Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Empat Puluh Empat


__ADS_3

"Hah." Anna tercengang ketika Arsya mengucapkan kata katanya yang selalu memberinya janji.


Tanpa sadar tubuh Arsya berjalan melewati dan masuk ke dalam villa. Anna tersadar dengan hembusan angin yang menerpanya kemudian mengejar langkah Arsya hingga memasuki Villa.


Anna berjalan lebih cepat dan menahan lengan Arsya hingga langkahnya terhenti, Ia membalikkan tubuhnya menurunkan kelopak matanya menatap tangan Anna yang memegangnya.


"Jangan mengumbar janji janji." Pekik Anna dengan nada kesal.


Arsya menaikkan tatapannya, wajahnya terlihat serius. "Umbar janji?" Arsya menaikkan sebelah alisnya.


"Ya, kamu semalam lupa? Atau kamu sudah pikun. Aku menunggumu sampai lumutan. Seenggaknya bilang kalau mau membatalkan janji. Kamu tau enggak sakitnya kayak gimana?" (Anna menepuk nepuk dadanya dan bernafas dengan tersengal) "Kamu gak akan pernah mengerti karena kamu itu selalu egois dan enggak tau rasanya....." Dada Anna naik turun karena emosi yang menggebu. Ia merasa selalu dipermainkan oleh Arsya.


Arsya masih terdiam. Kelopak matanya masih serius menatap wajah Anna yang memerah. Saat ini Ricky datang melapor. Tetapi melihat tangan mereka saling berpegangan kata kata yang akan ia utarakan kembali ia telan dan pergi.


"Jadi....?"


"Hah," Anna menatap wajah Arsya dengan bingung. Arsya menaikkan keningnya.


"Ya, kamu jangan ingkar janji lagi." Wajah Anna segera menunduk karena malu.


"Semalam aku ada perjamuan penting. Lain kali aku akan mengabarimu." ucap Arsya memberikan penjelasan dan secara tidak langsung ia mengucapkan kata maaf.


"Ayo sarapan. Aku sangat lelah." Ucap Arsya kemudian ia melepaskan cekalan tangan Anna dan menggantinya dengan genggaman. Ia membawanya masuk ke dalam ruang makan yang tak jauh dari tempatnya berada.


Ricky yang melihat pemandangan ini wajahnya tampak berseri seri. Sejak Herman menghubungi Arsya tidak dapat diangkat, diam diam ia menghubungi Ricky untuk selalu mengawasi hubungan mereka. Dengan begini Herman akan merasa tenang.


Arsya dan Anna pergi memakan sarapan mereka, sementara Ricky berjalan keluar untuk menerima telepon.


"Bagaimana hubungan mereka?" Tanya Herman dengan tegas dan datar.


"Sangat baik tuan. Saya rasa hubungan mereka sudah meningkat pesat. Dulu mereka tidak sekamar. Sekarang mereka akur dan tidur dikamar yang sama. Dan pagi ini mereka saling berpegangan tangan dengan mesra. Tuan besar jangan hawatir. Saya yakin hubungan mereka akan bergantung satu sama lain." Ucap Ricky memberi laporan kepada Tuan besar.


"Bagus sekali. Ricky, kamu laporkan terus hubungan mereka jangan sampai anak liar itu merusak hubungan mereka."


"Hah anak liarp?" Ricky tertegun tidak mengerti ucapan tuan besar. Ia pun berkata dengan nada pertanyaan.

__ADS_1


"Ya, maksudnya Linda sebastian." Herman segera memberi penjelasan.


"Oh, saya mengerti!" Ricky mengangguk.


Herman disebelah sana tersenyum dan menutup telepon. Sementara di ruang makan, Arsya dan Anna sudah menghabiskan makanannya kemudian bergegas kembali menuju kamar. Ricky tak bisa menyembunyikan kabar ini. Jadi diam diam memotret mereka dengan bergandengan tangan menaiki anak tangga.


Ferdi segera menerima pesan gambar yang dikirim oleh Ricky, Ferdi merasa sangat senang dan menunjukkan kepada tuan besar. Herman tak bisa tidak tersenyum. Ia sangat bahagia. Akhirnya ia memenuhi keinginan terakhir Beni agar Arsya dapat bahagia dan hidup bersama Anna. Akhirnya ia bisa bernafas lega dan meninggalkan dunia dengan tenang.


Disisi lain, Arsya sudah menduga sejak lama akan ada hari ini. Jadi bagaimanapun ia harus bersikap baik kepada Anna dan seolah olah mereka menjalani pernikahan ini dengan baik. Selama menjalani pernikahan ini, Arsya akan berperan sebagai suami yang baik. Dengan begini Kakeknya akan pergi ke luar negeri tanpa rasa curiga.


Saat sampai dikamar, Arsya lebih dulu menyegarkan tubuhnya. Sementara Anna sedang menggulir ponselnya ke atas bawah. Tanpa sadar ia melihat sebuah postingan di IG. Elan atau Zealan, sedang berfoto dengan sebuah buku novel terbaru. Anna merasa tertarik dengan judulnya yang menarik perhatiannya tanpa sadar ia yang pertama menyapanya.


"Halo, Elan! Dimana kamu mendapatkan buku itu. Melihat judulnya saja, aku jadi penasaran bagaimana cerita buku itu?" tanpa sadar Anna tersenyum.


"Wah, gadis cantik. Lama tidak bertemu sekalinya memposting kamu malah tertarik pada bukuku ini. Harusnya menanyakan dulu kabarku." Elan berpura pura merajuk dan cemberut karena Anna malah menanyakan buku yang ia bawa.


