
Sinar mentari menyinari wajah Arsya melalui celah gorden jendela kamarnya. Ia merasa tak nyaman dalam tidurnya. Ia berguling ke samping kanan dan melanjutkan tidurnya sambil kembali menyelami mimpinya yang terputus.
Di dalam mimpinya, Arsya dan Anna sedang berciuman, dia sangat menikmati ciuman hangat itu sehingga ia sangat bergelora. Tiba tiba perutnya merasakan kram yang sangat luar biasa sehingga mimpinya harus terputus dengan paksa. Dan ketika terbangun, matanya terbelak karena yang di peluknya hanyalah sebuah guling yang ia rangkul dengan erat.
Ia mendongak dengan iba ke atas ranjang, wajahnya terlihat kuyu dan sangat kasihan. Perutnya kembali merasakan kram dan mual. Arsya buru buru pergi ke kamar mandi dan muntah di atas toilet duduk.
"Hoek...."
Ketika sedang menyelami sebuah mimpi yang indah, Sayub sayub Anna mendengar suara orang muntah muntah. Anna membuka matanya dengan menyipit. Menelisik ke seluruh ruangan. Kemudian ia menunduk dan di atas karpet itu sepertinya Arsya sudah tidak ada di sana. Kemudian ia menoleh ke arah pintu kamar mandi.
Kembali terdengar suara muntahan, Anna mengernyitkan kening dalam hati bertanya tanya.
"Hoek."
Kembali Arsya memuntahkan isi perutnya. Anna kemudian terduduk dan segera pergi menuju kamar mandi. Saat masuk, ia tak habis pikir jika Arsya sudah terduduk lemas di atas lantai kamar mandi.
Anna menjadi cemas dan segera mendekatinya. "Sya? Kau kenapa? Apa kau sakit?" Tanya Anna dengan tangannya memegang dahi Arsya.
Arsya menangkap tangan Anna sambil menggelengkan kepala. "Aku tidak apa apa." sahut Arsya dengan suara lemas.
"Kalau tidak apa apa kenapa kau muntah muntah. Kau pasti sakit. Aku akan memanggil dokter." Anna menangkis tangan Arsya yang digenggamnya. Kemudian berlalu dan mengambil telepon di atas ranjang.
Di bawah Ricky menerima panggilan. "Ya nyonya."
"Ricky, panggilkan dokter kemari. Arsya sedang sakit." Ucap gadis itu berseru.
Ricky mengerutkan dahinya aneh, selama ini tuannya itu tak pernah sakit. Kemudian ia mengingat kembali, kalau akhir akhir ini tuan Arsya memang sering muntah-muntah dan lemas. Tapi setelah menghabiskan sarapan pagi, ia akan sehat kembali seperti sediakala dan kembali bekerja hingga tengah malam.
"Ricky, apa kau masih di sana? Ricky!" Seru Anna sedikit mengeraskan suaranya.
Ricky pun tersadar dan segera menanggapi. "Ya, nyonya. Akan segera saya hubungi." Sahut Ricky.
"Cepatlah!"
Anna setelah memerintah Ricky menghubungi dokter menutup telepon. Kemudian ia menoleh ke arah pintu keluar kamar mandi, Arsya berjalan terhuyung. Anna segera berlari dan memapah Arsya menuju ke atas ranjang. Lalu menutupi kakinya dengan selimut.
Setelah itu, ia melirik ke arah karpet yang berantakan di atas lantai. Ia segera merapikannya jikalau ada yang melihatnya. Setelah membereskannya, ia kembali ke samping Arsya dengan wajah khawatir. Ia kembali mengecek suhu tubuhnya dengan telapak tangannya.
Sepertinya tidak panas.
Arsya merasakan sebuah telapak tangannya mendarat di atas dahinya. Ia pun menangkap tangan ramping itu sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Kau jangan cemas. Aku adalah si penguasa dunia bisnis. Tidak akan terjadi apa apa padaku."
Anna mendesis. Lalu menarik tangannya. "Terserah." Sahut Anna kemudian ia bangkit berdiri. "Penyakitmu sangat aneh. Tidak panas tapi kenapa kau terus muntah?" Tanya Anna.
"Karena kau menyuruhku tidur di lantai sejak dua hari lalu. Menurutmu penyakit apa yang mampu menembus kulitku?" Tanya Arsya lalu membuka matanya.
Anna terdiam sambil berpikir. Setelah beberapa detik melintas di otaknya sebuah penyakit yang berbahaya. "Apa mungkin kau epilepsi." Gumam Anna.
Arsya mendesah pelan dengan wajah ditekuk. "Anna!"
Anna menurunkan kelopak matanya sambil menyahut. "Ada apa?"
"Kau tau, apa itu epilepsi?" Tanya Arsya dengan suara lemah.
Anna menyahut dengan menggeleng kepalanya. Yang ia tau. Epilepsi adalah penyakit yang sangat berbahaya.
Arsya menghembuskan nafas lelah. Kemudian membuka bibir nya. Namun tidak jadi karena pintu kamarnya sudah diketuk dari luar.
