
Lagi Arsya menghembuskan nafas berat. Kali ini kuncinya adalah Anna. Arsya tak bisa berkata kata. Bagaimana lagi harus membujuk Hanis agar mau di rawat.
Tak berapa lama, ponselnya berdering tanda ada notif masuk. Ia mengerutkan dahinya kala ada pengeluaran uang sebanyak 175 juta. Ia lupa, kala itu ia memberikan Anna sebuah kartu untuk mengganti uang pembayaran belanjaan miliknya.
Ia mengocek dompetnya dan melihat satu persatu kartunya. Semuanya masih ada kecuali satu kartu yang berwarna hitam.
"Presdir, bukankah anda memberikannya kepada nona muda. Kenapa anda masih mencarinya." Ujar Danni mengingatkan saat Arsya melihat isi dompetnya. Arsya baru ingat. Pria itu langsung tersenyum lebar.
"Kau memang pantas menjadi asistenku. Bahkan aku lupa jika kartu itu telah aku berikan kepada Anna. Haha."
Danni mengerutkan wajahnya, "Semakin tua semakin pikun." batin Danni. Punggung Arsya kemudian berbalik dan pergi. Danni juga pergi mengikuti. Setelah beberapa langkah Arsya menghentikan langkahnya sehingga Danni juga menghentikan langkahnya.
"Menurutmu? Cara menaklukan wanita bagaimana?" Arsya bergumam.
Danni segera mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan pertanyaan yang di lontarkan oleh Arsya.
"Disini mengatakan jika menaklukan wanita itu dengan cara memberikan buket bunga, memberi kesan romantis dan yang terpenting adalah menunjukkan pesona." Sahut Danni.
Arsya menaikkan alisnya. "Buket bunga, kesan romantis dan pesona, Apakah aku masih kurang memikat. Wajahku ganteng, pria sukses, mapan, kaya dan sempurna?" Tanya Arsya.
Danni menatap bosnya itu dari ujung kaki sampai ujung kepala lalu memberikan penilaiannya itu kepada bosnya.
"Presdir memang sudah mempunyai pesona. Hanya saja presdir terlalu kaku melakukan hal romantis." Sahut Danni.
"Kesan romantis? Kalau begitu bagaimana caranya?" Arsya menaikkan alisnya.
"Memberikan kejutan seperti kembang api." Saran Danni.
"Oke. Kalau begitu besok kita kembali ke amsterdam." jawab Arsya.
"Tapi, bagaimana dengan nyonya besar." Danni merasa khawatir dan segera bertanya.
"Itu..." Arsya merasa bimbang. "Ach, itu. Yach saya bingung. Semuanya tergantung pada Anna."
__ADS_1
Danni juga terdiam memikirkan cara. "Presdir. Kita tidak bisa memilih salah satu. Sementara terhalang oleh jarak." Dan akhirnya Danni tidak memiliki kata kata lagi.
"Kita hanya bisa menunggu mama pulih dan membawanya bertemu dengan Anna." Ucap Arsya pada akhirnya.
"Benar, lagi pula disana masih ada Rendi dan lainnya. Anda bisa tenang." Ujar Danni.
"Yach."
Di Amsterdam
Anna berada di kebun sembari memetik bunga bunga mawar, di bantu dengan kedua pegawainya lalu membawanya ke rumah penelitian. Sementara kebun di samping kini telah tumbuh pohon anggur. Kelihatan daunnya sangat hijau dan segar.
Anna mendongak sekilas, tatkala melihat pohon anggur itu tumbuh hijau padahal baru satu bulan. Tetapi sang pemilik anggur itu merasa tidak senang. Ia melengos dan langsung pergi.
Anna menggelengkan kepalanya pelan kemudian ia mengikuti pegawainya masuk ke dalam.
Selama satu minggu ini, dunianya terasa nyaman dan aman. Apalagi tidak adanya kehadiran pria itu yang mengganggunya. Sebuah notif masuk kedalam ponsel Anna. Ia menyunggingkan senyuman tatkala Mr Anderson memberitaunya jika pemegang saham setuju akan parfum baru yang ia kembangkan.
Kali ini, Mr Anderson meminta Anna untuk menyediakan 300 botol parfum untuk persediaan. Apalagi para pemegang saham juga memiliki putra dan putri mereka yang tumbuh remaja dan dewasa. Tentu saja aroma parfum ini sangat diminati.
Kini kondisi Hanis sudah lebih baik. Dia segera mengusir pergi Arsya agar segera membawa Anna kepadanya. Arsya juga tidak bisa berkata apapun selain pergi dari tempat Hanis. Kecemasan dihatinya juga berkurang.
Setelah seminggu meninggalkan Anna. Kini ia kembali ke Amsterdam. Soal perusahaannya dia tak lagi memikirkan karena sudah mengutus orang untuk menanganinya. Jika ada keperluan penting mereka akan melakukan meeting melalui Konferensi Video. Dengan begini akan memudahkan mereka.
