Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab 79


__ADS_3

Tangan Arsya masih menggantung di bahu Anna ketika langkah mereka berada tidak jauh dari pintu kamar Anna.


Secara tiba tiba Anna melepas diri maju ke depan dan berbalik dihadapan Arsya.


Sehingga Arsya mengernyit bingung.


"Kamu kembalilah ke kamarmu. Sebelum pernikahan tiba, kita tidak boleh bersama." Kata Anna.


"Astaga. Baiklah." Arsya hanya bisa menurutinya. Apalagi tubuhnya diserang tidak nyaman sehingga ia harus menahan rasa sakit itu.


Anna tersenyum. "Selamat malam." pungkasnya seraya melambai.


"Hum." alih alih membalas lambaian Anna. Justru pria itu memasukkan tangannya ke dalam saku celana bahan yang tengah dikenakan pria itu.


Anna memutar knop pintu dan masuk ketika pintu terbuka. Ia tidak lupa mengunci pintu berjaga jaga andai saja Arsya merayap ke atas tempat tidurnya.


Setelah Anna sudah benar benar masuk, tubuh Arsya segera ditopang oleh kedua pengawal. Tubuh Arsya langsung oleng bahkan kesadarannya hampir hilang.


Meskipun demam sudah menurun tapi sisa penyiksaan atas obat penawar itu belum hilang. Tubuh Arsya berkeringat basah. Kemeja yang awalnya sudah diganti kini ditanggalkan. Hanya tersisa bokser yang melekat pada tubuh yang menutupi intinya.


Derri menyelimuti tubuh Arsya yang tak berpakaian. Memeras waslap dan mengusap ke seluruh tubuh Arsya.


Dikeesokan harinya. Anna bangun lebih pagi. Dia menuju kamar mandi membasuh wajahnya dengan sabun cuci muka.


Menguncir rambut ke atas yang dicepol. Memperlihatkan leher jenjangnya yang putih. Ia masih mengenakan piyama bergambar doraemon. Lantas menuju dapur karena ia ingin memasak sesuatu yang spesial. Apalagi ia akan menjadi istri. Setidaknya dia harus melayani suaminya yang berawal dari makanan.


Entahlah, mulai sejak kapan wanita itu mulai memikirkan tentang itu.


Saat Anna bergejibu di dalam dapur, ia tak menyadari jika Arsya sudah berada di sana. Bersandar pada tembok dengan tangan berlipat di depan dada.


"Ehem. Serius amat." Arsya berdehem sekilas.


Anna menoleh sekilas karena tangannya yang sedang sibuk mengaduk nasi goreng yang ia buat.


"Kau sudah bangun." tanya Anna.


Arsya segera mendekat kala melihat leher jenjang putih Anna. Tangannya merangkul perut Anna dari belakang. Dagunya ia sematkan pada ceruk leher Anna. Hingga Anna merasakan nafas Arsya yang menyapu lehernya.


"Tidak biasanya kau memasak." tanya Arsya.


Anna mengulas senyum. "Entahlah. Sejak kau meninggalkanku di Amsterdam. Aku mulai berpikir. Mungkin sudah waktunya aku harus memiliki suami dan mengurusnya." balas Anna santai.


"Oh ya. Berarti, ada kemajuan dong." sahut Arsya.


"Apanya yang kemajuan? Justru aku merasa kesal. Karena kau pergi tanpa alasan. Saat itu aku hanya berpikir positif. Setiap kali melihat berita, Ari akan merampas i-padku. Ih, pengawal kamu yang bernama Ari itu sangat menyebalkan. Dia mengawasiku 24 jam tanpa henti." bibirnya mencebik.


Arsya tersenyum. Dan rangkulan di perutnya semakin erat. "Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu padamu." balas Arsya.


Anna mematikan kompor, lalu berbalik. Kedua tangannya ia sematkan di leher Arsya.


"Ayo sarapan. Sepertinya kau perlu daya untuk bekerja hari ini. Lihatlah, kau kurus sekali." kata Anna.


Arsya mengusap kepala Anna. "Apa kau mencoba menjadi istri yang baik sekarang. Bukan pembangkang lagi." kata Arsya di sertai tangannya menjawil hidung Anna.


Anna melepas diri seraya memukul dada Arsya. Hingga pria itu mengaduh dan mengelus dadanya yang terasa sakit.


