Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Tiga Puluh


__ADS_3

Anna Anggitasari Wirawan. Dia selalu bersikap polos jika berada di dalam rumah. Keras kepala jika bersama Arsya, dan bersikap cuek jika berada di sekolah.


Seperti biasa, Anna akan selalu tidur di bangkunya setiap ada mata pelajaran yang tidak ia sukai. Seperti halnya dengan pelajaran matematika dan fisika. Terlalu banyak angka sehingga matanya akan merasa berputar jika melihat angka angka itu.


"Huft..."Leya memandang ke samping.


Anna sudah memejamkan matanya. 'anak ini selalu saja tidur. Udah tau gurunya killer tapi dia masih berani aja buat molor' cibirnya dalam hati.


Leya kembali memandang ke depan. Memperhatikan guru menjelaskan di depan kelas. Tak banyak dari guru itu dapat Leya tangkap dari sekian angka angka yang ditulis di papan tulis.


"Sekian pelajaran ini sampai disini. Minggu depan kita laksanakan kuis." Ucap Guru matematika.


Leya tak bisa tak memelototkan mata. Dari sekian pelajaran yang dijelaskan guru itu tak dapat ia tangkap sama sekali.


"Ini peraturan baru, setiap masuk pelajaran saya. Saya akan mengadakan kuis. Karena sebentar lagi akan diadakan ujian. Dan saya akan menguji siswa saya yang tidak memperhatikan pelajaran saya. Maka saya akan menindaklanjuti lebih lanjut." Ujar guru matematika kemudian keluar kelas.


"Oh tidak." Leya menjambak rambut panjangnya lalu merebahkan kepalanya di atas meja.


Anna mengucek matanya, tanda ia sudah terbangun dari mimpinya. Wajahnya masih keliatan mengantuk, dan mulutnya terbuka lebar karena menguap. "Hoammm!!!"


Saat menoleh, ia terkejut tatkala ia melihat Leya yang merebahkan kepalanya di atas meja. Ini tidak ada yang beres. batin Anna.


Ia segera menggeret kursinya hingga ke samping. Dengan ide jailnya ia tersenyum senyum.


"Bangunnnnn!!!!"


"Woy....!" Pekik Leya terduduk tegak karena kaget.


Anna tertawa terbahak bahak hingga memegangi perutnya. "Sialan!" Desis Leya seraya mengusap usap telinga kanannya karena suara Anna yang melengking tepat di kupingnya. Hampir saja gendang telinganya akan pecah.


"Hahahaha...." Tawa Anna semakin membesar.


"Sakit telinga aku." Seloroh Leya.


"Lagian kenapa kamu tiduran di meja. Kenapa sayang?" Tawa Anna mereda.


"Ini tuh gara gara mikirin tugas matematika." Balas Leya.


"Hei, ini gak kayak Leya sahabat aku yang ku kenal. Udahlah mendingan kita kantin." Ajak Anna.


"Eh, jangan di anggap enteng ya. nanti setiap minggu bakalan ada kuis. Dan otak kita akan nol jika tidak memikirkan ini dengan serius." Jawab Leya.


"Halah. Udah deh. Jangan terlalu memikirkan. yang penting isi perut dulu." Anna menarik lengan Leya agar beranjak dari kursinya.


Sampai dipintu, Indri sudah menunggunya bersama genk-nya. Itu membuat Anna malas.


"Minggir!" Usir Anna.


Indri tak mau minggir. Dengan senyum seringai ia menghalangi jalan Anna keluar kelas.


"Apa lagi kalian datang ke kelas." Ucap Anna dingin.


"Uh, kamu jangan lupa datang ke pesta aku. Ingat pakai kostum." Ucap Indri dengan senyuman tapi di dalamnya mengandung senyuman seringai jahat.


"Oh, hanya itu?" Jawab Anna.


"Ya." Balas Indri.


"Ingat!" Ucap Indri menepuk bahu Anna kemudian meninggalkan kelas Anna.


Anna mengibaskan tangannya dan menepuk nepuk bahunya seakan tangan indri sangat kotor mengenai bajunya. Kamudian ia berlalu dan menggandeng tangan Leya menuju kantin dilantai satu.


"Huh, aku pengen banget nyiram tuh wajah sama air comberan." Geram Leya saat Indri sudah menjauh.

__ADS_1


Tetapi Anna tidak menghiraukan gerutuan Leya. Ia terus berjalan lurus.


"Anna!" Leya menepuk bahu sahabatnya itu ketika gerutuannya tidak juga di balas.


"Huh." Anna menoleh.


"Kamu lagi mikirin apa?" Tanya Leya.


"Eh, ng--nggak ada." Jawab Anna kemudian ia melanjutkan langkahnya lagi.