Penerbangan tidak menghabiskan banyak waktu. Dan saat ini pesawat yang di tumpangi Arsya telah sampai di bandara internasional. Danni segera membawa dua koper miliknya dan juga milik presdir.
Dari bandara hingga ke penginapan hanya membutuhkan waktu dua jam. Dan pada akhirnya mereka telah sampai di penginapan. Rendi dan Ali segera menyambut juga memberi laporan tentang situasi sejak ditinggal Arsya.
"Tuan muda, nona muda sepertinya mendapat proyek besar. Dia mendapatkan orderan hingga 300 botol parfum. Dengan kondisinya yang sendirian tanpa pengerjaan karyawan. Saya takut jika nona muda akan mengalami kesulitan."
Arsya sempat tertegun juga sangat bahagia. "Baiklah, untuk lainnya biar saya yang urus. Kalian bisa pergi." Sahut Arsya. Rendi dan Ali segera pergi dari kamar Arsya.
Arsya mengganti pakaiannya setelah mandi. Dia melihat jam sudah tengah malam. Seharusnya di indonesia masih siang. Dia berpikit sejenak. Lalu menekan telepon terlihat sedang menghubungi seseorang. Dan benar saja, dia saat ini sedang bertelepon dengan Adrian.
__ADS_1
"Halo Presdir!" dari sebrang sana mengangkat telepon dengan cepat.
"Adrian! Kau telah mengenal lama Tuan Axcel?"
"Ya, dia adalah direktur perusahaan yang arogan dan angkuh. Tidak mudah mendapatkan kerja sama dengannya. Dia benar benar memiliki tempramen yang buruk." Adrian berpikir sejenak. "Presdir! Kenapa anda tiba tiba bertanya soal Tuan Axcel?" dahinya mengernyit.
"Hmph. Tidak apa apa. Buatkan satu surat perjanjian dengan Tuan Axcel."
"Perjanjian?" Adrian tak mengerti.
"Ya, saat ini Anna memiliki peluang yang bagus mendapatkan kepercayaan dari sebuah perusahaan ternama di Amsterdam. Dia mendapatkan order cukup tinggi. Maka dari itu dia banyak memerlukan perusahaan perusahaan ternama untuk bekerja sama dengannya. Dan salah satunya adalah Tuan Axcel. Aku takut jika Tuan Axcel ini mempersulitnya. Jadi kau bantu aku membuat satu surat perjanjian dengan tuan Axcel."
Adrian tercengang mendengar cerita Arsya. "Amsterdam? Sejak kapan kau dan istrimu di Amsterdam?"
Arsya melirik sekilas ke arah jendela. Udara malam sangat dingin. Gorden berhamburan ke atas karena ditiup angin. "Baru beberapa hari."
Adrian tersenyum. "Sejak kapan kau berbulan madu kawan. Kenapa sekarang aku baru tau." suara Adrian berubah lalu mengalihkan topik.
"Sial. Kau memancingku buat bercerita. Drian. Lebih baik kau diam lalu cepat kerjakan perintahku."
"Ohooooo. Begitu saja marah. Baiklah saya akan segera membuat rangkap permintaanmu. Tapi jangan lupa. Setelah kembali aku harus mendengar kabar baik darimu." Adrian tertawa dan terdengar mengejek di telinga Arsya.
"Sial."
"Hahaha....." kemudian Adrian segera menutup telepon.
Arsya meletakkan teleponnya lalu menutup pintu jendela kamar. Kemudian ia segera membaringkan tubuhnya yang terasa lelah.
Di keesokan paginya. Anna bergegas menuju rumah penelitian. Dia memikirkan salah satu nama perusahaan untuk mendapatkan botol parfum lebih banyak. Maka dari itu ia perlu pergi ke tempat itu. Jika berlanjut seharusnya ia mendapatkan kerja sama selama memproduksi parfum parfum itu.
Kemudian pikirannya melayang kepada perusahaan Multi tekhno yang memproduksi banyak botol parfum. Tetapi sebelumnya ia harus tau seluk beluk dari perusahaan tersebut barulah ia pergi ke sana untuk mendapatkan sebuah perjanjian pertemuan.
Sebelumnya ia hanya memproduksi 50 parfum. Dengan kondisi botol parfum yang terbatas karena botol botol itu ia dapatkan dengan membeli di pusat perbelanjaan. Tetapi jika jumlahnya banyak maka pusat perbelanjaan pasti tidak menyediakan. Jadi ia memutar otak untuk bisa bekerja sama dengan perusahaan yang memproduksi botol botol itu secara langsung.
__ADS_1
Sementara Arsya sudah mendapatkan surat perjanjian yang dikirim melalui email oleh Adrian. Pasti Anna akan membutuhkannya jadi ia sudah menyediakan untuknya.