Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Enam Puluh


__ADS_3

Anna tak perduli.


"Anna! Aku ingin bicara sama kamu!" pekik Arsya dari balik punggung Anna.


"Bicara apalagi. Tidak ada yang perlu dibicarakan!" Sahut Anna.


Arsya menarik bahu Anna hingga gadis itu berbalik. "Apa maksudmu ingin pergi dariku. Apakah kau tidak baca surat kontrak kita yang terakhir." Tanya pria itu.


"Jika berselingkuh maka wajib menandatangi surat cerai. Apakah sudah jelas? Aku sangat hapal dengan isi perjanjian itu. Dan kau telah berselingkuh dengan wanita lain. Jadi kau wajib menandatangi surat cerai itu. Jadi kau harus melepaskan aku segera pergi dari sini." Ucap Anna dengan jari telunjuknya mengetuk ngetuk dada Arsya. Lalu berbalik dan berjalan pergi.


"Aku tak pernah selingkuh darimu. Tapi dia sahabat aku sedari dulu." Pekik Arsya agar di dengar oleh Anna.


"Aku tak perduli. Yang aku tau kau menghianati pernikahan kita." Ujar Anna lalu menutup pintu dengan membanting. Ia merasa kesal karena pria itu tidak pernah mengakuinya.


Arsya memutar knop pintu ingin masuk ke dalam kamar. Sayangnya pintu itu telah terkunci.


"Anna!" Pekik Arsya seraya menggedor pintu dengan keras.


"Enyahlah! Aku tak mau lagi bicara sama kamu. Dan itu akan membuang tenagamu dengan sia sia." Ujar Anna dengan keras dari dalam kamar.


Arsya mencebikkan bibirnya kesal. Ia hanya bisa berbalik dan pergi menuju ke ruang kerja. Sepertinya malam ini ia akan tidur di ruangan itu.


Sementara di dalam kamar Anna terdiam sembari meneteskan air mata. Entah kenapa dada nya menjadi sesak saat menyebutkan perselingkuhan itu. Dia benar benar sangat kecewa dengan sikap Arsya.


Hanya inilah jalan jalan satu satunya yang bisa mengobati luka di hatinya. Tiba tiba ia merasa rindu dengan Anzel. Ia menengadahkan kepalanya agar air matanya tak menetes lagi.


"Kak Anzel!" Gumamnya pelan.


*


*


*


Di pagi hari Anna menuruni tangga. Ia melihat sekitar ruangan terlihat sepi. Hanya ada beberapa pelayan yang sedang bekerja.


Selesai sarapan Anna pergi berangkat ke sekolah. Sampai di sekolah gadis itu langsung masuk ke kelas.


"Ekhem... Pagi...." Sapa Leya saat mengetahui sahabatnya itu duduk di kursinya.


Anna tidak segera merespon entah apa yang sedang ia pikirkan. "Na..." Panggil Leya.


"Hah, apa?" Anna menolehkan kepala terperanjak saat namanya di panggil oleh sahabatnya itu.


"Duh, kau itu belum terlalu tua. Kenapa jadi pikun begini sih." Ujar Leya.


"Enak aja!"


Leya segera menggeser bangkunya mendekati Anna. "Katakan! Apa yang kau pikirkan?" Tanya Leya.


"Apa? Gak ada kok." Elak Anna.

__ADS_1


"Gak ada kok. Sedari tadi bengong gitu."


"Oiya. Besok bukankah malam tahun baru?"


"Jangan mengalihkan topik!"


"Aih!" Anna menghela nafas. "Kau ini lama lama berubah jadi emak emak. Bawel banget sih." gerutu Anna.


"Makanya...coba katakan! Kenapa kau begitu lesu?" tanya Leya.


Anna teringat semalam ia di berikan sebuah kartu. Jadi ia mengeluarkannya.


"Astaga! Ini....kau dapat dari mana?" tanya Leya.


"Sstttt." Anna menyuruhnya diam dengan jari telunjuk berada di depan bibirnya. Lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Lalu kembali menatap Leya yang masih menatapnya dengan rasa penasaran.


"Aku mau coba cek isi saldo dari kartu itu." ujar Anna dengan pelan.


"Sebentar!" Leya mengambil kartu tipis itu dan mengamatinya. "Anna! Aku pernah dengar jika kartu seperti ini hanya ada beberapa di dunia. Dan kartu itu nilainya tidak terbatas."


"Apa? Yang benar?" Ucap Anna.


"Ya." Leya mengangguk yakin. "Dan kau sungguh beruntung memiliki kartu itu. Kau dapat menyimpannya sampai tujuh turunan pun tak akan habis." ujar Leya melanjutkan.


Mata Anna berbinar terang seketika mendengar hal baik ini. Selama ia berpisah dengan Arsya, dia tidak perlu bersusah payah untuk memikirkan tentang dana di kehidupan selanjutnya.


Tunggu! Jika ia menggunakan uang itu di luar negeri, apakah bisa. Jika tidak. Maka percuma saja ia menari di atas awan. Kemudian pelupuk matanya menciut.


"Apakah bisa digunakan di luar negeri."


"Ini...." Leya juga tak tau.


