
"Arsya, jangan tinggalkan aku." Tangan kanannya yang kosong segera menumpuk tangan Arsya yang menggenggam tangannya. Suaranya juga terdengar terbata bata.
"Jangan banyak bergerak. Sebentar lagi akan sampai rumah sakit." Ujar Arsya.
Tak lama setelahnya Linda sudah kehilangan kesadaran. Ambulance segera tiba di rumah sakit. Segala dokter dan perawat membawanya masuk ke ruang igd dan melakukan penanganan. Arsya diluar duduk dengan tenang sambil menunggu di ruang tunggu. Di belakang pengawal telah tiba. Dan langsung melapor.
"Kalian berjaga sebentar, aku akan menghubungi tuan Bramantyo."
"Baik."
Arsya langsung menghubungi Bramantyo selaku keluarga Linda. Tak lama setelahnya dokter keluar dari ruangan. Pengawal segera memberitau Arsya.
Saat berada di ruangan dokter Arsya segera bertanya. "Dokter? Apa yang terjadi?" tanya Arsya.
"Tuan Arsya. Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan bayinya. Kondisi nona Linda sangat lemah. Dia juga mengalami pendarahan yang hebat. Selain itu ada kerusakan pada rahimnya sehingga di masa depan nona Linda tidak bisa hamil." Ujar Dokter memberi penjelasan.
Arsya langsung terdiam. Pria itu merasa kasihan dan tak tega melihat kondisi Linda yang seperti ini. Matanya memerah tapi ia tetap harus memberi jawaban atas Linda. Apalagi Linda saat ini tidak ada keluarganya. Jika masih menunggu kedatangan keluarganya takutnya nyawa Linda tak tertolong. Jadi hanya bisa menjawab seadanya.
"Dokter. Lakukan yang terbaik. Selamatkan nyawanya." ujar Arsya harus memilih salah satunya.
"Baik. Anda tanda tangani dokumen ini terlebih dahulu." dokter menyodorkan sebuah dokumen ke hadapan Arsya. Arsya segera menandatanganinya.
Tak lama para dokter melakukan operasi setelah penandatanganan itu selesai. Arsya duduk seraya menunggu. Namun beberapa saat kemudian seorang perawat datang membawa bayi yang tertutup dengan kain putih. Arsya segera mendekat.
"Tuan Arsya, bayi Nona Linda meninggal. Silahkan ke kamar mayat untuk melihatnya." Ujar perawat seraya membawa bayi yang telah meninggal itu ke kamar mayat.
Sampai di kamar mayat, Perawat langsung memandikan bayi yang tak bernyawa itu sesuai syariat. Arsya hanya memandanginya dari samping. Jika dilihat dari wajah bayi itu tak ada mirip miripnya dengannya. Wajahnya terlihat bulat. Untuk tangan dan kakinya mungkin mirip Linda.
Arsya mengerutkan kening sesaat. Lalu kembali datar saat perawat mengatakan jika saja Arsya ingin memandikan jenazah bayinya untuk yang terakhir kalinya.
"Suster. Aku ingin melakukan tes dna pada bayi ini. Bisa?" Tanya Arsya.
Suster yang berada di sana sempat tercengang. Kemudian ia kembali mengangguk. Setelah selesai memandikan. Ia memanggil medis dan mengambil sampel untuk melakukan tes dna.
"Apakah bisa cepat keluar hasilnya?" tanya Arsya seraya merapikan lengan kemejanya.
"Secepatnya satu hari atau dua hari." ujar perawat memberitau.
Arsya mengerutkan keningnya, satu atau dua hari itu terlalu lama. Tapi itu merupakan prosedur pihak rumah sakit dan hanya bisa menunggunya. Tak lama setelah melakukan pemeriksaan. Jenazah bayi sudah siap.
Ia kemudian menghubungi Tuan Bramantyo apakah menunggunya datang atau segera dikebumikan. Tapi Bramantyo bilang jika harus menunggunya datang. Arsya setelah itu kembali ke ruang tunggu operasi.
Saat berada di dalam ruang operasi Linda mengalami kritis dan harus mendapatkan donor darah. Dokter segera menanyakan persediaan darah di bang darah. Tetapi sayangnya di bang darah tidak menyediakan. Salah satu perawat segera keluar.
Pengawal segera melapor saat perawat datang. "Keluarga pasien." Ujar perawat itu. Arsya segera mendongak dan segera menghampiri perawat.