Anna berlalu mengambil piring yang tersimpan di rak bagian bawah laci.


Arsya terkikik geli. Membelakangi meja dapur dengan punggung bersandar di sana. Tangannya ia masukkan ke dalam saku celana.

__ADS_1


"Kau nakal sekarang Arsya." pungkasnya lalu menyentongkan nasi goreng ke dalam dua piring.


"Nakal sama istri sendiri. Itu halal." Balasnya seraya tergelak.


Pipi Anna merona merah jambu.


"Sudah, Ayo sarapan. Bukankah kau akan pergi kerja hari ini." Anna membawa dua piring berisikan nasi goreng dan meletakkannya di atas meja.


Menggeser kursi di samping kiri dan duduk di sana.


Arsya ikut duduk di kursi di samping kanan Anna. "Kamu mau kopi?" tanya Anna menawarkan.


"Tidak. Akhir akhir ini perutku sangat tidak nyaman. Lebih baik ambilkan jus jeruk saja."


Anna mengangguk. Ia pun lekas bangkit dan menuju dapur. Membuka kulkas dan mencari jeruk di sana. Setelah mengambil beberapa, ia membelah jeruk itu menjadi dua bagian. Kemudian ia peras dan sisihkan isinya. Perasan itu ia masukkan ke dalam wadah blender, memberikan cukup gula lalu memblendernya hingga tercampur rata.


Setelah selesai. Anna menuangkan ke dalam dua gelas. Karena ia juga tiba tiba ingin minum.


Beberapa saat kemudian ia keluar.


Meletakkan satu gelas disisi Arsya dab satunya di samping kanannya.


"Hari ini tiba tiba kakek memintaku datang ke tempatnya."


"Emm." Anna menghentikan tangannya yang ingin menyuap. Tiba tiba rasa bersalah menghinggap di hatinya.


Arsya melirik ke arah Anna. Ia tau jelas jelas yang dirasakan saat ini.


"Kakek tidak akan mempersulitmu. Dia sudah tau semuanya." seolah tau apa yang dirasakan Anna. Arsya segera menjelaskan.


Anna mendorong sendok ke dalam mulutnya perlahan. Ada rasa lega dan rasa cemas yang bercampur. Tapi dia tidak bisa mengungkapnya dengan jelas.


"Eh." Anna terkejut. Bukankah perusahaan itu sudah dilimpahkan kepada Arsya sepenuhnya kenapa kepemilikan saham harus melibatkan Herman juga.


"Meskipun aku telah mengusai perusahaan sepenuhnya tapi tentang pembagian saham sebenarnya masih pada kakek. semuanya masih dalam kendalinya."


Tiba tiba Anna tertekan. "Besar kemungkinan dong kalau aku tidak akan mungkin mendapatkannya." Anna bernafas berat.


Arsya mengulum senyum. "Nah itu yang aku rasakan semalam. Tapi, karena kau yang meminta. Aku akan perjuangkan." balas Arsya tersenyum hangat.


Anna langsung berbinar cerah. Tapi itu sedikit kemungkinan bisa mendapatkannya. Perusahaan benar benar sedang kolaps. Untuk pembagian saham pasti akan sangat rumit. Mengingat kejadian lalu mungkin Herman akan memilih secara selektif dan akan benar benar mengujinya. Perusahaan ini bagai kapal besar. Jika sekali saja mendapat hentakan maka penumpang di dalam kapal itu akan celaka.


Anna merenung. Sedikit harapan yang akan ia dapatkan.


Arsya menepuk pelan lengan Anna membuat wanita itu menoleh seraya mengulas senyum.


"Jangan khawatirkan soal itu. Bagaimanapun kau adalah bosnya. Dan aku hanyalah karyawanmu. Semua miliku adalah milikmu juga."


"Hum." Anna mengangguk sekilas.


Seusai sarapan. Keduanya pun berangkat ke tempat Herman. Meskipun tubuh Arsya sedikit tidak nyaman. Ia masih berusaha menahannya. Hanya tinggal sehari lagi. Semua racun yang berada ditubuhnya akan cepat menghilang. Bagaimanapun di depan Anna, ia harus mempertahankan segalanya.


Asisten tua datang membukakan pintu ketua pasangan muda itu datang.


"Silahkan tuan, tuan besar menunggu anda di gazebo belakang." kata asisten tua itu mempersilahkan masuk.