"Hehe, aku terlalu bersemangat. Bagaimana kabarmu?" Jawab Anna.


"Itu baru benar. Aku sangat baik sekali. Bahkan sangat baik setelah mendapatkan pesan dari kamu. Ini hari akhir pekan, bagaimana kalau kita bertemu, aku akan memberikanmu secara percuma." Ucap Elan membalas pesan Anna.


"Tentu saja."


"Nanti aku kabari lagi."


"Baiklah." Elan menutup percakapannya dengan tidak rela.


Anna segera menutup ponselnya dan tersenyum membayangkan dia bisa membaca buku novel lagi. Sudah hampir dua minggu penuh dirinya tidak dapat menghirup udara segar. Akhirnya akan ada hari ini untuk membaca buku novel.


Saat membuka pintu kamar mandi, Arsya melihat Wajah Anna yang berseri seri dengan mata berbinar terang. Arsya merasa ada yang aneh dihatinya.


"Kamu kenapa tersenyum?" Tanya Arsya melangkah dengan satu tangan mengusap rambutnya yang basah.


Anna segera mendongak dan menatap Arsya. "Temanku mengajakku bertemu dan akan memberikan buku novel terbaru untukku dengan gratis." Jawab Anna.


"Hanya sebuah buku atau ada alasan lain?" Tanya Arsya kemudian melempar handuk kecil nan basah itu ke atas sofa.

__ADS_1


"Tentu saja hanya buku-nya. Mana mungkin aku berani mengharapkannya. Meskipun dia tampan. Tetapi kamu adalah suamiku, tentu saja aku harus menghormatimu." Balas Anna.


"Bagus! Kukira kamu lupa siapa aku!" Kata Arsya.


"Aku tak akan lupa. Lagi pula pernikahan kita hanya sementara, dan aku harus mencari penggantimu juga. Jadi kamu jangan terlalu bangga!" ucap Anna acuh tak acuh.


"Kamu adalah wanitaku, jangan harap kamu mencari lelaki lain setelah berpisah!" Arsya mengatakannya dengan emosi.


"Kamu jangan egois Arsya! Cukup kamu sudah membuat kakiku patah, lalu menghancurkan keluargaku bagai debu. Dan sekarang kamu mengatakan aku sebagai wanitamu. Tidakkah kamu sadar dengan ucapanmu. Diluar sana kamu berhubungan dengan Linda dan dirumah kamu menganggapku hanya sebagai pengisi rumah. Kamu sangat jahat Arsya." Anna mengutarakan isi hatinya yang selama ini ia tahan.


"Ya, aku emang jahat. Tapi kamu harus tau...aku melakukannya karena kakek." Mendengar ucapannya Anna merasa tertampar. Akhirnya ia mengerti, kebaikannya selama ini hanyalah sebuah akting agar kakek percaya dengan hubungan mereka. Anna terperangah sekaligus sakit hati di dalam hatinya yang paling dalam.


Anna tersadar akan kenyataan hidup. Lalu meletakkan ponselnya dan masuk ke dalam kamar mandi dengan perasaan tak menentu.


Di dalam walk in closet, Arsya merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia keceplosan saat mengatakannya. Di dalam hatinya ia ingin memerankan dua peran sekaligus tetapi ia tak bisa menjalaninya dengan baik.


Sebenarnya ia memang tulus memperlakukan Anna dengan baik. Entah kenapa mulutnya selalu berkata kejam jika berada didepannya.


Anna menatap dirinya melalui pantulan kaca di kamar mandi. Ia membasuh wajahnya yang memerah berkali kali. Api kemarahannya memuncak dengan perkataan Arsya yang kejam. Selesai mandi, Anna mengganti pakaiannya dengan rapi.


Ia menuruni tangga dan berjalan keluar. Arsya menaikkan sebelah alisnya saat melihat Anna yang melewatinya. Anna bergegas menuju ke dalam mobil yang berjejer rapi di dalam garasi.


Saat ini pak Jaki tidak mendapatkan perintah apapun. Saat melihat nona muda memasuki mobil, pak jaki masuk ke dalam dan memberi laporan.


"Biarkan saja." pak jaki tercengang tetapi pada akhirnya ia mengangguk dan keluar. Biasanya Arsya tak pernah memberikan kelonggaran pada Anna yang akan pergi menyetir sendiri. Tetapi entah kenapa tiba tiba ia membiarkannya pergi. Pak jaki tak berani bertanya apapun dan hanya menyimpannya saja di dalam benaknya.


Arsya melihat koran pagi ini dengan santai di taman belakang villa. Dia berpikir jika semalam ia telah memberinya janji dan tidak menepatinya berulang kali gadis itu selalu mengingatkan akan hal itu. Tetapi karena sebuah alasan akhirnya ia membiarkan gadis itu pergi.


Saat ini Ricky datang akan melayani Arsya seperti biasanya. "Apakah sudah pergi?" Tanya Arsya pada Ricky.


Ricky menuangkan teh berkualitas tingga ke dalam cangkir. "ya tuan."


"Hem, semalam dia pasti menungguku. Karena ada perjamuan yang tiba tiba aku melupakannya. Seharusnya itu adalah ganti waktu semalam."


"Iya, nona muda bekerja keras selama ini, dia juga butuh hiburan." jawab Ricky.

__ADS_1


Arsya mengerutkan kening kemudian melanjutkan membaca koran paginya, Ricky selesai menyajikan camilan segera undur diri.


__ADS_2