"Bagaimana keadaan Linda?" tanya Arsya kepada perawat.
"Anda keluarganya?" tanya perawat itu.
"Saya teman dekatnya " jawab Arsya.
"Nona Linda membutuhkan donor darah. Jadi kami membutuhkan pendonor. Kebetulan di bang kehabisan. Dan nona Linda mempunyai golongan darah Ab reshus plus."
__ADS_1
"Golongan darah saya sama dengan Linda. Ambil saja darah saya sus." Sahut Arsya.
"Baiklah, silahkan masuk." Arsya melirik sekilas ke arah Rendi. Tak lama setelahnya Arsya masuk ke dalam ruangan. Rendi segera menundukkan kepala dan mengerti lirikan Arsya agar tetap berjaga di luar.
Selama satu jam Arsya berada di dalam ruangan. Sebuah jarum tertusuk di lengan kanannya. Darah mengalir keluar dan masuk ke dalam tubuh Linda.
Setelah melakukan tranfusi darah, Arsya merasa lemas. Ia keluar dengan bibir yang memucat tetapi ia tetap tegas dan berwibawa.
"Tuan, anda pasti lelah. Kami akan meminta pihak rumah sakit untuk menyiapkan ruang istirahat."
"Hem," dehem Arsya sebagai jawaban.
Pihak rumah sakit segera menyiapkan tempat untuk beristirahat. Para pengawal berjaga hingga operasi selesai.
Lampu emergenci segera padam setelah melaksanakan operasi selama hampir tiga jam. Arsya segera bangun dan menghampiri Linda yang telah berpindah ke ruang perawatan.
Di ruang rawat inap, Linda masih tertidur karena obat bius yang tersisa. Arsya segera berjalan kesana.
Tak berapa lama Rendi segera melapor. "Tuan muda. Tuan Bramantyo telah sampai di bandara." Ujar Rendi.
Arsya menilik jam di tangannya sudah pukul empat sore. "Perintahkan Reimond untuk menjemput."
"Baik."
Arsya menatap Linda dengan tatapan rumit. Telepon segera berdering. Itu adalah Jo. Arsya segera mengangkat telepon.
"Tuan muda, Li Xuyi sudah kami amankan." ujar Jo dari balik sebrang.
"Baik."
Arsya menyimpan teleponnya dan kembali menatap Linda. Tak lama setelahnya Linda tersadar. I melihat perutnya yang terlihat rata. Juga ada rasa perih di perutnya.
"Arsya. Dimana bayi kita?" Tanya Linda merasa syok saat perutnya terlihat tak ada janin.
"Kau tenanglah, kau baru saja melakukan operasi." Ujar Arsya menenangkan.
"Tidak. Aku ingin melihat bayiku. Dimana dia?" tanya Linda semakin histeris.
Tak lama tuan Bramantyo datang setelah berada di atas awan selama 12 jam lamanya. Akhirnya ia tiba dan langsung menuju rumah sakit berkat sopir yang dikirim Arsya.
"Linda!" lirih Bramantyo di belakangnya ada Noni, ibu Linda.
Mata Linda langsung beralih kepada kedua orang tuanya yang berjalan tergesa menghampirinya.
"Papa! Anakku? Anakku di mana? Papa selamatkanlah dia!" Ujar Linda dengan lirih sambil meraung.
Bramantyo segera memeluk tubuh Linda yang ringkih di atas brankar. Bramantyo meneteskan air mata dengan diam. Sementara Noni terus menangis melihat putrinya yang seperti itu.
"Papa. Cepatlah cari bayiku dan selamatkan dia. Dia satu satunya yang aku miliki papa." Ujar Linda dengan sedih.
Arsya masih terdiam di sudut ruangan. Sementara kedua pasangan paruh baya itu terus menenangkan Linda.
"Arsya, mari bicara sebentar." Ujar Bramantyo setelah Linda sudah lebih tenang.
__ADS_1
"Mari kita keluar." Ujar Arsya lalu mempersilahkan keluar.
Mereka berdua menuju taman dan memilih duduk di bangku panjang. Setelah keduanya duduk di bangku, suasana menjadi hening. Tak lama setelahnya Bramantyo memulai percakapannya.
"Arsya, maafkan Linda. Aku tak tau jika putriku telah merusak pernikahanmu dengan istrimu. Aku baru mendengarnya barusan."
