
Sejak saat itu, Anna tidak bisa bebas lagi. Setiap jam pulang sekolah, Arsya mengaturkan les privat padanya, saat di malam hari setiap sepulang kerja Arsya akan mengetes pelajaran yang ia pelajari.
Saat ini Arsya selalu pulang tepat waktu, tidak membiarkannya memberi celah sedikitpun. Saat makan pun di atur waktunya. Ini membuat Anna tak bisa pergi kemana mana seperti dahulu.
Setelah tiga hari dirawat dirumah sakit, Akhirnya Linda diperbolehkan pulang. Arsya setiap pulang kantor akan menjenguknya sebentar. Linda sudah merasa senang. Dengan demikian hubungannya yang gelap akan menjadi terang dan transparan.
Maka Herman tak akan lagi menentangnya, ia juga menemukan sebuah lampiran saat berada diruang kerja Arsya. Tanpa sengaja ia membacanya, dan dalam waktu satu tahun mereka berdua akan menjalani pernikahan. Setelah Anna lulus Arsya akan menceraikannya.
Seolah mendapat oase ditengah gurun pasir. Linda sangat percaya, bahwa ia akan memiliki kesempatan. Ia menyimpan foto yang ia ambil saat berada di hotel royal tempo hari. Ini bisa menjelaskan bahwa Arsya sangat peduli kepadanya.
Di hari sabtu. Anna masih menjalani les privat seperti biasa padahal esok harinya sudah hari minggu.
"Sya, besok adalah minggu. Mengapa masih ada les privat?" Tanya Anna saat sedang bertelepon dengan Arsya yang masih sibuk dikantor.
"Agar kamu mendapat nilai terbaik. Sudahlah, kamu kerjakan saja apa yang aku siapkan. Aku masih ada banyak urusan. Setelah selesai aku akan mengajakmu keluar."
"Ugh, benarkah?" Mata Anna berbinar terang.
"Ya." setelah itu telepon terputus. Anna tak bisa berhenti tertawa. Akhirnya ia mendapat kebebasan setelah jam les ptivat selesai.
Anna pun mengikuti les dengan lancar, apa yang tak bisa ia kerjakan akhirnya bisa terselesaikan dengan mudah. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Tapi arsya belum kunjung pulang. Biasanya pria itu akan pulang jam 7. Anna merasa gelisah, ia sudah menunggunya satu jam. Ia juga sudah berpakaian rapi.
Hingga pukul sepuluh malam, Anna masih menunggu tetapi Arsya juga belum kunjung pulang. Anna merasa sangat mengantuk. Dia melewatkan makan malamnya dan tertidur di sofa.
Malam ini, Arsya ada sebuah perjamuan dengan keluarga Suntoro. Ia lupa jika malam ini juga menjanjikan akan pergi bersama Anna. Ia melihat jam tangannya sudah jam 12 malam. Ia bergegas berpamitan dengan kepala keluarga Suntoro dan pulang.
Saat sampai divilla kediamannya, Ricky seperti biasa datang menyambut didepan pintu. Ia melaporkan segala hal yang ada dirumah, termasuk Anna.
"Tuan Arsya, nona muda menunggu anda sejak jam 7. sampai sekarang ia masih menunggu anda."
"Apa!" Arsya terkejut.
Ricky membawanya ke ruangan tengah dengan televisi yang masih menyala. Anna masih mengenakan rok terusan berenda dengan panjang selutut. Rambutnya yang hitam mengulur keluar terjatuh kebawah. Ia tertidur pulas di atas sofa panjang. Ia menggenggam ponsel ditelapak tangannya.
Alarm akan berbunyi setiap satu jam sekali. Anna akan terbangun dengan suara alarm yang membangunkannya.
"tringgg tringgg
Kelopak mata Anna bergerak, ia melihat layar ponsel sudah menunjukkkan jam 12 malam lebih. Ia bergerak dan mematikan alarm. Saat ini pergerakan tangannya menekan tombol untuk mematikan alarm.
Ada sebuah gerakan tergesa berjalan ke arahnya, ia segera menoleh. "Arsya!" Anna segera terduduk dan melihat pergerakan Arsya yang berjalan mendekat.
"Kenapa kamu tidur disini?" Tanya Arsya yang kemudian duduk di samping Anna.
"Aku menunggumu!" Sahut Anna dengan suara yang masih lemah.
