Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 14


__ADS_3

Setelah menghabiskan makan siang mereka. Kini saatnya membayar tagihan. Arsya berpura pura, dan mengeluarkan dompetnya. Awalnya direktur Roni merasa senang karena semua makanan ini akan ditraktir oleh Arsya. Jarang jarang presdir di perusahaannya mau mentraktirnya makan.


Direktur Roni tampak matanya berbinar. Tetapi sesaat kemudian tatapan matanya menyusut tatkala Arsya kembali memasukkan dompetnya ke dalam kantong celana.


"Sepertinya aku tidak punya uang cash. Roni! Kenapa tidak kau saja yang membayar? Itung itung untuk mengganti uangku yang dulu membantumu menutupi kerugian proyekmu." ujar Arsya tanpa canggung.


Direktur membelalakkan matanya karena Arsya malah mengungkit hal itu. Dia sangat malu karena hal ini juga didengar oleh orang yang ia taksir. Semiskin itukah dia sampai kerugian proyek yang menanggung semuanya adalah Arsya.


"Baik presdir." Direktur Roni mendesah pelan dan hanya bisa menundukkan kepalanya. Sesuai kriterianya bahwa presdir memang sangat kejam. Batin direktur Roni meronta.


Saat direktur Roni pergi membayar bil. Arsya segera mengambil cincin dibawah telapak kakinya. Ia mengantonginya sebentar.


"Arsya, kau keterlaluan sekali." Anna menyadari jika Arsya memang berniat menindas direktur Roni.


"Cih. Sebanyak apapun kau membelanya. Aku tak mau kau di sentuh olehnya."


"Kenapa kau sangat posesif sekali sih sekarang." kesal Anna.


"Posesif? Bukankah aku dari dulu seperti ini." Arsya menyeringai seraya mengernyitkan alisnya.


"Tapi kau lebih parah yang sekarang." Ujar Anna lalu beranjak dari kursinya.


"Huft." Arsya menghela nafas.


Tak berapa lama Direktur Roni kembali setelah membayar tagihan bill. Saat tak melihat Anna. Direktur Roni segera bertanya.


"Kemana Noni?" tanya Direktur Roni.


"Pergi!" sahut Arsya singkat. Setelah meminum air putih, kembali lagi Arsya mengingatkan.


"Direktur Roni, dulu sudah kuperingatkan untuk tidak mendekati orang yang sudah bersuami. Dia itu sudah menikah." lanjut Arsya.


"Tapi dia bilang, dia tidak. Dan dia mau menerima perasaanku padanya." jawab direktur Roni dengan polos.

__ADS_1


Arsya meletakkan gelasnya dengan kencang. "kalau begitu, anggap saja angin lalu." lalu Arsya bangkit dari kursinya.


Beberapa saat kemudian, Ketiga manusia itu sudah berada di dalam mobil yang sama untuk menempuh perjalanan pulang. Saat sampai di rumah sudah pukul lima sore. Direktur Roni setelah menurunkan barang belanjaan Anna, ia kembali ke penginapan karena harus segera berkemas akan terbang ke korea.


Sementara Arsya tidak langsung pulang. Justru ia dengan santainya masuk ke dalam rumah Anna dan membawa barang belanjaannya masuk dan menaruhnya di atas meja.


Anna baru sadar jika Arsya tak kembali pulang tetapi malah duduk dengan santai di sofa diruangan sambil menonton televisi.


"Arsya. Sudah sore. Aku mau bersih bersih dan langsung mandi." Ujar Anna yang seharusnya mengingatkannya dalam artian mengusir Arsya dengan halus.


"Silahkan. Aku kan hanya duduk disini. Dan aku tidak menghalangimu untuk melakukan apapun." jawab Arsya malah menyenderkan punggungnya dan menaikkan kakinya ke atas meja.


"Ugh, sialan! Kenapa aku harus bertemu dengan orang yang naif seperti ini." geram Anna dengan suara pelan. Arsya yang mendengar gumaman pelan itu hanya tersenyun tipis dan lanjut melihat tivi.


Anna hanya bisa mendumel dan pergi mandi. Seusai mandi. Anna pergi mengambil sapu dan menyapu lantai. Ia berjalan kesana kemari dengan berada di depan Arsya menghalangi pandangan pria itu yang masih menatap lurus ke arah depan tivi.