"Menurut aku ya, mending gak usah pergi aja deh. Dia itu anak orang terkaya di negara ini. Lagian dia terlalu sombong, dan memandang rendah kita yang meskipun anak pengusaha kelas menengah ke bawah seperti kita. Bagaimana menurut kamu?" Ucap Leya.


"Gak apa apa, biarkan saja. Kita akan lihat bagaimana dia masih bisa sombong." Ucap Anna menyeringai.


Leya terbengong sesaat. "Eh maksud kamu apa?" Tanya Leya segera berlari saat langkahnya tertinggal jauh dengan Anna.


"Lihat saja nanti." Balas Anna.


Di sore hari, seperti biasa Anna akan dijemput dengan mobil mewah berwarna hitam yang terparkir di depan gerbang sekolah. Dari sekian banyak siswa memang sudah biasa jika menggunakan mobil mewah seperti itu. Tetapi Mobil rancangan yang dibuatkan khusus untuk menjemput Anna ini tergolong hanya ada beberapa didunia ini bahkan harganya bisa menjangkau triliunan.


Tetapi bagi mereka yang tidak tau, itu hanyalah mobil mewah seperti biasa yang mereka tumpangi. Di dalam mobil, Anna merencanakan sesuatu. Ia tau, bagaimana Indri selalu mengatakan untuk pesta kali ini mengenakan kostum. Mungkin itu hanya alibi Indri untuk mempermalukannya.


Sampai di rumah, Anna menaiki tangga dan masuk ke dalam walk in closet. Mencari gaun termahal yang ada di sana. Tapi semuanya seperti gaun mewah layaknya gaun ke pesta formal. Ia terduduk di sofa. Memikirkan gaun apa yang terbaik dan membuatnya yang paling menonjol.


"Uh." Anna masih merenung.


Terdengar pintu terdorong dari luar, Anna segera mendongak dan menoleh ke arah pintu. Sebuah kaki panjang melangkah masuk. Bersamaan dengan tubuh tinggi yang menjulang Ada kilauan cahaya yang menghalangi. Pria ini selalu mengeluarkan aura yang membuat Anna selalu terhipnotis akan ketampanannya.


"Ehem." Dehem Arsya.


Anna tersadar dari lamunannya dan tersenyum kikuk. Arsya mengarahkan pandangannya ke bawah. Baju yang tertata rapi di dalam lemari dalam sekejap berantakan di lantai. Ia melirik si empunya yang sudah pasti itu perbuatan Anna.


"Hehe." Anna menggaruk pelipisnya karena merasa orang tersangka. Ia segera bangkit dan merangkul lengan Arsya yang ia masukkan ke dalam saku celana.


Arsya memincingkan matanya. Pesta! Ah ya, pernikahan mereka sudah memasuki enam bulan. Dan dia sama sekali belum membawanya pergi menghadiri ke pesta. Padahal itu hanyalah sebuah pesta perjamuan, tetapi ia selalu lupa jika ia sudah beristri.


Biasanya ia akan pergi sendiri bersama Danni. setelah menemui sang pendiri acara ia segera pulang. Ia menatap satu persatu gaun yang berserakan di lantai. Gaun itu sudah mengisi lemarinya selama enam bulan dan Anna belum memakainya sama sekali. Tetapi di semua gaun itu Anna menganggap itu sudah kuno.


Ia melirik gadis yang sinar matanya seakan meminta permohonan.


"Oke!"


"Yeay!" Anna berseru riang.


Arsya berbalik keluar dari walk in closet. Lalu memerintahkan pelayan untuk membereskan.


Anna berjalan keluar setelah selesai mandi dan berganti pakaian. Ia bersenandung riang seraya menuruni tangga.


"Ayo kita pergi!" Ucap Anna sesampainya di depan Arsya yang tengah menunggunya di ruang tengah dengan tangan memegang i-pad.


"Oke!" Arsya mematikan I-padnya dan bergegas keluar.


Di depan pak Jaki sudah menunggu. Kedua manusia beda usia itu segera masuk ke dalam mobil. Mobil perlahan meninggalkan pekarangan Villa dan menuju ke sebuah mall yang berada di tengah kota.


Sesampainya di mall, Manager sendiri yang menyambutnya. Namun ia memicingkan mata tatkala gadis yang ia gandeng bukanlah gadis yang waktu itu pergi bersamanya. Gadis ini terlihat lebih muda.


Tetapi manager tidak berani menegurnya, Ia membungkuk hormat dan menunjukkan ke toko yang berisi gaun terbaru. Anna tersenyum riang dan melihat lihat gaun yang digantung di sana.


Pelayan yang dulu membantunya membawa masuk terkejut saat kedatangannya.


"Nona!" Pelayan itu berseru menghormatinya dengan senyum ramah diwajahnya.


"Ya, tolong kau bawa gaun terbaru. Aku mau lihat." Ucap Anna.

