
Kepergian Arsya kali ini selain menghindari Anita, ia juga telah mendapat kabar jika usaha Anna dalam pembuatan Parfum telah dirilis. Maka dari itu dalam perilisan parfum ini Anna harus datang.
Anita menggertakkan giginya karena kesal. Perusahaan Bryan di buat tak berdaya olehnya. Tetapi dia malah pergi melarikan diri.
"Arsya. Bajingan kau! Setelah membuat perusahaan putraku bangkrut beraninya kamu melarikan diri. Aku tidak akan memaafkanmu." geram Anita.
Arsya tak perduli bagaimana Anita mengutuknya. Karena ulahnya perusahaan yang ia kelola selama bertahun tahun hampir hancur. Sekarang demi mengancam Anita pria itu memiliki rencana untuk menggoyahkan bibinya itu dengan perusahaan putranya. Dan saat ini rencananya telah berhasil.
Apalagi karena ulah Anita hampir setiap usahanya tidak ada yang dipercaya. Bahkan dia berani merebut posisi sebagai presiden dengan kelicikannya. Demi mempertahankan rasa tanggung jawab kakeknya Arsya tetap berusaha mempertahankan posisinya agar perusahaan itu tetap kokoh berdiri. Tapi karena kehadiran Anita membuat sisi perusahaan itu hampir hancur.
Sekarang ia hanya membuat peringatan terhadap Anita jika ia adalah pria yang tak terkalahkan hanya satu suara saja. Dia juga berusaha mulai membangun kepercayaan dari lawan bisnisnya.
Pesawat yang dia tumpangi bersama Anna kini telah mendarat dengan selamat sampai di Amsterdam. Kedatangannya telah di ketahui oleh tuan Albert melalui Anita yang memberitaunya.
Tuan Albert merasa geram. Takutnya membuat keputusan Elisabeth goyah maka mengirimkan Eli lebih awal dari sebelumnya. Dia akan mengirim Eli ke Australia demi menghindari pertemuannya dengan Arsya.
Eli merasa sangat berat hati dengan keputusan tuan Albert. Dia ingin sekali marah. Tetapi tuan Albert adalah orang yang keras.
Arsya berjalan merangkul bahu Anna bersamanya berjalan keluar bandara. Bersamaan itu Eli juga masuk dengan beberapa koper yang ia dorong dengan troley. Ia dapat melihat dengan jelas wajah Arsya.
Eli pun bersemangat masuk ke dalam. Tak di sangka, di balik rencana ayahnya yang akan mengirimnya lebih cepat membawa dirinya dipertemukan dengan Arsya.
Saat ia berjalan tergesa ia menemukan seseorang yang mencurigakan. Dia mengenakan pakaian hitam di sekujur tubuhnya tetapi bidikan matanya tertuju pada Arsya yang berjalan di antara kerumunan yang di apit oleh pengawal. Tetapi bidikan mata orang itu selalu mencari kelengahan dari pengawal.
Tepat saat Arsya berhenti karena menerima sebuah telepon, para pengawal itu berjaga agak sedikit mundur. Di saat itulah pria berbaju hitam itu mengeluarkan senjata. Lalu membidiknya tepat pada jantung Arsya.
Dor!
Terdengar suara tembakan yang begitu nyaring. Arsya menoleh dan tubuhnya di tubruk oleh seorang wanita membuat ponselnya terjatuh di tanah. Sementara Anna yang menunggu di sampingnya tercengang.
Sedangkan orang orang yang berlalu lalang menundukkan kepala mereka ditanah karena ketakutan. Pengawal yang berjaga langsung bergegas mengejar sementara yang lainnya langsung merapatkan diri menjaga tuannya.
"Eli." Ujar Arsya kala ia memandang wajah Eli yang telah pucat.
"Tuan, sebagian orang yang telah mengejar. Saya juga sudah menghubungi Ambulans." Ujar salah satu pengawal.
Arsya membawa tubuh Eli ke dalam dekapannya. "Kenapa kamu menghalau peluru untukku?" Tanya Arsya dalam bahasa inggris.
Eli mendongakkan kepalanya. Lalu tersenyum. Di balik punggungnya darah terus menetes membuat kehilangan banyak darah. Arsya menekan lukanya dengan telapak tangannya agar darah tidak terus keluar.
__ADS_1
Eli mempertahankan kesadarannya dan mencoba untuk menjelaskan. "Karena aku......" Balas Eli dengan suara parau. 'Mencintaimu.' lanjut Eli dalam hati.
Tak berapa lama Ambulans datang. Para pengawal pun berteriak sehingga ucapan Eli tidak di teruskan dalam ucapannya.
"Ambulans datang!" Ucap salah satu pengawal.
Arsya mendongakkan kepala melihat ambulans. Lalu melirik Anna di sampingnya untuk tetap berada di sampingnya. Arsya membawa Eli ke dalam gendongannya dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Arsya membaringkan tubuh Eli dengan hati hati ke atas brankar. Para tim medis mendorongnya masuk. Segera polisi pun datang setelah mendapatkan laporan.
Para polisi itu menghentikannya untuk dijadikan saksi dalam tragedi ini. Arsya menjelaskan secara singkat tentang apa yang ia ketahui. Setelah itu polisi pun memperbolehkan dirinya pergi.
Arsya merangkul bahu Anna dan meminta maaf. "Anna maafkan aku, karena aku, kau bisa saja dalam bahaya." Ucap Arsya lalu mengecup puncak rambut Anna.
"Ya. Aku tau. Memang sangat berat hidup denganmu. Tetapi aku tidak punya pilihan." Balas Anna membuat Arsya menjadi muram.
"Jadi kamu terpaksa." Balas Arsya dengan suara dingin.
