Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 30


__ADS_3

Setelah menyimpan telepon, Arsya bergegas keluar dan mencari keberadaan Anna. Tapi ia tak menemukan. Waktu sudah menunjukkan sore hari. Para pekerja bergegas kembali ke rumah masing masing. Arsya segera pergi ke sana dan menanyakan Anna. Dan mereka menjawab jika Anna sudah pulang.


Arsya kembali ke rumah penelitian lalu menutup pintu tak lupa menguncinya. Kemudian bergegas pergi ke rumah Anna. Sesampainya di sana ia tersenyum lega.


"Anna. Ini kuncinya." Ujar Arsya memberikan kunci. Anna sedang duduk menikmati teh panas sambil menonton tv.


"Ya. Terima kasih karena kau sudah menguncinya." Ujarnya cuek.


Arsya merasa Anna sangat cuek kepadanya dan langsung bertanya. "Kenapa kau cuek sekali padaku?"


"Tidak. Itu hanya perasaan kau saja. Aku biasa aja."


Entah kenapa Arsya merasa sensitif sekali. Ia langsung bersedekap dada sambil mengerucutkan bibirnya. Anna meletakkan cangkir tehnya sambil melirik ke arah Arsya.


"Kenapa kau cemberut?" tanya Anna sambil mengerutkan keningnya.


"Kau marah padaku?"


Anna hanya bisa menghela nafas kemudian duduk menyerong. "Apaan sih Sya. Kenapa kau begitu sensitif sekali. Bukankah aku sudah bilang kalau tidak apa apa." Ujarnya bak seorang ibu yang menasehati anaknya.


Arsya langsung tersenyum. "Baguslah, besok aku akan pergi melakukan pertemuan. Kau jangan macam macam." Ujar Arsya memberi wejangan.


"Macam macam apaan Sya. Kau aneh."


Arsya mengernyitkan keningnya. "Aku hanya menjaga calon anakku."


Mata Anna melebar. Lalu menoleh ke samping. Sementara Arsya duduk bersandar dengan santai tanpa tidak merasa bersalah apapun dengan ucapannya.


"Sudahlah, aku akan kembali bersiap. Setelah hari itu aku akan mulai tinggal disini. Lalu menjagamu setiap waktu. Calon anakku harus terlindungi dengan baik." Ujarnya santai lalu beranjak dari sofa.


Anna tak bisa berkata apapun selain mengatupkan bibirnya dengan kesal. Punggung lebar itu telah melewati pintu hingga pintu kembali tertutup. Anna menundukkan pandangannya ke perut yang masih rata itu dengan tak percaya.


Saat di keesokan harinya Arsya tak datang ke tempatnya lagi. Dan sesuai dengan ucapan pria itu akan melakukan pertemuan entah berapa lama. Anna berpikir keras sambil terus menatap perut rata itu.


"Apakah aku hamil." Ujarnya dengan gumaman pelan. Tepat saat itu Elmo datang membawakan bunga yang baru saja ia petik.


"Noni!" Sapa Elmo.


Anna terperanjak kaget kala suara Elmo menyadarkan lamunannya.


"Elmo, ada apa?" tanya Anna kembali ke wajah semula.


Elmo yang tadinya terhenti di pintu segera masuk. "Aku membawakan bunga untuk Noni. Oh ya di luar ada orang. Noni, dia mau bertemu dengan Noni."


"Em. Siapa?"


"Tidak tau, aku lupa bertanya. Orangnya tinggi dan tampan. Oh ya Noni, sejak tadi aku lihat Noni melihat kebawah ada yang jatuh?"


Anna tertegun sesaat, Kemudian menggeleng. "Tidak ada!"


"Baiklah, bunganya aku letakkan di meja. Noni, aku kembali ke ladang." Ujar Elmo setelah berpamitan ia kembali ke ladang.


"Ya." Sahut Anna.


Setelah kepergian Elmo, Anna merasa penasaran. Siapa yang ingin bertemu dengannya? Setelah membereskan peralatannya, ia segera keluar dan mencari orang yang di maksud Elmo.


Anna berjalan di sekitar ladang hingga menemukan seorang pria jangkung berjas hitam yang menawan. Anna segera menghampirinya.

__ADS_1


"Halo, ada yang bisa saya bantu." Ujarnya dalam bahasa inggir dengan lancar.


Pria berjas hitam seketika membalikkan tubuhnya sembari membuka kaca mata hitamnya dengan gerakan menawan.