"Sudahlah tuan, Anda tidak harus meminta maaf. Ini sudah jalannya takdir."Sela Arsya.
"Tapi, tuan besar."
"Tidak akan marah kepada tuan Bramantyo. Aku juga salah. Tapi Linda sudah aku anggap sebagai teman."
"Teman!" Sela Bramantyo. "Bagaimana mungkin sebagai teman. Dia telah melewati masa kehamilannya dan itu adalah anakmu. Bagaimana bisa kau yang merusak putriku dan kau hanya menganggap sebagai teman." Ujar Bramantyo tak terima jika putrinya di anggap sebagai teman.
Linda sangat mencintai Arsya sejak dulu. Ia kira setelah menghamilinya ia akan menerimanya dengan baik. Tapi tak di sangka malah menganggapnya sebagai teman.
"Arsya, kau dan Linda hidup bertahun tahun sejak kalian masih kecil. Ingatlah jasa yang dulu pernah aku lakukan pada ayahmu."
"Benar tuan Bramantyo." sebuah suara familiar menyela ucapan Bramantyo.
Kedua manusia yang tengah duduk di bangku panjang itu segera menoleh ke arah Herman yang berjalan mendekat dipapah oleh Ferdi.
"Tuan besar."
"Kakek."
Kedua manusia itu segera berseru tatkala kedatangan Herman mengejutkan mereka berdua.
Arsya segera menghampiri Herman tapi ditepis oleh Herman. Arsya tak menggubris tepisan Herman, ia tetap bersikeras memapahnya hingga duduk di bangku taman. Sementara Ferdi hanya mengikuti di sampingnya.
"Bramantyo. Kau memang telah berjasa pada anak kami. Tapi aku juga tidak mau membawa putrimu ke sisi cucuku. Sudah aku katakan sedari awal untuk hidup berdampingan." ujar Herman.
"Maaf tuan besar. Tapi bagaimana nasib putriku setelah Arsya menghamilinya." Ujar Bramantyo tak terima dengan sikap keluarga Arsya.
"Kau tau bagaimana kuasanya diriku di dunia bisnis. Aku bisa mencarikan pria terbaik sesuai dengan kriteriaku untuk menikah dengan Linda."
"Tuan besar. Ini tidak bisa dinamakan membalas jasa, tapi ini seperti sebuah lelucon. Aku benar benar tidak habis pikir dengan kalian yang telah mempermainkan Linda."
"Jangan salah paham Tyo, di saat seperti ini kau jangan mengungkit masalah jasa. Jika kau tak salah ingat. Perusahaanmu tahun lalu hampir brangkut, dan cucuku yang menopang perusahaanmu hampir triliunan. Apakah kau lupa. Dan masalahnya sekarang malah membuat cucuku bertanggung jawab." Ujar Herman telak.
"Tidak tuan, ini bukan jasa. Tapi...."
"Tuan Bramantyo, aku mengerti. Soal jasa yang kau maksud menyelamtakan nyawa papi itu memang benar. Dan aku juga telah membalasnya dengan menyelamatkan nyama Linda. Bukankah kita sudah impas." Sela Arsya.
"Apa yang kau katakan?" Ujar Bramantyo tak paham.
"Kau disini selalu mengungkit soal jasa yang harus di balas. Semalam Linda mengalami kritis. Jika bukan aku yang di sana mungkin Linda sudah tak tertolong. Soal bayi itu. Aku benar benar tidak ingin mengatakannya. Tetapi ini adalah faktanya."
Arsya mengambil foto jenazah bayi itu yang ia kira tidaklah mirip dengannya. Bayi berumur tujuh bulan itu telah sempurna pada organ tubuhnya. Tentu saja akan sangat mudah untuk mengenalinya kemudian ia memberikan gambar yang ia ambil itu kepada Bramantyo.
"Dan juga aku telah melakukan tes dna. Tunggu satu hari lagi maka hasilnya akan keluar. Dan sampai pada saat itu tiba. Tuan Bramantyo jangan berbicara seolah akulah yang merusak putrimu."
Bramantyo membelalak saat melihat rupa wajah bayi itu. "lebih baik, tuan Bramantyo melakukan pemakaman bayi itu. Ini sudah sehari menunggu anda. Seharusnya anda cepat melakukan pemakaman." Lirih Arsya terakhir berkata lalu membawa Herman untuk pergi dari sana.
__ADS_1