"Siapa?" Arsya mengeraskan suaranya sambil bertanya. Matanya tak berkedip sambil memandang Anna.
Anna hanya mengoyangkan tubuhnya dan berdiri dengan acuh.
Arsya mengerutkan dahinya. "Anna, apa kau yang memanggil dokter?" tanya Arsya.
Anna mengangguk. "Ya, karena kau muntah muntah. Jadi kau harus diperiksa sama dokter. Takutnya kau sakit parah dan tiba tiba mati bagaimana." Anna berkata dengan polosnya.
Arsya hanya mampu membelalakkan matanya dengan kesal. "Suruh mereka masuk!" perintah Arsya.
Ricky di luar mendorong pintu dan seorang pria mengenakan jas dokter segera masuk beserta dua perawat di belakangnya.
"Tuan Arsya!" Dokter yang di panggil Ricky adalah dokter keluarga. Jadi dokter itu segera menyapa Arsya dengan ramah.
Arsya menyahut dengan berdehem. Anna pun menyingkir ketika dokter itu mendekat. Dokter itu segera mengeluarkan barang bawaannya untuk memulai pemeriksaan.
Ia memerikssa bagian dada yang terlihat normal, dia juga memeriksa tensi darah yang juga normal. Dokter itu mengerutkan dahinya dengan bingung.
"Kenapa dokter? Apa yang sedang di derita oleh Arsya?" Tanya Anna melihat ekspresi wajah dokter yang keheranan.
"Nyonya, bolehkan saya memeriksa tubuh Anda?" Tanya Dokter itu.
Anna mengerutkan dahinya lalu menatap Arsya yang malah berwajah datar.
__ADS_1
"Loh, dokter? Bukankah Arsya yang sedang muntah muntah? Kenapa saya yang harus diperiksa?" Tanya Anna dengan heran.
"Setelah melalui pemeriksaan dan melalui Ricky yang telah menceritakan segala gejalanya, Seharusnya andalah yang harus diperiksa. Denyut nadi tuan Arsya normal juga tensi darahnya." Ujar dokter itu menjelaskan secara ringkas.
"Tapi kan..."
"Sudahlah Anna, segeralah berbaring. Biar dokter yang memeriksamu." Arsya menyela perkataan Anna dan bangkit dari tidurnya.
Kemudian ia menuntun Anna untuk segera berbaring di atas ranjang. Arsya menutupi kakinya dengan selimut.
Dokter segera memeriksa denyut nadi Anna dan juga tensi darahnya. "Apa yang terjadi dok?" Tanya Arsya.
"Sebaiknya, diperiksakan saja di rumah sakit. Sepertinya nyonya sedang hamil. Saya adalah dokter umum. Jika dirumah sakit bisa menghubungi dokter Mela. Dia adalah dokter abogyn. Anda bisa memeriksakan kandungan anda disana dan dapat melihat usia kandungan anda." Ucap dokter itu sambil menjelaskan.
"Ya benar. Anna memang sudah mengetesnya melalui tespeck. Anna ayo bersiap dan kita periksakan kandunganmu ke rumah sakit." Sahut Arsya yang juga membenarkan ucapan dokter. Lalu mengajak Anna untuk pergi periksa dengan semangat.
"Tuan Arsya, kalau begitu saya pamit." Ucap dokter itu berpamitan.
"Ya dok. Terima kasih."
Dokter itu keluar membawa dua perawatnya. Ruangan kamar kembali sepi dan tinggal mereka berdua.
Anna mengelus perutnya yang rata. Kemudian teringat Arsya. Ia mendongakkan wajahnya mencari sosok Arsya yang masih duduk di tepian ranjang.
"Sya, apakah gejala hamil itu merasa mual dan pusing? Kenapa aku tidak merasakan apapun?" Tanya Anna dengan penasaran.
"Aku juga tidak tau, tetapi selama kau hamil aku merasa diriku sangat aneh."
"Aneh?" Anna mengerutkan dahinya.
"Ya." Arsya mengangguk dan lanjut berkata. "Moodku selalu naik turun. Setiap pagi aku akan selalu muntah dan lemas. Tapi setelah Ricky membuatkan sup iga sapi. Staminaku akan kembali seperti semula. Aku juga tidak menyukai udang, tapi sekarang aku tidak bisa makan jika tidak ada udang."
"Udang?" Anna menggaruk pelipisnya. "Dulu aku memang suka udang, tapi setelah kak Anzel meninggal. Aku sudah tidak pernah makan lagi. Itu adalah makan kesukaanku waktu kecil." Ujar Anna.
"Apa!" Arsya terkejut mendengarnya. "Aku selalu gatal jika makan udang."
Anna meringis. "Mungkin anak ini akan menuruni sifatku." Ucap Anna.
Arsya menampakkan wajah jelek. Tulangnya seolah tak melekat pada tubuhnya sehingga ia meluruh dengan lemas.
"Anna......!" serunya dengan putus asa.
__ADS_1