"Halo Noni." Ujarnya dengan senyuman lebar.


"Pak...Pak Roni. Ternyata pak Roni..." Ujar Anna tak percaya.


"Hahaha...kejutan." Roni tertawa lebar. "Sudah lama aku meninggalkan Amsterdam ternyata tidak ada yang berubah. Noni, bagaimana kabarmu?" Tanya Roni.


"Baik Pak Roni, ayo ke tempat penelitian, aku akan membuatkanmu teh mawar sambil berbincang." Ujar Anna sembari mengajak Roni bernaung di tempatnya sambil menikmati teh mawar buatannya.


"Haha ide yang bagus. Sudah lama aku tidak mencicipi teh mawar buatanmu. Aku jadi rindu dengan teh mawar buatanmu." ujarnya tampak senang.


"Ayo!" Anna berjalan di depan memimpin jalan dan Roni mengikuti di belakang.


Sampai di rumah penelitian, Roni terharu dengan isi rumah itu yang sama seperti semula. Tetap rapi dan nyaman. "Pak Roni, silahkan duduk. Aku akan mengambilkan teh mawar untukmu."


Roni segera duduk di kursi sambil melihat seluruh isi ruangan itu. Sementara Anna masuk ke dalam dan membuatkan teh mawar. Tak lama ia kembali ke luar dengan nampan yang berisi dua cangkir teh dan beberapa camilan.


"Silahkan diminum!" ujarnya sembari meletakkan cangkir teh di hadapan Roni. Kemudian ia duduk di hadapan Roni.


"Terima kasih." Ujar Roni lalu mengambil cangkir teh mawar dan menyesapnya secara perlahan. Dia sangat menikmati rasa dan aroma mawar yang khas sehingga merasa ketagihan dengan rasa itu. "Masih sama seperti dulu. Sangat enak teh mawar buatanmu."


"Haha, pak Roni bisa saja. Oh, ya. Pak Roni sudah selesai mengerjakan pekerjaan di korea?"


"Sudah selesai, tinggal menunggu peresmian pembukaan saja. Dan itu menunggu presdir sendiri yang datang. Jadi selama menunggu aku masih ada waktu luang buat menyapamu."


"Haha." Anna hanya bisa tertawa.


Disisi lain di kapal pesiar.


"Eli, kau jangan mempermalukan papa. Kau sekarang sedang berhadapan dengan keluarga terbesar kedua. Jika kau berbuat ulah maka keluarga kita dalam kesulitan." Ayah Eli memperingatkan.


"Tapi pa..."


"Aku tau kau saat ini sedang menyukai seseorang. Tapi papa tidak menyetujui hubunganmu dengannya." ujar sang ayah tidak senang.


Eli tidak berani membantah selain mengikuti aturan sang ayah. Sementara Arsya langsung memulai memperkenalkan maksud dan tujuannya kepada tuan Axcel.


Tuan Axcel merasa senang dan tertarik dengan bisnis yang dirancang oleh Arsya.


"Anak muda seperti kau ternyata bisa di andalkan. Sebelum aku bertemu dengan kau, aku sungguh tak percaya dengan mereka. Mereka tidak bisa di andalkan selain itu selalu membuat onar." Tuan Axcel memperlihatkan rasa ketidak senangannya.


"Hm, tentu saja tuan Axcel. Aku adalah orang pekerja keras tak akan merugikanmu. Jadi percayakan saja padaku." Ujar Arsya bangga.


"Baiklah. Kita disini saja. Besok aku akan pergi ke ladang yang kau maksud itu. Jika aku tak tertarik maka aku tidak mau melanjutkan bisnis ini." Ujarnya.


"Oke." setelah itu tuan Axcel pergi.


Arsya menghabiskan anggurnya hingga tandas dan keluar dari pesta itu. Ia memilih pergi ke geladak kapal dan menikmati angin malam di sana.


"Presdir." Danni segera datang mengikuti.


Arsya memandang lurus tanpa melihat kedatangan Danni. "Menurutmu, bagaimana perkembangan perusahaan. Sejak bibi kembali aku tak mendapatkan kabar apapun dari kakek." Ujar Arsya memandang laut gelap di hadapannya.


"Itu..."

__ADS_1


"Katakan dengan jelas." ujar Arsya penuh ketegasan.


"Baik. Tuan besar sudah mengalihkan lima persen saham kepada nyonya Andini. Tapi dengan syarat."