Jantung Anna sempat jedag jedug. Tapi karena genggaman Arsya pada tangan Anna membuat wanita itu sedikit nyaman.


Saat sampai di gazebo. Herman melirik sekilas kedatangan kedua cucunya. Herman mengulas senyum seraya meletakkan cangkir teh yang baru saja ia sesap.

__ADS_1


"Akhirnya, kalian datang juga." Ucap Herman.


"Selamat pagi kek." Kata Arsya menyapa.


Begitu juga Anna yang hanya tersenyum mengangguk.


Herman menatap keduanya bergantian. Ada rasa tak nyaman yang tertangkap pada netra pria tua itu.


"Kakek sudah tau semuanya. Kau tidak perlu takut sama kakek. Semuanya salah anak cecunguk ini yang membuat kau kabur." kata Herman mencairkan suasana.


"Maaf kek." Anna menanggapi dengan meminta maaf karena kesalahannya juga merasa malu.


Herman terkekeh. "Hum. Kakek dengar kau telah mengembangkan perkebunan mawar menjadi beberapa penelitian. Apa kau yang menciptakan parfum ini?" Herman bertanya antusias seraya mengeluarkan parfum yang diciptakan oleh Anna.


Mata Anna melebar. "Kakek bisa mendapatkannya." Tatapan Anna penuh keterkejutan.


Herman tersenyum geli. "Kakek mendapatkannya susah payah."


Anna tersenyum malu. Terlihat pipinya yang memerah.


"Maaf kek. Lain kali, Aku akan mengirimkannya khusus buat kakek."


Herman tertawa. "Tidak perlu. Ini membuat kakek merasa bangga. Kau membuktikan bahwa kau memang pantas buat Arsya."


Anna ikut tersenyum senang. Awalnya Anna dihinggapi rasa gugup kini berubah menjadi santai. Herman tidak sekaku biasanya kala berada dihadapannya. Pria tua itu berbicara banyak obrolan santai membuat suasana mencair. Arsya menggenggam tangan Anna erat erat dan itu membuat hati Anna menghangat seketika.


Hingga akhirnya Arsya mengungkapkan uneg uneg yang sudah ia susun semalaman karena permintaan Anna yang secara tiba tiba.


Suasana yang awalnya mencair pun menjadi tegang. Tapi melihat keteguhan Anna. Herman pun tetap tersenyum.


"Aku bisa memberikannya terlepas dari ayahmu yang juga pernah menanamkan saham di perusahaan ini." kata Herman.


Kedua pasangan muda itu tercengang.


Ini diluar praduganya.


"Kakek." Arsya mencoba tetap sadar.


Tetapi senyuman Herman tidak pernah pudar.


"Itulah kenapa aku ingin menjodohkan kalian. Ini ada sebabnya. Ayah kalian bersahabat dan membantu menopang perusahaan itu. Karena ayah kalian sama sama meninggal. Jadi kakek bersumpah akan membuat kalian bersama. Lalu menopang perusahaan agar lebih besar secara bersama sama."


Anna senang mendengarnya.


"Kakek memang patut di banggakan." kata Anna memuji. Herman tertawa keras karena terharu. Sekeluarga itu bersuka cita dengan hangat. Seolah keluarga yang lama hancur kini menjadi kuat kembali. Herman merasa tenang sekarang.


"Arsya!" lirih Herman kepada cucu lelakinya.


Pria itu menatap lekat pada wajah Arsya. Ada kesenduan yang terpancar di antara manik matanya.


"Ya kek." Arsya menyahut balas menatap Herman.


"Sudah waktunya, mamahmu pulang. Bujuklah dia agar segera kembali. ini sudah ke tiga puluh tahun dia hidup menyendiri. Jika dia bersikap seperti ini. Ini membuat kakek merasa bersalah seumur hidup." kata Herman.


"Baik kek, aku dan Anna yang akan menjemputnya. Kami sebentar lagi akan menikah. Dulu mamah hanya tau beritanya. Sekarang dia harus menyaksikan kami menikah." kata Arsya yakin. Dia menggenggam tangan Anna kuat kuat. Lalu menciumi punggung tangan itu secara lembut.


"Baguslah. Kakek hanya bisa berharap padamu." kata kakek.


Arsya mengangguk yakin.

__ADS_1


__ADS_2