__ADS_1


"Nona, Apa nona masih ingat aku?" Tanya pelayan itu.


Anna segera menolehkan kepalanya melihat wajah pelayan yang melayaninya.


"Ah!" Anna memperhatikan gadis didepannya dengan seksama.


"Hei, kau pelayan yang waktu itu?" Tebak Anna mengingat detail gadis didepannya ini.


"Ternyata nona tidak melupakanku." Ujar gadis itu merasa lega.


"Ah iya tentu saja, aku akan mengingat orang yang sudah membantuku. Ngomong-ngomong terima kasih atas bantuanmu." Ucap Anna.


Pelayan itu tersenyum malu. "Tidak nona, justru saya yang harus berterima kasih. karena anda, sekarang gajiku dinaikkan. Aku bisa membantu pengobatan adikku."


"Uh..." Anna tertegun sesaat.


Pelayan itu terus tersenyum tetapi sudut matanya sudah berair. Kemudian Anna menyadari gadis itu yang terlalu sedih mengingat adiknya yang dirawat dirumah sakit.


"Adikmu pasti akan baik baik saja. Semangatlah!" Anna mengepalkan tangannya ke atas memberi semangat kepada gadis itu. Pelayan itu hatinya senang. Meskipun gadis didepannya ini adalah orang kaya, tetapi dia memiliki hati yang rendah. Ia memuji sikap gadis ini yang selalu baik padanya.


"Iya, terima kasih." Ujar Pelayan itu.


Anna berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya mencari gaun yang sesuai karakternya. Terdengar bunyi notif dari ponsel genggamnya.


(ingat, harus pakai kostum) Isi dari notif pesan tersebut. Peringatan itu entah sudah keberapa kalinya masuk ke dalam ponsel pribadinya.


Anna tidal lekas membalas isi pesan itu, ia mematikan layar ponsel dan kembali mengintari rak gantungan.


Beberapa pelayan keluar dan membawa sepuluh gaun terbaru di tokonya. Ia berjejer rapi, satu pelayan satu gaun. Anna dapat melihat gaun itu satu persatu. Ia melihat gaun pertama terlalu terbuka. kemudian bergeser ke sebelahnya. Gaun itu terlalu panjang.


Ketiga, belahan dadanya terlalu rendah. Gaun ke empat terlalu mewah dan berat. Ke lima terlalu pendek. Gaun ke enam terlalu tertutup. Gaun ke tujuh seperti gaun pengantin. Gaun ke delapan bermotif bunga berwarna putih. Anna tersenyum lebar. Lalu memilih gaun itu.


"Yang ini saja." Tunjuk Anna pada gaun ke delapan.


Akhirnya pelayan itu bisa bernafas lega. karena dari sekian banyak gaun terbaru yang mereka keluarkan merasa tidak cocok dengan pelanggannya. Mereka hampir menahan nafas mereka ketika tidak sesuai dengan pilihan pelanggan. Terlebih pelanggan ini adalah keluarga Adiyaksa, keluarga terpandang seasia tenggara.


Pelayan itu membawanya ke kamar ganti dan menggantungnya di sana. Anna segera masuk ke dalam kamar pas dan mencoba gaun itu. Didalam pantulan kaca, ia terlihat lebih modis dan sesuai dengan karakternya.


Anna segera keluar dan memperlihatkan gaun yang ia coba di depan Arsya.


"Bagaimana menurutmu?" Tanya Anna di depan Arsya yang tengah menunggunya.


Arsya yang sedari tadi memainkan i-pad segera mendongak. Ia menatap Anna dari atas ke bawah. Gadis ini terlihat sangat menawan dan mempesona. Terlebih sikapnya yang kadang terlalu konyol dan polos bisa membuatnya sangat lucu. Arsya bersedekap di dada. Dengan jari telunjuknya menepuk nepuk dagu seolah sedang menilai penampilan Anna.


Anna dibuat harap harap cemas dengan penilaian Arsya. karena penampilannya ini sangatlah penting, terlebih ia mengetahui tabiat Indri yang akan mempermalukannya di pestanya. Jadi ia menyusun rencana agar tabiat itu tidak tercapai dan akan menjadi kebalikannya.


"Bagus!" Satu kata yang lolos dari bibir Arsya dan senyum tipis muncul diwajahnya.


Anna serasa ingin melambung tinggi dengan satu kata itu. Ia tersenyum.


"Sungguh!"


Arsya segera mengangguk. Anna segera berbalik dan mengatakan untuk membungkus pakaian ini. Ia kembali ke ruang ganti dan mengganti gaun itu dengan baju semula. Saat kembali, Arsya mengernyitkan alisnya.


"Kenapa diganti?" Tanya Arsya.


"Huh!"


"Bukankah ke pesta?" Tanya Arsya.


"Tapi belum waktunya."


"Kita pergi bersama."

__ADS_1


__ADS_2