duniaku berbeda. Kau waktu itu masih labil sangat keras kepala tapi penurut juga. Aku sangat terkesan saat di semua wanita ingin melakukan berbagai cara untuk bisa naik ke atas ranjangku tetapi kau malah menolaknya dengan keras bahkan berani kabur." Ujarnya mengingat tempo dulu.


"Ya karena kesal dengan sikapmu. Sudah tau kakiku terluka bahkan hampir lumpuh karena ulahmu tapi kau sama sekali tak berniat meminta maaf sedikitpun padaku. Dan hanya kakek yang waktu itu dengan tulus meminta maaf atas dirimu tapi ternyata malah awal dari kesialanku."


"Sampai segitunya kau menganggap pernikahan kita adalah sebuah kesialan?" Tanya Arsya tak percaya.


"Bagaimana tidak? Aku sangat tak terima orang yang menabrakku malah di jodohkan denganku. Menurutmu, apa yang seharusnya aku lakukan?" Tanya Anna menyerang balik.


"Baiklah. Kalau begitu aku minta maaf dengan tulus dari dalam hatiku." Ujar Arsya dengan ketulusan.


Anna tersenyum puas.


"Aku maafkan. Tapi kau belum menceritakan bagaimana kau dengan Linda. Meski kau berwajah kaku tapi hatimu tetap perduli dengannya?" Tanya Anna ingin mengetahui di balik cerita tentang Linda.


"Sebenarnya aku tak ingin menceritakan hal ini. Biarlah ini menjadi aib yang disimpan. Tapi karena kau bertanya, aku akan menceritakan sebagian. Tapi kau harus berjanji untuk tidak membenci sesuatu yang sudah terjadi."


"Hm baiklah." Jawab Anna sambil menganggukkan kepala.


"Sebelas tahun yang lalu. Aku menyukai seorang gadis. Dan sebelum aku mengenal gadis itu aku sudah berteman lama dengan Linda. Bahkan ketika kami masih berumur lima tahun Linda mengikatku jika saat dewasa nanti yang menjadi suaminya adalah aku. Tetapi aku tak bisa menepati janji itu lalu Dia sangat marah, Kemudian Linda membuat sebuah insiden.

__ADS_1


Wanita yang aku sukai di sekap di sebuah pabrik tua selama empat hari. Waktu itu Linda terus terusan menempel padaku. Jadi aku bersikap dingin kepadanya karena dia selalu memaksakan kehendaknya. Aku semakin tidak suka. Bersamaan itu aku tau jika wanita yang aku sukai disekap di pabrik tua.


Dengan intuisiku dan ilmu bela diri yang secuil. Waktu itu aku ingin menjadi pahlawan untuk menyelamatkannya. Tapi karena kalah jumlah, aku tak bisa melawan. Dan kami sama sama disekap. Saat aku tak sadarkan diri, aku mendengar gadis yang aku sukai diperkosa empat orang. Aku melihat gadis itu begitu menyedihkan."


Arsya terlihat terdiam menahan air matanya kala mengingat kejadian itu.


"Lalu apa yang terjadi, kenapa berhenti, kenapa kau tidak melapor polisi saja?" Tanya Anna.


Arsya tersenyum pahit dan kembali melanjutkan ceritanya. "Aku tak berpikir ke sana. Yang aku pikirkan adalah menyelamatkan gadis itu."


"Lalu bagaimana nasib gadis itu sekarang?"


"Setelah gadis itu diperkosa, mentalnya down. Dan setelah itu terjadi kebakaran di dalam pabrik. Aku tak bisa melihat jelas apa yang terjadi selanjutnya. Saat malam kebakaran itu terjadi aku terlalu banyak menghirup asap sampai paru paruku kolebs. Saat sadar, aku berada di rumah sakit.


Aku benar benar merasa gila karena insiden itu. Wanita yang aku sukai ikut terbakar di dalam api. Saat terakhir sebelum aku pingsan dalam kebakaran itu, aku sempat mendengar suara Linda. Jadi semua ini ada kaitannya dengan Linda.


Tapi sayangnya, saat aku benar benar menyelidiki kasus ini, Linda memiliki akal bulus. Agar aku tidak melanjutkan kasus ini sementara aku yang dituduh menghamilinya."


"Jadi kau dijebak?"


"Kemungkinan seperti itu. Malam itu aku di buat mabuk olehnya karena aku harus menemaninya pergi ke bar. Jika dipikir pikir, orang yang tertidur tidak mungkin bisa meniduri orang kan? Aku merasa curiga dengan hal itu bersamaan mencari bukti kau selalu membuat ribut denganku."


"Itu.. Kenapa kau tidak menjelaskannya padaku?" Anna langsung menggeplak lengan Arsya yang masih setia melingkari pinggang Anna.


"Aku tak bisa menjelaskan sesuatu rencana yang sedang aku jalankan. Jika itu sampai bocor tentu saja rencanaku akan menyerang balik. Aku hanya berpikir dengan mempertahankanmu disisiku, itu sudah cukup bagiku untuk bisa merilekskan pikiranku."


"Ternyata kau merencanakannya dengan teliti. Dan aku juga turut berduka cita atas meninggalnya mantan kekasihmu." Ujar Anna.


"Sekarang bagaimana perasaanmu. Aku sudah menceritakan ceritaku. Apa kau sudah puas?" tanya Arsya sembari membelai rambut Anna.


"Bolehkah aku tau mantan kekasihmu. Cerita yang kau ceritakan seolah aku pernah mendengarnya."


"Jika aku mengatakannya. Apakah kau akan cemburu?"


"Ck. Yang benar saja Arsya. Dia sudah meninggal dan aku masih hidup. Untuk apa aku cemburu pada orang yang sudah mati." Anna tertawa geli mendengar perkataan Arsya.


"Hehe benar juga." Arsya ikut tertawa. "Namanya Anzel." Ujar Arsya menyebut namanya.


Deg


Anna langsung menoleh dan menatap Arsya yang masih tertidur miring sambil menatapnya.


"Aku tau jika dia adalah kakakmu. Maafkan aku karena aku tak bisa melindunginya."


Anna kemudian menatap langit langit kamarnya. "Jadi yang membunuhnya Linda." Anna langsung merasa sedih.


"Anna, sebelumnya aku sudah bilang padamu untuk tidak membenci sesuatu yang sudah terjadi kan." Arsya kembali memperingatkan.


"Aku tidak membencinya. Hanya terkejut saja."

__ADS_1


"Baiklah, sekarang ayo tidur. Sudah malam. Besok aku akan kesiangan jika terus terjaga."


"Ya." setelah itu Anna memejamkan mata. Begitu juga Arsya yang tak membutuhkan waktu lama sudah terdengar dengkuran halus.


__ADS_2