*


Selesai jam pelajaran berakhir. Leya dan Anna sama sama keluar dari dalam kelas. Semua orang berbondong bondong keluar sembari mengobrol. Membahas tahun baru akan keluar. Anna dan Leya saling menatap ke arah orang orang yang berlalu lalang di sekitarnya.


"Huh tahun baru, mereka akan merayakan keluar negeri." gumam Leya sebal.


"Lalu kau!"


"Apa boleh buat, papa melarang dan akan berakhir pergi ke bali."


"Kau masih mending pergi. Aku tak pernah pergi sama sekali." keduanya sama sama meratapi. Kemudian saling berpandangan dan saling terbahak.


Sepulang sekolah mereka mampir ke sebuah kafe. Sekedar ngobrol. Bagaimanapun mereka sedang marahan, Anna tetap memberi kabar kepada Arsya bahwa ia pergi ke kafe bersama Leya.


Meski tidak diijinkan pun ia tetap akan pergi. Arsya juga tak membalas pesan itu. Karena dia juga masih sibuk dengan kerjaannya di jepang.


"Karena aku sekarang sudah punya uang banyak. Akan ku traktik kau sepuasnya." ujar Anna menepuk dadanya.


"Wuih. Kalo begini memang sahabat aku nih." sahut Leya senang.

__ADS_1


Anna memanggil pelayan dan memesan berbagai macam makanan juga minuman. Seraya menunggu pesanan mereka datang keduanya sibuk dengan ponsel mereka masing masing.


"Byur!"


Tiba tiba sebuah minuman dingin mengguyur kepala Anna. Leya yang melihat adegan itu terkejut. Sementara Anna masih terdiam di tempatnya dengan tatapan dingin.


"Kesya! Apa yang kau lakukan!" pekik Leya memarahi Kesya.


Anna memberi isyarat dengan lirikan mata saat Leya hendak memukul gadis arogan itu. Leya menatap Anna dengan kesal. Anna segera berdiri dan menatap Kesya yang tersenyum dengan angkuh.


"Apa masalahmu denganku?" tanya Anna dengan suara rendah.


"Tentu saja untuk membalas dendam. Sejak Indri bangkrut dia sekarang menghilang, itu karena kau." Tunjuk Kesya tepat di wajah Anna.


"Balas dendam!" Anna tertawa sinis. "Kau berbuat seperti ini. Apakah karena uang yang dikirim Indri tidak lagi mengalir ke rekeningmu."


"Apa maksudmu?" Tanya Kesya.


"Maksudku. Sekarang kau butuh asupan dana untuk menutup hutang orang tuamu. Sekarang tidak ada lagi. Bukankah kau membalas dendam karena ini."


Plak


Sebuah tamparan mendarat di pipi Anna. Anna tertawa dengan dingin tatapan matanya juga terlihat kejam. "Kau!" Kesya menuding wajah Anna dengan kesal. "Ini bukan ada kaitannya soal itu. Kami benar benar sahabat Indri. Kau jaga ucapanmu!"


"Heh. Sebuah tali sahabat tidak mungkin sampai setulus ini jika tidak ada apa apanya di belakang." Ujar Anna. Ia menarik ponsel dan membuka sebuah galeri dan memperlihatkan bagaimana Keluarga Kesya di datangi oleh rentenir. Ada beberapa foto yang di ambil. Kemudian ia memutar sebuah rekaman suara.


"Ayah...Ibu..." terdengar suara Kesya menangis meraung memanggil kedua orang tuanya.


"Kesya. Kau adalah anak tertua. Dengan adanya sahabatmu itu seharusnya kau bisa mendapatkan uang banyak. Kenapa sekarang tidak lagi mengirim uang." Itu adalah suara seorang pria.


"Ayah. Dia menghilang. Sekarang aku bisa kemana."


"Heh, kau ini cantik dan pintar. Kalau dia menghilang. Kau cari sahabatmu yang lain. Bukankah dia juha kaya." itu terdengar suara wanita.


"Anna! Kau menguping!" Teriak Kesya ingin merebut ponsel Anna.


Anna menjauhkan ponselnya agar tak terjangkau oleh Kesya. Dan mematikan rekaman itu.


"Kau! Dapat dari mana rekaman itu?" tanya Kesya dengan geram.


"Dapat dari mana, kau tak perlu tau. Yang harus kau tau. Sekarang kau bukanlah siapa siapa." ujar Anna. Kemudian melirik Leya di belakangnya.


Saat melewati Dea. Langkah Anna terhenti. "Dan kau. Berhati hatilah dengan sahabatmu yang kapan saja bisa mematukmu." Anna tersenyum smirk kemudian melirik Kesya yang mengepalkan tangannya dengan kuat di sampingnya.


"Sialan. Kenapa dia tau tentang rahasiaku." batin Kesya bergejolak tak tenang.


"Kesya!" Sebuah tangan memegang bahu Kesya hingga tersadar akan tatapannya.


"Dea. Kita pergi saja." Ajak Kesya.


Sementara Anna tidak jadi makan di sana. Tetapi karena sudah terlanjur memesan maka ia hanya membayar tagihan bill.

__ADS_1


__ADS_2