"Ini sudah larut. Kamu tak perlu menungguku. Ayo ke kamar." ajak Arsya dan memapah Anna menuju kamar lantai atas.
"Tidurlah, aku akan mandi." Ucap Arsya kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Dengan pakaian yang sama, Anna tidak memikirkan hal apapun jadi ia kembali tidur. Saat Arsya keluar kamar mandi, ia menggelengkan kepalanya dan menyunggingkan senyuman. Setelah mengganti dengan pakaian tidur, arsya merangkak naik ke atas ranjang dan bersiap tidur.
Saat keesokan harinya, adalah hari libur. Jadi Arsya tak lekas bangun karena terlalu lelah. Anna bangun terlebih dulu saat ada suara burung yang setiap pagi berkicau di atas dahan pohon.
Tiba tiba, ia teringat dengan semalam. Ia berjam jam menunggunya sampai tertidur di sofa ruangan tengah. Di dalam hatinya merasa kesal dan dongkol. Tanpa sadar ia menarik kakinya dan menendang Arsya hingga terjatuh dari ranjang.
"Duk!"
"Ah!" Arsya mengerang saat tiba tiba dirinya didorong kuat oleh Anna. Ia pun terjatuh dari atas ranjang.
"Rasain!" Ucap Anna tanpa sadar.
"Woi, kenapa kamu mendorongku?" Tanya Arsya dengan linglung.
"Tentu saja, supaya kamu sadar karena kamu telah ingkar janji." Balas Anna kemudian ia merangkak turun dan pergi masuk ke dalam kamar mandi.
Namun sebuah bayangan hitam melaju dengan pesat dan menghalangi jalannya. Arsya mengulurkan tangan ke tembok dengan tubuh menutupi pintu kamar mandi. Anna tercengang. Ia menaikkan kelopak matanya dan menatap Arsya yang berdiri menatapnya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Anna cemas.
"Tentu saja membalas tindakanmu yang ceroboh!" Setelah mengatakannya Arsya membalik tubuh Anna ke tembok.
"Ar...Arsya!" Wajah Anna menjadi panik. Arsya menaikkan sudut mulutnya ke atas.
"Karena kamu telah membangunkan singa sedang tidur maka kamu harus mendapatkan hukuman!" Ucap Arsya dengan senyum menyeringai.
"Ugh...." Anna tak bisa bernafas karena ciuman Arsya yang tiba tiba. Ciuman itu semakin dalam dan semakin menggila. Arsya tak dapat menarik tubuhnya karena ada sensasi yang sangat manis keluar dari bibir Anna.
Nafas Anna semakin menipis, tanpa sadar tangannya mendorong dada Arsya hingga mundur. Barulah Anna menghirup oksigen sebanyak banyaknya dengan rongga dada naik turun dengan cepat. Ia mengusap mulutnya dengan lengannya.
"Kamu...sialan Arsya!" Pekik Anna menggebu gebu karena amarah.
Arsya menaikkan sudut mulutnya, dengan santai mengusap sudut mulutnya dengan ibu jari.
"Sangat manis!"
Mata Anna terbelalak karena kesal dan tak menduga dengan ucapan Arsya. "Ih nyebelin!" pekik anna kemudian ia berbalik dan masuk ke dalam kamar mandi.
Arsya tersenyum miring. Entah kenapa ia selalu menjadi gila jika bersama Anna, ia kembali menuju ke tempat tidur sekedar mengambil ponselnya dan menilik jam bahwa sudah jam 6 pagi.
Arsya masuk ke dalam walk in closet mengganti pakaiannya dengan kaos oblong di lapisi jaket hodie hitam dan dipadukan dengan celana training. Penampilannya sungguh menakjubkan. Bahkan ia sepuluh kali lipat lebih tampan di banding mengenakan stelan resmi yang biasa ia pakai pergi ke kantor.
Sementara Anna di dalam kamar mandi membasuh bibirnya berulang kali, agar rasa bibir Arsya yang mencecapnya tadi bisa menghilang tanpa meninggalkan jejak. Tetapi semakin kesini, anna semakin kesal karena rasa itu masih tertinggal jelas di bibirnya dan terukir jelas di otaknya. Ia beberapa kali selalu menyekanya bahkan kulitnya menjadi merah dan bahkan kulitnya hampir terkelupas.