Anna mendongakkan wajahnya. Melihat wajah Arsya yang terlihat marah, ia pun tersenyum. "Jika kau tau jawabannya kenapa masih bertanya." Ujar Anna lalu mencium pipi kanan Arsya sekilas dengan berjinjit.
Arsya terpaku sejenak. Wajahnya yang tadi marah berubah lembut.
Mobil bergerak mendekati. Arsya dan Anna pun memasuki mobil itu yang disiapkan pengawalnya. Mobil keluar dari area bandara.
"Hehe." Anna meringis.
Tak berapa lama mereka pun tiba di hotel. Perilisan parfum ini akan di adakan di aula hotel. Jadi Arsya sudah memesan kamar presiden suit untuk mereka tinggali selama di Amsterdam.
"Kenapa tinggal di hotel? Kita bisa tinggal di rumah yang biasa aku tempati." Tanya Anna ketika ia berjalan menuju kamar.
"Dari tempatmu tinggal sampai hotel sangat jauh. Lebih baik disini kita tidak perlu repot." Balas Arsya.
"Huh Ku kira kita akan ke rumah yang aku tinggali ternyata malah di hotel." Anna menggerutu dan didengar oleh Arsya.
"Aku tau. Tapi kita sudah melakukan perjalanan panjang. dan besok malam adalah perilisan parfum. Dari pada bolak balik kita bisa istirahat sebentar sambil mempersiapkan segalanya." Balas Arsya dengan suara ramah.
"Engh...."
Sesampainya di kamar presiden suit room. Arsya melepas mantelnya dan pergi ke dalam kamar mandi. Perjalanan yang menempuh 13 jam lima belas menit itu membuat dirinya lelah ditambah tragedi yang terjadi awal kedatangannya.
__ADS_1
Sepuluh menit berlalu. Ia keluar dengan handuk yang melilit tubuhnya. Bagi Anna yang melihat Arsya seperti ini membuat dirinya terbiasa dengan pemandangan ini. Dia hanya acuh dan berguling di atas tempat tidur.
Arsya melempar handuk kecil di tangannya ke sembarang arah. Lalu mendekati Anna. "Kamu mau jalan jalan? Kita bisa membeli oleh oleh buat karyawanmu."
"Emh." Anna menolehkan kepala. Lalu bangkit terduduk tegak. "Tapi ini sudah hampir malam." Ujar Anna kemudian beringsut lesu.
Arsya mengusap pucuk kepala Anna. "Besok siang kita pergi."
Wajah kecil Anna tersenyum lebar. "Oke." Dia pun memikirkan apa yang harus di beli sebagai oleh oleh kepada kelima karyawannya.
Arsya pun pergi untuk berganti baju. Di luar Rendi pengawal Arsya mengetuk pintu. Bertepatan dengan Arsya yang selesai berganti pakaian keluar dari kamar.
Di dalam kamar presiden suit itu kamar dan ruangan tengah terpisah. Rendi segera masuk lalu melaporkam tragedi di bandara. Ternyata itu adalah orang suruhan Anita.
"Padahal aku sudah membuat putranya bangkrut tapi dia masih saja berbuat ulah."
"Tuan, karena putranya itu justru nyonya Anita semakin dendam kepada anda."
"Hehe. Dendam? Seharusnya aku yang balas dendam kepadanya karena membuat perusahaan ini semakin di ambang kehancuran. Juga telah membuat Anna keguguran. Tetapi aku tidak membuat perhitungan dengannya karena dia masih bibiku. Tetapi karena kebangkrutan putranya dia berbuat nekat seperti ini. Baiklah sepertinya aku juga harus berbuat kejam kepadanya." Arsya tersenyum dingin.
Setelah itu Rendi pun pamit pergi. Arsya duduk di sofa sambil menuangkan anggur ke dalam gelas yang berkaki.
"Arsya! Kamu minum?" sebuah suara yang merdu bertepatan dengan langkah Anna yang mendekatinya. Arsya meletakkan gelas itu ke atas meja.
"Kenapa kamu keluar. Istirahatlah!" Ucap Arsya memandang Anna. Anna mengerucutkan bibirnya dan duduk di sampingnya. Punggungnya ia sandarkan pada sandaran. Tangannya ia lipat di dada.
"Aku memikirkan oleh oleh buat kelima pegawaiku. Apa yang harus aku beli buat mereka?" Tanya Anna.
"Kamu tinggal disini sudah lama. Seharusnya kamu tau selera mereka. Nanti aku akan memerintahkan pengawalku pergi mencarinya." Ucap Arsya membelai belakang kepala Anna.
Anna menggelengkan kepalanya dengan keras. "Bukankah kamu tadi bilang jika kau akan membawaku keluar, kenapa harus memerintahkan pengawal." Tanya Anna.
"Aku baru tau, jika besok aku harus pergi ke kantor polisi. Terkait tragedi tadi sore. Aku juga harus bertemu nona Eli. Sepertinya nona Eli sedang hamil besar. Tetapi dia mempertaruhkan hidupnya demi aku. Setidaknya aku harus berterima kasih kepadanya." Balas Arsya.
"Awas saja jika kamu terjerumus dengan wanita lain selain aku. Dulu Linda dan aku sudah memaafkannya. Jika hal ini terjadi kedua kalinya aku tidak akan lagi memaafkanmu."
"Haha....." Arsya tertawa keras.
"Kenapa tertawa?" Tanya Anna dengan kening berkerut.
__ADS_1
"Kamu cemburu?"
Wajah Anna membeku. "Sudahlah. Itu kan hanya masa lalu dan aku tidak akan mengulanginya lagi." Arsya segera membujuknya dan memeluknya erat.