Tapi nyatanya, pria itu tak terusik sama sekali. Bahkan ia setelah menyapu. Ia mengepel lantai. Ia sudah menggosok gosok lantai dibawah kursi yang diduduki Arsya. Sampai kakinya yang panjang ia dorong dorong. Tapi tetap saja pria itu tak terusik.


"Arsya. Kau ini apa apaan sih. Sudah malam begini. Apa kau tidak risih mengenakan baju yang sama dengan tadi siang. Dan kau juga bau karena belum mandi." Anna menutupi hidungnya bermaksud menyindirnya.


"Oh iya. Jika kau tidak bilang, aku hampir lupa." Arsya segera bangkit dari kursinya dan bermaksud masuk ke dalam kamar mandi.


"Astaga. Arsya! Pintunya tidak di situ. Tapi di sana!" Anna menunjuk pintu keluar rumahnya. Arsya menoleh sedikit ke arah Anna.


"Oh ya lupa." Arsya kembali berbalik dan berjalan menuju pintu luar.


"ARSYA!" pekik Anna. Arsya pun tersenyum lalu berbalik.


"Ya sayang!" sahut Arsya dengan lembut.


Anna memelototinya dengan kejam karena panggilan itu membuatnya merasa risih. Tetapi ia bersikap dingin dengan bersedekap di dada.


"Barang belanjaanmu ketinggalan." Ujar Anna seraya mengendikkan dagunya ke arah godie bag yang berada di atas meja.

__ADS_1


"Wah, aku hampir lupa jika tidak kau ingatkan. Jika tidak, aku pasti akan mencarinya." Ujar Arsya dengan santai.


"Dan satu lagi, Belanjaanmu tadi siang menghabiskan 15598,36 euro. Dan kau harus membayarnya setengahnya sesuai dengan barang belanjaanmu sekitar 10.894,82 Euro." peringat Anna.


"Oke!" Arsya langsung mengeluarkan dompetnya dan menarik satu atm dari dalamnya lalu memberikannya kepada ini dengan menjempitnya di antara kedua jarinya.


"Kata sandinya adalah hari ulang tahunmu." Ujar Arsya.


Anna membelalakkan mata dan tidak langsung mengambilnya. Jadi Arsya hanya meletakkannya di atas meja lalu berbalik pergi. Anna bersikap acuh, namun saat Arsya berbalik. Anna memandang punggung itu hingga terhalang oleh pintu. Ia mendesah pelan lalu mengambil kartu atm itu.


Keesokan paginya.


Direktur Roni sudah bersiap pergi ke korea. Namun sebelum pergi, ia menengok ke arah lahan kebun mawar. Perasaannya terlalu dalam. Bahkan kebun mawar itu juga memberi kenangan dalam ingatannya.


"Mr, apakah berangkat sekarang." sebuah suara sopir menyadarkan direktur Roni. Ia segera menoleh dan menatap ke depan.


"Berangkat." Sahut direktur Roni.


Mesin mobil taksi menyala dan perlahan melaju meninggalkan lahan kebun mawar. Sebelum ia pergi, ia menyempatkan melihat kebun mawar terlebih dulu. Tapi karena berangkatnya terlalu pagi. Ia hanya melihat dari kejauhan tanpa turun dari dalam mobil.


Arsya mengingat jika pagi ini direktur Roni sudah berangkat ke korea. Ia hanya tersenyum tatkala Danni masuk dan membawakan sarapan untuk Arsya.


"Ekhem." dehem Danni saat masuk ke dalam kamarnya.


Arsya melunturkan senyumannya dan kembali berwajah datar lalu melihat Danni yang melangkah masuk sambil membawa nampan yang berisi makanan.


"Ketok pintu dulu baru masuk." peringat Arsya.


"Maaf presdir, saya sudah mengetuk pintu beberapa kali. Tapi presdir tidak menyahut. Takutnya terjadi sesuatu kepada presdir jadi segera masuk." Sahut Danni.


"Ngeles aja kamu. Sudah sana kembali. Dan letakkan sarapannya dimeja." Ujar Arsya.


"Baik." setelah meletakkan sarapan di atas meja. Danni segera pergi dan menutup pintu.

__ADS_1


__ADS_2