Arsya mengerutkan keningnya. "Syarat! Syarat apa?" tanya Arsya.


"Nyonya Andini tidak boleh pergi ke perusahaan. Dia akan mendapatkan keuntungannya saja. Dengan saham lima persen ini nyonya Andini sudah mendapatkan uang yang berlimpah. Setelah itu nyonya juga tidak boleh campur tangan jika ada kekacauan di perusahaan."


Arsya mengangguk, pantas saja tidak ada kabar apapun dari negaranya. "Brian?"


"Tuan Brian tidak ada, dia tidak perduli dengan keadaan ibunya. Dia terus bekerja membangun usahanya sendiri."


"Hem."


"Arsya!" bersamaan Danni selesai melaporkan Eli malah menyapa. Arsya melambaikan tangan kepada Danni agar segera pergi. Arsya menoleh dan tersenyum.


Danni menunduk hormat dan berlalu.


"Nona Eli, bukankah pestanya masih. Kenapa nona Eli berada disini?" tanya Arsya tampak acuh tak acuh.


Eli merasa kecewa kala Arsya tetap memanggilnya Nona. Dia juga tampak tidak senang dengan kehadirannya. Tetapi ia tetap tersenyum dan menyembunyikan emosinya dengan baik.


"Benar. Tapi aku sudah pernah bercerita kepadamu sebelumnya. Aku tak terlalu menyukai sebuah pesta. Aku datang karena sebuah identitas. Jadi aku terpaksa datang dengan identitasku." Ujarnya tenang.


Arsya mengambil botol anggur dan menuangkan ke dalam gelas. Lalu menyesapnya.


"Ngomong ngomong malam itu...."


"Oh, malam itu aku sangat berterima kasih kepada nona Eli." Ujar Arsya segera memyela.


Eli tersenyum. Lalu menunduk dan menepuk nepuk perut ratanya dengan senang. Itu artinya Arsya sedang mengakui malam yang pernah mereka lakukan.


"Oh ya nona Eli. Sepertinya angin laut tidak baik untukmu. Kita masuk saja." Arsya meletakkan gelasnya dan berkata dengan pengertian.


Pipi nona Eli langsung memerah dan menoleh ke arah laut yang menghembuskan angin kencang menyapu seluruh tubuhnya.


"Benar. Angin laut jika malam hari terasa kencang. Di dalam akan terasa hangat. Ayo masuk." Ujarnya tetap elegan.


Arsya menggandeng lengannya dan masuk secara bersama sama. Dan itu tertangkap oleh sepasang mata yang sejak tadi melihatnya. Pria itu hanya tetap berdiri angkuh tidak melakukan apa apa, selain mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya.


Pertemuan di kapal pesiar berlangsung dalam tiga hari. Setelah hari itu Arsya kembali bersama Danni yang mengikuti. Setelah kapal menepi sekelompok mobil BMW meluncur.


Arsya masuk ke dalam mobil. Kemudian melaju meninggalkan pelabuhan. Dia berdecak pelan kemudian bertanya kepada Reimond sopir pribadinya.


"Siapa yang menyuruhmu datang kemari. Bukankah aku sudah berpesan untuk tetap bersiaga di sana. Untuk apa kalian menyusulku." Ujar Arsya dengan tidak senang.


"Maaf tuan muda. Ini sebuah perintah dari tuan besar untuk tetap melindungi tuan muda. Jika tidak? Kami..."


"Ckckck...kakek tua itu selalu sok berkuasa. Apa maksudnya ini? Jika nona muda tau kalian datang seperti ini takutnya dia akan kabur lagi."


Reimond mengepalkan tangannya dengan erat pada pegangan setir. Dia merasa sangat bersalah karena tidak mematuhi aturan Arsya.


"Maaf tuan. Aku pantas dihukum karena tidak mematuhi peraturan anda."


"Sudahlah. Kalian sudah berada disini. Percuma juga mengeluarkan tenaga memarahi. Setir mobil dengan baik." Ujarnya tegas.


"Baik." Reimond melirik ke arah Danni yang duduk di sampingnya. Tetapi Danni tidak berkata apapun selain menghela nafas.

__ADS_1


Reimond meringis, sepertinya Danni juga tidak mempunyai solusi terhadapnya. Karena Danni hanya menatapnya saja dengan mengendikkan bahunya.


__ADS_2