Tok tok
Anna menoleh ke arah pintu dengan kesal. Lalu berteriak dari dalam kamar mandi.
"Siapa?" Tanya Anna.
__ADS_1
"Aku. Aku menunggumu dibawah kita lari pagi bareng." Jawab Arsya dari balik pintu kamar mandi. Anna mengerutkan keningnya.
"Cepatlah keluar!" Pekik Arsya lagi.
Anna berjalan ke arah pintu dan membukanya. Ia menatap Arsya yang berdiri didepan pintu telah siap mengenakan setelan baju olahraga tak lupa dengan sepatu olahraganya.
"Ayo cepatlah!" Arsya mengulangi kata katanya dengan tak sabar.
Anna menarik kesadarannya dan menatap Arsya. "Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu."
Arsya berlalu meninggalkan Anna untuk berganti baju. Setelah sepuluh menit berganti pakaian dengan outfit kaos oblong berwarna putih yang pres bodi dipadukan dengan celana training sepertiga tak lupa juga mengenakan topi dengan rambut yang ia kuncir tinggi. Dan sepatu olahraga yang berwarna putih. Ia terlihat sangat cantik meski tanpa riasan apapun.
Ia keluar kamar dan menuruni tangga. Di pekarangan villa depan Arsya sudah menunggu dengan melakukan pemanasan terlebih dahulu. Saat Anna sudah keluar melalui pintu utama. Arsya berhenti sejenak untuk melihat penampilan Anna yang mengensankan. Ia tercengang sesaat sebelum akhirnya ia menarik pandangannya kelain arah untuk menutupi rasa grogi yang tiba tiba muncul dihatinya.
"Ayo berangkat!" Ucap Anna tatkala dirinya telah sampai dihadapan Arsya.
Arsya menoleh dan menatap Anna sekilas kemudian ia mengangguk dan mulai start melakukan lari lari kecil sebagai pemanasan. Anna berlari mengikuti.
"Ini termasuk menepati janjiku." tiba tiba Arsya berucap dengan senyuman dimatanya. Anna terbelalak.
"Janji apaan. Ini...kamu...." Anna tak bisa berkata kata. Ia semakin kesal terhadap Arsya.
Anna berlari lebih kencang mengejar keterlambatannya dibelakang Arsya. Tetapi Arsya justru menambah kecepatan larinya. Anna berlari terengah engah karena kejarannya tak mencapai. Ia sesekali berhenti untuk mengambil nafas dalam dalam. Sementara didepan Arsya memimpin. Dengan senyum menyeringai ia melirik Anna dibelakangnya.
"Arsya!" pekik Anna karena terlalu lelah tidak bisa mengejarnya.
Arsya tersenyum miring dan berbalik. Ia berlari ditempat dengan menatap Anna yang menundukkan badannya dengan nafas tersengal.
"Kakimu terlalu pendek, makanya kamu harus sering olahraga biar cepat tinggi." Arsya tersenyum mengejek.
"Apa.....?" Anna tak terima dengan ejekan Arsya barusan.
Anna semakin kesal, dia mengambil ancang acang dan berlari kencang. Arsya yang melihat wajah Anna memerah segera membalikkan badannya dan berlari seperti biasa. Dibelakang Anna mengejar tanpa lelah.
Ini sudah putaran ke tujuh. Anna merasa tubuhnya sangat lelah. Ia akhirnya menyerah dan menghentikan langkah kakinya. Ia tak bisa menahan nafasnya yang semakin tersengal.
"Ini baru tujuh putaran loh," Ucap Arsya berlari di samping Anna.
Anna terbelalak karena penuturan Arsya yang mengatakan sudah tujuh putaran. Ini pertama kalinya ia berlari sejauh itu. Ia menoleh kebelakang menatap arena pekarangan villa yang luas. Ia bahkan tak percaya dengan apa yang ia lakukan.
Arsya tersenyum, berhenti berlari dan mengambil botol minuman dingin yang ia siapkan sebelumnya. Ia melemparkan ke arah Anna.
"Minum dulu, kamu pasti lelah." Ujar Arsya.
Anna tanpa persiapan segera menangkap botol minuman yang dibawa Arsya. Perlahan ia meneguknya untuk menenangkan rasa terkejutnya.
"Sungguh patuh. Nanti siang kita pergi jalan jalan." Ucap Arsya mengusap pucuk kepala Anna.
"Hah!"
__ADS_1